
Lucas memasuki ruangannya, ia terlihat sangat marah sambil mengepal tangan membayangkan kalau sampai Dilan dan Kirana akan segera menikah, itu artinya dia akan kehilangan segalanya. "Tidak, aku harus mencari cara. Tapi apa yang harus aku lakukan?" Lucas mengeluarkan ponselnya. Ia langsung menghubungi nomor ponsel Kirana dan memintanya untuk bertemu sebentar di cafe xx yang tidak jauh dari perusahaannya.
Begitu Lucas tiba cafe tersebut, ia sudah melihat Kirana duduk diatas salah satu kursi disana dengan segelas teh hangat. "Ada apa kamu meminta ku bertemu Lucas?" tanya Kirana.
Lucas mendudukan diri, ia menatap Kirana cukup lama sampai membuat Kirana merasa sedikit kurang nyaman dengan tatapan yang Lucas tunjukkan, "Kamu sedang hamil? benarkah itu?" tanyanya membuat Kirana terkejut. Namun bukannya menjawab pertanyaan Lucas, ia malah terdiam. "Kenapa kamu tidak menjawab ku? jadi itu benar kalau kamu sedang mengandung anak Dilan?".
"Kamu tau dari mana Lucas? apa Dilan memberitahu mu tentang kehamilan ku?".
Lucas tersenyum sumbang, "Jadi benar kamu sedang hamil. Mmmm, Dilan memberitahu ku, dan sekarang dia sedang tertawa puas mengejek ku".
"Maksud kamu?".
"Begitu dia berhasil menikahi mu, maka posisi ku akan jatuh ditangannya. Kamu mencintainya?" Kirana terdiam kembali menatap Lucas. "Kalau kamu mencintainya aku akan mengalah, tapi kalau kamu mencintai ku, aku akan melakukan segala cara untuk menikahi mu. Bisakah kamu memegang tangan ku Kirana?" Lucas mengulurkan tangannya. "Kalau kamu menikah dengan ku, aku akan membuat mu bahagia sampai tua nanti".
"Kamu sudah gila Lucas. Aku sedang hamil, dan anak yang aku kandung adalah anak Dilan" ucapnya Kirana sedikit meninggikan suaranya sampai membuat pelanggan yang berada disana merasa sedikit terganggu.
"Aku tidak perduli mau anak yang sedang kamu kandung itu adalah anak Dilan. Aku akan bertanggung jawab dan menerima anak itu sebagai anak ku sendiri asalkan kamu mau menikahi ku".
Kirana tertawa renyah, "Hentikan Lucas, aku tidak ingin mendengar mu lagi. Benar, rasa cinta ku lebih besar kepada mu dari pada Dilan, tapi aku enggak mau menikahi pria yang bukan ayah kandung dari anak ku. Maaf, aku rasa sampai disini saja".
"Tunggu" tahan Lucas manahan tangan Kirana.
"Ada apa lagi Lucas?".
"Kamu tidak akan menyesalinya?".
"Mmmmm, aku tidak akan menyesalinya. Sekarang lepaskan tangan ku Lucas".
"Baiklah" dengan perasaan sangat marah Lucas melepaskan genggam tangannya di tangan Kirana, setelah itu Kirana langsung pergi meninggalkannya. Kemudian Lucas mengusap wajahnya dengan kasar, rasanya ia ingin marah, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa untuk meluapkan rasa amarahnya, dan ia telah ketinggalan beberapa langkah dari dibelakang Dilan. "Ah sial.. Dari pada aku kehilangan segalanya, kenapa aku tidak memikirkan sampai kesana".
.
Sore harinya sekitar jam 3 setelah selesai menjalankan pemeriksaan, Marisa mendapatkan izin dari sang dokter untuk membawa Elisabet berjalan-jalan sebentar sekitar taman rumah sakit. "Wah, tamannya indah sekali nyonya" senyum Marisa melihat betapa banyaknya juga pasien berada disana.
__ADS_1
Elisabet tersenyum, kemudian menyuruh Kirana membeli gorengan yang berada diujung sana. "Nyonya bisa memakannya?".
"Mmmmm, saya sangat menyukai gorengan dia. Setiap kali saya berada disini, saya tidak lupa untuk membelinya" jawab Elisabet mengeluarkan uang merah, lalu memberinya ditangan Marisa. "Pergilah".
"Kalau gitu tunggu sebentar nyonya" Marisa pun segera membelinya. "Bg, gorengannya 10 ribu".
"Tunggu sebentar nona".
"Iya bang" sambil menunggu pesanannya di bungkus. Ia selalu memantau Elisabet dari kejauhan, namun saat itu juga Marisa melihat Elisabet meremas perut membuat ia curiga kalau Elisabet sedang merasakan kesakitan. Marisa pun langsung berlari menghampiri Elisabet, "Nyonya baik-baik saja?".
"Sakit" jawab Elisabet.
"Kalau gitu kita masuk saja nyonya" Marisa mendorongnya kursi roda Elisabet pergi dari sana, lalu ia membawa masuk keruang IGD untuk mendapatkan pertolongan. "Suster, dokter.. Tolong nyonya Elisabet marasa kesakitan" teriak Marisa.
Mereka pun berlari menghampiri Marisa, lalu membatu Elisabet membaringkan tubuhnya diatas bed rumah sakit. "Dok, nyoya Elisabet akan baik-baik saja kan dok?" tanya Marisa penuh dengan kekhawatiran.
"Mohon tenang dulu nona" jawab si dokter memberikan bantuan kepada Elisabet. Lalu salah satu suster itu menghubungi dokter yang penanggung jawab Elisabet. Kemudian Marisa melihat Raniya keluar dari salah satu ruangan, yaitu ruangan operasi darurat.
"Mmmmm" angguk Kirana.
"Apa yang sedang kamu lakukan disini?".
Kedua mata Marisa mengeluarkan air mata, ia sangat takut kalau sesuatu terjadi kepada Elisabet yang akan merenggut nyawanya. "Dokter, nyonya Elisabet" jawab Marisa menunjuk kearah Elisabet yang sedang ditangani oleh mereka.
"Apa?" kaget Raniya. Ia pun langsung mendekati mereka, "Minggir" lalu Raniya memeriksanya, namun saat sedang memeriksa Elisabet, Raniya membulatkan mata melihat Marisa semakin membuatnya khawatir. "Telpon Lucas sekarang juga, nyonya Elisabet harus menjalankan operasi".
"Apa?".
"Cepat!" bentak Raniya.
"Ba-baik" angguk Marisa mengeluarkan ponselnya, ia pun segera menghubungi nomor Lucas dan memberitahunya kalau Elisabet akan menjalankan operasi. Kemudian dokter penanggung jawab Elisabet tiba disana.
"Apa yang terjadi?" tanyanya kepada Raniya.
__ADS_1
"Pasien harus segera operasi dok, kangkernya sudah meresap kemana-mana" jawab Kirana.
"Tidak, kami tidak akan mengoperasi pasien tampa persetujuan dari wali".
"Sebelum wali sampai disini, biar saya yang akan menjadi walinya".
"Apa?".
"Saya mengenalnya dok. Ayo sus bantu, kita tidak punya waktu lagi" ucap Raniya mendorong bed yang digunakan Elisabet menuju ruang operasi. Marisa pun menyusul dari belakang sambil berdoa dalam hati kalau semua akan baik-baik saja. Namun saat mereka menuju ruang operasi, seorang pria tua yang baru saja melewati mereka membuat Marisa menghentikan langkahnya begitu juga dengannya.
"Itu bukannya pimpinan tuan Mateo pemilik Hanju group?" gumam Marisa melihat ke belakangnya. "Astaga, dia melihat kemari" Marisa pun langsung berlari mencoba menutupi arah pandangan Mateo.
"Ada apa tuan?" tanya pengawal Mateo.
Mateo menghela nafas, "Tidak, ayo kita pergi" jawabnya berjalan duluan.
Setelah Mateo pergi, Marisa menghela nafas legah, ia mendudukan diri diatas kursi tunggu di depan ruang operasi, sedangkan Raniya berada didalam. Tidak lama kemudian Raniya keluar, Marisa bertanya apa yang terjadi. "Sebentar lagi operasi berjalan, Lucas sudah dimana?".
"Tuan Lucas sedang perjalan kemari dok" jawabnya.
"Bagus, saya mandi dulu" ujar Raniya meninggalkannya.
"Iya dok" Marisa melihat kearah pintu, disana sudah tertulis sedang operasi. Tidak menunggu beberapa lama, Ia melihat Lucas berlari diujung lorong sana, "Dia sudah datang" ia bangkit berdiri. "Tuan, nyonya Elisabe..
"Aarrkkhh...!!" teriak Lucas menarik baju Marisa sangat marah. "Apa yang kamu lakukan kepadanya? kamu ingin membunuhnya?".
"Maafkan saya tuan" tunduk Marisa sangat menyesal sudah membawa Elisabet keluar dari dalam ruangannya.
"Aarrkkhh!!" teriak Lucas kembali mendorong tubuh Marisa dibalik tembok. "Awas saja kamu kalau sampai terjadi apa-apa dengannya, aku akan membunuh mu".
Deng..!
Kata-kata itu langsung membuat tubuh Marisa lemas. Kalau ia tau akan seperti ini, ia tidak akan pernah membawa Elisabet keluar dari dalam ruangannya. Tapi sekarang nasi sudah menjadi bubur, ia akan menerima segala konsekuensi apa yang akan terjadi.
__ADS_1