
Pagi harinya Marisa mengantarkan Flora terlebih dahulu kekantor sebelum ia berangkat ke kerumah sakit. Namun saat merasa tiba disana, sebuah gosip panas langsung tiba di kedua pendengaran Marisa dan Flora. "Apa?" kaget Marisa. "Tidak mungkin, tuan Lucas tidak mungkin mengundurkan diri dari posisinya. Bukankah dia baru saja di angkat menjadi CEO?" gumam Marisa.
"Aku juga tidak tau kenapa bisa tiba-tiba sekali Sa" jawab Flora menuruni mobilnya begitu juga dengan Marisa.
"Ra, aku duluan yah".
"Kamu mau kemana Sa?" Melihat Marisa yang sudah menjauh, Flora pun segera menyusulnya dari belakang. "Pagi" ucapnya kepada rekannya yang lain.
Begitu Marisa berada di lantai atas, ia bertanya kepada si sekretaris. "Tuan Lucas sudah datang?".
"Maaf, ada keperluan apa anda bertemu dengan beliau?".
"Saya ada urusan sebentar, tidak usah memberitahunya" jawab Marisa mengetuk pintu ruangan Lucas.
"Nona tunggu".
Ceklek!
"Tuan" panggil Marisa melihat Lucas sedang sibuk dengan berkasnya. Kemudian ia berjalan mendekatinya, "Tuan" panggilnya lagi.
"Ada apa kamu kemari?" tanyanya tampa melihat kearah Marisa.
"Tuan baik-baik saja?".
"Kenapa?".
"Tadi saya mendengar gosip dari luar kalau tuan..
"Terus?" potong Lucas menatapnya. Ia menyandarkan tubuhnya melipat tangan di depan dada. Lalu ia tersenyum, "Kamu sudah memberi tahu keluarga mu?".
"Apa?".
"Nanti malam aku akan kesana, bersiaplah. Kamu boleh pergi".
"Lalu bagaimana dengan gosip yang tadi aku dengar tuan, apa benar tuan akan mengundurkan diri dari posisi tuan sekarang ini?".
"Kenapa? kamu tidak ingin menikahi ku lagi?".
"Tidak seperti itu tuan. Aku hanya ingin memastikan kalau tuan baik-baik saja, kalau gitu aku pergi dulu".
"Tunggu" Lucas berjalan mendekatinya. "Kalau gitu, beri aku pelukan ini" Lucas membawanya kedalam peluknya lalu Marisa membalas pelukannya.
"Tuan sudah sarapan?".
"Mmmmm" Setelah hampir 5 menit, Lucas melepaskannya. "Terima kasih, kamu boleh pergi".
Marisa tersenyum, "Mmmm, aku pergi dulu. Kalau tuan membutuhkan sesuatu, cepat beritahu aku".
"Iya" angguknya. Begitu Marisa keluar, Lucas menatap keluar ruangannya, ia melihat gedung-gedung tinggi yang sejajar dengan ruangannya dengan tatapan kosong.
.
Sesampainya Marisa dirumah sakit, ia bertemu dengan Raniya. "Pagi dok".
__ADS_1
"Pagi Risa, bisa kita minum teh sebentar diruangan ku?".
"Ada apa dok?".
"Tidak, aku hanya ingin minum teh saja bersama dengan mu. Ayo".
"Nona, tunggu" tahan sipelayan Elisabet dari belakang mereka berdua membuat Marisa menghentikan langkahnya. "Nona dicari nyonya Elisabet hhmmsss" lelahnya.
"Ooo" angguk Marisa meninggalkan Raniya, ia pun langsung berlari masuk kedalam ruangan Elisabet.
Ceklek!
"Nyonya" panggilnya.
Elisabet tersenyum, "Kamu sudah datang?".
"Nyonya baik-baik saja?".
"Mmmmm, saya baik-baik saja. Hari ini saya mendapatkan izin pulang kerumah".
"Apa? pulang? apa Lucas tau nyonya pulang hari ini?".
"Mereka sudah memberitahunya. Bagaimana? apa Lucas sudah melama.." gantung Elisabet melihat Raniya memasuki ruangannya.
"Aku mendengar nyonya Elisabet mendapatkan izin pulang kerumah. Selamat nyonya".
"Terima kasih. Sebentar lagi Lucas akan datang kemari, dia sedang perjalanan".
"Mmmmm" senyum Raniya. Lalu melihat Marisa berdiri disamping Elisabet, "Nyonya, bisa saya ajak dia bicara sebentar?".
"Risa, 10 menit saja kamu ikut aku".
"Iya".
Marisa segera mengikuti Raniya dari belakang, ia melihat Raniya membeli dua kaleng minuman segar. "Aku tau hari masih pagi, tidak apa-apa kan kalau aku memberikan ini untuk mu?".
"Tidak apa-apa dok, terima kasih".
"Ayo duduk".
"Mmmmm. Lalu apa yang ingin dokter bicarakan dengan ku?".
Raniya tersenyum, "Sudah berapa lama kamu mengenal Lucas?".
"Kenapa dokter bertanya itu? aku tidak memiliki hubungan apa dengannya".
"Hahahaha.. Kenapa? aku rasa aku tidak salah bertanya itu. Jadi sudah berapa lama? jangan khawatir aku hanya bertanya saja".
"Sejak tuan Lucas menjabat sebagai CEO di Hanju group".
"Mmmm, berarti sekitar 4 bulan lamanya?".
"Iya dok".
__ADS_1
"Sudah cukup lama. Lalu hubungan apa yang sudah kamu jalin bersama dengannya?".
"Maksud dokter? maaf saya tidak mengerti apa yang sedang dokter Raniya bicarakan. Saya dan tuan Lucas hanyalah sekedar rekan bekerja".
"Lalu kenapa dia menyuruh mu merawat nyonya Elisabet? kenapa dia tidak mencari perawat saja untuk menjaganya dan seperti yang aku lihat, kamu terlihat sangat dekat sekali dengannya".
"Aku mengatakan yang sebenarnya dok, aku tidak memiliki hubungan apa-apa dengan tuan Lucas, dan untuk nyonya Elisabet, aku juga tidak tau alasan dia begitu menyukai ku..
"Apa? menyukai mu hahahaha.. Benarkah? hahahaha.. Ah, maaf" geleng Raniya meneguk minuman keleng itu lagi. "Ya sudah kamu boleh pergi, kalau nyonya Elisabet bertanya kamu cukup tersenyum saja atau beritahu dia kalau kita hanya mengobrol hal yang tidak penting saja. Ok, aku duluan".
Marisa menatapnya, ia merasa ada sesuatu yang sedang Raniya sembunyikan, tapi ia tidak tau apa itu. Setelah itu ia masuk kembali kedalam ruangan Elisabet, ia melihat Lucas tengah berada disana dan juga Elisabet yang telah berada di atas kursi roda. "Maaf aku sedikit lama nyonya" ucapnya.
"Tidak apa-apa" Elisabet melihat Jose dan dokter yang sudah menangani dia selama disana. "Jangan bersedih hati, aku akan kembali kemari" ujar Elisabet membuat si dokter tersenyum bersama dengan si perawat. "Kami pulang dulu".
"Iya nyonya, hati-hati dijalan".
"Mmmmm" angguk Elisabet di dorong oleh bodyguardnya.
Kemudian Lucas melihat Jose, "Terima kasih sudah menjaganya".
"Bukan aku yang menjaganya tapi mereka" balas Jose tersenyum. "Pergilah".
"Ayo" ajaknya kepada Marisa.
"Iya".
Seperginya mereka, Jose memandangi seluruh isi ruangan Elisabet yang sudah kosong. Lalu berjalan mendekati jendela, ia melihat Elisabet telah memasuki mobil begitu juga dengan Lucas dan Marisa.
Tok.. Tok..
Ceklek!
"Tuan, pimpinan memanggil tuan kedalam ruangan tuan sekarang juga".
"Apa? sedang apa papa kemari" gumam Jose segera meninggalkan ruangan tersebut. Lalu ia membenarkan pakaiannya, setelah itu ia langsung mendorong pintu ruangannya.
"Duduk" ucap ayahnya dengan tegas.
"Iya pa" begitu Jose duduk diatas kursinya. Ia bertanya kepadanya, "Ada apa papa kemari?".
"Kamu dari mana saja?".
"Tadi aku dari ruangan salah satu pasien VIP yang barusan pulang pa".
"Mmmm, lalu bagaimana hubungan mu dengan Raniya? apa semakin hari semakin membaik?".
"Tidak tau pa. Raniya masih memikirkannya".
"Kenapa? mau sampai kapan lagi? atau dia memang menolak perjodohan ini? kalau seperti itu, papa akan membatalkan perjodohan ini dan papa akan menarik semua saham kita yang ada dalam perusahaan orang tuannya".
"Mohon tenang dulu pa. Kenapa harus menarik saham? kalau Raniya tidak ingin menikahi ku, itu artinya kami tidak jodoh. Kenapa harus merugikan diri papa sendiri?".
"Papa sudah berusaha membantu memajukan perusahaan mereka. Tapi sekarang putrinya malah menolak perjodohan ini, kamu pikir papa tidak malu seperti sedang di permainkan?".
__ADS_1
"Lalu bagaimana kalau aku berkata aku tidak mencintainya?".
"Apa?".