
Kini mereka telah berada di butik langganan Saphira, dengan mata berbinar-binar Marisa sangat mengagumi gaun-gaun pengantin yang berada disana. "Wah, kak Za gaun pengantin disini cantik sekali, aku jadi ingin memakai gaun pengantin lagi heheheh".
"Kamu ada-ada ajah Sa. Mbak, gaun yang kemarin saya pesan sudah tersedia?" tanya Zara begitu Saphira asik berbincang dengan si pemilik toko tersebut.
"Sudah mbak, mari ikut kami".
"Mmmm".
"Aku itu kak Za".
"Ayo" ajaknya membawa Marisa ikut kedalam ruangan ganti. Tidak lama kemudian, begitu Zara mengenakan gaun pengantinnya, Marisa melihat sang kakak sama persis seperti bidadari yang selama ini orang bilang dari kayangan. "Bagaimana Risa? apa gaun ini sangat bagus di tubuh ku?".
"OMG, kak Zara benar-benar sangat cantik seperti bidadari" jawab Marisa membuat sang kakak tertawa bahagia.
"Terima kasih Risa, kakak juga sangat menyukai gaun ini. Aku yakin kakak ipar kamu juga suka".
"Tentu saja kak Za, gaun ini sangat indah sekali di tubuh kak Zara. Tunggu sebentar kk, aku akan memanggil mama".
"Mmmmm" senyum Zara dengan senang hati memandangi tubuhnya di depan cermin. "Mbak, apa gaun yang sama persis seperti ini masih ada?".
"Kenapa mbak? karna ini gaun yang mbak pesan sejak beberapa bulan lalu, jadi gaun ini memang khusus untuk mbak ya di buat".
"Benarkah?".
"Iya mbak, jadi kami tidak menjual gaun yang sama persis seperti yang mbak pakai".
"Terima kasih. Karna saya tidak suka barang yang serupa, maka dari itu saya memesan guan ini dibuat secara khusus. Cantik sekali".
"Mbak menyukainya?".
"Sangat, saya sangat menyukainya sampai saya tidak sabar lagi menunggu hari H pernikahan saya".
"Selamat ya mbak atas penikahannya. Kami turut senang mendengarnya".
"Kalau kalian ada waktu, datanglah ke acara pernikahan saya. Dengan senang hati kami sebagai pengantin akan sangat bahagia".
"Kalau ada waktu kami akan datang mbak".
"Mmmmm" angguk Zara melihat Marisa dan Saphira datang bersamaan dengan si pemilik toko. "Bagaimana ma? apa gaun ini sangat indah Zara kenakan?".
Dengan tatapan kagum Saphira mendekati sang putri yang begitu cantik di kedua matanya sambil menggenggam tangannya, "Sayang, kamu sangat cantik sampai mama hampir saja tidak mengenali mu".
"Ah, mama bisa ajah. Terima kasih ma sudah mengatakan putri mama ini cantik hehehe".
__ADS_1
"Tapi aku juga cantik ko. Ck" senyum Marisa pura-pura sedih.
"Iya, kalian berdua sangat cantik di mata mama".
"Heheheh.. Pasti dong".
DDDRRRTTTT... DDDRRRTTTTTT...
"Oo, ponsel aku berdering. Ma, Risa keluar sebentar".
"Iya sayang".
Kemudian Marisa melihat layar ponselnya, begitu ia tau siapa yang sedang menelponnya, ia pun langsung tersenyum bahagia yang tidak bisa ia tahan, lalu Marisa menggeser tombol hijau. "Iya".
"Kamu sedang dimana?".
"Aku lagi di toko gaun pengantin menemani kak Zara sama mama. Kenapa? kapan kamu pulang?".
"Aku sudah pulang".
"Apa? benarkah kamu sudah pulang?".
"Mmmmm, aku ada dirumah".
"Kalau gitu aku akan pulang sekarang juga. Tunggu aku disana" senang Marisa mematikan ponselnya masuk kedalam ruangan itu kembali. "Ma kak Za, aku harus pulang. Dia sudah kembali".
"Suami Risa".
"Ya sudah, kamu naik apa?" tanya sang mama.
"Aku naik taksi ajah ma. Risa duluan yah".
"Iya, kamu hati-hati dijalan".
"Iya ma" jawab Marisa berlari keluar dari sana, lalu menghentikan salah satu taksi. "Pak, tolong antar saya ke alamat ini".
"Baik nona" angguk si supir taksi menjalankan mobilnya hingga kini mereka telah tiba di istana kediaman Lucas. Marisa pun langsung keluar dari dalam taksinya.
"Ini pak, terima kasih, sisanya bapak ambil saja".
"Iya nona, sama-sama" senangnya menerima uang Marisa.
Setelah itu Marisa segera masuk kedalam rumah, namun sebelum ia masuk, ia melihat Rehan di taman depan sedang memangkas rumput yang sudah mulai tumbuh panjang. "Rehan" panggilnya.
"Iya nona?".
__ADS_1
"Apa dia sudah kembali pulang?".
"Tuan Lucas?".
"Iya".
"Iya nona, sekitar 1 jam yang lalu. Kalau enggak salah tuan Lucas ada di dalam kamar".
"Oh, terima kasih ya Rehan".
"Iya nona" dengan langkah panjang Marisa melangkahkan kedua kakinya menaiki anak tangga, kemudian Marisa menarik nafas terlebih dahulu, setelah itu ia mendorong pintu kamar tersebut.
Ceklek!
"Astaga" kaget Marisa memutar tubuhnya melihat Lucas sedang memakan pakaian dalam. "Maaf, aku tidak tau kalau kamu sedang memakai pakaian disini, aku akan keluar..
"Berhenti" potong Lucas berjalan mendekati Marisa, lalu Lucas memeluknya dari belakang sambil memberikan ciuman di leher Marisa dengan ciuman yang belum pernah ia rasakan. Kemudian Lucas memutar tubuh Marisa menghadap kearahnya sembari menyentuh leher Marisa, mengelusnya dengan lembut, lalu menatap kedua manik mata Marisa dengan tajam membuat Marisa menelan ludah.
"Ada apa ini? kenapa dia berusaha menggoda ku? apa yang sedang dia pikirkan? tidak, kalau pun dia mau melakukannya, aku harap jangan saat ini, aku belum mandi" ucap Marisa dalam hati dengan jantung yang sedari tadi tidak bisa diajak bekerja sama.
Namun saat Lucas mencoba mendekati telinga Marisa, ia dengan spontan tidak sengaja menyentuh dada bidang Lucas dengan cara menahannya dengan kedua tangan membuat Marisa langsung menelan ludah begitu ia merasakan betapa perkasanya prianya yang berada di hadapannya itu. "Apa yang sedang kamu lakukan?".
"Ah.. Tidak" jawab Marisa menjauhkan tangannya.
"Kenapa?".
"Apa?" Lucas tersenyum, lalu mengangkat tangan kananya memperbaiki anak rambut Marisa yang sedikit berantakan, kemudian Lucas mendekatkan wajahnya, tetapi Marisa malah menutup kedua matanya. "Ya Tuhan.." gantung Marisa mendengar suara Lucas tertawa membuat ia segera membuka mata. "Ke-kenapa?".
"Tidak" jawab Lucas menarik tangan Marisa membawa keatas tempat tidur. Dengan kedua pipi merona Marisa mencoba memalingkan wajahnya, tetapi tangan Lucas telah duluan menahannya. "Lihat aku Marisa".
"Mmmmmm" geleng Marisa dengan mata tertutup. "Aku malu".
"Apa?".
"Aahh.. Tolong jangan lakukan sekarang, aku benar-benar belum sia..
Cup..!
"Apanya belum siap?".
"Ya Tuhan" kaget Marisa membuka mata. Lalu Lucas mencium bibirnya kembali sampai berulang-ulang kali membuat Marisa sedikit menikmati ciuman tersebut.
"Apa sekarang kamu sudah menikmatinya?".
__ADS_1
"Hhhmm?" Lucas kembali tersenyum mencium leher Marisa tampa ia sadari ia membuat Marisa tiba-tiba mengeluarkan suara des*han yang membuat Lucas sangat menyukainya. "Ah tidak" tahan Marisa menahan wajah Lucas.
kemudian, "A-aku.. aku menyukainya" dengan rasa malu dan mau ia langsung mencium bibir Lucas dengan mata tertutup, begitu juga dengan Lucas, ia pun membalas ciuman tersebut hingga keadaan semakin panas dan secara perlahan kedua tangan Lucas mencoba melepaskan pakaian ditubuh Marisa satu persatu hingga buah dada Marisa yang hanya di baluti oleh bra terlihat begitu indah di kedua matanya.