Terjerat Cinta Sekretaris Marisa

Terjerat Cinta Sekretaris Marisa
Bab 120


__ADS_3

Sesampainya dirumah sakit, Marisa yang sedang dalam keadaan krisis sang dokter terpaksa harus melakukan operasi agar bayi yang berada di dalam kandungan baik-baik saja. "Dok, dokter" panggil si suster berlari kearahnya.


"Iya sus?".


"Bagaimana ini dok? kita sudah berusaha menghubungi keluarga pasien tapi tidak satu pun yang tersambung. Apa dokter akan tetap mengoperasi pasien?".


"Iya, nyawa pasien ada ditangan kita. Ayo bawa dia sekarang juga keruang operasi".


"Tapi dok, bagaimana kalau sesuatu terjadi dengan pasie..


"Bawa dia sekarang juga" dengan marah si dokter tersebut langsung pergi meninggalkan mereka. Seperti apa yang ia ucapkan, pada akhirnya mereka membawa tubuh Marisa kedalam ruang operasi. Lalu ia memasuki ruangan operasi, dengan pakaian lengkap medis ia melihat tubuh Marisa telah berada di atas meja operasi. "Terima kasih, mari kita melakukan yang terbaik untuk keselamatan pasien dan juga bayinya"


"Baik dok".


Detik, menit dan jam telah berlalu, begitu bayi Marisa berhasil keluar mereka semua langsung tersenyum bahagia telah berhasil menyelamatkan bayi Marisa dari dalam kandungannya. "Wah dok, kita berhasil. Denyut jantung pasien normal" ucap si dokter anestesi.


"Terima kasih sudah melakukan yang terbaik, bisakah saya percayakan pasien dengan mu?" ia melihat tangan kanannya itu.


"Iya dok".


"Baiklah" ia pun segera meninggalkan ruangan operasi. Lalu mereka melanjutkan pekerjaan mereka yang tertinggal hingga kini pekerjaan itu selesai, Marisa pun segera di pindahkan diruangan ICU.


"Dokter, bagaimana hasilnya? apa semua berjalan dengan baik".


"Mmmmm, semua baik-baik saja. Keluarga pasien gimana? apa mereka sudah bisa dihubungi?".


"Belum dok, kita tunggu saja sampai pasien siuman"


"Ya sudah kalau gitu".


"Iya dok".


.


1 hari kemudian Marisa pun akhirnya siuman, ia membuka kedua matanya dengan mata sembap. "Akh, kenapa kepala ku pusing sekali?" lalu suster yang berjaga disana berlari kearahnya.

__ADS_1


"Hallo, apa anda mendengar saya?" tanyanya.


Dengan kening mengerut Marisa mencoba mempertajam penglihatannya, "Kamu siapa dan saya sedang dimana? kenapa tempat ini seperti..


"Dirumah sakit".


"Apa? rumah sakit?".


"Iya, di rumah sakit. Apa anda merasa baik-baik saja?".


"Saya hanya merasa pusing dan juga.. Aakkhhh, kenapa perut ku tiba-tiba terasa sakit? sus".


"Sebelumnya, apa anda tidak mengingat sesuatu gitu sebelum anda di bawa kerumah sakit ini".


"Tidak, saya tidak mengingat apa-apa sus. Apa sesuatu terjadi dengan saya? kenapa perut saya semakin sakit sus?".


"Itu karna bekas operasi caesar anda setelah melahirkan".


"Hahhh.. Melahirkan? kok bisa sus?" dengan wajah kebingungan, si suster tersebut pun memutuskan memanggil dokter yang menanganinya. "Apa yang terjadi? kenapa dia berkata kalau aku baru saja melahirkan.. Akh, Apa ini?" tampa sengaja Marisa menyentuhnya membuat ia semakin merasa kesakitan. "Kenapa rasanya sakit sekali".


"Hilang ingatan?" Marisa bertanya dalam hati. "Sebenarnya apa yang terjadi? kenapa dia berkata aku hilang ingatan?".


"Marisa" panggil si dokter dengan wajah serius. "Apa anda merasa baik-baik saja?".


"Marisa? nama siapa itu? apa itu nama saya?".


"Sepertinya dia benar-benar hilang ingatan dok" ucap si suster itu kembali.


"Iya, itu nama anda. Bagaimana saya bisa tau? di kalung yang anda pakai ada sebuah tulisan, saya rasa itu adalah nama anda" Marisa pun langsung menyentuh kalungnya, seperti yang dokter itu barusan katakan ia merasakan sebuah huruf disana yang bertulisan Marisa. "Jadi sekarang saya ingin bertanya, apa saudara Marisa tidak mengingat kejadian kemarin?".


"Iya dok, saya benar-benar tidak mengingat apapun yang terjadi dengan saya".


"Lalu dengan bayi anda?".


"Bayi?" melihat Marisa yang kebingungan, si dokter tersebut pun langsung menyuruh si suster membawakan bayinya kedalam ruangan itu, siapa tau setelah ia melihat bayinya Marisa akan mengingat sesuatu. "Maksud dokter saya memiliki seorang bayi?".

__ADS_1


"Iya, maaf jika kami melakukannya tampa persetujuan dari pihak keluarga karna saat itu kami tidak dapat menghubungi keluarga saudara".


"Jadi saya baru saja melahirkan dok? terus dimana suami saya? kenapa dia tidak ada disini?".


"Kami tidak tau dimana keberadaan suami saudara, sebab itu kamu ingin bertanya kepada anda untuk segera menghubungi suami atau yang lainnya. Tapi melihat keadaan anda yang seperti ini...


"Dokter" potong si suster membawakan bayi Marisa kedalam sana. "Ini bayinya dok" lalu si dokter tersenyum senang melihat bayi Marisa yang lahir dengan keadaan selamat meskipun belum waktunya. "Lihatlah dok, bayinya menggemaskan sekali, sepertinya ayah dari bayi ini sangat tampan sama sepertinya".


Kemudian si dokter memberikan ditangan Marisa, dengan senyum mengembang diwajah Marisa, kedua air mata yang tidak ia sadari terjatuh tepat di tangan sang anak. "Selamat untuk anda, bayinya berjenis kelamin laki-laki".


"Terima kasih dok, tapi kenapa air mata saya tidak bisa berhenti dok? apa saya baik-baik saja dok? tolong jawab saya dok hiks.. hiks.. Kenapa disini tiba-tiba terasa sesak dok, kenapa rasanya sakit sekali melebihi dari bekas operasi ini dok hiks.. hiks.." Marisa menyentuh dadanya.


"Tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja. Sus, ayo berikan obat penenang" ucapnya mengambil bayi Marisa dari atas gendongannya.


"Loh dok, bayi saya mau dibawa kemana? kenapa dokter mengambilnya lagi? tolong berikan bayi itu sama saya dok, saya masih ingin memeluknya".


"Nanti ya mbak begitu mbaknya sudah merasa baikan" jawab si suster langsung menyuntik obat penenang di selang inpus Marisa. Tidak menunggu beberapa lama, ia pun mulai merasa mengantuk hingga pada akhirnya Marisa menutup mata itu kembali.


"Dokter, apa dia akan baik-baik saja? saya merasa kasihan kepadanya. Sepertinya dia bukanlah orang sembarangan, saya yakin suaminya pasti orang kaya. Bukankah begitu?" tanya si suster itu kepada suster disebelahnya.


"Iya, aku juga merasakan hal yang sama".


"Tapi kita tidak tahu harus bagaimana untuk menghubungi keluarganya, dia sama sekali tidak memiliki identitas".


"Terus biaya pengobatannya bagaimana dok? gaji kita bisa saja di potong atas oleh pihak rumah sakit".


"Saya yang akan bertanggung jawab, tolong kalian rawat dia dengan bagus" ia pun pergi meninggalkan mereka. Dengan senyum mengembang diwajah keduanya, mereka langsung tetap-tatapan.


"Aku heran deh, sejak kapan dokter Rian orangnya perdulian seperti ini? kamu merasa ada sesuatu enggak sih?".


"Hey, kamu ada-ada saja deh. Kamu seperti tidak tahu saja kalau dokter Rian seperti apa pedulinya dengan pasien. Sudah akh, sebaiknya kita kembali bekerja, entar kita malah ketahuan bergosip disini. Ayo".


"Iya deh, tapi bagaimana kalau dokter Rian ada perasaan denganny..


"Apa kamu sudah gila?".

__ADS_1


"Astaga!! Ais, kamu hampir saja membuat jantung ku copot. Lagian aku hanya bercanda kok, tidak usah melihat ku seperti itu. Maaf maaf maaf. Ayo" kedua orang itu pun kembali melanjutkan pekerjaan mereka.


__ADS_2