
Di dalam ruangan baru Lucas, Marisa tak henti-hentinya menatap ruangan tersebut dengan senyum mengambang di wajahnya. "Luar biasa, ruangan ini benar-benar sangat luas sekali dan juga.. Memandang dari sini sangat indah, aku rasa kamu tidak akan pernah bosan".
"Mmmmm, aku tidak akan bosan. Karna itu, sebaiknya kamu..
"Hentikan. Aku tidak akan mendengar mu" potong Marisa berjalan mendekatinya. "Kapan rencana mu membawa ku bulan madu? sejak kita menikah, kamu selalu fokus dengan pekerjaan" ujar Marisa sedikit menggoda Lucas yang kini menatapnya dengan sebelah alis terangkat. "Aku mengatakan yang sebenarnya".
Kemudian Lucas tersenyum, "Kamu mau bercinta dengan ku?".
"Ck" kesal Marisa langsung menjauh darinya. "Terus apa yang akan aku lakukan? katakan saja, aku akan mengerjakannya".
"Kamu duduk disitu saja. Nanti aku akan memberitahu mu".
"Ya sudah" angguk Marisa mendudukan diri diatas sofa. Kemudian Lucas melanjutkan pekerjaan yang telah menumpuk di atas mejanya. Hingga kini jam telah menunjukkan pukul 10:30 menit, tetapi Lucas sampai sekarang belum juga memberinya pekerjaan dan malah asik dengan berkasnya. "Hhhmmsss, harusnya dia meminta bantuan ku supaya pekerjaannya tidak sebanyak itu. Kalau seperti ini aku bosan juga".
Marisa mengeluarkan ponselnya, ia melihat sebuah panggilan tak terjawab datang dari sang sahabat yang tak lain adalah Flora. "Hhmm, Flora menelpon ku?" ia pun segera mengubungi nomor Flora kembali.
DDDRRRTTTTT... DDDRRRTTTTTT...
Sedangkan Flora yang kini berada di ruangan Dilan, ia terkejut begitu ponselnya berdering membuat Dilan menatapnya dengan tatapan tidak suka. "Maaf tuan, saya tidak ingat mematikan ponsel saya tad..
"Angkat" potong Dilan.
"Apa? ah.. Baiklah tuan" angguk Flora dengan wajah penuh kekhawatiran. "Astaga, sedang apa Marisa menelpon ku?" gumam Flora melirik Dilan yang sedang melihatnya tampa eskpresi. "Tuan, bisakah saya menjawabnya di luar?".
"Disini" jawabnya kembali melanjutkan memeriksa proposal Flora.
"Baik tuan. Hallo Sa, ada apa kamu menelpon ku?".
Marisa mengernyitkan dahi, "Karna aku melihat panggilan tak terjawab, jadi aku menghubungi mu kembali. Ada apa dengan suara mu Ra? kamu sedang dimana?".
"Aku berada di dalam ruangan tuan Dilan, nanti saja ya Sa kita lanju..
"Tunggu" tahan Dilan menghentikan tangannya. "Siapa itu?".
Flora tersenyum kaku, "Maksud tuan?".
"Itu siapa yang sedang menelpon mu?".
"Oh.. Dia Marisa sekretarisnya tuan Lucas tuan. Maaf".
"Berikan".
"Hhmm?".
__ADS_1
"Saya bilang berikan" jawab Dilan meminta ponsel Flora. Dengan kening mengerut Flora pun segera memberikan ditangan Dilan. Lalu Dilan menempelkan ponsel tersebut di telinganya. "Marisa" ucapnya menyebut namanya.
"Tu-tuan Dilan?".
"Mmmm, kamu mengenal suara ku" senyum Dilan membuat Flora terkejut melihat Dilan terlihat seperti pria hangat. "Sedang dimana kamu? bagaimana dengan tawaran saya yang kemarin".
Marisa pun menjauhkan ponselnya tampa ia sadari kalau Lucas saat ini sedang menatapnya dengan tatapan marah, "Siapa itu?".
"Hhhmmm? ah.. Itu, tuan Dilan" jawab Marisa langsung mematikan ponselnya. "Ada apa dengan wajah mu? kamu marah? maaf".
"Apa yang dia katakan?".
"Dia hanya bertanya bagaimana dengan tawaran ya yang kemari untuk jadi sekretarisnya".
"Kurang ajar" geram Lucas mengepal tangannya. "Sekali lagi jangan pernah kamu menerima panggilan dari Dilan".
"Mmmmm, aku tidak akan pernah menerima panggilan darinya" angguk Marisa.
Lalu Dilan meminta nomor ponsel Marisa sambil mengembalikan ponselnya, "Maaf tuan, saya bukan enggak mau memberikan nomor ponsel Marisa kepada tuan. Tapi ada baiknya saya izin dulu kepadanya sebelum saya memberikan kepada tuan".
"Lakukan sekarang juga. Kamu tidak usah meminta izin kepadanya".
"Tapi tua.." gantung Flora begitu Dilan menatapnya dengan sangat tajam melebihi sebelumnya, hingga pada akhirnya ia mengalah. "Ba-baiklah tuan" angguk Flora sambil mengucapkan dalam hati. "Maafkan aku Risa, aku terpaksa harus memberikan nomor ponsel mu kepada tuan Dilan. Kalau aku tidak memberinya, aku bisa saja di tendang dari perusahaan ini. Sekali lagi aku minta maaf Risa".
"Terima kasih tuan. Kalau gitu saya permisi dulu".
"Mmmmm" begitu Flora keluar dari dalam sana. Dengan senyum mengembang di wajah Dilan, ia melihat nomor ponsel Marisa di layar ponselnya membuat ia tersenyum mematikan. "Marisa! siapa wanita ini yang sebenarnya? kenapa aku sedikit tertarik kepadanya?".
Tok... Tok...
"Siapa?".
Ceklek!
"Ah.. Kakek" kaget Dilan segera membantu Mateo duduk diatas sofa yang berada di dalam ruangannya. "Tolong buatkan dua teh".
"Baik tuan".
"Kakek.. Apa yang membuat kakek datang kemari?".
Mateo menghela nafas melihat seisi ruangan Dilan, "Dulu ruangan ini milik ayah kakek, lalu diturunkan ke kakek, lalu ke pada paman kamu, Lucas dan seterusnya kamu" Mateo tersenyum. "Kakek berharap kamu juga harus menjaga nama baik perusahaan ini dengan baik".
"Kakek tenang saja. Dilan akan menjaga perusahaan ini dengan baik seperti yang kakek perintahkan kepada Dilan. Terima kasih banyak sudah mempercayai Dilan kek".
__ADS_1
"Mmmmm" angguk Mateo. Kemudian sekretaris Dilan membawakan dua gelas teh kedalam ruangan tersebut. "Terima kasih".
"Sama-sama tuan".
Lalu Mateo menyeruput teh panasnya, "Apa kamu tau dimana keberadaan Lucas saat ini?".
"Tidak kek. Dia tidak memberitahu ku kemana dia akan pergi. Lalu bagaimana dengan kakek? apa kakek tau kemana Lucas pergi?" tanya balik Dilan melihat Mateo malah tersenyum. "Ada apa kakek? sepertinya kakek tau dimana Lucas saat ini?".
"Kakek tidak bisa pastikan. Sebaiknya kakek pergi saja".
"Tunggu kek. Apa kakek tidak akan mengucapkan selamat kepada ku?".
"Hahahah.. Selamat sudah menjadi pimpinan di perusahaan ini".
"Terima kasih kek. Mari, Dilan akan mengantar kakek..
"Tidak usah. Kamu disini saja".
Begitu Mateo keluar, Dilan mengernyitkan dahi memikirkan dimana Lucas saat ini berada seperti yang Mateo bicarakan, "Sepertinya kakek tau dimana Lucas berada saat ini" kemudian Dilan menelpon seseorang untuk mencari tahu dimana Dilan saat ini berada. Setelah itu ia keluar dari dalam ruangannya.
.
"Hhooaamm... Ah, aku malah ngantuk lagi" kesal Marisa melirik kearah Lucas yang masih sibuk dengan pekerjaannya. "Astaga, dia benar-benar tidak ingin memberiku pekerjaan. Ck, menyebalkan sekali".
"Risa!".
"Hhhmmm?".
"Tolong buatkan aku segelas kopi" ucap Lucas tampa melihat kearahnya.
"Baiklah" jawab Marisa. Ia pun segera keluar dari dalam sana, namun saat ia keluar ia melihat sekretaris Lucas yang sedang sibuk dengan pekerjaannya membuat Marisa berjalan mendekati meja kerjanya. "Permisi, hallo mbak".
"Iya. Ada yang bisa saya bantu nona?".
"Tidak" senyum Marisa geleng kepala. "Apa mbak sudah menikah? seperti yang saya lihat mbaknya pasti sudah menikah. Apa aku benar?".
Ia pun langsung tersenyum, "Bagaimana bisa nona tau? apa karna keriput yang sudah terlihat jelas di wajah ku?".
"Ternyata aku benar. Tidak juga, aku hanya melihat wajah letih di wajah mbak. Apa mbak mau mengajukan cuti untuk sementara waktu?".
"Sudah beberapa kali aku mengajukan surat cuti tapi tidak pernah di terima".
"Mbak tenang saja. Aku akan membantu mbak mengajukan surat cuti" senyum Marisa melirik pintu ruangan Lucas.
__ADS_1