Terjerat Cinta Sekretaris Marisa

Terjerat Cinta Sekretaris Marisa
Bab 118


__ADS_3

Dengan senyum mengembang diwajah Isabella ia terlihat begitu bahagia melihat bayi tersebut, "Kamu menggemaskan sekali, bisakah aku saja yang memberi mu nama?" lalu bayi Kirana tersenyum tipis membuat Isabella tau kalau bayi tersebut menyukai apa yang baru saja ia katakan. "Baiklah aku akan memberi mu nama Reysa Nandita. Bagaimana? kamu menyukai nama itu?" dan lagi-lagi bayi itu tersenyum. "Wah, sepertinya kamu benar-benar menyukai nama itu. Mulai sekarang aku akan memanggil mu Reysa".


Sedangkan Kirana yang berada di dalam kamarnya, ia merasa sangat marah dan membenci bayi yang baru saja ia lahirkan itu yang tak lain adalah Reysa Nandita. "Aku membencinya, lebih baik dia mati saja dari pada dia harus menyusahkan hidup ku. Arrkkhhh".


DDDRRRTTTT.. DDDRRRTTTT..


"Papa!" gumam Kirana menyambar ponselnya. "Hallo pa, apa Dilan baru saja memberitahu papa...


"Mmmm, Dilan baru saja memberitahu papa kalau kamu baru saja melahirkan seorang bayi anak perempuan. Apa selama ini kamu tidak tahu?".


"Pah, apa salahnya kalau dia seorang perempuan? apa Dilan tidak akan mengakui bayi ku sebagai anaknya?".


"Kenapa tidak dari dulu kamu buang saja kalau bayi itu seorang perempuan? kamu membuat papa sama mama kamu malu saja dengan keluarganya Davison. Sudahlah, papa tidak ingin mendengar perkataan mu lagi, apapun yang terjadi kamu harus usahakan memiliki penerus keluarga Davison, ingat itu Kirana" setelah itu Malik mematikan ponselnya membuat Kirana semakin membenci bayinya.


"Aarrkkhhh.. Aku benar-benar membenci bayi itu aku benar-benar membencinya" umpat Kirana dengan tangan mengepal.


.


Pagi harinya Lucas terbangun dari tidurnya, ia melihat sekitarnya berada di tempat dimana Elisabet dirawat. "Selamat pagi nyonya Elisabet, apa kamu tidak lelah terbaring terus menghabiskan waktu sepanjang hari disini?" kemudian ia menggenggam tangannya dengan lembut. "Seperti yang kamu katakan, kini aku telah hidup bahagia bersama dengan Marisa, wanita yang kamu sukai dan sebentar lagi bayi pertama kami akan segera lahir ke dunia ini. Tidakkah kamu ingin melihatnya untuk yang terakhir kalinya dalam hidup mu?".


Tok.. Tok...


Ceklek!


"Lukas!" panggil Jose. "Marisa mencari mu, kamu baik-baik saja?" tanyanya melihat wajah letih Lucas.


"Aku baik-baik saja Jose, aku hanya merasa kasihan kepadanya harus menghabiskan waktu sepanjang hari disini hhmmsss" lalu ia bangkit berdiri melihat Jose. "Tolong jaga dia untuk ku Jose, untuk terakhir kalinya aku ingin dia melihat anak ku lahir".

__ADS_1


"Mmmm, kami akan melakukan yang terbaik Lucas, jangan khawatir".


"Terima kasih Jose" begitu Lucas memasuki ruangan Marisa, ia melihat sang istri tengah berdiri di dekat jendela sambil menatap kearah perkotaan yang sangat padat. "Kamu pasti mencari ku sayang, maaf membuat mu khawatir" Lucas memeluknya dari belakang.


"Tidak, aku tau kalau kamu pasti dari ruangan nyonya Elisabet. Apa dia baik-baik saja?" Marisa menatapnya dengan tatapan sedih. "Aku merindukan nyonya Elisabet yang dulu begitu sayang kepada ku yang penuh perhatian seperti menganggap ku sebagai putrinya sendiri".


"Kita doakan saja yang terbaik semoga nyonya Elisabet baik-baik saja sampai bayi kita lahir. Kamu sudah sarapan sayang?".


"Aku tidak terlalu berselera, tapi aku sudah sarapan. Bagaimana dengan mu? sepertinya kamu belum sarapan, haruskah aku menyuruh mereka membawakan sarapan untuk mu?".


"Tidak usah, aku tidak ingin membuat mu repot sayang" Lucas tersenyum memutar tubuh itu kembali menatap keluar perkotaan yang begitu indah dilihat. "Sayang, begitu bayi kita lahir kita akan pindah ke luar negeri".


"Apa?" kaget Marisa mengerutkan keningnya. "Kenapa harus pindah? kenapa tidak disini saja? lalu bagaimana dengan keluarga mu? apa mereka akan membiarkan kamu pergi meninggalkan negara ini".


"Kita harus meninggalkan negara ini sayang, kamu tau sendiri satu-satunya penerus Asian group hanyalah aku".


"Terus?".


"Tidak sih, tapi..


"Aku sudah berencana memberitahu mereka kalau aku sudah memiliki mu dan akan segera memiliki seorang anak sayang".


"Ya sudah kalau gitu, mana yang terbaik saja untuk kita".


"Iya sayang, terima kasih" ia pun semakin memeluknya dengan erat dari belakang.


.

__ADS_1


1 minggu kemudian Lucas dan Marisa memutuskan mendatangi kediaman keluarga besar Davison. Namun saat itu juga kedua orang itu melihat sang kakek tengah kedatangan tamu yang tak lain adalah keluarga Adelia dari Prancis. "Oo, itu bukannya Lucas kakek?" tanya Adelia membuat semua mata itu melihat kearah keduanya termasuk Isabella sang ibu yang juga berada disana. "Benar itu Lucas, tapi siapa wanita hamil itu? kenapa Lucas menggenggam tangannya seperti...


"Lucas" potong Isabella langsung menghampiri sang anak. "Apa yang sedang kamu lakukan Lucas? kenapa kamu membawa wanita ini kerumah disaat kakek kamu sedang kedatangan tamu. Kamu ingin melihat kakek mu marah? hhmmsss".


Kemudian Mateo bertanya siapa wanita yang datang bersama dengannya itu, dengan lantang Lucas pun langsung menjawab kalau wanita yang datang bersama dengannya itu adalah istrinya, wanita yang selama ini ia cintai yang kini tengah mengandung buah cinta mereka.


"Apa?" kaget Mateo menyentuh dadanya membuat Isabella berlari kearah sang ayah mertua. "Kurang ajar, apa yang barusan anak itu katakan?" tanyanya kepada sang menantu.


"Pa, papa tenang dulu, jantung papa bisa kumat. Lucas, tolong tinggalkan tempat ini" ucap sang ibu kepadanya. Lalu Adelia berjalan mendekati kedua orang tersebut dengan wajah marah.


"Kamu siapa?".


"Jangan dengarkan dia, ayo" ucap Lucas menarik Marisa pergi dari sana, namun tangan Adelia malah menahan tangan kiri Marisa. "Apa yang sedang kamu lakukan?" bentak Lucas melihat Adelia menekan tangan Marisa sampai membuatnya merasa kesakitan.


"Siapa wanita ini? jangan bilang dia pel*cur kamu Luca..


PPLLAAKKK...


"Lucas" kaget Isabella berteriak. "Apa yang kamu lakukan kepadanya Lucas?" lalu ia mendekati Lucas menarik Adelia di belakangnya hingga pada akhirnya Isabella menamparnya. "Kurang ajar, bisa-bisanya kamu menampar dia di depan keluarganya sendiri. Apa kamu sudah gila Lucas?".


"Haahhh.. Aku tidak mengenalnya siapa ma dan aku tidak perduli mau dia dari keluarga mana pun. Dan kamu, sekali lagi kamu mengatai istri ku seperti itu, aku tidak akan tinggal diam. Ingat itu, ayo sayang kita pergi".


"Tunggu!" tahan Marisa.


"Kenapa?".


"Meskipun dia berkata seperti itu kepada ku, tapi tidak seharusnya kamu jadi tidak menghargai keluarganya yang berada disini. Aku mohon minta maaflah kepada mereka dan juga terhadap kakek kamu, setelah itu baru kita pergi, aku tidak mau jika nantinya keluarga mu semakin tidak menyukai ku".

__ADS_1


"Tidak sayang".


"Aku mohon, kalau tidak aku akan berlutut dihadapan kakek kamu untuk mengantikan kamu meminta maaf kepada mereka".


__ADS_2