Terjerat Cinta Sekretaris Marisa

Terjerat Cinta Sekretaris Marisa
Bab 87


__ADS_3

Jam telah menunjukkan pukul 23: 20 malam, Jose yang tetap meneguk alkoholnya membuat Lucas tidak bisa berbuat apa-apa untuk menghentikan sang sahabat. "Jose, berhentilah. Kamu sudah sangat mabuk sekali" ucap Lucas menghentikan tangannya.


"Tolong biarkan aku Lucas menikmati minuman ini. Hari ini aku benar-benar hancur, hancur sekali.. Aarrkkhhh".


"Aku mengerti dengan apa yang kamu rasakan. Tapi bukan berarti kamu harus seperti ini, sebaiknya kamu menikah saja dengan Raniya, apa yang telah dia lakukan dia harus bertanggung jawab. Jangan bodoh, tidak seharusnya kamu menanggung ini semua seorang diri".


Jose pun langsung menghentikan tangannya melihat Lucas, "Benar juga apa yang barusan kamu katakan Lucas. Ini semua karna dirinya sendiri, seharunya tidak aku saja yang menanggung beban ini. Terus apa yang harus aku lakukan?".


"Ikuti saja apa yang orang tua mu katakan. Seperti yang kamu katakan kalau Raniya tidak menyukai mu, maka dia akan melakukan segala cara untuk menghentikannya".


"Lalu bagaimana dengan Flora? dia akan melakukan segala cara untuk menyakiti Flora agar aku menghentikan pernikahan ini dan hingga pada akhirnya semua kesalahan ini aku yang akan mengganggunya".


"Untuk saat ini Flora akan tinggal dirumah ku, sekalian juga aku butuh bantuan dia untuk menahan Marisa tidak bekerja. Karna Marisa sedang mengandung anak ku".


"Apa? kamu serius bro?".


"Mmmmm".


"Wah.. Selamat Lucas, kamu benar-benar hebat" senang Jose menepuk lengan Lucas dengan bangganya. "Dan terima kasih banyak juga sudah membiarkan Flora tinggal dirumah mu".


"Mmmmm, sekarang sebaiknya kamu pulang. Aku harus kerumah sakit, Marisa pasti sedang menunggu ku".


"Terima kasih Lucas".


"Ayo, aku akan membantu mu mencarikan taksi".


"Mmmmmm" begitu Lucas menghentikan sebuah taksi, ia membantu Jose masuk kedalam taksi tersebut sambil berkata kepada si supir taksi untuk membawanya pulang ke jalan xx. "Lucas" panggilnya.


"Ada apa?".

__ADS_1


Jose tersenyum, "Terima kasih banyak untuk hari ini".


"Iya. Pak tolong bawa dia dengan hati-hati".


"Baik tuan".


Setelah itu Lucas mendekati mobilnya, namun sebelum ia masuk kedalam, sebuah panggilan masuk ke ponselnya membuat ia menghentikan tangannya. "Raniya? ada apa dia menelpon ku tengah malam seperti ini?" tetapi Lucas mencoba mengabaikan panggilannya hingga Raniya selalu menghubungi dirinya membuat Lucas pada akhirnya menggeser tombol hijau. "Ada apa Rani?".


"Kamu lagi dimana Lucas? aku sangat membutuhkan mu. Tidak bisakah kamu menemui ku di cafe xx. Aku mohon Lucas, tolong temui aku sebentar saja".


"Kamu mabuk?".


"Sedikit saja Lucas. Aku mohon".


Lucas menghela nafas, "Baiklah aku akan kesana" ia mematikan ponselnya, kemudian mengirim pesan kepada Marisa. "Sayang, aku lagi ada urusan sebentar. Kamu sudah tidur?".


Sambil menunggu balasan dari Marisa, Lucas segera menjalankan mobilnya meninggalkan pekarangan tersebut menuju tempat Raniya berada saat ini. Tetapi Marisa tidak membalasnya, dalam pikiran Lucas Marisa pasti sudah tertidur. Namun faktanya tidak sesuai dengan apa yang dia pikirkan, Marisa sedang menonton televisi dengan raut wajah kesal begitu ia mendapatkan notifikasi darinya.


Hingga kini Lucas telah tiba di cafe tersebut dimana Raniya yang sedang berada di dalamnya. Lalu ia masuk kedalam, ia pun langsung melihat Raniya berada di dekat tembok dengan pemandangan keluar. Dengan nafas berat Lucas pun berjalan mendekatinya, "Ooo.. Kamu sudah datang?" senyum Raniya melihat Lucas mendudukan diri dihadapannya.


"Mmmmm" balas Lucas dengan singkat.


"Kenapa? kamu tidak suka aku menyuruh mu datang kemari Lucas?".


"Hhhmmsss.. Tidak" jawab Lucas menyambar gelas anggur miliknya. "Apa yang kamu lakukan disaat seperti ini? apa kamu sudah melupakan tugas mu sebagai dokter? besok kamu harus kembali menangani mereka".


"Besok hari libur ku Lucas, makanya aku datang kemari. Apa kamu tidak berniat untuk menghibur ku? saat ini aku sedang memiliki banyak masalah. Kamu tidak penasaran?".


"Tidak".

__ADS_1


"Ais.. Kamu sangat jahat sekali hhhmmsss.. Lucas, kedua orang tua kami sudah menetapkan tanggal pernikahan kami. Apa yang harus aku lakukan Lucas? aku belum siap menikahi Jose. Tolong bantu aku Lucas mengatasi masalah ini".


"Aku tidak tau harus melakukan apa untuk membantu mu Rani. Tapi ada baiknya kalian berdua segeralah menikah, aku yakin cepat atau lambat kamu akan menyadari kalau kamu itu bahagia bersama dengan Jose".


"Itu tidak akan pernah terjadi Lucas, karna mau sampai kapan pun dia tidak akan pernah berhasil menggeser pria yang ada dalam hati ini".


"Siapa orang itu Raniya? kenapa kamu begitu mencintainya sampai kamu tidak bisa menerima Jose".


Raniya tersenyum menunduk, lalu melihatnya kembali dengan mata sayu, "Kamu mau tau siapa pria itu Lucas?".


"Mmmm, siapa dia?".


"Kamu!".


"Apa?" kaget Lucas menatapnya dengan wajah datar.


"Mmmmm, pria itu adalah kamu. Pria yang selama ini aku cintai dan aku sayangi itu adalah kamu Lucas. Tapi kamu tidak pernah menyadarinya, padahal sudah sejak dari dulu aku menunjukkan rasa tertarik ku kepada mu".


"Hentikan Raniya. Aku tidak pernah memiliki perasaan terhadap mu, selama itu aku hanya menganggap mu sebagai rekan kerja dan juga sebagai teman wanita ku. Maaf".


"Aku tau itu Lucas. Tapi hati ku berkata lain, aku sudah berusaha saat itu untuk tidak tertarik kepada mu, namun rasa suka ku kepada mu semakin dalam, bahkan mengagumi pria lain pun hati ini tidak memberikan izin kecuali kamu Lucas. Jadi aku mohon Lucas menikahlah dengan ku, aku siap meninggalkan segalanya asalkan aku bisa bersama dengan mu".


"Apa kamu sudah gila Raniya?".


"Iya, dan sudah sangat lama sekali aku setengah gila hanya karna diri mu Lucas. Maka karna itu, hiduplah bersama dengan ku Lucas".


"Aku tidak bisa Raniya. Aku sudah mencintai wanita lain, sebaiknya kamu berhenti mulai dari sekarang memikirkan aku dan menikahlah dengan Jose. Aku yakin kamu akan bahagia bersama dengannya".


"Sampai kapan pun aku tidak akan pernah menikahi Jose Lucas. Aku sudah mengatakan sedari tadi kepada mu kalau hati ini tidak akan pernah menerima siapa pun kecuali kamu".

__ADS_1


"Tapi aku tidak bisa Raniya. Karna ini sudah jam 12 malam lewat, aku harus kembali pulang, kamu bisa pulang sendiri kan? kalau tidak aku akan memanggilkan taksi untuk mu" Raniya pun tertawa membuat beberapa pelanggan yang masih berada disana melihat kearah mereka berdua, "Hentikan Raniya, jangan mempermalukan diri mu sendiri".


"Kenapa? kamu malu?" tanyanya melihat Lucas dengan mata berkaca-kaca. "Bajingan! bagaimana bisa kamu menyakiti perasaan ku sesakit ini? kamu benar-benar sangat menyakiti ku" Raniya pun langsung menumpahkan air mata yang sedari tadi ia tahan.


__ADS_2