Terjerat Cinta Sekretaris Marisa

Terjerat Cinta Sekretaris Marisa
Bab 126


__ADS_3

Begitu Rian mengantar Marisa di depan gedung yang ingin ia kunjungi, Marisa langsung menatap kagum keatas gedung tinggi tersebut.


"Wah, gedungnya tinggi sekali. Lalu dimana aku bisa bertemu dengan dia? apa sebaiknya aku bertanya kepada sekuriti itu?" ia pun berjalan mendekati salah satu diantaranya. "Permisi!".


"Iya, ada yang bisa saya bantu?" tanyanya melihat Marisa.


"Ini pak, saya ingin bertemu dengan orang pemilik kartu nama ini. Bisakah bapak membawa saya kedalam ruangannya?" namun bukannya langsung menjawab pertanyaan Marisa, ia malah terdiam melihatnya kembali dari atas sampai bawah. "Kenapa pak? apa saya salah alamat?".


Lalu salah satu rekannya bertanya, "Ada apa?".


"Itu, wanita ini ingin bertemu dengan tuan Lucas" jawabnya menunjuk kartu nama tersebut di hadapannya.


"Oh, jadi namanya Lucas. Tapi kenapa di kartu namanya itu dia tidak membuat namanya?" batin Marisa sembari melihat mereka berbisik-bisik tidak ia tahu.


"Begini mbak, saya ingin bertanya dari siapa mbak mendapatkan kartu nama ini? setau kami tuan Lucas belum pernah memberikan kartu nama beliau secara sembarang kepada orang lain. Sebaiknya mbak jujur sama kami kalau mbak..


"Kenapa bapak tidak percaya? saya mendapatkannya benar-benar dari orangnya. Kalau bapak tidak percaya, silahkan beliau dipanggil".


"Apa?" kaget mereka mendengar ucapan Marisa yang sudah berani sekali menyuruh tuan mereka yang datang menghampirinya.


"Iya, itu artinya saya tidak berbohong".


"Kalau gitu mbak ikut saya" ia pun mengajak Marisa memasuki loby menuju ruangan Lucas yang berada di lantai atas. Namun sebelum mereka tiba disana, sekuriti itu memperingatkan Marisa kalau saja tuannya itu bukanlah orang sembarangan yang bisa ditemui. Jadi, jika sesuatu terjadi dengan Marisa dia tidak akan ambil tanggung jawab telah membawanya kesana.


Ting..!!


Pintu lift terbuka, sambil memperbaiki pakaiannya Marisa tidak lupa memasang sebuah senyuman manis diwajah cantik ya.


"Permisi tuan" ucap sekuriti itu kepada sekretaris Lucas.


"Iya, ada apa?".


"Wanita ini ingin bertemu dengan tuan Lucas tuan" jawabnya menunjuk kearah Marisa. "Dia memberi tahu saya kalau tuan Lucas sendiri yang menyuruhnya datang kemari?".


"Tuan Lucas?" ia mengernyitkan dahi melihat Marisa. "Apa benar tuan Lucas sendiri yang menyuruhnya anda menemuinya?".


"Iya tuan, ini buktinya" Marisa memberikan kartu nama itu dihadapannya. "Bisakah saya bertemu dengannya tuan?".


"Sebentar" ia lalu menghubungi Lucas. "Selamat pagi tuan, seorang wanita ingin bertemu dengan tuan, dia berkata kalau tuan sendiri yang memintanya datang kekantor".


"Siapa?".


"Siapa nama kamu?".


"Marisa tuan".

__ADS_1


"Namanya Marisa tuan".


"Akh iya. Suruh saja dia masuk".


"Baik tuan".


Semakin tersenyum lebar, Marisa tampak sangat bahagia sekali begitu ia mendengar suara Lucas di dalam percakapan sekretaris itu. Kemudian sekretaris Lucas berjalan mendekati pintu ruangannya, membukanya lalu menyuruhnya masuk. "Masuk".


"Terima kasih tuan".


Melihat Lucas yang tengah sibuk dengan pekerjaannya, Marisa berjalan mendekatinya dengan langkah pendek sembari tersenyum dengan manis.


"Kamu sudah datang?" Lucas menghentikan berkasnya.


"Iya tuan" jawab Marisa mengangguk.


"Terus, apa yang kamu inginkan datang kemari menemui saya?" Lucas mantapnya dengan tatapan serius.


"Sa-saya ingin bekerja tuan".


"Itu saja?".


"Hhhmm? akh maaf tuan. Saya datang kemari karna benar-benar sangat membutuhkan pekerjaan tuan. Kiranya tuan mengizinkan saya bekerja di perusahaan ini meskipun itu sebagai petugas kebersihan".


"Iya tuan" jawab Marisa dengan mantap melihat Lucas mengulur tangan kanannya. "Ada apa tuan?".


"Kamu tidak membawa surat lamaran?".


"Maaf tuan, saya tidak memiliki ijazah, sebab itu saya tidak membuatnya" Marisa kembali menunduk menggerutu tak jelas, namun saat Lucas melihat kalung Marisa yang tiba-tiba keluar dari dalam kemejanya. Ia membulatkan Mata melihat benda tersebut.


"Tunggu!".


"Ya?".


"Tetap disana, jangan bergerak" Lucas bangkit berdiri dari atas kursi kebesarannya mendekati Marisa yang masih berdiri di posisi ia semula. "Apa benda ini milik mu?" Lucas menyentuhnya membuat Marisa tiba-tiba langsung menghempas tangannya.


"Jangan menyentuhnya".


"Maaf".


"Akh, tidak tuan. Harusnya saya yang minta maaf sudah lancang memukul tangan tuan. Sekali lagi saya minta maaf tuan" Marisa tampa sangat merasa bersalah telah berani melakukan hal tersebut.


"Sebagai gantinya, bisakah kamu menjawab dari mana kamu mendapatkan kalung itu?".


"Ada apa tuan dengan kalung saya? saya juga tidak tau kalung ini milik saya atau milik orang lain, karena kalung ini udah ada pada saya sejak 5 tahun yang lalu tuan" lalu ia melihat Lucas menyentuh kepalanya yang tiba-tiba merasa pusing, "Ada apa tuan? tuan baik-baik saja?".

__ADS_1


"Tidak, kepala saya tiba-tiba terasa pusing".


"Lalu apa yang harus saya lakukan tuan" Marisa semakin khawatir kalau saja orang melihatnya, bisa jadi orang beranggapan kalau ia mencoba menyakiti CEO dari perusahaan tersebut.


Tidak sampai disana, Marisa yang sambil berpikir mencoba mendudukkan Lucas diatas sofa. Mencari sebuah air minum, begitu ia mendapatkannya, ia memberikan ditangan Lucas. "Ayo diminum dulu tuan".


"Terima kasih" setelah hampir 10 menit lamanya Lucas terdiam, ia kembali melihat Marisa yang masih berada disebelahnya. "Siapa kamu sebenarnya? kenapa melihat mu membuat seseorang tiba-tiba melintas dipikiran saya".


"Maksud tuan? maaf tuan saya tidak mengerti".


"Kamu mengenal ku?".


"Hhhmm? kenapa tuan bertanya seperti itu? bagaimana mungkin saya mengenal tuan sedangkan..." gantung Marisa mengingat ia yang lupa ingatan. "Kenapa jadi seperti ini?".


"Kenapa kamu diam? kamu benar-benar tidak mengenal ku?".


"I-iya tuan, saya benar-benar tidak mengenal tuan" Lucas pun langsung menghela nafas berat mengusap wajahnya dengan kasar. "Kalau gitu, sebaiknya saya pergi saja tuan".


"Mmmm, dan kamu diterima bekerja disini. Besok kamu langsung kerja".


"Apa? saya diterima tuan bekerja disini? ini benaran tuan? saya enggak salah dengar kan tuan?".


"Mmmmm, kamu boleh keluar".


"OMG, aku enggak habis pikir kalau aku ternyata diterima bekerja disini. Terima kasih tuan, terima kasih banyak sudah mau menerima saya. Sebagai tanda hujut terima kasih saya, saya akan melakukan yang terbaik tuan".


"Mmmmm".


Sekeluarnya Marisa dari sana, Lucas kembali menyentuh kepalanya yang berdenyut, lalu menghubungi Jose yang tengah berada di ruang sakit miliknya. "Kamu dimana Jose?".


"Dirumah sakit, ada apa Lucas?".


"Aku ingin menemui dokter ku, tiba-tiba kepala ku terasa pusing Jose. Apa dia ada disana?".


"Datanglah, aku akan memeriksanya. Kenapa kamu tidak langsung menghubunginya? baiklah kamu datang saja".


"Mmmm" Lucas mematikan ponselnya. Ia pun segera keluar dari dalam ruangannya, "Tidak usah mengikuti ku" Ucapnya kepada sekretarisnya itu saat ia hendak bergerak mengikuti dari belakang.


Sedangkan Marisa yang tengah berada di dalam parkiran, ia dibuat kebingungan jalan menuju keluar akibat tersesat. "Astaga bagaimana ini? bisa-bisanya aku malah berada disini".


Lalu ia mendengar sebuah suara mobil yang menyala. Ia pun langsung berlari kearah mobil tersebut, "Stop".


DDDRREETTT..


"Astaga!" Lucas segera menginjak rem mobilnya melihat Marisa tepat berdiri di depan mobilnya.

__ADS_1


__ADS_2