
Lucas tersenyum tipis, "Kenapa kamu bangun?" Marisa mendudukan diri, ia melihat Lucas berada disampingnya. "Ada apa?".
"Kenapa tuan Lucas datang kemari?".
"Kenapa? aku tidak bisa datang kemari?".
Marisa tersenyum, "Bukan seperti itu tuan, aku rasa tuan sudah lelah setelah satu harian bekerja di kantor. Harusnya tuan tuan pulang kerumah istirahat".
Lucas menghela nafas, "Kamu sudah makan malam?".
"Hhhmm? tuan belum makan malam?".
"Mmmmm, mau keluar sebentar bersama ku? aku sangat lapar".
"Tunggu sebentar tuan" Marisa menyambar ponselnya, ia melihat jam telah menunjukkan pukul 12 malam. "Ayo" ajaknya berdiri duluan, disusul oleh Lucas. Mereka berdua langsung keluar mencari penjual makanan yang masih buka. Namun melihat rintik-rintik hujan yang belum berhenti membuat Marisa dan Lucas menghentikan langkah. "Yah, ternyata masih hujan. Bagaimana ini tuan?".
Lucas melihat sekitarnya, "Kamu tunggu disini, aku mengambil mobil dul.." gantung Lucas melihat seorang dokter cantik berjalan kearahnya dengan senyum mengembang diwajahnya. "Raniya?".
Marisa langsung melihat kearah si dokter itu yang baru saja dipanggil Lucas, "Hey, Lucas. Ternyata benar kamu, aku pikir tadi aku salah orang. Apa yang sedang kamu lakukan disini? apa kabar mu? lama tidak bertemu dengan mu lagi" senang Raniya.
"Kabar baik, aku disini bersama dengan nyonya Sabet. Sejak kapan kamu kembali dari L.A?".
"Baru-baru ini sekitar 1 bulanan. Sakit apa nyonya Sabet?".
"Sakit tua" jawab Lucas tersenyum bahagia melihat wanita yang berada dihadapannya itu. Kemudian Marisa melihat Raniya dari atas sampai bawah.
"Kalau enggak salah, dia dokter yang kemarin satu meja bersama ku waktu di kantin. Ternyata dia dan tuan Lucas saling mengenal, mana senyuman manis lagi" batin Marisa melihat Lucas yang tak hentinya menatap Raniya dengan tatapan terpesona. "Jangan bilang tuan Lucas menyukai wanita ini? dan juga dia dengan nyonya Sabet saling mengenal, atau jangan-jangan wanita ini adalah mantan kekasih tuan Lucas? atau masih kekasihnya".
"Lalu wanita yang disamping mu ini siapa Lucas?" tiba-tiba Raniya terlihat datar.
"Apa? dia tidak mengenal ku lagi? hey, yang benar saja dia sudah melupakan wajahku, padahal baru semalam. Ck" gumam Marisa.
"Dia sekretaris ku, namanya Marisa" jawab Lucas.
"Oh, terus kamu mau kemana? bisa kita bicara sebentar? ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengan mu".
Lucas melirik Marisa, "Kamu naik saja. Ayo" ajaknya Lucas.
"Mmmmm" angguk Raniya membawa Lucas kedalam ruangannya.
__ADS_1
Kemudian Marisa menatapnya dengan tatapan kesal bercampur rasa cemburu yang mungkin sudah ia rasakan akhir-akhir ini. "Aku tidak menyukainya, aku tidak menyukai wanita itu, aku tidak menyukai mereka berdua dekat seperti itu hiks.. hiks.. Aku tidak menyukainya" Marisa kembali memasuki ruangan Elisabet, ia melihatnya tidur sangat pulas. Lalu Marisa melihat jas yang tadi Lucas berikan ditubuhnya berada diatas sofa.
"Ais, kenapa dia harus meninggalkan ini sih?" Marisa membaringkan tubuhnya kembali diatas sofa, lalu menyalakan musik. "Mari kita tidur saja Sa, tidak usah dipikirkan. Selamat malam".
Sedangkan Lucas yang berada diruangan Raniya, ia menikmati segelas kopi hangat bersama dengannya. "Lucas" panggil Raniya.
"Mmmmm?".
"Aku dijodohkan papa dengan anak rekan bisnisnya" Raniya tersenyum. "Tapi bodohnya aku malah mengiyakan perjodohan konyol ini. Apa yang harus aku lakukan Lucas? aku belum siap menikah Lucas dan aku juga belum mengenal siapa yang akan menjadi calon suami ku. Tolong aku Lucas, beri aku solusi".
"Mendengar cerita mu mengingatkan aku kepada seseorang. Dia juga sedang di jodohkan dengan anak rekan bisnis orang tuannya, dan wanita itu bekerja disi...
"Siapa Lucas?" tanya Raniya saat Lucas menggantung perkataannya.
"Jangan bilang orang itu adalah kamu".
"Maksud kamu?".
"Tunggu sebentar" Lucas mengeluarkan ponselnya. Ia langsung menghubungi nomor Jose, "Hallo Jos, kamu dimana?".
"Kenapa kamu menelpon ku tengah malam seperti ini Lucas?" tanya balik Jose dengan suara berat.
"Aku lagi dirumah sakit, kamu sudah pulang?".
"Kamu minum?".
"Mmmm, kamu mau gabung bersama ku? aku butuh teman".
"Aku akan kesana" Lucas mematikan ponselnya. "Kamu mau ikut bersama ku?" tanyanya kepada Raniya.
"Siapa?".
"Orang yang tadi aku bicarakan. Ayo, kalau kamu mau ikut" jawab Lucas bangkit berdiri.
"Tunggu sebentar" Raniya melepaskan mantel dokternya. Lalu mengikuti Lucas dari belakang menuju ruangan Jose yang berada di lantai Elisabet dirawat.
Ceklek!
Lucas mendorong pintu ruangan Jose, disana ia melihat sang sahabat sudah mabuk berat dengan sebatang rokok ditangan kanannya. "Kamu sudah datang Lucas hahahhaha, kemarila.." gantung Jose melihat Raniya dibelakang Lucas. Lalu Jose mengucek kedua matanya, "Oo, bidadari ku. Sedang apa kamu disini? kenapa kamu datang bersama dengannya?".
__ADS_1
"Duduk" ucap Lucas kepada Raniya.
Begitu Raniya duduk dihadapan Lucas, Jose mengucek kedua matanya kembali melihat Raniya yang benar-benar kini berada dihadapannya. "Lucas, siapa wanita ini? kenapa dia ada disini?".
"Di dokter Raniya teman lama ku waktu di L.A. Kamu mengenalnya?".
"Mmmm, sepertinya aku mengenal wanita ini. Kalau tidak salah namanya Raniya, aku benarkan?" senyum Jose menunjukkan gigi ratanya kepada Raniya.
Raniya tersenyum, "Bagaimana bisa kamu mabuk saat berada di rumah sakit? kamu bisa membahayakan orang lain" mendengar Raniya berkata sedemikian, Jose berjalan kearah kulkas, ia mengeluar sebotol air putih lalu meminumnya sampai habis. Kemudian melihat kearah Raniya dan Lucas, "Maaf, aku sudah melakukan kesalahan" duduknya kembali.
Lucas tersenyum, "Kamu sudah mengenalnya?".
"Mmmmm, tadi aku bertemu dengannya. Dia sangat cantik".
"Tentu saja di cantik. Kamu menyukainya?".
"Mmmmm, aku sangat menyukainya pertama kali aku melihatnya".
Raniya tersenyum geleng kepala, "Apa kamu sudah baikkan?".
"Mmmmm, aku baik-baik saja. Kamu mau sesuatu untuk dimakan atau apa? aku akan mengambilnya".
"Tidak usah, aku dan Lucas baru saja minum kopi dari ruanganku".
"Oh, aku pikir.." gantung Jose lagi melihat Lucas yang sedang melihat ponselnya. "Lucas, bisakah kamu tinggalkan kami berdua? ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengannya".
Lucas melihatnya lalu mengangguk, "Baiklah, aku keluar" ia langsung keluar dari dalam sana, lalu memasuki ruangan Elisabet, ia melihat Marisa sudah tidur pulas dengan musik menyala. Kemudian Lucas mendudukan diri disampingnya sambil memperbaiki jasnya yang Marisa pakai untuk penghangat tubuhnya.
Lucas menyandarkan tubuhnya, ia mengusap wajahnya dengan nafas lelah. Namun saat Lucas hendak menutup mata, ia mendengar suara kecil keluar dari kedua bibir Marisa memanggil namanya membuat Lucas melihat kearahnya. "Lucas.. Kamu bajingan, kamu benar-benar bajingan" mendengar Marisa mengeluarkan kata-kata umpatan Lucas mengernyitkan dahi. Lalu tertawa kecil sambil geleng kepala.
"Dasar wanita aneh".
"Bajingan" umpat Marisa kembali.
"Yah..!" kesal Lucas.
"Bajingan!".
"Ais, sekali lagi kamu mengeluarkan kata-kata itu aku akan menjahit mulut mu..
__ADS_1
"Bajingan, Lucas bajingan".
"Hah, ternyata kamu tidak ingin mendengar ku. Baiklah" Lucas pun langsung menutup mulut Marisa dengan menggunakan kedua bibirnya, namun saat kedua bibir mereka bersentuhan, Lucas malah merasakan sesuatu sedang bergejolak di dalam tubuhnya membuat ia segera melepaskan ciuman tersebut. "Apa yang terjadi?".