Terjerat Cinta Sekretaris Marisa

Terjerat Cinta Sekretaris Marisa
Bab 37


__ADS_3

Flora terdiam, kedua matanya masih melotot melihat Jose menyentuh wajahnya dengan mulus. "Maaf, aku tidak mengenal mu" ucap Flora memalingkan wajahnya.


Lagi-lagi Jose tersenyum, "Ya sudah kalau kamu tidak mau" Jose bangkit berdiri, ia menyambar jas dan ponselnya, namun ia tidak sadar kalau dompetnya masih tertinggal diatas sofa membuat Flora mengejarnya.


"Tunggu, kamu meninggalkan ini".


"Terima kasih".


"Mmmmm" angguk Flora. Kemudian Marisa kembali masuk, "Dia baru saja pergi Sa".


"Hhmmm? udah pergi?".


"Iya, tadi di melawati pintu itu".


"Oh ya sudah, kamu ikut aku pulang. Tapi sebelumnya kita antar tuan Lucas dulu kerumahnya".


"Tidak usah Sa, aku naik taksi ajah".


"Kamu yakin naik taksi sendiri".


"Iya, aku duluan yah kamu hati-hati dijalan".


"Mmmmm, kamu juga" angguk Marisa melihat punggung Flora menjauh, ia pun segera menyusul Lucas yang berada di dalam mobilnya. Ia melihat Lucas tertidur sangat lelap membuat ia tersenyum, "Setiap kali aku melihat mu tidur, kamu selalu ku membuat gemas ingin mengigit mu" Marisa pun langsung menjalankan mobilnya meninggalkan bar menuju rumah Lucas.


Hingga kini mobilnya telah tiba di depan rumah Lucas, Marisa melihatnya masih terlelap, ia kemudian melihat keatas rumahnya, "Cantik sekali, rumah ini adalah rumah idaman aku sejak dari dulu".


Setelah itu ia keluar dari dalam mobil mambantu Lucas melepaskan sabung pengaman ditubuhnya. "Tuan ayo bangun, kita sudah sampai" Marisa mencoba menggoyang tubuh Lucas. "Tuan" panggilnya lagi. Namun Lucas bukannya terbangun, "Lalu bagaimana caranya aku membawanya dia masuk kedalam kalau dianya tidak mau bangun?" Marisa mendengus, ia tidak mungkin membiarkan Lucas tidur dimobil dengan udara sedingin ini, bisa-bisa Lucas masuk angin.


Marisa mencoba membangunkannya lagi, ia menyentuh wajahnya Lucas lalu menepuknya dengan lembut, "Tuan ayo bangun, kita sudah sampai diruma..


Cup.

__ADS_1


Marisa terdiam, ia sedikit terkejut begitu Lucas menciumnya dengan mata tertutup. "Aku mencintai mu".


"Si-siapa?".


"Kamu".


"Terima kasih, terima kasih sudah mengatakan itu dihadapan ku meskipun aku tau kalau kata-kata itu bukan untuk ku" Marisa tersenyum, entah kenapa ia merasa sangat senang. "Sekarang kita masuk tuan, aku akan membantu tuan masuk kedalam. Ayo".


Begitu Marisa berhasil membawanya masuk, ia membaringkan tubuhnya diatas sofa, Marisa melihat kelantai atas. Tidak mungkin ia membawa Lucas kedalam kamarnya, kemudian ia mencari selimut kelantai atas, setelah Marisa mendapatnya, ia langsung menaruh ditubuhnya. "Selamat malam" Marisa melihat seisi rumah Lucas, lalu ia melirik jam telah menunjukkan pukul 12 malam. Ia segera menghubungi nomor ponsel Flora. "Hallo Ra, kamu sudah sampai di rumah?".


"Mmmmm, aku sudah dirumah. Bagaimana dengan mu?".


"Aku juga. Selamat malam".


"Mmmmm" angguk Flora.


Marisa melihat kearah Lucas kembali, hari ini ia sangat lelah dan juga sangat mengantuk, untuk pulang kerumah ia sudah malas, dan pada akhirnya Marisa memutuskan menginap disana, tapi ia tidak tau mau tidur dimana, kalau ia tidur dikamar, ia tidak mungkin berani, seorang Marisa sedikit penakut. "Kalau gitu aku tidur di sofa ini saja" ia langsung membaringkan tubuhnya, ia melirik kearah Lucas lagi yang berada di sebelahnya. "Meskipun ada jarak, tapi serasa kita tidur diranjang yang sama. Selamat tidur, hhooaamm🄱".


Begitu Marisa tertidur pulas, Lucas membuka kedua matanya, ia melihat Marisa yang berada di sebelahnya, kemudian Lucas mengusap wajahnya, lalu ia bangkit berdiri, ia berjalan memasuki kamar mandi. Sekeluarnya dari sana, ia membuka jas menaruh diatas sofa, kemudian Lucas menaruh selimut yang tadi ia pakai ditubuh Marisa lalu ia membaringkan tubuhnya di sampingnya, memeluknya, setelah itu Lucas menutup kedua matanya kembali.


"OMG" kagetnya melihat Lucas memeluk tubuhnya. "Bagaimana bisa dia ada disini? bukankah semalam dia ada sebelah. Lalu..." gantung Marisa begitu Lucas membuka mata. "Tu-tuan".


Lucas menutup kedua matanya kembali, "Apa yang terjadi?" tanyanya pura-pura tidak tau.


"Tuan, aku tidak tau apa-apa. Aku tidak tau bagaimana bisa tuan berada disini" jawab Marisa. "Aku mengatakan yang sebenarnya tuan" ucapnya lagi mencoba pergi dari sana, namun Lucas malah menahan tubuhnya dengan tangan kiri.


"Kamu kemana? aku sangat mengantuk, biarkan seperti ini".


"Apa?" kagetnya.


"Mmmmm, diamlah. Jangan sampai kamu menganggu tidur ku".

__ADS_1


"Iya" angguk Marisa.


.


Begitu Jose terbangun dari tidurnya, ia melihat jam telah menunjukkan pukul 8 pagi. Ia menuruni tempat tidur, lalu memasuki kamar mandi. Namun saat Jose membuka pakaiannya, ia mencoba mengingat kejadian semalam, tetapi ia tidak bisa mengingatnya selain ia mengingat menyentuh wajah seorang wanita yang tidak ia tau siapa dia. Setelah itu Jose keluar dari dalam kamar mandi, ia segera memakai pakaian kantornya.


Tok... Tok...


"Tuan muda, nyonya dan tuan sudah menunggu di meja makan" ucap sipelayan memberitahunya.


"Mmmmm" gumam Jose membuka pintu kamarnya, ia menuruni anak tangga, dimeja makan semua anggota keluarga telah berada disana. "Pagi semuanya".


"Pagi" balas mereka. Kemudian sang nenek Jose yang masih hidup bertanya, "Kamu masih kebisaan pulang malam dengan keadaan mabuk. Bagaimana kalau kamu menikah nanti? apa kamu akan tetap seperti ini?".


"Maafkan aku nek" jawab Jose.


"Kamu kebiasaan selalu begitu, nenek sudah berapa kali memperingatkan kamu untuk pulang jangan keadaan mabuk, tapi kamu tidak pernah mendengarkan kami. Kamu sudah bertemu dengan Raniya? kami mau secepat mungkin kalian segera menikah".


Jose menghela nafas, "Aku sudah bertemu dengannya. Dia gadis cantik, pintar dan dewasa, tapi dia belum siap menempuh jenjang pernikahan".


"Maksud kamu?" kaget mereka. "Karna apa Jose? bukankah umur kalian berdua sudah sama-sama matang untuk menikah?" tanya sang ibu Jose.


"Iya ma, tapi Jose tidak mau memaksanya hanya karna perjodohan yang kalian rencanakan. Aku akan menunggu sampai dia benar-benar siap menikah dengan ku, jadi tolong jangan membuat keputusan yang nantinya akan disesali".


"Jadi mau sampai kapan lagi kamu akan menikah Jose? umur kamu bukan umur mudah lagi, bahkan tahun ini kamu akan kepala tiga".


"Aku tau ma, tapi tolong jangan memaksa ku. Aku juga mencintai dia, bahkan aku langsung jatuh cinta kepadanya pertama kali kami bertemu, tapi kalau dia belum bisa menerima ku, aku harus bagaimana? aku tidak ingin menikahi wanita yang hatinya tidak untuk ku".


Dengan kesal Jose melihat mereka, ia pun mengakhiri sarapan paginya dengan perasaan yang tidak bisa ia artikan. "Aku pergi, berhenti membicarakan aku dibelakang".


Kemudian ibu Jose melihat suaminya, "Apa yang terjadi pa? kenapa Raniya malah tidak bisa menerima Jose sebagai suaminya?".

__ADS_1


"Papa juga tidak tau ma, kalau gitu kita biarkan saja dulu. Papa juga merasa sedih mendengar kalau Raniya belum siap menikahi Jose".


"Ya sudah pa" angguknya.


__ADS_2