Terjerat Cinta Sekretaris Marisa

Terjerat Cinta Sekretaris Marisa
Bab 54


__ADS_3

Begitu Marisa keluar dari ruang ganti ia langsung mendatangi Lucas. "Tuan, kita mau kemana lagi?".


Lucas melihatnya, "Tidak bisa hari ini, aku ada meeting jam 2. Ayo" ajak Lucas keluar dari dalam toko tersebut.


"Hhmmm, dia sendiri yang mengatakan kepada ku ingin menemui pendeta yang akan memberkati kami" gumam Marisa mengikutinya dari belakang. Hingga kini mereka telah tiba di perusahaan, Marisa melihatnya dengan senyum tipis. "Tidak apa-apa, pergilah" begitu Lucas memasuki lift, Marisa segera meninggalkan parkiran tersebut memasuki loby. Namun saat dia berjalan, seseorang tiba-tiba memanggil namanya, "Astaga" kagetnya. "Ah, maafkan saya tuan".


Dilan tersenyum tipis, "Sedang apa kamu disini?" tanya Dilan melihat sekitar mereka.


"Hahahaha, tadi saya mau mengambil mobil kemari tuan. Tapi saya baru ingat kalau mobil saya ada di parkiran umum. Permisi" tunduknya langsung berlari meninggalkan Dilan. "Ais, kenapa aku harus bertemu dengannya sih? semoga saja dia tidak melihatnya".


Kemudian Dilan memasuki mobilnya, tetapi saat ia hendak menjalankan mobilnya, ia melihat Lucas berlari keluar dari dalam lift seperti sedang mencari seseorang. Dengan rasa penasaran, Dilan menuruni mobilnya membuat Lucas melihat kearahnya. "Kamu sedang mencari siapa?".


Lucas mendengus, "Tidak mencari siapa-siapa" jawabnya. "Lalu kenapa kamu masih berada disini?".


"Kamu tidak tau kalau kakek baru saja membatalkannya meeting-nya? kamu kemana saja?" senyum Dilan mengejeknya. "Kalau gitu aku pergi dulu, calon istri ku sudah menunggu ku terlalu lama".


"Haahh..." seringai Lucas mengeluarkan ponselnya, lalu ia menghubungi nomor Marisa, tetapi Marisa yang sedang menyetir mobilnya tidak tau kalau sebuah panggilan masuk kedalam ponselnya. "Apa dia sudah pergi?".


Sesampainya Marisa dirumah, ia tidak melihat mobil Saphira berada di garasi mobil, itu artinya ibunya sedang pergi. Lalu Marisa menuruni mobilnya, dengan tubuh letih Marisa langsung masuk kedalam rumah tampa mencek ponselnya. "Ah, ini adalah waktu yang tepat untuk aku menikmati tidur siang hooaamm.. Aku mengantuk sekali" tampa mengganti pakaiannya terlebih dahulu, Marisa segera memejamkan kedua matanya.


Sedangkan Flora yang berada di rumah sakit, sedari tadi ia hanya diam saja begitu Reza kembali, "Flora" panggilnya.


"Aku tidak akan menjawab mu, sebaiknya kamu pergi saja. Aku tidak ingin melihat mu berada disini dan terima kasih banyak sudah membawa ku kerumah sakit, nanti aku akan membayar mu kembali".


"Apa itu jawaban yang harus kamu berikan setelah aku membawa mu kemari?".


"Maaf, aku lelah sekali".


Reza melihatnya, "Sekarang jawab aku dengan jujur Flora, siapa ayah dari bayi yang kamu kandung?".


"Kamu tidak perlu tau siapa ayah dari bayi yang aku kandung".


"Jawab aku dengan jujur Flora" Reza mulai terbawa emosi. "Siapa ayah dari bayi itu?".


Flora tersenyum sinis melihatnya, "Kenapa? kamu marah? apa hak mu mau marah? kamu siapa? udah deh, enggak usah sok perduli dengan ku. Sekarang kamu pergi, aku tidak ingin melihat mu berada disini, jangan menambah pusing kepala ku".


"Kamu yakin kamu tidak akan menjawab ku?".


"Kalau kamu tidak pergi, aku akan memanggil security membawa mu pergi dari sini".

__ADS_1


"Baiklah, begitu aku tau siapa ayah dari bayi yang kamu kandung, jangan salahkan aku kalau aku nantinya akan membunuhnya. Ingat itu!" ucap Reza pergi dari sana.


Kedua mata Flora kembali berkaca-kaca, ia merasa sangat hancur berkeping-keping. "Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan? aku harus bagaimana menyelamatkan bayi ini? aku tidak ingin kehilangannya tapi aku juga tidak ingin di pecat dari pekerjaan ku. Lalu bagaimana dengan kedua orang tua ku yang berada di kampung? aku tidak ingin membuat mereka kecewa. Tuhan tolong aku hiks..".


Flora mengusap air matanya, ia melihat jam telah menunjukkan pukul 4 sore, begitu juga dengan botol inpus yang ditangannya mulai habis. "Sus, suster" panggilnya.


"Iya, ada yang bisa kami bantu?".


"Itu sus, botol inpus saya sudah habis. Saya sudah bisa pulang kan sus?".


"Tunggu sebentar ya, saya panggil dokter dulu".


"Iya sus" angguk Flora menunggu. Lalu ia mendengar ponselnya berdering, ia langsung melihat panggilan tersebut berasal dari sang manager ya. "Iya bu. Saya minta maaf tidak bisa kembali ke kantor di jam makan siang tadi. Tapi dokumen yang tadi pagi ibu minta, saya sudah menyelesaikannya. Sekali lagi saya minta maaf bu".


"Tidak apa-apa, saya sudah melihatnya. Terima kasih sudah mengerjakannya untuk saya".


"Iya bu, sama-sama".


"Oh iya, tadi saya dengar kamu jatuh sakit. Apa kamu sudah minum obat?".


"Sudah bu, terima kasih sudah mengkhawatirkan saya".


"Iya bu".


Setelah itu si dokter mendatanginya dengan senyum ramah. "Apa ibu yakin sudah merasa baikan? kalau ibu masih merasa pusing atau mual, sebaiknya ibu dirawat inap 1 hari untuk memastikan kalau ibu baik-baik saja".


"Tidak dok, saya sudah merasa baikkan. Dokter tinggal beri resep obat yang perlu saya tebus dan sekalian dok obat pengurang mual".


"Baiklah, kami akan meresepnya. Tolong ya sus".


"Iya dok" jawab si suster melepaskan alat inpus ditangannya. Lalu memberikan resep obat yang perlu ia tebus di apotik/parmasi


"Terima kasih ya sus".


"Sama-sama. Nona tunggu".


"Iya sus?".


"Bukankah ini milik nona?" tanyanya memberikan kartu nama Jose ditangannya.

__ADS_1


"Ah iya sus" jawab Flora segera pergi. Sesampainya ia dirumah, Flora mendudukkan diri diatas sofa sambil memperhatikan kartu nama yang tadi Jose berikan, lalu Flora membuangnya di tong sampah.


DDDRRRTTTT... DDDRRRTTTTT...


"Iya Sa" jawab Flora.


"Kamu dimana Ra? kalau kamu sudah pulang dari kantor aku akan kerumah mu".


"Kenapa Sa? sekarang aku sudah dirumah".


"Kalau gitu aku kesana sekarang juga. Kamu mau aku bawakan sesuatu?".


"Tidak usah".


"Ya sudah aku tutup".


"Mmmmm" Flora melihat sekitarnya, tampak rumah sedikit berantakan. Ia pun segera menyimpan obat yang tadi ia bawa dari rumah sakit, setelah itu Flora membersihan rumahnya.


Tok... Tok...


"Ra ini aku" panggil Marisa dari luar.


"Kenapa anak itu sudah tiba saja?" gumam Flora melap keringat di wajahnya.


Ceklek!


"Taraaa.. Karna aku ingin makan yang manis-manis, aku membeli cake yang dipinggir jalan kerumah mu itu. Kamu sedang apa di dalam Ra?".


"Bersih-bersih, kemarin aku tidak sempat membersihkannya".


"Oh, aku pikir kamu sedang ngapain hehehe".


"Kamu mau minum teh apa? aku akan membuatnya".


"Biar aku saja, kamu duduk ajah. Oh iya Ra, kamu sakit apa? tadi Reza memberitahu ku kalau kamu dirumah sakit, tapi pas aku menghubungi mu, kamu tidak mengangkat panggilan ku. Kamu baik-baik saja? harusnya kamu memberitahu ku".


"Aku baik-baik saja Sa. Jangan khawatir".


"Bagaimana aku tidak khawatir kalau keadaan mu seperti ini?".

__ADS_1


Flora tersenyum berjalan mendekati Marisa, lalu memeluknya dari belakang. "Terima kasih sudah mau menjadi sahabat terbaik ku Sa. Aku mencintai mu".


__ADS_2