Terjerat Cinta Sekretaris Marisa

Terjerat Cinta Sekretaris Marisa
Bab 66


__ADS_3

Sepulang dari mall Zara dan Marisa langsung kembali kerumah. Namun saat di jalan yang sepi, tiba-tiba mereka berdua melihat sebuah mobil mewah berhenti di depan, kemudian segerombolan pria bertubuh besar itu meminta kepada si pemilik mobil didepan keluar dari dalam. "Kalian siapa?" tanyanya sedikit membentak marah.


"Hahahaha.. Wanita cantik bos" tawa mereka melihat wanita itu keluar.


"Wah.. Cantik sekali. Nona, apa kamu tidak takut tengah malam seperti ini lewat di jalanan yang sepi?".


"Kalian pikir saya masih anak gadis? minggir sebelum saya melaporkan kalian ke polisi".


"Galak juga ya hahahah. Ck, ayolah nona cantik jangan galak seperti itu kalau kamu tidak mau kenapa-kenapa di tangan kami".


"Saya sudah bilang sama kalian kalau saya..


"Yah...!" teriak Marisa berjalan mendekati mereka membawa sebuah balok di tangan kananya. Sedangkan Zara yang berada di dalam mobil sedang sibuk meminta bantuan dari pihak yang berkewajiban.


"Kamu siapa?" tanya mereka.


"Kalian tidak perlu tau siapa saya. Sekarang juga kalian pergi dari sini dan biarkan kami lewat. Kenapa? kalian butuh uang? kalau kalian butuh uang, harusnya kalian mencari pekerjaan bukan mencuri uang orang seperti ini" jawab Marisa membuat mereka tertawa mengejeknya. "Saya rasa tidak ada yang lucu, kenapa kalian malah tertawa?".


"Nona cantik, apa kamu tidak mengenal kami siapa? atau ini pertama kalinya kalian lewat dari sini. Asal kamu tau, polisi pun takut kepada kami".


"Oh ya? kok aku baru dengar yah kalau polisi pun takut kepada orang seperti kalian. Ck, kalau itu benar, mau jadi apa negara ini. Gini saja deh, biar masalah ini clear, berapa yang kalian butuhkan, aku rasa kalian membutuhkan uang".


"Yah.. Apa kamu sedang merendahkan kami?".


"Mmmmm, kalau kalian tidak butuh uang, kalian tidak akan melakukan hal yang sangat menjijikan ini. Bukankah begitu nyonya? ah iya kenalkan nama ku Marisa. Panggil saja Risa, sebaiknya nyonya pergi saja dari sini, biar saya yang mengurus merek..." gantung Marisa saat si bos pereman tersebut menarik bajunya, lalu melemparnya sampai ia tercampak di atas aspal yang dingin. "Ah.. Sial" umpat Marisa melihat Zara keluar dari dalam mobil hendak menolongnya. "Tidak, jangan kemari kak Za. Pergilah, kak Zara bisa terluka" teriaknya.


"Tapi bagaimana dengan mu Risa?".


"Jangan pedulikan aku kk, cepat pergi dari sini cari bantuan. Cepat".


"Aa.. Baiklah".


"Apa yang kalian lakukan? cepat tangkap wanita itu" namun Zara yang telah masuk kedalam mobil itu kembali. Ia pun langsung meninggalkan lokasi tersebut mencari bantuan terdekat. "Ah sial. Kita kehilangan dia bos"


Dengan mata tajam ia melihat Marisa yang tergeletak diatas aspal, kemudian menamparnya sampai beberapa kali hingga kini sudut bibir Marisa mengeluarkan darah segar. "Hentikan" teriak Isabella hendak memukul si pria itu dari belakang. Tetapi anak buahnya langsung menahan tangan Isabella dan mendorongnya tercampak ke mobil. "Aaakkhh..!" Isabella meringis kesakitan.

__ADS_1


"Kalian!".


"Ayo bawa mereka pergi".


"Baik bos".


"Lepaskan bajingan, kalian mau membawa kami kemana?" teriak Marisa memberontak.


"Aaiisss.. Kalian terlalu berisik" mereka pun langsung menyuntikan obat tidur dileher Marisa dan Isabella. Setelah itu mereka membawanya pergi dari sana. Sedangkan Zara yang baru tiba disana bersama dengan polisi tidak menemukan mereka lagi.


"Apa yang terjadi? kenapa mereka tidak berada disini?".


"Nona, sepertinya tidak terjadi apa-apa disini. Sebaiknya nona pulang saja".


"Apa? pulang setelah saya tidak menemukan adik sana disini. Apa bapak tidak mengkhawatirkan adik saya sekarang entah kenapa-napa? bagaimana bisa kalian berkata seperti itu".


"Tapi kita tidak melihat mereka berada disini dan juga buktinya tidak valid. Kalau gitu kami pergi dulu" jawabnya membuat Zara tertawa kepada mereka yang sama sekali tidak merasakan kekhawatiran kepada warganya yang sedang tidak baik-baik saja.


Kemudian Zara masuk kedalam mobil, "Tidak ada cara lain, aku harus memberitahu dia. Dimana ponsel Marisa? ini dia" Zara segera menghubungi nomor ponsel Lucas. "Ayo angkat, aku mohon tolong selamatkan adik ku".


DDDDRRRTTTT... DDDRRRTTTTT....


DDDDRRRTTTT... DDDRRRTTTTT....


Lucas melihat layar ponselnya bertulisan nama Marisa. "Kamu boleh keluar. Ada apa Risa?".


"Hallo. Ini aku kakaknya Risa. Tuan, Marisa sedang diculik orang yang tidak aku tau, bisakah tuan datang kemari? tolong selamatkan adik ku hiks.. hiks..." tangis Zara senggugukan.


"Apa?" kaget Reza menutup laptopnya. "Sekarang kalian dimana? saya akan kesana sekarang juga".


"Di jalan xx".


"Tunggu disana" Lucas mematikan ponselnya. Ia berlari keluar dari dalam kamar sampai membuat Mateo yang sedang membaca koran di ruang tamu bersama dengan managernya di buat keheranan.


"Ada apa dengan tuan muda tuan?".

__ADS_1


"Aku tidak tau kenapa dia berlari buru-buru seperti itu. Hhrrmmm" hingga kini Lucas telah berada di lokasi yang tadi Zara beritahu, ia melihat Zara sedang menangis di dalam mobilnya.


Tok.. Tok..


"Kamu sudah datang?" Zara keluar. Ia melihat sang adik iparnya itu dengan air mata yang masih bercucuran dari kedua bola matanya.


"Apa yang terjadi?".


"Tadi Risa mencoba menyelamatkan seorang wanita dewasa saat preman disini hendak menyakiti dia. Tapi aku malah tidak bisa melakukan apa-apa untuk membantu Marisa hiks.. hiks.. Aku mohon tolong lakukan sesuatu untuk menyelamatkan dia. Aku mohon".


"Saya akan melakukan cara untuk menyelematkan dia. Sekarang pulanglah. Jangan khawatir, dia akan baik-baik saja".


"Benarkah?".


"Mmmmm".


"Terima kasih" begitu Zara pergi dari sana. Lucas mengeluarkan ponsel menghubungi nomor kenalannya yang bergerak di bidang pencarian. Tidak lama kemudian ia mendapatkan pesan, begitu Lucas tau siapa orang yang menyekap istrinya, ia tersenyum menyeringai meremas ponselnya dengan sangat marah.


"Bos, apa yang akan kita lakukan kepada kedua wanita itu?" tanya bawahannya.


"Seperti biasa memeras keluarga mereka. Aku yakin wanita tua itu orang kaya".


"Lalu wanita muda itu?".


"Aku akan memikirkannya. Bangunkan mereka berdua".


"Baik boss" angguknya mengambil air satu ember. Lalu menyiramnya di tubuh Marisa dan Isabella, "Bangun. Yah, ayo bangun".


"Uhuk.. uhuk.. uhuk.. Ini dimana?" batuk Marisa melihat sekitarnya. "Kalian siapa? kenapa kami bisa berada disini".


"Ck, apa dia seketika bisa lupa ingatan?".


"Hahahahaa..." tawa mereka dari belakang. Lalu si bos tersebut mendekati Marisa, ia memperhatikan wajahnya sembari menyentuhnya dengan lembut, tetapi Marisa yang tidak sudih disentuh olehnya, ia pun meludahi wajahnya. "Aaiisss.. PPLLLAAKKK.. Kurang ajar, berani sekali kamu meludahi wajah ku wanita jal*ng" tariknya di rambut panjang Marisa.


Namun bukannya takut, Marisa malah tertawa mengejek pria di hadapannya itu. "Lalu bagaimana dengan mu laki-laki bajingan? kamu pikir kamu siapa berani menyentuh wajah ku hhmm? kalau kamu tidak ingin dilaporkan bersama dengan anak buah mu, lepaskan kami dari sini sekarang juga. Atau..

__ADS_1


"Atau apa hhmmm? kamu pikir kami akan terpengaruh oleh ancaman yang keluar dari mulut kotor mu ini" senyumnya menekan payud*ra milik Marisa membuat Isabella berteriak menendang tubuhnya.


"Kurang ajar kamu!".


__ADS_2