Terjerat Cinta Sekretaris Marisa

Terjerat Cinta Sekretaris Marisa
Bab 78


__ADS_3

Lalu Marisa meletakkan kopi yang Lucas minta diatas meja. "Hhrrmm.. Aku kasihan kepadanya, sepertinya dia sangat lelah sekali mengurus rumah tangga setelah ia pulang dari kantor" Lucas pun langsung melihatnya. "Itu, mbak sekretaris kamu. Katanya dia sudah sering mengajukan surat cuti, tapi enggak pernah diterima".


"Terus?".


"Tidak bisakah kamu membantunya? kasihan dia terlihat lelah sekali. Bagaimana kalau posisinya itu berada di posisi ku saat ini? astaga aku tidak bisa membayangkan betapa lelahnya dia harus bekerja juga mengurus anaknya yang masih Tk".


"Kalau gitu, kenapa dia tidak mengajukan surat pengunduran diri saja supaya dia lebih punya banyak waktu untuk keluarganya?".


"Hhmmsss.. Gini nih manusia tidak punya perasaan. Kamu pikir menjadi seorang ibu itu mudah? dia juga harus memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Kalau cuman mengandalkan penghasilan suami, mana cukup di bagi-bagi. Ayolah, beri dia untuk sementara waktu dirumah, kamu benar-benar enggak kasihan kepadanya? iya kali kamu tega sekali".


Lucas menyambar kopinya, "Nanti aku akan pikirkan" jawabnya melirik jam yang kini telah menunjukan jam 12 siang. "Aku harus pergi, kamu disini saja".


"Kemana? oh iya aku lupa. Pergilah, aku juga harus bertemu dengan Flora, sepertinya dia sudah keluar".


"Kamu mau kemana?".


"Bertemu dengan Flora. Kenapa?".


"Tidak bisa, suruh saja dia yang datang kemari kalau dia ingin menemui mu".


"Kamu ada-ada saja. Kalau dia yang datang kemari bisa-bisa Flora menghabiskan waktu 30 menit menempuh perjalanan. Jadi biar aku saja yang kesana".


"Kalau gitu aku akan memecat mu hari juga kalau sampai kamu terlambat. Bagaimana? apa kamu masih ingin kesana?".


Marisa menatapnya dengan tatapan kecewa, "Ada apa dengan mu? masa bertemu dengan Flora saja aku tidak bisa?".


"Kalau kamu ingin bertemu dengannya tolong jangan di jam kerja" jawab Lucas langsung keluar dari dalam ruangan tersebut.


"Ck, ada-ada saja" Marisa menyambar ponselnya, ia menghubungi nomor Flora yang kini malah tidak aktif. "Loh, kenapa ponselnya malah tidak aktif sih?".


Lalu Lucas memasuki sebuah restoran yang sangat terkenal di kota tersebut, sambil melihat sana sini, seorang pelayan datang menghampirinya. "Atas nama Lucas Davison?".


"Iya".

__ADS_1


"Mari ikut saya tuan" ajaknya membawa Lucas kedalam sebuah ruangan khusus tamu istimewa. "Silahkan masuk tuan".


Ceklek!


"Hahahaha.. Lucas" tawa mereka semua melihatnya begitu Lucas masuk kedalam. Kemudian mereka menjabat tangan Lucas secara bergantian. "Terima kasih sudah mau datang kemari".


"Tidak. Harusnya saya yang berterima kasih untuk kalian semua sudah mau mengundang saya makan siang bersama".


"Baiklah. Silahkan duduk Lucas" angguk Robert menuangkan segelas anggur di dalam gelasnya. "Karna kita kedatangan pimpinan baru, mari kita menikmati hidangan makan siang ini dengan rasa bahagia" ucapnya membuat mereka yang berada di dalam ruangan tersebut tertawa kembali. "Lalu bagaimana keadaan nyonya Elisabet saat ini? apa dia baik-baik saja?".


Lucas tersenyum, "Mmmmm, dia baik-baik saja".


"Syukurlah, kami semua sangat mengkhawatirkan kesehatan nyonya Elisabet yang sudah sangat lama sekali bekerja sama dengan kami. Terus, apa kamu benar-benar sudah meninggalkan Hanju? sepertinya yang kemarin saya dengar, posisi kamu digeser oleh sepupu kamu sendiri".


Lucas pun langsung tertawa kecil meneguk anggur tersebut sampai habis membuat mereka yang melihatnya seketika terdiam, "Benar, sepupu ku sendiri yang sudah menggeser ku dari posisi ku sebagai pimpinan disana" jawab Lucas tertawa lagi menuang anggurnya sampai gelasnya penuh. "Karna hari ini hari pertama ku bekerja di Asian group. Mari bersikap seolah-olah kita semua berteman".


Mendengar ucapan Lucas, baru mereka kembali seperti semula tertawa lepas saat pertama kali Lucas masuk kedalam. Meskipun dalam hati Lucas saat ini sedang tidak bersahabat. Yang ia rasakan saat ini, ia ingin menendang mereka semua satu persatu-satu keluar dari Asian group setelah ia membaca semua dokumen mereka satu persatu. "Tidak di Hanju tidak di Asian mereka semua sama saja" batinnya.


"Mmmmm, aku juga merasakan itu" sambung yang lainnya.


"Lalu apa yang harus kita lakukan?".


"Hhmmsss.. Yang harus kita lakukan saat ini hanyalah berhati-hati kepadanya. Jangan sampai salah-satu diantara kita ketahuan".


.


Sesampainya Lucas di kantor, ia keluar dari dalam mobil berjalan sempoyongan dengan kepala pusing menuju lift. Namun saat Lucas masuk kedalam lift, ia malah terjatuh membuat si supir yang membawanya langsung berlari kearahnya, "Tuan baik-baik saja? Mari saya bantu".


"Terima kasih" ucap Lucas dengan suara berat.


"Iya tuan" hingga kini mereka sudah berada di lantai atas, ia membawa Lucas masuk kedalam ruangannya. Disana ia melihat Marisa sedang membuka komputer Lucas dengan keadaan fokus. "Permisi" ucapnya. "Permisi" ucapnya lagi sampai Marisa melihat kearahnya.


"Astaga" kaget Marisa dengan mata membulat. Ia pun segera berlari kearah mereka. "A-ada apa dengan tuan Lucas? apa dia baik-baik saja? astaga, kenapa dia bau anggur? apa dia minum anggur di siang bolong seperti ini?".

__ADS_1


"Saya tidak tau nona. Tolong jaga beliau, saya harus pergi".


"Iya. Terima kasih banyak sudah membawanya pulang".


"Sama-sama nona" begitu ia menaruh tubuh Lucas di atas sofa. "Kalau gitu saya permisi dulu nona".


"Iya, sekali lagi terima kasih".


Kemudian Lucas melihat Marisa yang sedang melihatnya dengan tatapan jengkel bercampur iba. "Jangan melihat ku seperti itu sayang, kamu membuat ku ingin memakan mu.. Ah" Marisa menimpah tubuhnya.


"Kalau gitu, biar aku saja yang memakan mu..


"Hahahhaha" Lucas menarik Marisa kedalam pelukannya. "Kamu yakin diruangan ini?".


"Kenapa tidak? tapi aku sendiri yang akan memakan mu. Jadi bersiaplah".


Cup..


"Aku mencintai mu" Marisa terdiam, ia menatap kedua manik mata Lucas yang begitu indah. "Aku mencintai mu Marisa" ucapnya lagi mengulangi.


"Aku tau. Aku juga mencintai mu Lucas Davison".


"Terima kasih. Hari ini aku lelah sekali, aku ingin memeluk mu sampai aku tertidur".


"Bagaimana kalau ada yang masuk?".


"Aku tidak perduli. Biarkan aku tidur dalam waktu yang cukup lama sampai rasa lelah ku menghilang".


"Ya sudah tidurlah. Aku akan memeluk mu sampai kamu terbangun kembali".


Lucas tersenyum, ia semakin mengeratkan pelukannya, "Terima kasih".


"Mmmmm.." dengan lembut Marisa menepuk-nepuk punggungnya sampai Lucas benar-benar tertidur pulas. Kemudian Marisa menyentuh kedua alis matanya, "Kamu benar-benar terlihat lelah sekali, apa yang bisa aku lakukan untuk menghilangkan sebagian rasa lelah mu?".

__ADS_1


__ADS_2