Terjerat Cinta Sekretaris Marisa

Terjerat Cinta Sekretaris Marisa
Bab 23


__ADS_3

Sekarang Marisa, Flora dan Reza berada disebuah bar. Mereka bertiga tampak sangat bersenang-senang menikmati minuman alkohol mereka masing-masing. "Hahaha, Za boleh tidak kamu cerita semasa kamu tinggal di L.A? aku dan Risa sangat penasaran" tanya Flora setengah mabuk.


"Haruskah aku menceritakan pengalaman aku selama disana?".


"Mmmmm" angguk Flora dan Marisa.


"Baiklah" jawab Reza meneguk alkoholnya hanya dengan sekali tegukan saja. "Begitu aku tiba di L.A pertama kali, aku tinggal disebuah apertemen yang cukup sangat sederhana" Reza tersenyum.


"Kenapa Za? keluarga kamu kan kaya" ujar Marisa. "Enggak mungkin dong kamu tinggal di apertemen sederhana. Hey, yang benar saja".


"Mmmm, karna disana aku ingin belajar hidup untuk berkecukupan tampa harus menghambur-hamburkan uang kedua orang tua ku. Bahkan aku berkerja sampingan disebuah restoran sepulang kuliah" jawab Reza dengan bangganya.


"Apa?" kaget mereka berdua. "Kamu serius sambil kerja sampingan Za?" tanya Flora.


"Mmmmm, aku bekerja sampingan selama ini, dan syukurnya, gaji bulanan ku mampu mencukupi kebutuhan ku setiap bulannya".


"Wah.. Kamu sangat luar biasa Za. Terus, selama kamu disana.." gantung Marisa melihat Flora ingin muntah. "Ra, kamu baik-baik saja?".


"Ah, kapala ku pusing.. Aku ke kamar mandi sebentar Sa".


"Aku temani kamu yah?".


"Tidak usah, kalian lanjut saja".


"Tapi kam..


"Tidak apa-apa Sa" potong Flora berjalan kearah kamar mandi dengan jalan sempoyongan. Kemudian Marisa tersenyum kembali kepada Reza, namun Marisa malah melihat Reza sedang memperhatikan kearah Flora.


"Sa, aku juga ke kamar mandi sebentar yah".


"I-iya" angguk Marisa. Lalu melihat layar ponselnya, jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. "Hhmmsss, udah jam 10 saja. Waktu tidak terasa cepat berlalu" gumam Marisa meneguk alkoholnya kembali. Namun saat itu juga Marisa ingin buang air kecil, ia pun segera menghampiri Flora kamar mandi. Tetapi ia malah melihat pemandangan yang tidak seharusnya ia lihat, "Ah, tidak" geleng Marisa menutup mulut begitu ia melihat Reza dan Flora sedang berciuman di depan pintu toilet.


Dengan mata berkaca-kaca, Marisa pergi meninggalkan bar tersebut. Lalu Marisa menghentikan sebuah taksi, "Pak, tolong antar saya ke jalan xx".


"Baik nona" angguk si supir menjalan mobilnya. Kemudian Marisa melihat ponselnya berdering dari sang sahabat yaitu Flora. Ia segera menyeka air mata lalu mengeser tombol hijau.

__ADS_1


"Ra, maaf aku harus pergi buru-buru meninggalkan kalian, tadi tuan Lucas menelpon ku".


"Kenapa dia memanggil mu di jam segini Sa?".


"Aku juga tidak tau Ra. Maaf yah".


"Tidak apa-apa Sa" angguk Flora mematikan ponselnya. "Marisa sudah pergi duluan, katanya CEO kami memanggilnya".


"Ya sudah, kalau gitu aku akan mengantar mu pulang".


"Tidak usah Za, aku bisa pulang sendiri. Kamu juga pulanglah".


"Kamu lagi keadaan mabuk Ra. Bagaimana mungkin aku membiarkan kamu pulang sendiri menggunakan taksi?".


"Hey, kamu seperti tidak mengenal ku saja. Jangan khawatir, aku akan baik-baik saja Reza. Ah, terima kasih untuk malam ini" jawab Flora menyambar tasnya.


"Tidak, aku akan mengantar mu pulang" Reza menarik tangan Flora membawanya pergi dari sana. Sedangkan Marisa yang baru tiba di rumahnya, ia langsung memasuki kamar dengan wajah letih, kemudian menghempaskan tubuhnya diatas tempat tidur menatap langit-langit kamarnya.


"Bajingan, dasar laki-laki bajingan" umpat Marisa marah. "Bagaimana bisa dia mencium sahabat aku sendiri? dasar laki-laki bajingan. Aku membenci mu Za aku sangat membenci mu Reza" Marisa menyambar tasnya mengeluar ponsel, lalu memblokir kotak nomor Reza. "Brengsek!".


TOK... TOK...


"Mencari ku?" gumam Marisa. "Siapa ma malam-malam seperti ini datang mencari ku?".


"Mama enggak tau Risa, tapi dia pria tampan. Ayo buruan keluar, entar dia keburu pergi".


"Ih, siapa sih mencari ku sampai kerumah di jam segini?" gerutu Marisa membuka pintu kamarnya. "Siapa sih ma?".


"Mama juga enggak tau Risa" jawab sang mama lagi membawa Marisa keluar dari dalam rumah.


"Kenapa enggak disuruh masuk ma?".


"Dianya enggak mau masuk. Lihat kesana, itu dia sedang berdiri disamping mobilnya" tunjuk sang mama kearah pria yang berdiri itu.


"Oo, tuan Lucas. Sedang apa dia kemari?" kaget Marisa melihatnya.

__ADS_1


"Siapa Sa?".


"CEO Risa ma" jawab Marisa menghampiri Lucas kearah mobilnya. "Tuan, apa yang membuat tuan datang kemari?" tanyanya.


"Kamu ikut aku" jawab Lucas memasuki mobilnya.


"Tunggu tuan. Kita mau kemana malam-malam seperti ini?" tahan Marisa sebelum Lucas masuk kedalam mobil.


"Nyonya Elisabet ingin bertemu dengan mu".


"Apa? terus dengan keadaan seperti ini?".


"Mmmmm, ayo buruan masuk".


"Ah, bagaimana ini?" Marisa melihat kearah Saphira sang mama. "Ma, Risa pergi dulu yah. Dan sepertinya Risa tidak akan pulang malam ini".


"Iya. Kamu hati-hati yah".


"Iya ma" angguk Marisa segera masuk kedalam mobil Lucas. "Kapan nyonya Elisabet menghubungi tuan? padahal aku belum mandi dan bau badanku.." gantung Marisa melihat Lucas yang tidak perduli. "Baiklah, aku akan menunjukkan siapa Marisa yang sesungguhnya, bodoh amat" gumam Marisa kesal.


Tidak lama kemudian, mobil Lucas telah tiba di pekarangan istana milik nyonya Elisabet. "Ayo turun" ucap Lucas.


"Iya" Marisa langsung keluar, ia melihat istana tersebut tampak sangat sepi seperti pertama kali ia berkunjung kesana. Lalu Lucas berjalan kearahnya, ia melihat Marisa dari atas sampai bawah membuat Marisa sedikit tidak nyaman, "Ada apa tua..." gantung Marisa membulat mata saat Lucas tiba-tiba mencodongkan tubuhnya, hingga jarak wajah mereka berdua terbilang sangat dekat. "Tu-tuan".


"Hhhmmsss, kamu habis minum alkohol?" tanya Lucas kembali berdiri tegap.


Marisa tersenyum kaku, "Iya tuan sedikit".


"Sedikit dari mananya?" gumam Lucas. "Ini tidak bisa, dia akan marah kepada ku kalau tau kamu habis minum. Ck, kenapa aku baru menyadarinya?" kesal Lucas mencari cara.


"Haahh, makanya jangan sembarang asal nyuruh orang sebelum kamu tau apa ia mau atau tidak. Akibatnya kamu rasakan sendiri, aku tidak akan perduli kalau nantinya nyonya Elisabet marah kepada mu dan juga diriku" ucap Marisa dalam hati. Kemudian Lucas melihatnya, "Kenapa tuan?".


"Tidak ada cara lain, aku terpaksa melakukan cara ini" jawab Lucas menahan wajah Marisa dengan kedua tangannya, lalu menciumnya sampai bau alkohol tersebut berbagi kepadanya. Namun saat Lucas ingin menyudahi ciuman itu, Marisa malah menahan Lucas dan kembali melanjutkan ciuman tersebut sampai ia sadar dengan apa yang baru saja ia lakukan.


"Astaga, maaf aku tuan" tunduk Marisa sangat malu bercampur merasa bersalah.

__ADS_1


Lucas manarik sudah bibirnya berbentuk senyuman tipis, lalu menyentuh bibirnya. "Tidak apa-apa, lagian aku sendiri yang memulainya. Ayo masuk".


"Baik tuan" senang Marisa tidak habis pikir kalau tuannya itu akan marah, tapi malah kebalikannya.


__ADS_2