
"Apakah ini semua mimpi?" tanya Marisa geleng kepala.
"Tidak sayang, ini tidak mimpi. Aku sangat merindukan mu" Peluknya kembali ditubuh Marisa tampa Marisa sadari ia pun menangis di pelukan Lucas.
"Hiks.. Hiks.. Lalu kemana kamu selama ini hiks? kenapa kamu tidak mencari ku dan Argana. Kamu jahat, kamu benar-benar jahat membiarkan aku hidup menderita dengan Argana".
"Maafkan aku sayang, maafkan aku. Aku tidak akan mengulanginya lagi, aku berjanji sayang kalau aku tidak akan pernah meninggalkan kamu lagi dengan anak kita" Lucas lalu menghapus air mata Marisa yang tiada hentinya berderai dikedua pipinya.
.
Sedangkan Argana yang berada di dalam kelas, ia sedang asik bermain dengan Reysa seperti anak lainnya. "Oh iya Arga, papa kamu dimana? kenapa aku tidak pernah melihat papa kamu datang ke sekolah kita?" tanya Reysa polos tidak bermaksud menyinggung perasaan Argana karena Reysa memang tidak tahu.
"Aku tidak punya papa Rey" jawab Argana malah tersenyum.
"Kamu serius Arga enggak punya papa? kamu pasti bohong kan sama aku".
"Tidak Rey, aku mengatakan yang sebenarnya kalau aku tidak punya papa".
"Kenapa begitu Arga? apa papa kamu sudah meninggal dunia?".
Lagi-lagi Argana tersenyum mengangkat kedua bahunya, "Aku tidak tau papa ku masih hidup atau tidak Rey, tapi secepat mungkin kami akan bertemu dengan dia. Yah, filing aku berkata seperti itu".
"Loh, jadi selama ini kamu berpisah sama papa kamu Arga?".
"Mmmm".
"Astaga! maafkan aku ya Argana. Aku tidak bermaksud menyakiti perasaan kamu, aku berdoa semoga secepat mungkin kamu akan bertemu dengan papa mu".
"Terima kasih Reysa".
"Iya Argana".
Kemudian Reysa mendengar suara ibu gurunya itu memanggil nama Argana.
"Iya Bu. Ada apa?".
"Argana, semalam kamu tidak memberitahu ibu mu apa yang ibu kemari sampaikan sama Argana?".
"Astaga! maaf Bu. Argana lupa" jawab sang anak ini menepuk keningnya berbohong. Ia bukan lupa, ia memang sengaja tidak memberitahu Marisa kalau biaya sekolah pertamanya sudah ditagih.
"Ya sudah, nanti kalau ibu mu datang menjemput Argana. Jangan lupa beritahu ibu Argana untuk menemui ibu terlebih dahulu. ok".
"Siap Bu" angguk Argana. Lalu ia melihat Reysa yang sedang menatapnya dengan wajah penuh tanya. "Tidak ada apa-apa Reysa. Jangan melihat ku seperti itu".
"Kamu berbohong Arga. Kamu pikir aku tidak tahu kalau kamu berbohong sama ibu guru itu?".
Argana lalu bangkit berdiri dari atas kursinya hendak keluar dari dalam kelas. Namun Reysa yang belum menemukan jawaban dari mulut Argana, ia langsung menahan tangannya.
__ADS_1
"Kamu mau pergi kemana Argana?".
"Aku ingin keluar Reysa. Kamu disini saja, jangan mengikuti ku".
"Tidak, aku akan ikut dengan mu Argana. Tunggu ak..
"Ayo anak-anak kalian kembali duduk diatas kursi kalian masing-masing yah. Kita akan memulai pembelajaran kita" ucap si ibu guru tersebut melihat Argana berdiri. "Ayo duduk nak, kamu tidak punya kursi?".
Argana Kemudian menggeleng kepala, "Bu guru. Boleh Argana bertanya?".
"Boleh. Apa yang ingin Argana tanyakan sama ibu?".
"Tapi ibu harus berjanji mendengarkan perkataan Argana".
"Iya ibu janji sayang. Kalau bisa Argana maju dulu ke depan" begitu Argana berada di hadapannya, ia pun bertanya kembali alasan ia harus mendengarkan perkataan si kecil dihadapan ya itu.
Lalu Argana semakin mendekati tubuh dihadapan ibu guru, "Maaf Bu, ibunya Argana sebenarnya belum membayar uang sekolah. Jadi Argana sebaiknya keluar saja Bu".
"Loh kok bisa gitu Argana?".
"Kemarin sebelum Argana diterima disekolah ini, kepala sekolah memberikan keringanan sama Argana Bu dengan satu syarat secepat mungkin akan membayarnya".
"Terus?".
"Nanti Argana akan bertanya sama ibunya Argana Bu".
"Tapi Bu..
"Tidak apa-apa. Ayo duduk lagi, waktu kita sudah termakan banyak".
"Iya Bu".
Begitu Argana duduk kembali, ia melirik Reysa yang tiba-tiba kesal kepadanya, namun bukannya bertanya alasan kekesalan wanita mungil itu. Argana malah terlihat biasa saja seolah-olah tidak perduli.
"Dia sangat kejam. Aku membencinya" gumam Reysa yang mampu di dengar Argana.
"Kamu bilang siapa?".
"Kenapa dia jadi merasa? dia pikir aku berkata kepadanya" Reysa lalu mengeser sedikit tubuhnya menjauh dari Argana.
"Kamu marah? kenapa kamu tidak menjawab ku Rey? kamu benar-benar marah Reysa?".
Hingga pada akhirnya Reysa Andita menatap anak laki-laki yang sudah membuatnya itu kesal.
"Aku membenci mu Argana!".
"Karna apa Reysa? aku melakukan kesalahan apa sampai membuat mu terlihat kesal seperti ini?".
__ADS_1
"Jangan menganggu ku Arga, aku tidak ingin mendengar mu".
.
Sepulang sekolah begitu mereka diizinkan pulang kerumah masing-masing, Reysa yang masih marah kepadanya pergi begitu saja meninggalkan Argana yang biasa mereka berdua bermain terlebih dahulu sebelum meninggalkan sekolah.
Kemudian Argana melihat Marisa berdiri ujung sana bersama dengan Lucas. "Itukan om Lucas? kenapa mama datang bersama dengannya? bukankah seharusnya mama bekerja".
Marisa pun melangkah mendekati putranya itu dengan senyum mengembang di wajahnya dan juga Lucas.
"Anak mama pasti lelah sekali" tebak Marisa mencium kening Argana.
"Tidak ma. Hallo om!" senyum Argana menyapa Lucas. "Kita bertemu lagi".
"Mmmm, dan kita akan selalu bertemu lagi. Ayo peluk dulu" balas Lucas berjongkok dihadapan Argana sambil merentangkan kedua tangannya. Tetapi Argana yang tau diri tidak berani melakukan hal yang baru saja Lucas minta kalau saja Marisa mengatakan tidak apa-apa kalau Argana ingin memeluknya.
"Bagaimana hari mu disekolah?".
"Seperti biasa om hehehe" jawab Argana tertawa senang.
"Om tebak Argana pasti sudah lapar. Ayo, om akan membawa Argana makan di tempat yang akan Argana suka".
Kedua bola mata Argana yang langsung berbinar-binar melirik Marisa untuk meminta persetujuan dari sang ibu.
"Iya sayang. Om Lucas berjanji sama mama akan membawa kita makan di restoran yang akan Argana sukai".
"Benarkah ma?".
"Mmmm".
"Ayo" Lucas membawa tubuh Argana di dalam gendongannya. Sambil berjalan ia bertanya kepada putranya itu, "Argana sayang sama mama?".
"Tentu saja Argana sayang sama mama om. Argana tebak om juga lebih saya sama mama ya om dari pada.. Akh, maafkan aku om".
"Kenapa minta maaf?".
"Tidak om" senyumnya geleng kepala merasa sangat senang sekali berada di dalam pelukan seorang Lucas. Ia merasa kalau orang yang menggendongnya itu adalah ayah kandungnya sendiri, tapi itu hanyalah hanyalah semata Argana yang tidak mungkin terjadi.
Sesampainya disana, Argana melirik Lucas tidak percaya kalau mereka akan makan siang di sebuah restoran bintang lima yang paling elit di kota tersebut.
"Ma, kenapa kita disini?" bisik Argana supaya Lucas tidak mendengarnya.
"Kenapa? Argana tidak suka?".
"Bukan seperti itu ma. Ini hanya terlalu mewah saja, bagaimana kalau om ini kehabisan uang.. " gantung Argana mendengar suara tawa Lucas. "Hahahah..".
__ADS_1
"Dan mulai dari hari ini sampai seterusnya kita akan kemari makan siang bersama. Sekarang Argana mau makan apa?".