Terjerat Cinta Sekretaris Marisa

Terjerat Cinta Sekretaris Marisa
Bab 58


__ADS_3

Begitu pagi hari telah tiba, Marisa terbangun dari tidurnya, ia melihat Flora masih terlelap sambil melihat kearah jam kini sudah menunjukkan pukul 7 kurang 20 menit. "Ra Flora ayo bangun, nanti kamu bisa terlambat bekerja".


"Eemmhhh, emang sekarang jam berapa Sa? aku masih sangat mengantuk sekali dan aku juga sangat malas berangkat ke kantor. Tidak bisakah sekarang masih hari minggu? aku sangat tidak ingin bekerja".


"Hey.. Kamu pikir aku Tuhan bisa memutar waktu. Ayo buruan bangun, entar kamu terlambat".


"Lalu bagaimana dengan mu?".


"Hari ini aku mau menemani kak Zara sama mama fiting gaun pengantin kak Zara. Katanya pesanan kk Zara sudah datang dari luar negeri".


"Kalau gitu aku ikut Sa. Tidak apa-apakan kalau satu hari saja aku tidak masuk bekerja, hari ini aku sangat tidak ingin".


"Kamu yakin tidak mau masuk kerja? entar kamu nyesal. Ada baiknya kamu kerja saja".


"Ck, tapi aku sangat malas Sa".


"Terus kalau kamu enggak masuk kerja, tiba-tiba sesuatu terjadi dikantor yang akan mengakibatkan kamu di pecat. Kamu mau ngirim apa untuk kebutuhan orang tua kamu dikampung sama saudara kamu?".


"Hhmmsss, kamu membuatku ingin menangis saja Sa" ujar Flora melihatnya dengan mata berkaca-kaca. "Kamu sangat jahat".


"Hey.. Kenapa kamu jadi menangis sih?" kaget Marisa melihatnya. "Aku tidak bermaksud menyingung perasaan kamu, tapi nyatanya dunia kerja itu sangat kejam. Jadi kamu tidak boleh bermain-main seperti ini, apalagi CEO sebentar lagi akan diganti. Jadi aku tidak akan bisa membantu kamu Ra" ucap Marisa melap air matanya. "Sekarang kamu mandi, aku akan menyiapkan pakaian mu".


"Mmmm" angguk Flora memasuki kamar mandi. Lalu Marisa tersenyum geleng kepala melihat pintu kamar mandi.


"Anak itu ada-ada saja" Tidak lama kemudian Flora keluar, ia melihat pakaiannya berada diatas meja. Setelah itu Marisa memasuki kamar mandi, begitu ia selesai, ia keluar telah melihat Flora sedang merias wajahnya.


"Kamu sudah selesai? sepertinya aku sudah sangat terlambat. Aku pergi dulu Sa".


"Tunggu Ra. Inih, kamu pakaian mobil ku saja, nanti kamu terlambat kalau menggunakan bus".


"Oo, terima kasih Sa. Nanti aku akan mengembalikannya".


"Mmmm, kamu hati-hati dijalan".


"Iya" balas Flora keluar dari dalam kamar Marisa, lalu ia melihat Zara dan Saphira yang berada di meja makan. "Tante, Flora tidak sempat sarapan. Flora duluan tan" ucapnya membuat Saphira dan Zara tersenyum geleng kepala melihat kepribadian Flora dan Marisa tidak beda jauh.


Ceklek!


"Pagi semuanya" ujar Marisa.


"Pagi" balas Zara.

__ADS_1


"Wah.. Sepertinya enak ni ma".



"Makanlah, mama sudah selesai".


"Mmmmm, rasanya sangat enak ma. Oh iya kk Za. Prewed kk gimana?".


"Sepertinya sudah selesai".


"Mmmm".


.


Sesampainya Flora di kantor, ia melihat team satu kerjanya telah berada diatas kursi mereka masing-masing. "Kenapa kamu terlambat Ra?" tanya mereka.


Flora tersenyum, "Itu, jalanan tadi sangat macet" jawab Flora melihat si manager memanggil namanya.


"Pergilah, tadi buk Rina mencari mu".


"Mmmmm" angguk Flora memasuki ruangan si manager.


"Masuk" jawabnya.


Ceklek!


Lalu Rina si manager menyuruhnya duduk, "Ada apa bu?" tanya Flora sedikit takut.


"Inih, saya mau kamu yang mengerjakan proposal ini lagi. Kemarin dokumen yang saya minta kepada mu direktur Dilan menyukainya. Bisakah kamu mengerjakannya?".


"Bisa buk, saya bisa" jawab Flora dengan senang hati.


"Bagus, kamu boleh pergi".


"Iya bu" begitu Flora keluar dari sana, mereka semua langsung melihat kepadanya. "Tidak apa-apa, bu Rina hanya memberikan proposal ini untuk segera di kerjakan".


"Oh" angguk mereka dengan legah.


"Iya" lalu Flora mendudukan diri diatas kursinya, ia menyalakan komputer, namun saat ia ingin mengerjakan proposalnya, seseorang dari ambang pintu memanggil namanya. "Iya?".


"Seseorang memanggil" jawabnya menyuruh Flora keluar.

__ADS_1


"Siapa?" gumam Flora segera keluar. Lalu melihat si pria itu malah menyuruh dirinya mengikuti dari belakang. "Tunggu, kamu mau membawa saya kemana?".


"Tidak tau nona, tapi saya disuruh memanggil nona untuk menemuinya".


"Siapa? kalau kamu tidak menjawab saya, maka saya tidak akan mengikuti kamu. Kamu pikir saya bodoh?".


"Dia tidak memberitahu namanya siapa, saya hanya mengikuti perintahnya".


"Dia sekarang ada dimana?".


"Diruangan yang disana nona" jawabnya menunjuk sebuah ruangan yang tidak Flora tau itu ruangan apa. "Kalau gitu sampai disini saja, permisi".


Kemudian Flora melangkah kembali mendekati ruangan tersebut. Namun entah kenapa pikirannya saat ini tertuju kepada Jose, ia sangat yakin kalau orang yang baru saja menyuruhnya kesana adalah Jose. Dengan rasa penasaran, Flora pun langsung mendorong pintu tersebut. "Kamu sudah datang?" senyumnya memutar kursi itu melihat Flora.


"Reza? apa yang sedang kamu lakukan disini?".


"Kenapa? kamu tidak senang melihat ku berada di disini?" tanya balik Reza menunjukkan senyuman mematikan kepada Flora sambil berjalan mendekati dirinya. Lalu Reza mengangkat tangan kanannya menyentuh wajah mulus Flora, "Jangan pernah berharap kamu bisa berpaling dari ku Flora, apa pun akan aku lakukan untuk mendapatkan mu kembali. Dan bayi yg ada dalam kandungan mu ini.." gantung Reza begitu Flora mendorong tubuhnya.


"Maaf, sampai kapan pun aku tidak akan pernah mau kembali kepada mu. Jadi mulai sekarang berhenti menganggu ku Reza, sampai kapan pun kita itu tidak akan bisa bersatu, karna aku dan kamu itu bagaikan langit dan bumi".


"Haahh.." tawa Reza menarik dagunya. "Tidak semudah itu Flora, aku sudah pernah bilang kepada mu kalau aku tidak akan pernah melepaskan mu".


"Aku mohon berhenti Reza. Aku sudah lelah menghadapi orang tua kamu selalu menghina ku dan juga keluarga ku".


"Aku tidak perduli. Apapun yang terjadi kamu akan tetap milik ku, milik seorang Reza. Ingat itu Flora".


"Tidak, lebih baik aku mati saja dari pada aku harus mendapatkan hinaan yang lebih menyakitkan lagi dari keluarga mu. Ku mohon berhenti mulai dari sekarang Reza, cobalah jalani hidup kamu sesuai dengan keinginan keluarga kamu".


"Begitu juga dengan ku Ra, lebih baik aku mati dari pada harus bersama dengan wanita lain. Tolong jangan tinggalkan aku Ra, aku benar-benar tidak bisa hidup tampa kamu, kamu lihat sendiri, aku sudah berusaha untuk melupakan kamu, tapi hati ini tidak bisa Ra, hati ini tidak bisa berpaling dari mu. Aku sangat mencintai kamu Ra, aku sangat mencintai mu" Reza mencoba memeluknya.


"Tapi aku tidak bisa Reza, aku tidak bisa kembali bersama mu lagi".


"Aku sudah bilang aku tidak akan perduli Ra, aku tidak akan perduli kalau keluarga ku akan membenci ku hanya karna kamu" bentak Reza mengusap wajahnya. "Jadi aku mohon Ra, kembali lah bersama ku. Aku siap menerima bayi itu seperti darah daging ku sendiri".


"Maaf, aku tidak bisa Reza".


"Aku mohon Flora. Kembali lah kepada ku, aku sudah lelah dalam hidup ini, aku benar-benar sudah lelah Ra" dengan sendu Reza menyandarkan kepalanya di bahu Flora. "Kalau kamu benar-benar tidak mau lagi Ra, maka aku akan pergi selamanya dari pada aku harus menahan rasa sakit ini".


"Apa kamu sudah gila?".


"Mmmmm, aku sudah gila karna kamu".

__ADS_1


__ADS_2