
Sesampainya Lucas di depan gedung pemberkatan pernikahan Zara, ia pun langsung masuk kedalam. Disana ia melihat semua para tamu undangan telah berada di atas kursi mereka masing-masing, dengan senyum mengembang diwajahnya, Lucas melihat kearah Marisa yang sedang menggenggam erat kedua tangan Zara saat acara perpisahan.
Kemudian Marisa turun, namun saat ia kembali duduk diatas kursinya. Tiba-tiba ia melihat sosok bayangan Lucas yang berada di sudut ruangan. "Lucas?".
"Siapa Risa?" tanya Saphira.
"Lucas ma. Dia ada disana" jawab Marisa menunjuk kearah Lucas yang sedang tersenyum kepadanya. "Ma, aku kesana sebentar yah".
"Iya sayang" angguknya.
"Marisa mau kemana tante?" tanya Flora yang berada disebelahnya.
"Lucas datang, jadi dia mau menghampirinya".
"Oh" gumam Flora.
Begitu Marisa berdiri dihadapannya, "Kenapa kamu duduk disini seorang diri?".
"Tidak apa-apa. Aku pikir kamu tidak akan melihat ku".
"Bagaimana bisa aku tidak melihat mu kalau kamu berada disini? kamu sudah makan malam? kenapa kamu datang kemari? apa keluarga mu tidak akan mencari mu?".
"Tidak. Duduklah" tariknya ditangan Marisa. Lalu melap setetes air mata yang masih tersisa di bawah kelopak matanya, "Kamu lihat mereka berdua? suatu saat nanti aku akan menikahi mu sama seperti mereka. Kamu mau pernikahan seperti apa?".
"Tidak perlu, bukankah kita berdua sudah menikah? jadi tidak usah menikahi ku lagi hanya untuk menghambur-hamburkan uang".
"Kamu sudah lupa kalau aku punya banyak uang?".
"Aku tau. Tapi..
"Tapi apa?".
"Aku sangat takut jika suatu saat nanti keluarga mu tau kalau kamu sudah menikahi ku, mereka pasti akan marah besar. Apa saat itu nanti kamu akan meninggalkan ku? aku sangat takut kalau sampai itu terjadi".
"Kamu mencintai ku? kalau kamu mencintai ku kamu pasti siap menghadapi mereka. Tapi kalau kamu tidak mencintai ku, kamu akan pergi meninggalkan ku".
"Hhhmmmsss.. Kisah cinta ku tidak beda jauh dari Flora. Kami berdua sama-sama mencintai pria yang tidak bisa kami miliki. Haruskah aku menghadapi mereka?".
__ADS_1
"Mmmmm, kamu harus bisa menghadapi mereka".
"Baiklah, sebisa mungkin aku akan menghadapi mereka asalkan kamu selalu mendukung ku".
"Pasti" angguk Lucas tersenyum.
"Terima kasih" dengan manja Marisa menyadarkan kepalanya di bahu Lucas. "Bisakah aku memberitahu mu sesuatu?".
"Apa?".
"Haruskah aku memberitahu mu disini?" Marisa mengangkat kepala melihatnya. "Bisakah untuk saat ini kita tidak memiliki anak? maaf aku baru bisa mengatakan yang sebenarnya. Sebenarnya aku mengkomsumsi pil obat kb" Lucas terdiam, dari wajahnya ia terlihat sedikit kecewa. Tetapi mengingat pernikahan mereka yang secara diam-diam membuat Lucas tidak bisa mengatakan apa-apa. "Kamu marah?".
"Hhmmsss, tidak. Aku tidak punya hak untuk marah kepada mu. Semuanya terserah pada mu" jawab Lucas tampa ia sadari beberapa pandangan mata tamu sedang tertuju kepada mereka. Hingga pada akhirnya Lucas menyadarinya, "Sepertinya mereka mengenal ku".
"Siapa?" Marisa segera mengalihkan pandangan mata kearah mereka. "Oh, mereka tidak mengenal mu. Mungkin mereka berpikir sedang apa aku disini, ayo kesana".
"Tidak usah. Aku menunggu disini saja. Pergilah".
"Tidak bisa seperti itu. Kalau gitu aku akan tetap disini bersama dengan mu".
.
"Mmmmm" angguk Lucas tersenyum ramah.
"Kalau gitu kami pulang duluan ya pa ma kak Zara" ucap Marisa.
"Iya nak, kalian hati-hati dijalan".
"Iya. Ayo Ra kami akan mengantar mu pulang".
"Terima kasih. Kalau gitu kami pulang dulu" ujar Flora.
"Iya".
Sedangkan di kediaman keluarga besar Davison, Mateo sedari tadi mencari sosok Lucas yang tiba-tiba menghilang. Lalu ia bertanya kepada Jose, "Dimana Lucas? apa kamu tidak melihatnya?".
Jose terdiam, ia langsung melihat kearah Raniya yang berdiri dihadapannya. "Kakek, apa kakek tidak tau kalau dari tadi Lucas sudah pergi sebelum acara di mulai?".
__ADS_1
Mateo mengernyitkan dahi, "Pergi? kemana dia pergi?".
"Saya kurang tau kek, dia tidak memberitahu kemana dia akan pergi. Apa kakek sudah menghubungi nomor ponselnya?".
"Aku sudah menghubunginya. Tapi dia malah mematikan ponselnya. Jose, kamu tidak tau kemana dia pergi? aku ingin mengenalkan dia dengan seseorang".
"Aku tidak tau kemana dia pergi kek. Sepertinya dia ada urusan mendadak".
"Ck, kemana perginya anak itu" kesal Mateo pergi meninggalkan mereka berdua.
Kemudian Raniya melihatnya. "Kamu yakin tidak tau kemana Lucas pergi?".
"Kalau aku tau kemana perginya Lucas, aku pasti sudah memberitahunya".
"Atau jangan-jangan Lucas kerumah sakit? tadi dia seperti sedang buru-buru sekali. Tunggu sebentar, aku akan menghubungi perawat rumah saki.." gantung Raniya begitu Jose menarik ponselnya. "Ada apa?".
"Hentikan, kalau pun dia berada dirumah sakit biarkan saja, jangan mengganggunya. Ayo, ini sudah jam 12 malam" tariknya membawa Raniya memberikan ucapan selamat kepada Dilan dan Kirana.
.
Sesampai Lucas dan Marisa di rumah, dengan tubuh letih Marisa menghempaskan tubuhnya diatas ranjang. "Sekarang hanya tinggal mama dan papa dirumah, mereka pasti sangat kesepian".
"Kamu tidak mau mandi?".
"Kamu duluan saja".
"Ayo mandi bersama ku".
"Tidak. Kalau aku mandi bersama mu kita bisa menghabiskan waktu yang panjang" jawab Marisa melihatnya tersenyum. "Pergilah, tubuh ku lelah sekali. Sepertinya aku tidak akan mandi".
"Kamu yakin tidak mau?".
"Hey.. Apa kamu sedang mengancam ku?" Marisa meliriknya masih berdiri disana membuat ia mengalah. "Baiklah, ayo" Begitu ia mengisi air di dalam bathup, ia pun langsung masuk kedalam bersama dengan Lucas. "Wah, airnya sangat enak sekali".
Namun berbeda halnya dengan Lucas yang sedang asik menciumi punggung Marisa dan juga kedua tangan Lucas meremasi bagian buah dadanya. Kemudian Lucas memutar tubuh Marisa, dengan lembut ia menyentuh bibirnya lalu menciumnya.
Tetapi Lucas yang semakin menjadi, Marisa pun segera menghentikannya, namun Lucas tidak terpengaruh, ia tetap melakukan sesuai dengan apa yang ada dalam pikirannya hingga percintaan itu terjadi begitu mengairahkan di dalam bathup. "Hentikan Lucas, aku sudah lelah".
__ADS_1
"Aku masih belum selesai Risa" balas Lucas mengangkat tubuh Marisa dari dalam bathup. Kemudian mendudukan Marisa di atas meja wastafel dan kembali melanjutkan kegiatannya. "Astaga, aku tidak habis pikir kalau kami akan melakukannya di dalam kamar mandi, dan sampai sekarang dia belum kelelahan" batin Marisa meremas bahu Lucas. Tetapi ia mencoba sebisa mungkin tetap melayaninya nafsu birahi Lucas meskipun rasa sakit yang ia rasakan saat ini sama halnya seperti pertama kali ia melakukannya.
Tidak menunggu beberapa lama lagi, Lucas mulai memperlambat goyangannya, lalu ia tersenyum menyentuh wajah lelah Marisa, kemudian mencium keningnya. "Terima kasih, maaf sudah membuat mu kelelahan" bisik Lucas mencium lehernya, setelah itu ia menurunkan Marisa.