Terjerat Cinta Sekretaris Marisa

Terjerat Cinta Sekretaris Marisa
Bab 121


__ADS_3

Kini Marisa telah menghabiskan waktu 4 hari lamanya dirumah sakit, namun pihak rumah sakit belum menemukan keberadaan keluarga Marisa dan juga ingatan Marisa yang belum kembali pulih. "Dokter, apa yang harus saya lakukan? saya sama sekali tidak bisa mengingat apa yang telah terjadi dengan saya" ucap Marisa dengan wajah sedih.


"Tidak apa-apa, untuk sementara waktu saudara Marisa bisa tinggal dirumah saya, ketepatan saya hanya tinggal berdua dengan istri saya. Bagaimana? apa saudara Marisa merasa keberatan?".


"Astaga, saya malahan sangat bersyukur sekali dok, terima kasih atas bantuannya. Itu artinya saya bisa tinggal dirumah dokter?".


"Iya sampai ingatan saudara kembali pulih".


"Ya Tuhan, terima kasih banyak dok sudah mau menolong saya dan juga bayi saya" dengan senang hati Marisa pun mengikuti langkah kaki dokter Rian keluar dari dalam ruangan tersebut menuju parkiran. "Oh iya dok, bagaimana dengan istri dokter? apa istri dokter akan menerima saya?".


"Dia akan menerima kamu".


"Wah, dokter.." Marisa tersenyum.


"Kita sudah berada diluar rumah sakit, jadi saya akan bersikap seperti pada umumnya".


"Iya dok, saya juga jauh lebih merasa nyaman kalau dokter memanggil saya dengan sebutan nama saja" begitu Rian membukakan pintu mobilnya, ia pun mempersilahkan Marisa masuk kedalam. "Terima kasih dok".


.


Setibanya dirumah dokter Rian, Marisa langsung keluar dari dalam mobil melihat sekitar rumah Rian yang begitu Luas dan elegan. "Ini rumah dokter? saya tidak menyangka kalau rumah dokter seluas ini".



"Ayo masuk, istri saya pasti sudah menunggu di dalam" seperti yang diucapkan Rian, Marisa pun langsung melihat istrinya Rian tengah menyiapkan makan malam untuk mereka bertiga. "Istri ku" panggil Rian dengan senyum manis.


Sang istri pun melihat kearahnya, dengan senyum manis juga ia berjalan kearah Rian memeluknya, Kamu sudah pulang suami ku? apa dia wanita yang kemarin kamu ceritakan dengan ku?".


"Iya sayang, namanya Marisa".


"Oh.. Hallo Marisa, saya Stela".


"Hallo juga mbak, terima kasih sudah mau menerima saya dirumah ini" dengan sangat ramah Marisa membalas salaman dari istrinya Rian.


"Sama-sama. Ayo, saya akan membawa mu kedalam kamar. Suami ku, aku ngantar dia sebentar yah".


"Iya sayang".


Kemudian Marisa mengikuti langkah kaki kedua istrinya Rian kedalam kamar, saat pintu itu terbuka, Marisa melihat kamar barunya begitu cukup bagus untuk ia tempati, namun tidak dengan seperti yang ia pikirkan. "Maaf, apa saya akan tinggal di kamar ini?" tanyanya sedikit kurang percaya.


"Iya, kamu tidak keberatan kan tinggal di dalam kamar ini? saya rasa ini jauh lebih bagus dari pada kamu berkeliaran diluar sana dengan bayi mu".

__ADS_1


Deng..!!


Mendengar perkataan Stela, dengan mata berkaca-kaca Marisa pun berusaha untuk tersenyum agar air matanya tidak menetes. "Iya, terima kasih banyak sudah menyediakan kamar ini untuk saya".


"Mmmmm, setelah itu kamu boleh keluar. Makan malam diatas meja sudah terhidang, ok".


"Iya mbak" Marisa pun langsung masuk kedalam kamar bersama dengan bayinya hingga pada akhirnya ia menumpahkan air mata yang tadi ia tahan. "Ya Tuhan, siapa aku sebenarnya? dimana keluarga ku? dimana juga suami ku? kenapa engkau membiarkan aku seperti ini hiks.. hiks.." Marisa yang menangis membuat bayinya juga ikut merasakan kesedihan yang ia rasakan. "Maafkan ibu mu ini anakku, jangan menangis".


Tok... Tok...


"Iya?" Marisa segera menyeka air matanya. "Sebentar yah".


Ceklek!


"Nona dipanggil tuan Rian makan malam bersama".


"Akh, begini buk. Bisakah ibu mengatakan kepada dokter Rian kalau saya masih kenyang dan hari ini saya sangat lelah sekali dan ingin cepat-cepat istirahat. Bisa ya buk".


"Ya sudah, saya akan menyampaikannya dengan tuan Rian".


"Iya buk, terima kasih banyak yah" seperginya si pelayan tersebut, ia pun kembali masuk kedalam melihat bayinya tengah memakan tangan. "Astaga anak ku, seperti kamu lapar yah?" Marisa pun segera memberikan asinya.



.


5 Tahun kemudian..


Waktu telah berlalu begitu cepat, Marisa memberikan nama sang putra Argana. Namun meskipun ia dan sang putra masih tinggal di kediaman rumah dokter Rian, ia berusaha sebisa mungkin untuk menghidupi dirinya sendiri. "Yah, kamu" panggil Stela membuka pintu kamarnya.


"Akh iya mbak?" Marisa tersenyum seperti biasa. "Kenapa mbak? ada yang bisa saya bantu?".


"Ini sudah hampir 5 tahun lamanya kamu tinggal dirumah kami, kamu tidak ada rencana?".


Marisa kebingungan, "Sebelumnya saya minta maaf mbak, maksud dari rencana yang barusan mbak bilang apa yah?".


"Yah rencana minggat dari rumah ini lah. Ingat loh, kamu sudah menghabiskan waktu 5 tahun lamanya disini, iya kali kamu mau disini selamanya. Kamu enggak mikir apa?".


"Mbak mengusir saya?".


Dengan kesal Stela pun mendengus, "Iya, saya barusan mengusir mu dari rumah ini. Kenapa? kamu mau marah sama saya?".

__ADS_1


"Tidak, saya sama sekali tidak marah mbak, lagian saya sudah seharusnya meninggalkan rumah ini. Tapi tolong beri saya sedikit waktu mbak, begitu saya menemukan pekerjaan saya janji secepat mungkin saya akan pergi dari rumah ini".


"Baiklah, saya akan memberi mu waktu paling lama minggu depan".


"Iya mbak, saya janji".


"Ya sudah".


Sekeluarnya Stela dari dalam sana, Argana yang sempat mendengar percakapan keduanya membuat ia merasa sedih melihat Marisa yang hanya bisa menghela nafas berat. "Ma, mama baik-baik saja?".


"Ekh anak mama sudah selesai?" Marisa tersenyum mencium kening sang putra dengan sayang. "Apa kamu tadi mendengarnya?".


"Mmmm, mama baik-baik saja?".


"Hey, tentu saja mama baik-baik saja sayang, kamu seperti tidak mengenal mama saja. Ayo kita berangkat, karna ini hari pertama Argana masuk sekolah kita enggak boleh terlambat".


"Iya ma, ayo".


"Ayo sayang".


.


Setibanya disekolah, Argana tampak merasa bahagia melihat begitu banyaknya anak-anak disekitarnya. "Ma, sepertinya Argana akan memiliki banyak teman. Coba lihat kesana ma".


"Oo, itukan permainan kesukaan Argana" Marisa tertawa senang langsung menarik tangan sang putra kearah sana. "Wah, sepertinya mama enggak salah membuat kamu sekolah disini sayang, kamu suka?".


"Mmmm, Argana suka ma".


"Bagus dong, mama senang mendengarnya sayang" Marisa memeluknya. "Kalau gitu, karna hari ini mama mau mencari pekerjaan, mama harus pergi sayang, Argana doain mama yah semoga mama bisa mendapatkan pekerjaan supaya kita bisa tinggal di rumah kita sendiri".


"Iya ma, Argana akan mendoakan supaya mama segera bertemu dengan papa".


"Loh, kok papa sayang?" seketika Argana terdiam. "Tidak sayang, mama tidak marah kok, malahan mama senang kalau Argana selalu mendoakan supaya kita bertemu dengan papa Argana. Makasih ya sayang".


"Iya ma, secepat mungkin kita akan bertemu dengan papa. Sekarang mama pergilah, jangan khawatirkan Argana".


"Mmmm, mama pergi dulu ya sayang".


"Iya ma, hati-hati dijalan".


"Iya sayang, i love you".

__ADS_1


"I love you too ma".


__ADS_2