
Mendengar perkataan Marisa, Lucas pun langsung menghela nafas kesal kepada sang istri yang sudah berani melawan perintahnya. "Sayang..
"Aku mohon, minta maaflah kepada mereka kali ini saja".
"Hhhmmsss.. Baiklah" kemudian Lucas mendekati sang kakek. "Saya minta maaf setelah apa yang saya lakukan terhadap putri anda, tapi saya melakukannya bukan tanpa alasan, tolong putri anda diajarin sopan santun bicara dengan orang lain".
"Apa?" seketika ayah Adelia membentaknya dengan marah. "Kamu pikir selama ini kami tidak mendidik putri kami hahh? kurang ajar, saya pikir kamu anak yang baik-baik, tapi ternyata saya salah. Ayo ma, sebaiknya kita pergi dari sini".
"Iya pa" angguk sang istri sembari memanggil nama sang putri untuk segera meninggalkan rumah tersebut tampa ada penahanan lagi dari Mateo maupun Isabella. Kemudian Mateo bangkit berdiri, dengan tatapan marah bercampur kecewa Mateo berjalan mendekati Lucas.
"Kakek!".
PPPLLLAAKKK...
"Kakek!"
PPPLLLAAKKK...
"Kakek..!!".
PPPLLLAAKKK... PPPLLLAAKKK...
"Maafkan aku".
PPPLLLAAKKK...
"Kakek hentikan..!!" Lucas menatapnya dengan tatapan sendu. "Kumohon hentikan, percuma kakek menampar ku sampai 100 kali ..
PPPLLLAAKKK...
"Tutup mulut mu itu, percuma kakek selama ini membesarkan kamu. Apa ini yang harus kakek terima hhmmm? apa sekarang kamu puas mempermalukan kakek? apa sekarang kamu puas Lucas..??".
"Maafkan aku kakek, kali ini biarkan aku dengan pilihan ku..
__ADS_1
PPPLLLAAKKK...
Lagi-lagi Mateo menamparnya tampa ingin mendengar penjelasan Lucas yang akan membuatnya semakin marah. "Sekarang kamu pergi dari rumah ini, sebelum kamu berubah dan menyesali semaunya kakek tidak akan pernah sudih melihat mu, ayo sekarang kamu pergi, pergi".
"Baiklah jika itu yang sebenarnya kakek inginkan dari ku, maka aku akan pergi kakek. Tapi sebelum aku meninggalkan Indonesia, aku ingin memberitahu kakek kalau aku sudah menikah dengan wanita yang aku cintai dan sebentar lagi bayi kami akan segera lahir, terima kasih kake..
"Pergi sekarang juga, dan jangan pernah menginjakkan kedua kaki mu dirumah ini lagi".
"Mmmmm, kami akan pergi" kemudian Lucas melihat ibunya yang sedang menahan tangis membuat Lucas merasa putra paling kejam di dunia. "Ma, tolong maafkan putra mu ini. Aku tau mama pasti sangat marah besar kepada ku, tapi sebagai laki-laki aku harus bertanggung jawab dengan apa yang aku lakukan" ucap Lucas hingga pada akhirnya Isabella menumpahkan air matanya di dalam pelukan sang putra.
"Kurang ajar, kamu benar-benar anak yang kurang ajar Lucas. Bagaimana bisa kamu tega melakukan ini kepada anak orang?".
"Maafkan aku ma" dengan erat Lucas langsung memeluk sang ibu. "Maafkan aku ma" lalu Isabella melepaskan pelukannya melihat Lucas tersenyum tipis. "Ma, sebentar lagi aku akan pergi meninggalkan Indonesia, tolong jaga kakek dengan baik selama aku berada di luar negeri ya ma".
"Maksud kamu apa Lucas? kamu ingin pergi kemana meninggalkan keluarga ini hhhmmm? kamu tega meninggalkan mama seorang diri?".
"Aku harus pergi ma menentukan masa depan Lucas dan aku mohon tolong jaga kesehatan mama".
"Tidak Lucas, tolong jangan tinggalkan mama sama kakek kamu, kalau kamu pergi siapa lagi tempat mama bersandar disaat mama merindukan papa kamu Lucas hiks.. hiks.. Jangan pergi sayang, mama mohon".
"Terus kamu akan membawanya pergi bersama dengan mu?".
"Iya ma, dia akan ikut bersama ku".
.
Seperginya Lucas dan Marisa dari kediaman keluarga Davison, Marisa meminta untuk mencek kandungannya dirumah sakit, dengan senyum mengembang di wajah keduanya ia dan sang suami melihat betapa aktifnya bayi tersebut, lalu si dokter bertanya. "Kenapa tuan dan nona tidak ingin mengetahui jenis kelamin bayinya?" tanya si dokter penasaran.
"Karna ini bayi pertama kita, kami ingin mengetahuinya begitu ia lahir kedua ini saja dok" jawab Lucas dengan bangganya.
"Oh begitu" angguk si dokter tersenyum ikut merasakan kebahagiaan yang Lucas dan Marisa rasakan. Lalu memberitahu sepasang suami istri itu untuk berhati-hati mengingat jarak melahirkan Marisa yang semakin dekat.
__ADS_1
"Iya dok kami akan selalu mengingatnya. Terima kasih banyak untuk hari ini".
"Iya tuan sama-sama".
Lalu Lucas membantu sang istri pergi dari sana, dengan senyum yang terus menerus mengembang di wajah Marisa ia semakin tidak sabar menunggu kelahiran sang buah hati, "Sayang, begitu aku melihat bayi kita dilayar monitor tadi aku semakin tidak sabar lagi menunggu kelahirannya".
"Aku juga sayang" sahut Lucas. Kemudian mendudukan Marisa diatas kursi tunggu, "Kamu tunggu sebentar disini ya sayang, aku kesana sebentar".
"Iya" angguk Marisa mengusap perut buncitnya tampa ia sadari kalau seseorang dari belakang sedang melihatnya dengan senyum mematikan. "Bayi ku, kalau kamu lahir dengan jenis kelamin perempuan ibu mu ini sangat mencintai mu begitu juga dengan kalau kamu lahir sebagai anak laki-laki ibu mu ini mencintai mu. Sehat terus ya sayang, i love you".
Tidak menunggu beberapa lama Lucas telah kembali dengan kantong keresek ditangan kanannya, "Kamu pasti menunggu ku lama sayang, maaf".
"Tidak apa-apa suami ku. Lalu itu apa?".
"Mmmmm, sesuatu yang kamu suka. Ayo, kamu makan di mobil saja nanti".
"Ayo".
Seperti yang Lucas ucapakan, ia pun langsung membuka kantong kresek tersebut di dalam mobil memberinya di tangan sang istri. "Ini sayang, rasa buah ini sangat enak dan juga sehat untuk kamu dan bayi kita".
"Wah Daebak, terima kasih suami ku. Boleh aku memakannya?".
"Makanlah dengan perlahan sayang" Lucas tersenyum gemes mengusap kepala Marisa, setelah itu ia segera menjalankan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah sakit tersebut, namun saat ditengah perjalanan Lucas tiba-tiba merasakan sesuatu yang janggal membuat ia menginjak rem, tetapi rem tersebut malah tidak bisa ia gunakan. "Sayang, kamu pegangan" ucapnya khawatir.
"Ada apa? kenapa kamu tiba-tiba menyuruh ku pegangan? apa sesuatu terjadi?".
"Cepat pegangan Marisa. Cepat" Lucas meninggikan suaranya mencoba untuk menghentikan mobilnya tampa ia sadari kalau saja sebuah mobil truk besar sedang berjalan dari lawan arah mereka membuat Marisa berteriak histeris.
BBBRRRAAKK..
"Aaakkhh. Aakkkhhh.." kemudian Marisa membuka mata, ia langsung merasakan sebuah darah segar mengalir di wajahnya, "Sakit, sakit.. Lucas, kamu dimana? kamu dimana Lucas?" ia mencoba melihat sekitarnya. "Kamu dimana Lucas" lalu ia melihat sebuah bayangan berdiri diatasnya. "Siapa pun kamu tolong selamat kami, tolong selamat aku dan bayi ku, aku mohon" namun bukannya menolongnya, orang tersebut malah pergi begitu saja dari hadapannya.
Setelah itu ia melihat mereka membawa Lucas pergi dari sana, tidak menunggu beberapa lama, sebuah mobil ambulans segara tiba disana. "Sakit, sakit, sakit, tolong selamatkan aku".
__ADS_1
"Nona, nona, nona, apa kamu bisa mendengarkan kami?".
"Sa-kit" jawab Marisa sebelum menutup matanya.