Terjerat Cinta Sekretaris Marisa

Terjerat Cinta Sekretaris Marisa
Bab 68


__ADS_3

Marisa memasuki kamarnya, ia mendengar suara ponselnya berdering mendapatkan sebuah panggilan yang tak lain adalah Lucas sang suami. "Iya, kamu sudah tiba di rumah?" jawab Marisa dengan suara lelah.


"Mmmmm, sedang apa kamu?".


"Tidak sedang apa-apa, aku hanya kelelahan saja hari ini" Marisa mendudukan diri atas sofa. "Aku merindukan mu" ucapnya dengan suara pelan.


Lucas pun langsung tersenyum dari sebrang sana, "Aku juga merindukan mu".


Marisa sedikit terkejut, "Kamu bisa mendengar ku?".


"Mmmmm, apa kamu sudah makan malam?".


"Ck, aku tidak bernafsu untuk makan malam, bagaimana dengan mu? apa kamu juga sudah makan malam?".


"Makan malam sudah, sisanya aku ingin memakan mu".


"Hey.. Ais kamu menyebalkan sekali. Kalau gitu aku mandi dulu, tubuh ku terasa lengket dan bau sekali".


"Ya sudah aku tutu..


"Aku mencintai mu. Selamat malam" potong Marisa langsung mematikan ponselnya. "Hhuufff, segitunya kah aku merindukan dia sampai aku tidak ingin mendengar suaranya berlama-lama? ahh, rasanya membuat ku sesak tidak bisa bernafas" Marisa pun segera memasuki kamar mandi. Begitu Marisa selesai ia langsung membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur dengan mata berat, tidak lama kemudian ia terlelap.


Sedangkan Lucas yang berada diatas balkon, ia sedang merokok seorang diri dengan anggur yang berada di atas meja.


DDDRRRTTTTT... DDDRRRTTTTTT...


Lalu ia melihat ponselnya yang sedang berdering mendapatkan sebuah panggilan dari Raniya membuat ia mengernyitkan dahi, "Ada apa Rani kamu menelpon ku tengah malam seperti ini?".


"Tidak apa apa-apa. Aku hanya ingin mendengar suara mu Lucas. Hari ini aku jadwal malam, apa kabar mu Lucas? kenapa kamu sudah jarang sekali kerumah sakit, kamu tidak merindukan nyonya Elisabet?".


"Pekerjaan ku sangat banyak sampai aku tidak punya waktu pergi kesana. Apa dia baik-baik saja? tolong jaga dia untuk ku Rani".


"Jangan khawatir, aku akan menjaganya sebaik mungkin. Sedang apa kamu? kenapa suara mu terdengar berat sekali? kamu lagi minum?".


Lucas tersenyum, "Mmmm, sedikit".


"Hey, sedikit dari mananya? kamu pikir aku tidak mengenal mu? apa kamu sedang ada masalah? kalau kamu punya masalah, harusnya kamu cerita kepada ku Lucas. Siapa tau aku bisa membantu mu".


"Aku baik-baik saja Raniya" jawab Lucas melihat keatas langit yang begitu indah di penuhi dengan bintang.


"Lucas, kamu sedang dimana? kalau kamu berada di luar. Lihatlah keatas langit, malam ini tampak sangat begitu indah di penuh dengan bintang-bintang".


"Mmmm, aku melihatnya. Langit yang gelap terlihat begitu indah".

__ADS_1


"Apa kamu tidak mengingat sesuatu Lucas?".


"Apa?".


"Sepertinya kamu sudah melupakannya".


"Aku menyukai kamu. Aku ingat saat kita berada di tepi pantai kamu mengatakan itu kepada ku kalau kamu menyukai ku. Apa itu yang kamu maksud?".


Flasback.


Dengan suara tawa yang begitu sumringah Raniya berlari disekitar bibir pantai sambil berteriak, "Lucas. Kamu lihat kesana, ada bintang jatuh. Aku menyukai mu Lucas aku sangat menyukai mu".


Lucas mengernyitkan dahi melihat kearah bintang jatuh tersebut, "Apa yang sedang dia katakan?" tatapi Lucas terlihat seolah-olah kata-kata itu tidak artinya. Kemudian melihat keatas langit, "Cantik".


"Kenapa dia tidak membalas ku?" gumam Raniya. Lalu memanggilnya kembali, "Lucas".


"Mmmmm?".


"Aku menyukai mu".


"Aku juga menyukai mu. Kamu tidak lelah berlari terus sedari tadi? kemarilah".


"Tidak, aku tidak lelah" jawabnya.


Raniya tersenyum, "Aku pikir kamu sudah melupakannya Lucas".


"Kenapa kamu menanyakan itu? itu sudah 6 tahun yang lalu".


"Tidak semudah itu Lucas. Kalau gitu aku tutup dulu, selamat malam".


"Mmmm" angguknya.


.


Pagi harinya Marisa terbangun, ia melihat Saphira sedang berada di dalam kamarnya. "Hhmm, mama? sedang apa mama disini?".


"Selamat pagi anak mama. Ini mama sama papa kamu mau berangkat duluan ke hotel membawa kakak kamu. Bisakah kamu nanti menyusul saja dengan Flora?".


"Oh iya ma. Pergilah, nanti Marisa dan Flora akan menyusul".


"Ya sudah, kalau gitu mama berangkat duluan ya sayang".


"Iya ma, hati-hati dijalan".

__ADS_1


"Mmmmm, paling bentar lagi Flora akan nyampe dirumah. Sarapan pagi sudah mama siapkan".


"Terima kasih ma" senang Marisa menurunkan kedua kakinya dari atas tempat tidur menuju kamar mandi. "Nanti malam acara pernikahan kak Zara akan berlangsung begitu juga dengan tuan Dilan. Apa tuan Dilan benar-benar akan menikah? lalu bagaimana dengan wanita yang kemarin ia cium di dalam mobil? ah sudahlah, untuk apa juga aku harus memikirkannya" begitu ia keluar dari dalam kamar mandi, ia langsung melihat Flora memasuki kamarnya. "Kamu sudah datang?".


"Mmmmm" angguk Flora meletakkan sebuah kotak diatas meja. "Ayo duduk".


"Itu apa Ra?".


"Makanya kamu kemari. Karna aku tidak selera sarapan, jadi aku membelinya tadi sebelum kemari. Makanlah, aku juga membawakan teh manis untuk mu".


"Oh, terima kasih Ra" senyum Marisa menyambar satu kue tersebut dari dalam kontaknya dengan senang hati. "Tunggu sebentar, aku membuka gorden dulu. Bagaimana? memandang di pagi hari seperti ini bukankah jauh lebih menyenangkan? wah, bahkan angin pagi ini juga sangat menyegarkan sekali".



"Mmmmm, terus bagaimana dengan tuan Lucas? apa dia akan datang di acara pernikahan kak Zara?".


"Tidak, pernikahan kak Zara sama harinya dengan pernikahan tuan Lucas. Jadi dia tidak bisa datang".


"Oh, tapi dia sudah siapin kado pernikahan kan Sa? aku jadi penasaran kado apa yang akan dia berikan kepada kakak iparnya".


"Aku tidak tau. Bdw ni kue enak banget loh Ra, kamu mendapatkannya dari mana?".


"Aku juga lupa, sepertinya toko itu baru buka. Kapan-kapan saja kalau nanti aku melewatinya aku akan memberitahu mu. Ah, dan aku ingin memberitahu mu sesuatu Sa. Ternyata suami kamu, Jose dan Reza temanan sejak lama".


"Apa?" kaget Marisa hampir saja keselek.


"Kamu baik-baik saja?".


"Aku baik-baik saja. Tapi kamu seriusan bilang kalau mereka bertiga berteman? kamu enggak lagi bercanda kan Ra?".


"Iya, aku mengatakan yang sebenarnya Sa. Dan saat itu juga aku sangat terkejut sama halnya seperti kamu kalau mereka bertiga berteman".


"Siapa yang memberitahu mu?".


"Reza".


Marisa tersenyum kaget, "Astaga, aku tidak habis pikir kalau selama ini mereka bertiga berteman. Terus apa kata Reza? apa dia tau kalau ayah dari bayi yang kamu kandung itu adalah anak Jose?".


"Dia sudah tau. Jose lah yang memberi tahu dia, tapi syukur juga, aku pikir dia akan sangat marah kepada ku dan kepada Jose, ternyata tidak. Padahal dia pernah mengancam ku kalau sampai dia tau siapa ayah dari bayi ini, dia akan membunuhnya".


"Hhhmmsss, syukurlah kalau seperti itu. Aku senang mendengarnya".


"Aku juga merasa sedikit legah. Aku tidak mau karna aku Reza jadi harus membunuh, apalagi saat dia tau kalau orang itu adalah teman lamanya sendiri".

__ADS_1


"Benar" senang Marisa.


__ADS_2