Terjerat Cinta Sekretaris Marisa

Terjerat Cinta Sekretaris Marisa
Bab 112


__ADS_3

PPPLLLAAKKK...


"Ah.." kaget Lucas melihat sang istri telah berani memukulnya dengan kekuatan cukup kuat yang mampu membuat dia meringis kesakitan.


"Astaga, maafkan aku suami ku" rasa bersalah Marisa pun langsung memeluknya erat sambil berkata maaf dan maaf. Kemudian Lucas melepaskan pelukannya, lalu ia menatapnya dengan tatapan sendu sembari menunduk, "Kamu boleh memukul ku, aku tau aku bodoh telah berani memukul mu jadi aku rela. Ayo pukul aku" ucapnya tampa Marisa sadari kalau Lucas sedang tersenyum melihat betapa takutnya seorang Marisa setelah ia berani memukulnya.


"Tidak, lain kali kamu jangan mengulangi ya lagi" Lucas menarik wajahnya melihat kedua bola mata Marisa berkaca-kaca. "Sayang, kamu menangis? maafkan aku sayang, aku tidak bermaksud membuat mu menangis" sama halnya dengan yang Marisa rasakan saat ia memukulnya, Lucas pun merasakan hal yang sama dengan Marisa. Lalu Lucas memeluknya dengan sayang, "Maafkan aku sayang, jangan menangis lagi".


"Hiks.. Hiks.. Aku pikir kamu akan marah dan pergi meninggalkan aku hiks..." bukannya diam, Marisa malah semakin menumpahkan air matanya di hadapan sang suami.


"Tidak, aku tidak akan pernah pergi meninggalkan kamu sayang. Sekarang berhenti lah menangis, jangan membuat ku semakin merasa bersalah. Tadi kamu bilang kamu ingin mandi, haruskah aku membawa mu ke kamar mandi?".


"No, aku sudah tau kamu..


"Tau apa hheemm?" Lucas tersenyum menggodanya.


"Udah ah, sebentar lagi Flora akan berangkat. Aku bersiap-siap dulu".


"Mmmmm" Lalu Marisa memasuki kamar mandi, seperti biasa ia tidak suka berlama-lama di dalam sana dan ia selalu menghabiskan waktu selama kurang lebih 15 menit. Setelah itu ia keluar, namun saat ia keluar dari dalam kamar mandi, tiba-tiba ia merasakan sebuah tendangan dari dalam perutnya membuat ia meringis kesakitan. "Sayang, kamu baik-baik saja?" Lucas berlari kearahnya.


"Aaakkhh.. Sakit, bayi kita tiba-tiba menendang" jawab Marisa merengek.


"Apa rasanya sangat sakit?".


"Mmmmm".


"Tunggu sebentar" kemudian Lucas berjongkok di hadapannya. Lalu mengusap perut buncit Marisa dengan sayang, "Anak ku, apa kamu baik-baik saja di dalam sana? kamu baru saja menendang perut ibu mu. Bisakah ayah mu ini mengajak mu bekerja sama?" Lucas mendekatkan wajahnya di perut Marisa.


"Hahahaha.. Sayang, kamu berhasil loh. Bayi kita tidak menendang lagi" tawa Marisa kegirangan.


"Benarkah?".

__ADS_1


"Hhhmmm" angguknya.


Lucas pun ikutan tersenyum senang, "Bagus, terima kasih baby boy sudah mau berkerja sama dengan ayah mu ini. Uummcchh.. Ayah dan Ibu mu sang mencintai mu".


"Hey.. Kamu tau dari mana kalau bayi kita seorang anak laki-laki? aku lebih senang kalau dia nantinya seorang perempuan supaya aku bisa menjodohkan dia dengan anak Flora".


"Tapi aku lebih suka kalau nantinya anak kita seorang laki-laki".


"Ah kamu enggak asik. Sudah, aku mau ganti pakaian dulu, sebaiknya kamu mandi sana".


"Apa rasanya tidak sakit lagi?".


"Tidak lagi, ayo buruan mandi".


"Mmmmm".


Marisa pun segera memakai pakaiannya, setelah itu ia sedikit merias wajahnya yang terlihat pucat pasi. Dengan senyum mengembang diwajahnya, "Aku terlihat cantik. Apa Flora sudah..


"Sayang" panggil Lucas.


"Terima kasih sayang" Lucas berjalan mendekatinya, lalu memeluk tubuh sang istri dari belakang. "Aroma tubuhnya mu sangat menggoda ku sayang. Hari ini kamu terlihat sangat cantik".


Marisa tersenyum senang, "Benarkah?" kemudian menghadap kearah Lucas. "Apa aku terlihat begitu cantik?".


"Iya sayang".


"Tapi akhir-akhir ini aku malas dandan, entah kenapa setiap kali aku berencana mau merias diri, rasa malas dalam diriku selalu tinggi".


Tok.. Tok...


"Oo.. Itu pasti Flora. Ayo sana ganti baju, aku buku pintu dulu".

__ADS_1


Ceklek!


Seperti yang baru saja ia tebak, Flora tengah berdiri di depan pintu kamarnya, "Flora. Kamu sudah siap?".


"Mmmmm, aku harus pamit pergi Risa".


"Kami akan mengantar mu sampai bandara, tunggu sebentar, Lucas sedang memakai pakaiannya".


"Kalau gitu kita tunggu diluar saja Risa, biar tuan Lucas menyusul kebawah".


"Ayo" Marisa menyambar tangan sang sahabat. Namun saat kedua wanita itu sedang menuruni anak tangga, Jose tiba-tiba berdiri di hadapan mereka dengan nafas tersengal-sengal. "Jose! ada apa?" lalu Marisa menarik tangan Flora kearah Jose. "Ada apa Jose? kamu baik-baik saja?" tanyanya lagi sembari melirik ke Flora yang terlihat biasa saja seolah-olah ia tidak perduli.


Kemudian Jose meneteskan air matanya mencoba menyentuh tangan Flora, "Sakit" ucapnya membuat Flora mengernyitkan dahi. "Rasanya sangat sakit Flora, sangat sakit. Benarkah kamu akan pergi meninggalkan aku?".


"Maaf. Mulai hari ini anggaplah aku dan kamu tidak pernah memiliki hubungan. Risa, kamu tidak usah mengantar ku ke bandara, aku harus pergi waktuku tidak banyak lagi".


"Ada apa ini?" ketiga orang itu langsung melihat kerah Lucas yang sedang menuruni anak tangga. "Jose, ada apa dengan mu?".


"Lucas, aku ingin bicara sebentar dengannya" sedikit kasar Jose menarik tangan Flora membawanya kedalam kamar. Kemudian melepaskannya melihat Flora tampa ekspresi membuat ia hanya bisa menghela nafas berat. "Apa kamu benar-benar akan meninggalkan ku Ra?" tetapi Flora enggan menjawabnya dan memiliki membisu sampai Jose bosan mengajukan pertanyaan itu kembali. "Aku mohon tolong jawab aku Flora, apa kamu tega pergi meninggalkan aku" air mata yang tadi Jose tahan, ia pun kembali menumpahkannya.


"Maafkan aku Jose. Berhentilah menangisi ku, air mata mu itu tidak akan Berhasil menghentikan aku meninggalkan tempat ini. Dan bayi ini, aku berjanji akan mengatakan kepadanya siapa ayah kandungnya yang sebenarnya kalau suatu saat nanti dia bertanya tapi ketika dia telah berusia 20 tahun ke atas".


"Tidak Flora, aku mohon jangan tinggalkan aku...


"Aku tidak bisa, waktuku tidak banyak lagi aku harus pergi" ucap Flora menyambar tas yang ia akan bawa, namun Jose yang tidak rela di tinggal olehnya, dengan air mata berderai, Jose pun rela menurunkan harga dirinya dengan bersujud dibawah kakinya. "Astaga, apa yang sedang kamu lakukan Jose?".


Jose menatapnya, "Jika memang dengan cara ini aku bisa melarang mu pergi aku rela bersujud di bawah kaki mu Flora. Tolong jangan pergi meninggalkan aku, aku mohon tolong jangan tinggalkan aku Flora".


Dengan kesal Flora melepaskan tangannya dari koper, lalu menjongkokkan diri dihadapan Jose. "Tolong jangan menurunkan harga diri mu Jose. Aku sudah mengatakan kepada mu jangan membuat ku menjadi orang terjahat di dunia ini. Sekarang ayo berdiri".


"Aku tidak akan berdiri Flora sebelum kamu berjanji tidak akan pergi".

__ADS_1


"Hhhmmsss.. Kamu benar-benar sangat keras kepala Jose. Ayo berdiri" semampunya Flora mencoba menarik tangan Jose untuk kembali bangkit berdiri. "Ayolah Jose, jangan membuat ku semakin marah. Buruan" seketika Jose pun tersenyum langsung memeluknya dengan erat. "Yah.. Apa yang sedang kamu lakukan?".


"Memeluk mu!!".


__ADS_2