
Selesai makan siang, Lucas kemudian membawa kedua orang yang kini amat ia cintai itu ketempat dulu ia tinggal bersama dengan Marisa.
"Kita mau kemana?" tanya Marisa.
"Kerumah kita sayang" jawab Lucas membuat Argana yang mendengarnya menatap heran.
"Ma, om Argana kok manggil mama sayang?" bisik bocah kecil itu.
Lalu Marisa tersenyum geleng kepala.
"Nanti Argana akan tau sendiri".
Tidak menghabiskan waktu yang begitu lama, mobil Lucas telah memasuki gerbang pintu rumahnya di sambut oleh Rehan yang selalu setia tinggal disana.
"Nona Risa?" tanya Rehan dengan wajah terkejut. "Nona Marisa kan? tapi ba-bagaimana bisa nona masih..
"Om siapa? kenapa om bisa mengenal mama Argana?" potong sang bocah itu menghentikan Rehan.
"Lalu siapa anak kecil ini tuan?" Rehan yang tidak yakin dengan apa yang ia lihat bertanya langsung kepada Lucas.
"Mereka istri dan anak ku" jawab Lucas.
"Apa?" Rehan terkejut begitu juga dengan Argana.
"Om Lucas baru bilang apa? istri sama anak? siapa om?".
"Mmmmm" senyum Lucas berjongkok dihadapan Argana. "Anak papa adalah Argana. Maafkan papa selama ini tidak mencari Argana sama mama ya sayang. Papa benar-benar minta maaf".
"Tidak mungkin. Argana tidak mempercayai sebelum mama yang mengatakan kalau om papanya Argana. Ma, apa benar apa yang baru saja om Lucas katakan?".
"Iya sayang. Om Lucas adalah papanya Argana".
"Terus, kalau benar om Lucas papanya Argana. Kenapa papa tidak mencari Argana sama mama selama ini? kenapa papa membiarkan mama hidup menderita hiks.. hiks.." tangis anak bocah itu di hadapan Lucas membuat Lucas yang merasa sangat bersalah kepada putranya itu langsung menarik tubuhnya di dalam pelukannya.
"Maafkan papa Argana. Maafkan papa. Papa janji tidak akan pernah meninggalkan Argana lagi sama mama. Papa mohon Argana jangan nangis lagi" ucap Lucas menghapus air mata Argana melihat Marisa yang ikutan menangis senggugukan bersama dengan Rehan.
.
Kemudian Lucas membawa kedua orang itu masuk kedalam rumah. Argana tampak dia buat pangling melihat desain rumah Lucas yang begitu estetik.
"Ini rumah Argana. Dulu papa sama mama tinggal dirumah ini" ucap Lucas tersenyum memberitahu putranya itu.
"Wah.. Pa. Rumahnya besar sekali, iyakan ma?".
"Iya sayang".
"Rumah ini jauh lebih besar dari pada rumah dokter Rian".
"Sepertinya papa harus berterima kasih banyak kepada dia yang sudah menjaga Argana sama mama selama ini. Apapun yang dia minta, papa akan berikan kepadanya".
"Jangan pa" larang Argana.
"Kenapa?".
"Argana tidak menyukai istri Om Rian. Tante Stela bisa memanfaatkan papa nantinya".
__ADS_1
Mendengar Argana berkata seperti itu Lucas tertawa gemas. "Jika pun dia meminta rumah sebesar ini, itu belum apa-apa setelah mereka merawat Argana mulai dari kecil. Uang papa tidak akan habis sayang".
"Tapi pa.. Ya sudah deh kalau papa benar-benar akan memberinya. Tapi selama ini tante Stela sudah jahat sama mama..
"Sayang enggak boleh bilang gitu yah" potong Marisa mengingatkan putra ya itu jangan sampai di dengar oleh Lucas. Kalau tidak, masalahnya bisa panjang.
Lalu Lucas membawa kedua orang itu ke dalam kamar yang berada di lantai dua.
Ceklek!
"Ini kamar siapa pa.. Oo, itukan foto pernikahan papa sama mama" Argana berlari mendekati album foto pernikahan tersebut. "Iya ini mama sama papa. Ma lihatlah, disini mama cantik sekali" senang Argana menunjukkan gigi rata.
"Disana juga ada ma. Wah...".
"Mama cantik sekali disini dan juga pemandangannya" puji Argana mengangkat kedua jempol jari tangannya. "Lalu ini..
"Astaga.. Lucas kenapa ada foto seperti ini disini?" Marisa langsung menutup kedua mata Argana supaya anak kecil itu tidak melihatnya lagi. "Hey, kenapa foto seperti itu harus di pajang? Argana bisa melihatnya!".
Namun bukannya merasa bersalah, Lucas malah tersenyum mendekati istrinya itu. "Kenapa?".
Marisa pun hanya bisa menghela nafas, "Kamu yah!".
"Maaf sayang. Argana, mau lihat kamar Argana? kamarnya ada disebelah".
Lucas mengangkat kedua bahunya, "Papa enggak tau. Tanya saja mama kamu".
Argana kemudian melirik kearah Marisa yang masih berdiam diri disana sambil menatap kearah mereka dengan tatapan kesal.
"Pa, papa enggak takut kalau mama marah? mama kalau marah..." gantung Argana saat Lucas menghentikan langkah kakinya. Lalu ia melihat Lucas berjalan meninggalkan dirinya menghampiri Marisa.
"Mmuuaacchhh.. Maafkan aku sayang ku. Jangan merajuk seperti itu ah, dari tadi Argana mengejek mu" ucap Lucas melihat Argana mengernyitkan dahi begitu Marisa melihat putranya itu.
"Kenapa mama malah melihat Argana?".
"Tidak. Ayo" tarik Lucas kembali ditangan Argana membawanya kedalam kamar yang akan menjadi miliknya.
Ceklek!
"Ini kamar Argana. Anak papa menyukainya?".
"Wah, ini kamar Argana pa?".
"Iya. Argana suka?".
"Tentu saja Argana suka pa" dengan senyum mengembang diwajahnya Argana. Ia pun langsung menaiki tempat tidur tersebut. "Argana suka pa. Tempat tidur ini enak sekali".
"Papa senang mendengarnya kalau Argana suka".
__ADS_1
"Mmmmm. Oh iya pa. Boleh tidak kalau Argana membawa teman kerumah? dia seorang wanita. Dia teman satu-satunya Argana disekolah".
"Boleh, kapan pun Argana mau".
"Benarkah pa?".
"Iya".
"Yeee.. Terima kasih pa heheheh".
"Sekarang Argana turun, mandi, kita akan kerumah kakek".
"Siapa pa?".
"Kakek ya Argana dari mama" jawab Lucas melihat istrinya itu memasuki kamar Argana.
"Ayo mandi sayang" ucap Marisa.
"Terus pakaian Argana gimana ma?".
"Pakaian Argana sudah ada didalam lemari pakaian. Terserah Argana mau pakai yang mana" jawab Lucas tersenyum manis kepada istrinya itu. "Aku juga mau mandi dulu sayang".
"Mmmm" angguk Marisa. "Ayo Arga".
"Iya ma".
Di dalam kamar mandi. Lagi-lagi Argana di buat terkagum melihat kamar mandi semewah ini yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
"Ma, Argana jadi penasaran".
"Kenapa sayang?".
"Mama kok bisa sih mendapatkan papa yang sekaya ini?".
"Hahahah.. Kamu ada-ada saja Arga. Ya kalau sudah jodoh dari Tuhan mau gimana lagi sayang? kan kita tidak ada yang tau".
"Iya juga sih ma. Argana juga mau nantinya seperti papa".
"Anak pintar".
.
Selesai Marisa menganti pakaian Argana, ia memasuki kamarnya bersama dengan Lucas. Disana ia melihat Lucas telah berdandan rapi seperti ingin ke undangan saja.
"Bagaimana sayang? apa suami mu ini sudah terlihat tampan?".
"Mmmm, kamu sangat tampan sekali sampai aku.. Tidak lupakan saj..
"Sampai apa hhhmmm?" potong Lucas menarik pinggang Marisa kedalam dekapannya hingga jarak diantara keduanya begitu sangat dekat.
"Yah.. Jangan seperti ini. Argana bisa saja masuk secara tiba-tiba. Ayo lepaskan aku".
"Aku tidak akan melepaskan kamu sebelum kamu menjawab pertanyaan aku sayang. Ayo jawab".
__ADS_1
"Baiklah. Tapi lepaskan dulu" Lucas melepaskan pelukannya. "Kamu sangat tampan sekali sampai aku mengira kamu mau ke acara undangan hahahah.. Jangan di pikirkan. Aku hanya bercanda, aku mandi dulu".