Terjerat Cinta Sekretaris Marisa

Terjerat Cinta Sekretaris Marisa
Bab 117


__ADS_3

Tidak lama kemudian setelah Marisa dipindahkan diruang inap, ia kini membuka mata melihat Lucas tengah menggenggam tangannya dengan erat. "Lucas!" panggilnya.


Dengan mata berbinar Lucas langsung tersenyum senang melihat sang istri telah siuman, "Sayang, kamu sudah sadar? kamu baik-baik saja?".


"Mmmm, aku baik-baik saja suami ku. Kamu pasti sangat mengkhawatirkan aku, maaf".


"Tidak sayang aku yang salah telah meninggalkan kami seorang diri dirumah, maafkan aku" Lucas mencium keningnya. "Apa rasanya sangat sakit?".


"Tadi iya, tapi sekarang tidak lagi".


"Syukurlah, aku senang mendengarnya".


"Tapi bagaimana dengan Reza? apa dia baik-baik saja? aku khawatir kalau dokter Raniya menyakitinya sedangkan Reza tidak tau apa-apa".


"Dia baik-baik saja sayang, jangan khawatirkan dia".


"Lalu dimana dia sekarang? sebelum aku melihatnya aku tidak percaya kalau Reza baik-baik saja" lalu Lucas mengeluarkan ponselnya, ia pun segera menghubungi nomor Reza. "Dia menjawabnya?".


"Iya" jawab Lucas memberikan ponsel tersebut ditangannya.


"Hallo Reza!! kamu baik-baik saja? aku sangat mengkhawatirkan kamu, apa dia melukai mu?".


Reza pun seketika tersenyum, "Aku baik-baik saja Risa, malahan kamu yang telah menyelamatkan aku. Bagaimana keadaan kamu saat ini? sepertinya aku tidak bisa datang kesana untuk memastikan kalau kamu baik-baik saja".


"Tidak apa-apa Reza yang penting sekarang kamu baik-baik saja aku sudah merasa senang. Lalu dimana dia? itu dokter Raniya? sebaiknya kamu menjauhi dia, aku tidak mau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan kepada mu, dia itu sangat menakutkan sekali, kapan saja dia bertemu dengan mu dia bisa membunuh mu Za".


"Mmmmm, aku akan berhati-hati dengannya Risa. Sekarang istirahatlah, kamu pasti lelah sekali".


"Iya Za" setelah itu Marisa memberikan ponsel Lucas ditangannya. "Syukurlah dia baik-baik saja, aku pikir dokter Raniya akan menyakiti dia juga. Tapi kenapa kamu malah membawa ku kesini? bagaimana kalau dia sampai tau aku berada disini? astaga, ini tidak bisa dibiarkan, aku harus pindah dari sini, nanti dia bakalan menyakiti ku dan juga bayi kita. Ayo bawa aku pergi dari sini".


"Dia tidak akan menyakiti mu lagi sayang, sekarang kamu tenang dulu" Lucas mencoba untuk menenangkan sang istri yang berada dalam tahap kecemasan. "Percaya kepada ku kalau Raniya tidak akan pernah menyentuh mu lagi mmmmm".


Dengan kening mengerut Marisa menatapnya dengan tatapan bingung, "Maksud kamu? jelas-jelas aku melihat kalau dokter itu...

__ADS_1


"Iya sayang aku tau, tapi dia tidak akan pernah bisa melakukan hal itu lagi. Jadi sekarang kamu tenang yah, percaya kepada suami mu ini kalau semua akan kembali seperti semula tampa ada yang harus kamu takuti".


"Benarkah? tapi..


"Semua akan baik-baik saja sayang, dia tidak akan pernah menyakiti mu lagi" Lucas langsung memeluknya dengan sayang, kemudian mencium bibir pucat pasi tersebut sambil tersenyum menggoda sang istri.


"Ais, jangan melihat ku seperti itu" Marisa malah tersipu malu. "Udah ah, aku mau istirahat dulu. Oh iya, bagaimana dengan Flora? apa dia sudah tiba di kampung halamannya?".


"Sepertinya dia sudah tiba, tadi Jose...


Tok.. Tok..


"Ooo, itu dia orangnya. Jose, Flora sudah tiba di kampungnya? dia pasti sudah memberitahu mu".


"Mmmmm, dia sudah tiba disana. Kamu ingin melihatnya?".


"Jangan, dia akan khawatir kalau sampai Flora tau aku berada dirumah sakit" lalu Jose mendekati Lucas memberitahu kalau putrinya Dilan bersama dengan Kirana baru saja lahir ke dunia dengan selamat dirumah sakit ibunya. "Wah, keponakan kamu sudah lahir sayang, selamat yah" ucap Marisa dengan bangganya.


.


"Iya Kirana, kalau gitu tante keluar dulu yah".


"Iya tante" kemudian Dilan mendekatinya melihat si buah hati yang tertidur. "Dilan, putri kita sudah lahir ke dunia ini, kamu sudah menyiapkan nama untuk ya?".


"Aku lebih menyukai seseorang anak laki-laki, tapi kamu malah memberi ku seorang perempuan" mendengar apa yang baru saja Dilan ucapkan, Kirana langsung menatapnya dengan tajam. "Aku sudah mengatakan kepada mu dari dulu kalau aku tidak menyukai anak perempuan".


"Kurang ajar!! bagaimana bisa kamu berkata seperti itu Dilan di depan bayi mu yang baru saja lahir? apa kamu tidak memiliki perasaan sama sekali?".


"Hhhmmsss.. Terserah kamu, sebaiknya aku pergi saja".


"Yah..!! Yah..!! Yah.. Dilan!!".


BBBRRRAAKK

__ADS_1


Dengan sangat marah, ia pun langsung melemparkan bantal yang ia pakai tepat di kepala Dilan membuat Dilan menghentikan kedua langkah kakinya. "Bajingan, lebih baik kamu lenyap saja dari kehidupan ku dari pada aku harus melihat mu seperti ini".


"Apa? lenyap? hahh.. hahahha.. Kamu pasti sudah gila Kirana" Dilan yang tertawa kembali mendekatinya sambil menyentuh pipi kanannya yang baru saja mengelurakan sebutir air mata. "Sebelum kamu memberiku keturunan anak laki-laki, jangan pernah berharap aku akan memberikan nama untuk ya. Ingat itu sayang!" ucap Dilan segera keluar dari dalam sana tampa ia sadari dari kejauhan Isabella sedang melihatnya. Namun meskipun ia tahu apa yang sedang terjadi dengan keduanya, Isabella tidak berniat untuk ikut campur.


Kemudian Kirana melihat bayinya, "Apa kamu musibah untuk ku? kalau kamu menjadi musibah untuk ku sebaiknya kamu tidak usah lahir ke dunia ini...


"Ooaaakkk.. Ooaaakkk.. Ooaaakkk".


"Haahhhh.. Kamu mendengar ku? kenapa disaat ayah mu sendiri yang berkata seperti itu kamu tidak menangis hhmmm?".


Ceklek!


"Mama!!".


"Kirana, apa benar kamu melahirkan anak perempuan?" Vina terlihat kesal mendengar kalau bayi yang baru saja Kirana lahirkan itu seorang anak perempuan. "Jadi benar Kirana?".


"Mah, emang kenapa kalau dia anak perempuan? apa mama sama papa tidak akan menganggapnya sebagai cucu dari keluarga ini?".


"Iya" jawab Vina dengan tegas. "Dalam keluarga kita itu harus melahirkan anak pertama laki-laki. Pokoknya mama enggak mau tau Kirana, kamu harus melahirkan seorang pewaris. Ayo kita pulang pa".


"Ma, ma..!!" bukannya perduli dengan panggilan Kirana, Vina langsung pergi dari sana bersama dengan sang suami. "Ya Tuhan, kenapa harus seperti ini? Aarrkkhhh.. aku tidak menyukainya, aku tidak menyukainya".


Tok.. Tok..


Ceklek!


"Permisi nona, ini sudah waktunya kami membawa bayinya pergi" ucap sang suster tersenyum ramah.


"Ini, kamu bawa saja dia pergi" jawab Kirana memberikan bayinya itu begitu saja kedalam pelukan si suster smapai membuat ia terkejut hampir saja melukai bayinya.


"Sekarang bawa dia pergi, saya ingin istirahat".


"Mmmm, baik nona. Kalau gitu saya permisi dulu" setelah si suster tersebut membawa bayinya pergi dari sana, Isabella yang melihatnya langsung berlari kearahnya. "Dokter".

__ADS_1


"Iya sus, berikan bayi sama saya".


"Iya dok".


__ADS_2