Terjerat Cinta Sekretaris Marisa

Terjerat Cinta Sekretaris Marisa
Bab 128


__ADS_3

Jose kemudian menghela nafas berat menatap Lucas dengan tatapan serius, "Lucas, bisakah kamu menerima ini semua kalau sebenarnya kamu memiliki masa lalu yang begitu kelam bersama dengan seorang wanita yang kamu cintai.. Bahkan, Akkhh, aku tidak tahu harus mengatakannya seperti apa".


"Apa yang sebenarnya terjadi Jose? kenapa kamu seperti menyembunyikan sesuatu dari ku".


"Maafkan aku Lucas. Tapi sudah saatnya kamu mengetahui yang sebenarnya. Kamu sudah memiliki seorang istri".


"Apa?".


"Mmmmm, tapi saat kejadian itu kamu malah kehilangan dia dan juga bayi yang ada dalam kandungan istri mu".


Mendengar perkataan Jose, Lucas yang tidak percaya akan hal itu ia hanya tertawa sumbang sambil berkata. "Jangan bercanda dengan ku Jose, aku tidak ingin mendengarnya.


"Aku tau kalau kamu akan berkata seperti itu Lucas, tapi kami semua melakukan ini demi kebaikan kamu hingga pada akhirnya kakek Mateo mengirim kamu keluar negeri".


"Hentikan Jose, aku tidak ingin mendengar mu lagi" setelah itu Lucas pergi meninggalkan mereka.


"Biarkan saja dok, dia butuh waktu untuk menerima semuanya" ucap Jose kepada dokter Lucas saat ia hendak ingin mengejarnya. "Saya permisi dulu".


"Iya tuan" jawabnya.


Sedangkan Lucas begitu ia keluar dari rumah sakit, ia kembali pulang ke diaman keluarga Davison, lalu memasuki kamar Mateo yang sedang dirawat.


"Kenapa kamu tidak mengetuk pintu terlebih dahulu Lucas?" tanya Mateo melihat cucunya itu menyuruh sekretarisnya keluar.


"Apa yang terjadi dengan ku kakek?".


Mateo mengerutkan keningnya, "Apa?".


"5 tahun yang lalu, apa alasan kakek mengirim ku keluar negeri? jawab kakek!" Lucas meninggikan suaranya sampai Reysa yang hendak ingin memasuki kamar Mateo bersama dengan salah satu pelayan mendengar suara pamannya itu.


"Bibi, itu bukannya suara paman?".


"Iya nona, sebaiknya kita pergi saja yah. Sepertinya tuan besar dan tuan muda sedang ribut".


"Tidak bi, Reysa penasaran kenapa paman tiba-tiba marah seperti itu. Tunggu sebentar ya bi" Reysa yang penasaran langsung mendorong pintu kamarnya Mateo. "Kakek, paman.. Apa yang terjadi? kenapa suara paman terdengar sangat marah sampai terdengar keluar?" tanyanya dengan polos.


Lukas langsung mengusap wajahnya melihat keponakannya itu sembari tersenyum tipis.


"Tidak ada apa-apa Reysa. Paman sama kakek hanya...


"Paman" potong Reysa melihat Mateo merasa sesak menyentuh dadanya.


"Kakek! kakek!" teriak Lucas mencoba menyadarkan Mateo. Lalu ia berlari keluar memanggil suster yang merawatnya. Tidak menunggu berapa lama begitu Lucas menemukan orang tersebut. Lucas mengeluarkan ponselnya menghubungi dokter spesialis Mateo.


"Paman, apa kakek akan baik-baik saja?" tanya Reysa dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


"Kakek akan baik-baik saja. Reysa jangan khawatir".


"Tapi kenapa kakek malah jatuh pingsan paman? Reysa takut kalau sesuatu terjadi kepada kakek hiks.. hiks..".


Mendengar suara tangisan Reysa, ia pun membawa keponakan ya itu keluar dari dalam sana.


"Dimana ibu kamu Reysa?".


"Hiks.. Reysa tidak tau paman mama ada dimana".


Lucas melihat sekitarnya, "Paman tinggal sebentar yah keatas, Reysa sama bibi dulu".


"Lalu bagaimana dengan kakek paman?".


"Kakek tidak akan kenapa-napa. Percaya sama paman, ok" senyum Lucas dengan gemas menyentuh kedua pipinya. "Bi, tolong jaga Reysa".


"Iya tuan" jawabnya.


Lucas pun pergi menaiki anak tangga menuju kamarnya. Di dalam sana ia berusaha mencoba mencari sesuatu yang tidak ia ingat 5 tahun yang lalu, namun hal tersebut hanya membuat ia kelelahan. Karna apa yang ingin ia cari tidak berada disana.


"Hhmmsss... Aku tidak menemukan apa-apa, lalu apa yang sebenarnya keluarga ku sembunyikan selama ini? mengingat dari perkataan Jose bahwa aku memiliki seorang istri sebelum kecelakaan itu terjadi, tapi kenapa aku tidak bisa mengingatnya? kenapa ingatan tentang dia tidak ada?".


Ia lalu menjatuhkan tubuhnya diatas sofa dengan letih sembari mengingat Marisa bersama dengan Argana. "Wanita itu selalu terbayang-terbayang dipikiran ku".


.


"Wah ma, lihatlah bunga-bunga itu. Mereka tampak sangat bahagia sekali" senang Argana tertawa.


"Iya sayang" sahut Marisa ikutan tertawa tanpa mereka sadari kalau saja Stela tengah melihat kedua orang itu dari lantai atas.


"Dasar orang tidak tau diri. Kalau saja Rian tidak menahan ku, sudah sejak dari dulu aku mengusir kedua orang ini. Dan sekarang mereka malah tidak merasa bersalah setelah 5 tahun lamanya tinggal dirumah ini".


Kemudian Marisa tersenyum menunduk kepadanya yang tiba-tiba melihat Stela sedang memperhatikan mereka dari lantai atas.


"Ada apa dengan tante Stela ma?" tanya Argana ikutan melihatnya.


"Tidak tau sayang, ayo kita lanjut lagi".


"Iya ma".


Hingga malam pun tiba, Marisa melihat Argana telah terlelap dalam tidurnya begitu jam menunjukkan pukul 10 malam.


"Selamat tidur Argana ku sayang uummcchh".


Setelah itu ia mempersiapkan pakaian yang akan ia pakai untuk besok pagi dan juga perlengkapan yang akan ia bawa. "Kira-kira besok aku kerja apa yah? petugas kebersihan kah? tapi enggak apa-apa juga sih, yang penting aku bisa bekerja di perusahaan itu. Lalu, apa aku pakai ini saja besok pagi? hhhmmm, aku rasa ini jauh lebih bagus".

__ADS_1


Tok.. Tok...


"Siapa?".


"Bibi Risa".


"Oh bibi. Sebentar bi" ia meletakkan pakaian itu diatas meja.


Ceklek!


"Ada apa bi?" tanya Marisa melihat si pelayan itu tidak seperti biasa ia akan mengetuk pintu kamarnya ditengah malam.


"Itu Risa tuan Rian. Dia baru saja nyampe dirumah, jadi tuan Rian meminta bibi memanggil mu kesana".


"Apa?".


"Pergilah, sepertinya tuan Rian ingin memberi mu suatu gitu. Soalnya tadi bibi melihat sebuah paper-bag disebelahnya. Mungkin itu untuk kamu makanya tuan Rian meminta bibi memanggil mu".


"Oh gitu ya Bi? kalau gitu aku kesana dulu ya Bi, siapa tau hal penting".


"Mmmmm".


Begitu Marisa melangkah pergi, ia langsung melihat Rian tengah tersenyum kepadanya dengan manis. "Ada apa dok?" tanyanya membalas senyuman Rian dengan tipis.


"Duduklah".


"Apa sesuatu hal penting ingin dokter Rian bicarakan dengan ku? aku tidak enak loh dok kalau sampai mbak Stela melihat dokter dan aku berada disini".


"Hahahaha.." mendengar Marisa berkata seperti itu membuat Rian tertawa geleng kepala. "Kenapa kamu harus takut dengannya Risa? apa dia pernah mengganggu mu?".


"Tidak, hanya saja aku tidak enak".


"Mmmmm, jangan khawatir. Dia tidak akan pernah marah apalagi karna hal cemburu. Ini untuk kamu, aku rasa kamu pasti diterima bekerja ditempat itu".


"Ooo" Dengan kedua bola mata terkejut, Marisa melihat paper-bag tersebut diatas meja. "Ini untuk ku? apa dokter Rian tidak salah memberinya?".


"Iya itu untuk kamu Marisa. Aku yakin kamu tidak memiliki pakaian untuk kamu pakai besok".


"Terus, bagaimana bisa dokter Rian tau kalau aku diterima di perusahaan itu?".


"Aku juga tidak tau Risa, aku hanya menebaknya saja. Karna malam ini aku lelah sekali, aku tinggal kamu dulu yah".


"Tunggu dok. Terima kasih banyak sudah mau memberikan pakaian ini untuk ku. Begitu aku menerima upah pertama ku, aku berjanji akan mentraktir dokter Rian bersama dengan mbak Stela".


"Mmmm, selamat malam Marisa".

__ADS_1


"Iya dok" senyumnya dengan lebar.


__ADS_2