Terjerat Cinta Sekretaris Marisa

Terjerat Cinta Sekretaris Marisa
Bab 94


__ADS_3

"F-flora!" Jose segera berdiri dari atas kursinya menghampiri Flora. Lalu ia tersenyum kaku kepadanya, "Maaf".


"Maaf untuk apa? kamu baik-baik saja? kenapa kamu bisa terluka seperti ini?" dengan raut wajah khawatir ia spontan menyentuh wajah Jose melihat bekas jahitan di kepalanya. "Apa rasanya sangat sakit?".


"Mmmmm, rasanya sangat sakit sampai aku..


PPLLAAKKK...


"Ah" kaget Jose menyentuh lengannya begitu Flora memukulnya. "Kenapa kamu malah memukul ku?" tetapi ia bukannya menjawab, Jose malah melihat kedua mata Flora berkaca-kaca membuat ia semakin merasa bersalah. "Kenapa kamu menangis? maafkan aku".


"Bajingan!".


"Apa?".


"Bajingan!" ulanginya lagi sampai Jose tertawa gemas melihat kedua pipi gembulnya Flora. "Yah...!!".


"Maaf-maaf, jangan menangis ah, kamu jelek tau kalau seperti ini" dengan sayang Jose melap kedua pipinya tampa perduli dengan mereka yang sedang melihatnya, lalu membawa Flora kedalam pelukannya. "Aku mencintai mu".


Si perawat itu pun sontak dan Salsa terkaget begitu mereka berdua melihat kedekatan Jose dan Flora seperti sepasang suami istri pada umumnya, "Bukankah dia sendiri tadi yang baru saja mengatakan kalau dia belum menikah? lalu siapa wanita itu? dan sepertinya wanita itu sedang hamil".


Marisa melihat mereka berdua sambil bertanya kepada Lucas siapa wanita yang berada di sebelahnya itu. "Hallo nona" sapa Salsa senyum ramah.


"Hallo, kamu siapa?".


"Ayo, nanti aku akan memberitahu mu" ajak Lucas membawa Marisa dan Salsa kedalam ruang rawatan Reza tempat ia berbaring saat ini. Kemudian Marisa mendekatinya, dengan wajah sedih ia melihat wajah pucat pasi Reza dengan mata tertutup, "Dia baik-baik saja, kamu tidak usah khawatir".


"Bagaimana bisa aku tidak khawatir? lihatlah wajahnya... Sebenarnya apa yang terjadi? aku tau kamu menyembunyikan sesuatu dari ku, apa kamu juga merasakan hal sama dengan ku Ra?".


"Mmmmm".


"Dan lihatlah luka lebam di wajah mu, aku sangat tidak menyukainya sampai membuat ku mmmpphhhmmm".


"Kamu baik-baik saja?".


"Aku baik-baik saja, tapi aku tidak menyukai aroma tubuh mu, kamu bau amis".


"Maaf, aku akan membersihkannya. Jose aku titip dia sebentar".


"Kamu mau kemana?".


"Mengganti pakaian ku".


"Tidak usah, kita pulang saja kepala ku tiba-tiba pusing. Ra, kami pulang duluan yah".


"Kamu tidak apa-apa Risa? sepertinya kamu tidak sehat".

__ADS_1


"Kepala ku terasa pusing Ra, aku tidak tau kenapa bisa sepert..


BBBRRRAAKK...


"Risa!" kaget mereka bertiga kecuali Salsa yang berada di dekat Reza berbaring. "Risa.. Risa.. Risa..." panggil mereka membangunkannya. "Jose, tolong kamu panggil dokter" ujar Lucas membawa tubuh Marisa diatas sofa.


"Iya aku akan memanggilnya".


"Cepat Jose" sambil menunggu sang dokter, Lucas mencoba membangunkan Marisa lagi dengan menepuk-nepuk kedua pipinya, setelah itu Jose masuk kembali membawa sang dokter. "Dok, istri saya tiba-tiba pingsan. Apa dia baik-baik saja?".


"Tunggu sebentar, saya akan memeriksanya" begitu si dokter tersebut memeriksa keadaan Marisa, ia pun melihat Lucas yang sangat mengkhawatirkan keadaan sang istri yang tiba-tiba pingsan di hadapannya. "Tidak apa-apa, dia hanya tidak bisa mencium aroma bau yang amis seperti darah. Apa dia sedang hamil?".


"Iya dok, istri saya sedang hamil".


"Sebaiknya anda segera menganti pakaian, aroma bau amis seperti ini sangat tidak disukai oleh wanita hamil di usia muda. Kalau gitu saya permisi dulu, sebentar lagi dia akan siuman".


"Syukurlah, terima kasih dok" ucap Lucas. Lalu ia melihat Flora, ia meminta kepadanya untuk menjaga Marisa selama ini berada di luar. Begitu Lucas pergi, Flora menatap ke arah Salsa yang sedang melihat kearah mereka berdua.


"Dia siapa?" tanyanya.


"Salsa" jawab Jose menyuruh Salsa duduk bersama dengan mereka yang sedari tadi terus berdiri disamping Reza.


"Tidak apa-apa tuan, saya berdiri saja".


"Baik tuan" ia pun mengalah berjalan kearah mereka dengan senyum tipis melihat Flora. "Apa nona ini istri tuan?".


"Kamu lapar?".


"Hhhmm?".


"Saya tanya kamu lapar atau tidak? saya sedang memesan makanan".


"I-iya tuan" angguk Salsa dengan kaku membuat Flora merasa sedikit kasihan kepadanya.


"Kamu mau makan apa?".


"Terserah saja tuan".


Lalu Jose melihat Flora, "Aku tidak makan, kalian saja".


"Kenapa?".


"Aku sudah makan bersama dengan Marisa tadi dari rumahnya".


"Kamu yakin?".

__ADS_1


"Mmmmm" sambil menunggu pesanan Jose tiba, Flora bertanya kepada Salsa dari mama ia berasal. Namun Jose malah memotongnya berkata kalau ia tidak perlu tau dari mana datangnya Salsa, "Maaf aku terlalu ikut campur".


Tok... Tok...


"Masuk!" jawab Jose bangkit berdiri dari atas sofa menghampiri kearah pintu. "Berapa semuanya?" setelah itu ia menyuruh Salsa bergabung dengannya. "Makanlah sampai makanan mu tidak tersisa".


"Iya tuan" senang Salsa segera menikmati makanannya tampa ada percakapan diantara mereka berdua tampa Jose sadari kalau saja Flora sedang menatapnya dengan tatapan tidak suka. "Mmmm, rasanya sangat enak sekali".


"Ais, aku sangat tidak menyukainya saat tersenyum seperti itu kepadanya. Siapa sih dia? kenapa dia sangat perhatian sekali kepada wanita itu?".


"Flora!".


"Ooo.. Kamu sudah sadar Risa?" Flora langsung membantunya duduk. "Kamu baik-baik saja? tadi kamu tiba-tiba jatuh pingsan Sa" Marisa menyentuh kepalanya yang masih terasa sedikit pusing sambil melihat kearah Jose yang sedang melihatnya bersama dengan Salsa.


"Ah.. Dimana Lucas Ra?".


"Dia keluar sebentar menganti pakaiannya Sa".


"Lalu bagaimana dengan Reza? apa dia sudah siuman?".


"Dia belum siuman Sa. Apa kamu sudah merasa baikan?" tanyanya lagi.


"Aku sudah merasa baikan Ra, tolong peluk aku, tubuh ku terasa lemas sekali".


"Kemarilah, aku akan memeluk mu" angguk Flora memeluk sang sahabat dengan sayang sampai membuat Salsa yang sedang melihat kedekatan diantara keduanya merasa tersentuh ingin merasakan hal yang sama.


"Dia beruntung sekali!" ucapnya dalam hati. Tidak lama kemudian ia melihat Lucas kembali masuk, lalu ia melihat Lucas sedang memperhatikan Marisa yang berada di pelukan Flora. "Kenapa mereka membuat ku sangat iri? kapan aku bisa memiliki pasangan seperti mereka ini?".


"Apa yang sedang kamu pikirkan? saya sudah mengatakan kepada mu kalau makanan itu harus habis".


"Iya tuan, saya akan menghabiskannya" Lalu Lucas berjalan mendekati sang istri, ia bertanya kepadanya kalau ia sudah merasa baikan.


"Kamu dari mana saja? aku sudah merasa baikan tapi aku ingin memakan sesuatu yang pedas-pedas seperti bakso. Kamu mau enggak Ra?".


"Tidak Sa, aku masih merasa kenyang. Kamu saja kalau kamu ingin sekali memakannya".


"Kamu yakin enggak mau? sepertinya akan enak sekali kalau kita makan bersama, cuman akunya mau bakso yang ada di pinggir jalan. Tuan Lucas yang terhormat, bisakah kamu membelinya untuk ku? aku mohon, aku ingin sekali memakannya".


"Aku akan membelinya untuk..


"Tunggu, karna Flora tidak mau, aku mau makan berdua saja dengan mu. Ayo".


"Kamu disini saj..


"No, aku sudah merasa baikan" potong Marisa, lalu menyambar tangannya pergi dari sana.

__ADS_1


__ADS_2