Terjerat Cinta Sekretaris Marisa

Terjerat Cinta Sekretaris Marisa
Bab 115


__ADS_3

Kemudian Lucas menjalankan mobil, tidak ada cara lain selain menghubungi nomor ponsel Jose yang sedang berada di bandara, "Ada apa Lucas?" tanyanya.


"Kamu sudah dimana? apa kamu masih berada di bandara?".


"Pesawat Flora baru saja berangkat, ini aku ingin kembali. Lalu ada apa dengan suara mu? apa sesuatu terjadi?".


"Marisa di culik Raniya. Kamu tau dimana Raniya berada saat ini?".


"Apa?" Jose langsung menghentikan kedua langkah kakinya. "Maksud kamu Raniya menyekap Marisa saat ini? tapi bagaimana bisa Lucas".


"Ini semua karena salahku. Sekarang kamu tau dimana keberadaan mereka? cepat katakan kepada ku Jose".


"Aku tidak tau dimana keberadaan mereka, tapi aku akan membantu mencari keberadaan Raniya menyekap Marisa. Kalau gitu aku tutup dulu, nanti aku akan memberitahu mu begitu aku menemukan tempatnya".


"Baiklah, cepat beritahu aku".


"Mmmmmm" lalu Jose meremas ponselnya, kemudian menghubungi nomor ponsel Raniya. Namun bukannya diangkat, Raniya malas mengirimnya sebuah pesan, "Apa Lucas yang memberitahu mu kalau wanita jal*ng ini sedang bersama ku?".


"Kurang ajar" Jose kembali menghubungi nomor ponselnya beberapa kali sampai pada akhirnya Raniya mengangkatnya. "Katakan, sekarang apa mau Rani? apa kamu akan seperti ini terus? berhentilah bersikap kekanak-kanakan".


"Haahh.. Hahahaha kamu mau tau karna apa aku seperti ini Jose? itu semua karna wanita sialan ini telah merebut Lucas dari ku, sekarang dia harus merasakan apa yang aku rasakan selama ini Jose dan aku tidak akan perduli jika nantinya Lucas akan membunuh ku setelah aku melenyapkan wanita ini hahahhaha".


Mendengar suara tawa Raniya yang begitu aneh di kedua telinga Jose, ia langsung tau kalau Raniya saat ini sedang dalam pose merasa kesepian, "Raniya, aku tau kamu bukanlah wanita yang akan tega menyakitinya, tolong jangan melakukan kesalahan yang akan membuat mu menyesal seumur hidup. Aku mohon Raniya, lepaskan dia".


Lagi-lagi Raniya pun tertawa mendengar perkataan Jose yang begitu lembut berkata kepadanya, "Apa kamu sedang berusaha menghibur ku Jose?".


"Tidak, tapi aku mengatakan yang sebenarnya kalau kamu itu bukanlah wanita yang akan tega menyakitinya, dan kamu sendiri tau saat ini Marisa tengah mengandung anaknya Lucas, aku mohon jangan sakiti mereka berdua Raniya aku mohon" kemudian ia mendengar suara helaan nafas Raniya yang begitu berat. "Jangan melakukan sesuatu yang akan membuat mu menyesal, kamu itu wanita baik Raniya. Tolong dengarkan aku, saat ini kamu memang sedang terjebak dengan perasaan mu kepada Lucas, tapi aku yakin kalau suatu saat nanti kamu akan menemukan pria yang jauh lebih baik darinya. Percaya kepada ku Rani...


"Hahahahha" tawa Raniya memotong perkataannya. "Kamu pikir setelah kamu berkata seperti itu aku akan melepaskan wanita sialan ini Jose? hahhh tidak semudah itu. Setelah apa yang aku rasakan selama ini, aku ingin dia juga merasakan apa yang aku rasakan. Jadi jangan sok ikut campur kamu, urus saja diri mu sendiri dengan wanita mu itu".


"Tidak Raniya, jangan sakiti dia, kamu tidak kasihan kalau sesuatu terjadi dengan bayi yah?".

__ADS_1


"Aku sudah mengatakan kepada mu kalau aku tidak akan perduli, karna begitu wanita ini dan bayinya mati aku juga akan mengakhiri hidup ku.. Aarrrkkhhh".


Tut.. Tut.. Tut...


"Raniya..!! Raniya... !! Kamu baik-baik saja? Yah.. Raniya".


Kemudian Raniya melihat pria yang baru saja menghempaskan tubuhnya di balik tembok dengan tatapan marah, "Kamu siapa?".


"Reza?" Marisa melihatnya dengan mata berkaca-kaca.


"Kamu baik-baik saja Risa? maaf aku terlambat datang menyelamatkan aku" dengan air mata berderai, Reza yang melihat Marisa begitu ketakutan langsung menarik tubuh tersebut kedalam pelukannya. "Semua baik-baik saja, kamu tidak usah khawatir".


Lalu Raniya berusaha bangkit berdiri sambil mengeluarkan benda tajam dari dalam saku pakaiannya hendak ingin menancapkan benda tersebut di bahu Reza, namun Marisa yang melihat berusaha untuk mencegah Raniya hingga pada akhirnya benda tersebut mengenai tubuhnya. "Marisa!!" kaget Reza.


"Akh, aku baik-baik saja Rez-a".


"Tidak, tidak Risa.. Ayo buka mata mu Risa. Buka mata mu Risaaaa".


Sedangkan Raniya yang tiba-tiba tersadar akan apa yang baru saja ia lakukan melihat bahu Marisa mengeluarkan darah, ia pun langsung menahannya dengan kedua tangannya menyuruh Reza membawa tubuh Marisa diatas meja. Tetapi ia malah kebingungan ingin melakukan cara apa untuk menghentikan darah yang masih bercucuran dari bahu Marisa akibat tidak memiliki alat benda untuk menjahit, "Tidak ada cara lain, kamu membawa mobil?".


"Mari kita bicarakan ini nanti, ayo bawa dia ke apertemen ku. Buruan".


"Baiklah, tapi awas kalau sesuatu terjadi kepadanya aku sendiri yang akan membunuh mu" ucap Reza segera membawa tubuh Marisa pergi dari sana menuju apertemen lamanya Raniya. Hingga kini mereka berdua telah tiba disana, Reza meletakkan tubuh itu diatas tempat tidur dengan keadaan lemas, lalu Raniya mengeluarkan semua peralatan yang ia perlukan, namun sebelumnya ia tidak lupa memberikan obat pereda nyeri ditubuhnya. "Apa yang kamu lakukan?".


"Aku memberinya obat bius, jangan menganggu ku, kalau kamu tidak ingin membantu ku sebaiknya kamu keluar saja".


"Tidak, aku tidak yakin kalau dia baik-baik saja kalau aku tidak melihatmu melakukannya".


"Sekarang kamu berdiri disini" dengan kesal Raniya pun segera mengoperasi Raniya sedikit mendapatkan bantuan dari Reza. Setelah itu kedua orang itu menghela nafas legah selesai mengoperasi Marisa, kemudian Reza mengeluarkan ponselnya hendak menghubungi nomor Lucas. "Apa kamu ingin menghubungi Lucas?".


"Kenapa? kamu takut setelah apa yang kamu lakukan kepada?".

__ADS_1


"Tidak, silahkan kalau kamu ingin menghubunginya" Raniya memasuki kamar mandi. Di depan cermin ia memandangi wajahnya dengan tatapan tajam, "Bodoh, ada apa dengan mu Raniya? kamu hampir saja membunuhnya".


Tok.. Tok...


"Kamu baik-baik saja?".


Ceklek!


"Hhhmmsss.. Aku baik-baik saja" Raniya membuka pintu, ia melihat Reza berdiri di hadapannya dengan kening mengerut. "Ada apa? kamu sudah memberitahunya?".


"Mmmm, aku sudah memberitahunya dan juga suami mu, mereka sedang perjalanan menuju kemari, bersiaplah apa yang akan Lucas lakukan terhadap mu".


"Tidak masalah, kamu tidak ingin ke kamar mandi?".


"Tidak".


"Aku tidak akan menyakitinya, sebaiknya kamu mencuci tubuh mu. 20 menit lagi mereka akan tiba disini".


"Tunggu".


"Apa?".


"Terima kasih".


"Untuk apa? tidak, lupakan saja" lalu Raniya pergi dari hadapannya menuju dapur mengeluarkan sebotol anggur merah dari dalam lemari penyimpanan, dengan senyum mengembang di wajahnya ia pun langsung meneguk. "Aarrkkhhh, kenapa rasanya jadi nikmat seperti ini" tidak menunggu beberapa lama Reza keluar dari dalam kamar mandi. "Kamu sudah selesai?" Reza melihatnya menuang anggur tersebut kedalam gelas.


"Apa yang sedang kamu lakukan?".


"Minum anggur" jawabnya tersenyum lagi memberikan gelas itu dihadapannya. "Minumlah, rasa anggur ini begitu nikmat. Aku membelinya dari Prancis..


"Apa kamu sudah gila menawarkan aku segelas anggur disaat keadaan seperti ini?" Reza membentaknya marah.

__ADS_1


"Ooo, aku sudah gila hahhh".


"Ais" Reza pun langsung pergi.


__ADS_2