
Sesampainya dirumah, Lucas membantu Elisabet membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur. "Terima kasih" Elisabet tersenyum menarik kedua tangan Lucas kedalam genggamannya.
"Mmmmm, istirahatlah. Nanti malam aku akan datang melamarnya".
"Iya".
Begitu Elisabet menutup kedua matanya, Lucas langsung keluar dari dalam kamar. Ia melihat Marisa menunggu di depan pintu kamar, "Kamu pulang saja, dia sudah tidur" Marisa melihatnya membuat Lucas mengernyitkan dahi. "Kenapa?".
"Tidak, kalau gitu aku pulang dulu".
"Mmmmm" angguknya melihat punggung Marisa pergi meninggalkannya. Kemudian Marisa menghubungi nomor Saphira sang mama.
"Ada apa Risa?".
"Mama dimana?".
"Dirumah, ada apa?".
"Risa pulang ma" Marisa mematikan ponselnya, lalu bodyguard Elisabet memberikan kunci mobilnya. "Terima kasih" Hingga kini Marisa telah tiba di rumah, ia langsung masuk kedalam rumah sambil berteriak memanggil sang mama.
"Ada apa Risa kamu pulang di jam segini? tidak seperti biasanya? jangan bilang kamu...
"Tidak ma, Risa pulang cepat karna ada hal penting yang ingin Risa bicarakan sama mama papa dan juga kak Zara. Tapi sepertinya kak Zara masih lama pulang, bagaimana dengan papa?".
"Kamu ada-ada saja deh, ini barusan jam 1 siang. Emang ini masalah penting apa yang ingin kamu bicarakan sama mama dan papa Sa?".
Marisa menarik nafas terlebih dahulu, lalu membuangnya melihat Saphira. "Kalau gitu kita duduk dulu ma, tapi mama jangan sampai teriak yah. Entar tetangga dengar, ok".
"Mmmmm".
"Begini ma. Risa mau menikah".
"Apa?" kaget Saphira memukul lengannya secara spontan.
"Ah, sakit ma" rengek Marisa menyentuh lengannya.
"Sekarang kamu jujur sama mama, siapa orang yang sudah menghamili kamu. Cepat jawab mama Risa".
__ADS_1
"Hey, siapa juga yang hamil sih? Risa enggak hamil ma. Makanya mama dengarin Risa dulu selesai bicara baru mama bicara. Ini pake nyerang duluan lagi, kan lengan Risa sakit ma".
"Terus kenapa kamu bilang kamu mau nikah kalau bukan karna kamu sedang hamil?".
"Intinya Risa enggak hamil ma. Risa menikah karna hal mendesak yang tidak bisa Risa hindari".
"Hal mendesak apa lagi ini Risa? pokoknya mama tidak akan memberimu izin menikah dengan pria mana pun. Jangan coba-coba berani melawan mama, kamu mau jadi anak durhaka?".
"Ckckck.. Mama enggak asik tau, mama nyebelin. Masa iya anaknya sendiri mau nikah enggak di beri restu? mama mau Marisa perawan tua seumur hidup?".
"Tapi setidaknya kamu mengenalkan pria itu dulu sama mama dan papa kamu Risa, apalagi tadi kamu bilang karna hal mendesak. Tolong ya Risa jangan menambah beban hidup mama, kamu sudah tau sendiri kalau kakak kamu Zara akan menikah dua minggu lagi, dan sekarang kamu juga ingin menikah".
"Iya ma, kami berdua akan menikah dalam minggu ini..
PPLLLAAKKK..
"Ah.. Maa" rengek Marisa menyentuh lengannya kembali semakin kesakitan. "Ini sangat sakit ma" Saphira mengusap wajahnya dengan kasar, suara napasnya terdengar menggebu-gebu di kedua telinga Marisa. "Ma maafkan Marisa, tapi calon suami Marisa tidak seperti laki-laki brengsek seperti yang mama pikirkan di luaran sana. Dia adalah pria baik, Risa mohon ma tolong terima dia sebagai calon suami Risa".
"Sekarang mau kamu apa Risa?".
"Tapi calon suami kakak kamu itu pria baik Risa dan dia juga berasal dari keluarga baik-baik".
"Dia juga dari keluarga baik-baik ma, bahkan lebih dari keluarga baik seperti yang mama pikirkan. Tapi aku tidak punya nyali mengatakan yang sebenarnya, lebih baik tuan Lucas sendiri yang akan mengatakan siapa dirinya dari pada aku" batin Marisa melihat Saphira.
Kemudian Marisa memasuki kamarnya, ia membaringkan tubuhnya menatap keatas langit-langit kamarnya dengan pikiran lelah. Setelah itu ia terlalap tampa menyadari jam telah menunjukkan pukul 5 sore. "Marisa bangun, ayo bangun Risa" panggil sang mama.
"Kenapa ma? Risa masih ngantuk ah hooaamm".
"Ngantuk kamu bilang? kamu sudah tidur sampai 4 jam lamanya Risa. Ayo buruan bangun, sebentar lagi papa kamu pulang".
Marisa membuka mata, "Sekarang jam berapa ma?".
"Jam 5 sore, sana pergi mandi".
"Iya" angguk Marisa mendengus melihat Saphira.
"Ayo buruan mandi".
__ADS_1
"Mmmmm".
Begitu Marisa memasuki kamar mandi, Saphira berkacak pinggang melihat seisi kamarnya. "Bagaimana mungkin dia ingin menikah, sedangkan kamarnya sendiri belum bisa dia rawat".
Tidak lama kemudian Marisa keluar, ia memakai pakaian santai seperti biasa ia pakai dirumah meskipun malam ini Lucas akan datang melamarnya. Lalu ia mendengar suara sang ayah dari luar, Marisa pun langsung keluar. "Pa" panggilnya. "Papa sudah pulang?".
"Mmmmm, papa barusan pulang. Ada apa sebenarnya? tadi siang mama menelpon papa, katanya kamu ingin menikah dan malam ini juga calon suami kamu akan datang. Apa itu benar Risa?".
"Iya pa" senyum Marisa. "Maaf sudah memberitahu papa dengan cara mendesak. Tapi Risa yakin dengan keputusan Risa sendiri".
"Tapi kenapa harus buru-buru sekali Risa? kenapa kamu tidak membicarakan ini sejak dari kemarin. Kamu jangan menambah beban pikiran orang tua, kakak kamu juga akan menikah 2 minggu lagi setelah hampir 4 bulan pernikahan mereka tertunda".
"Maafin Risa pa ma. Sebaiknya nanti saja kita bicarakan begitu dia tiba di rumah ini. Sekarang papa mandi dulu mmmm".
"Hhhmmsss.. Ck" geleng sang papa memasuki kamar. Lalu Marisa melihat Saphira sambil tersenyum bahagia.
"Aku yakin begitu mama melihatnya, mama akan berkata seperti ini sama Risa. Omo sayang ku Risa, kamu benar-benar hebat sekali bisa mendapatkan calon suami seperti dia, mama sangat menyukai dia sayang hahahha" tawa Marisa memperagakan raut wajah Saphira kalau lagi bahagia.
"Aaiisss" geleng Saphira juga meninggalkan dirinya. "Kamu yakin pakai baju seperti itu?".
"Mmmmm" balas Marisa melihat Zara telah kembali pulang. "Kak Zara" panggilnya.
"Risa, apa benar kamu mau nikah?".
"Iya, mama sudah memberitahu kak Zara?".
"Tadi mama menelpon ku. Aku sempat syok mendengar kamu akan menikah dalam minggu ini. Apa itu benar Risa?".
"Iya itu benar kak, nanti dia akan kemari untuk melamar Risa".
"Risa jangan bilang kamu sedang hamil? ayo jujur sama kakak Risa, kamu tidak usah berbohong".
"Risa tidak sedang hamil kak, kenapa enggak ada yang percaya sama Risa sih? yang benar saja" balas Marisa tidak terima.
"Terus siapa pria itu? apa dia Reza mantan kamu itu?".
"Tidak, dia adalah pria yang tidak akan kak Zara percayai. Nanti begitu dia tiba dirumah, tolong yah ekspresi kakak nanti tidak usah pasang muka terkejut ok heheheh".
__ADS_1