
Didepan cermin Marisa tak henti-hentinya memandangi tubuhnya yang begitu seksi bagaikan bak model papan atas.
"Cantik! tapi kenapa aku merasa familiar melihat diriku yang seperti ini seolah-olah aku sudah terbiasa dengan pakaian ini?" Marisa tampak berpikir lama kalau saja Argana tidak memanggilnya.
"Ayo ma buruan.. Wah, mama baju baru?".
"Mmmmm, dokter Rian yang memberinya sama mama sayang. Bagus bukan?".
"Bagus ma. Pakaian itu sangat indah sekali ditubuh mama" jawab Argana menunjuk kedua jempol tangannya.
"Benarkah?".
"Mmmmm".
"Wah.. Terima kasih sayang ku. Kamu memang yang terbaik soal memuji mama. Ayo".
.
Di depan gedung perusahaan Asia group, Marisa menarik nafas panjang sebelum ia melangkah masuk kedalam loby. Kemudian melihat sekitarnya, pegawai karyawan lainnya telah bergegas masuk melihat jam hampir saja menunjukkan pukul 8 pagi.
"Sebaiknya aku masuk. Karna ini hari pertama aku bekerja, aku tidak ingin mengecewakan dia" Ia pun segera melangkahkan kedua langkah kakinya masuk kedalam loby menuju lift. "Selamat pagi mbak!" Sapa Marisa dengan senyum ramah.
Namun tidak sesuai dengan apa yang ia pikirkan bermaksud mereka akan membalasnya. Tetapi ia malah dicuekin seolah-olah tidak perduli dengan ia siapa.
"Apa salahnya sih membalas sapaan orang? hhmmsss" batin Marisa.
Tidak menunggu beberapa lama, pintu lift terbuka. Ia segera masuk kedalam sana bersama dengan karyawan lainnya. Hingga kini ia telah berada di lantai ruangan Lucas, lalu ia berjalan mendekati meja sekretaris Lucas.
"Selamat pagi tuan" sapanya dengan senyum ramah.
"Pagi" balasnya dengan datar.
"Itu tuan, saya ingin menemui tuan Lucas. Beliau sudah ada di ruangannya?".
"Sebentar" sekretaris Lucas membuka jadwal tuannya itu. Ia melihat kalau saja Lucas tidak ada meeting pagi ini. "Kamu boleh masuk, tapi ingin jangan membuatnya marah karna yang saya lihat tuan Lucas kurang enak badan".
"Iya tuan. Terima kasih".
Marisa lalu mengetuk pintu terlebih dahulu, namun meskipun tidak ada jawaban dari dalam Marisa tetap mendorong pintu tersebut hingga ia melihat Lucas tengah terlelap diatas meja kerjanya dengan pakaian kantor.
__ADS_1
"Loh, kenapa dia malah tertidur disini? apa dia baik-baik saja" gumam Marisa mendekati kursi kebesaran Lucas.
Marisa tersenyum lebar melihatnya dengan gemas. "Tapi apa dia baik-baik saja? bagaimana kalau dia sedang sakit? haruskah aku menganggu tidurnya?".
Ia mencoba untuk menyentuh tubuh Lucas, namun ia malah menariknya kembali hingga sebuah tangan menarik tubuhnya terjatuh diatas pangkuan Lucas. "Astaga!".
"Kenapa?".
Marisa membulatkan kedua mata dengan jantung yang tak karuan berdetak hingga Lucas mampu merasakan setiap detakan tersebut.
"Maafkan aku tuan, sa-say..
"Sshhuueettt.. Orang lain bisa mendengar suara mu" Lucas menahan kedua bibir Marisa dengan jari telunjuk miliknya. "Hari ini kamu cantik sekali".
"Hhhmm? tuan, tolong jangan macam-macam sama saya. Saya sudah mengatakan dengan tuan kalau saya sudah menikah dan memiliki seorang putr..
Cup!
Marisa pun semakin membulatkan kedua matanya begitu Lucas mencium bibirnya, "A-apa yang telah tuan lakukan?".
Sedangkan Lucas bukannya merasa bersalah atau lainnya, ia malah menunjukkan senyuman kerinduan yang sangat mendalam kepada sang istri. "Maafkan aku sayang telah meninggalkan kamu. Maafkan aku" air mata Lucas yang baru saja menetes membuat Marisa kebingungan.
"Jangan pergi lagi sayang, aku tidak bisa hidup tanpa kamu".
"Ya Tuhan, ada apa dengan anda tuan?" Marisa semakin terlihat kesal kepada Lucas yang sama sekali tidak ia mengerti.
Lucas kemudian menetap kedua bola mata Marisa dengan intens, "Ini aku Marisa, suami kamu".
"Apa? suami ku? haahh.. Hahahha.. Jangan bercanda dengan saya tuan. Say..
"Ini aku Risa, Lucas!".
"Maaf, saya sama sekali tidak mengerti dengan perkataan anda. Tolong lepaskan saya tuan sebelum saya teria..
"Kamu tidak merindukan ku? kamu sama sekali tidak mengingat ku Risa? apa kamu benar-benar tidak mengingat ku?".
"Aku tidak tau kamu siapa?".
__ADS_1
"Aku suami mu Marisa. Maafkan aku selama ini tidak datang mencari mu sayang".
"Tidak mungkin, aku tidak akan mempercayainya".
"Kenapa kamu tidak mempercayai? apa kamu juga tidak mengenal ku siapa?".
Marisa pun langsung terdiam kalau ia juga merasakan hal yang sama dengan Lucas, bahwasanya ia tidak mengingat siapa dirinya yang sebenarnya dan siapa keluarga besarnya.
"Lalu aku siapa? kenapa aku sama sekali tidak bisa mengingat mu kalau kamu benar-benar adalah suami ku? hahahha.. Tidak mungkin, kamu dengan ku bagaikan langit dan bumi".
"Aku tau, aku juga tidak mempercayai ini semua. Namun setiap kali aku melihat mu, disini terasa sakit Risa bagaikan tertusuk duri" ucap Lucas menyentuh dadanya.
"Jangan membohongi ku" geleng Marisa masih belum mempercayainya.
Flashback.
Malamnya di dalam kamar, Lucas tak henti-hentinya menggeledah seisi kamarnya kalau saja Isabella ibunya tidak masuk.
"Astaga! apa yang kamu lakukan Lucas? kenapa kamar kamu berantakan seperti ini kaya kapal pecah?".
Lucas menghentikan tangannya menatap Isabella dengan tatapan serius sambil berjalan kearahnya. "Aku tau mama pasti menyembunyikan sesuatu dari ku. Jawab jujur ma, kenapa setelah kecelakaan itu aku mengingat semuanya kecuali satu orang".
Isabella tampa berpikir mendengar perkataan Lucas yang tiba-tiba, "Ada apa Lucas? kenapa kamu berkata seperti itu?".
"Jawab Lucas jujur ma. Jose baru saja memberitahu kalau aku sudah menikah dengan seorang wanita yang aku cintai. Siapa wanita itu ma?".
"Itu tidak benar Lucas".
"Jawab jujur ma" Lucas meninggikan suaranya setengah berteriak.
Melihat wajah Lucas yang memerah, Isabella pun hanya bisa pasrah. "Hhhmmsss.. Lucas, berat mama harus mengatakan kepada mu sayang. Benar, sejak kejadian itu kamu melupakan orang yang kamu cintai dalam hidup mu. Tapi mama sangat bersyukur sekali Lucas kamu tidak mengingatnya, karna wanita itu dan juga bayi mu tidak bisa diselamatkan".
"Apa?" kaget Lucas menjatuhkan tubuhnya diatas sofa sembari mengeluarkan air mata kesedihan. "Tidak mungkin, istri ku tidak mungkin pergi meninggalkan aku sendiri. Mama pasti salah, aku yakin itu mama pasti salah".
"Tidak Lucas. Untuk apa mama harus membohongi mu lagi? sudah cukup penderitaan ini" Isabella mendekati Lucas, lalu memeluknya ikut merasakan kesedihan yang putranya itu rasanya.
Hingga selang waktu 15 menit Lucas melepaskan pelukannya Isabella. "Tapi aku yakin ma istri ku masih hidup, dia tidak mungkin pergi meninggalkan aku. Beritahu aku siapa namanya ma, tolong tunjukkan foto kenangan kami berdua".
"Sudahlah Lucas, lupakan dia. Istri kamu sudah bahagia di alam sana, jangan menumbuhkan luka di dalam hati kamu lagi. Mama mohon".
__ADS_1
"Tidak ma, sebelum mama memberitahu siapa istri ku, aku tidak akan mempercayainya ini semua".
"Lucas, mama bukanya tidak ingin memberitahu mu siapa wanita itu. Tapi mama tidak akan sanggup melihat mu nantinya akan berlarut-larut dalam kesedihan. Tapi baiklah kalau itu yang kamu mau, mama akan membawa kamu kerumahnya".