Terjerat Cinta Sekretaris Marisa

Terjerat Cinta Sekretaris Marisa
Bab 53


__ADS_3

Mereka yang berada di ruang ganti melihat Marisa dengan tatapan kagum, "Dia cantik sekali" gumam salah satunya.


"Mmmm, dia sangat cantik" sambung yang lainnya.


"Benar sekali, dia sangat cantik sampai aku tidak bisa berhenti melihatnya. Dan juga calon suaminya yang sangat tampan, bahkan..


"Sshhuueett" ujar si manager menghentikan mereka. Sedangkan Marisa yang baru saja mendengar bisikkan para si pegawai toko membuat ia tersenyum bahagia. Lalu si manager bertanya kepada Marisa apa dia sudah siap apa belum, dengan sekali anggukan Marisa pun langsung mengangguk. "Bersiaplah, dalam hitungan ketiga kami akan membuka tirainya".


"Mmmmm.. Hhhmmsss.. Hhuufff, kenapa aku jadi tegang seperti ini yah? tidak apa-apa Marisa, ayo semangat".


Kemudian si manager tersebut keluar menghampiri Lucas, ia melihat Lucas sedang sibuk dengan ponselnya. "Tuan, kami sudah selesai" ucapnya.


"Mmmmm" angguk Lucas menyimpan ponselnya.


"Kalian bisa membukanya, satu dua tiga.." suara tirai terbuka langsung menampakkan tubuh Marisa di baluti gaun putih penuh dengan kemewahan. "Bagaiman tuan?".



Tampa menjawabnya Lucas berjalan mendekati Marisa, dan dengan mata tertutup Marisa mampu merasakan setiap gerakan langkah kaki kedua Lucas mendekat di hadapannya, "Kenapa kamu menutup mata? kamu sangat cantik" Marisa segera membuka kedua matanya, lalu Lucas menyentuh pipinya membuat mereka yang berada disana berharap kalau Marisa adalah diri mereka. "Aku menyukai gaun ini, gaun ini sangat indah ditubuh mu".


Dengan senyum mengembang di wajah Marisa, ia merasa sangat bahagia bercampur malu dihadapan mereka semua. "Tuan jangan melihat ku seperti itu, ini membuat ku malu".


Mereka pun ikut tersenyum mendengarnya, setelah itu satu persatu diantara mereka pergi meninggalkan Marisa dan Lucas. Lalu si manager berkata kalau ada sesuatu yang mereka perlukan tinggal memanggilnya, setelah ia pergi, Lucas mengeluarkan sebuah kota dari dalam jasnya. "Kenapa kamu tidak memakai kalung pemberian nenek ku?" tanyanya membuka kota tersebut.


"I-ini apa tuan?".


"Akan lebih cantik kalau kamu memakai kalung ini" jawab Lucas memakaikan di leher Marisa. Lalu ia tersenyum tipis, "Harga kalung ini tidak sebanding dengan harga kalung yang nenek ku berikan kepada mu. Jangan pernah melepaskannya, kalau kamu berani melepaskan aku akan menghukum mu".


"Aku tidak berani memakai barang semewah itu tuan, aku takut kalau sampai aku menghilangkannya. Apalagi barang itu adalah pemberian nyonya Elisabet, aku sangat takut. Maaf".


"Tidak apa-apa, karna itu aku memberikan ini untuk mu".


"Terima kasih tuan" senang Marisa menyentuh kedua pipinya. "Astaga, semoga dia tidak menyentuh pipi ku, rasanya kedua pipi ini seperti sedang terbakar" namun kedua tangan Lucas telah mendaratkan di kedua pipinya membuat Marisa rasanya ingin menghilang dari hadapan Lucas. "OMG".

__ADS_1


"Kamu baik-baik saja?".


"A-apa?" Lucas tersenyum menyentil kening Marisa. "Ah, itu sakit".


"Bagaimana?".


"Apanya bagaimana? ck".


"Tidak, aku rasa kamu sudah baikan. Sekarang kita pergi, aku akan memanggil mereka" jawab Lucas memanggil si pegawai toko tadi.


"Ada apa dengannya? mana sakit lagi. Ck, dia menyebalkan sekali" kesal Marisa menyentuh keningnya kembali, namun saat tangan kanan Marisa mendarat di pipi kanannya, ia merasa kalau wajahnya kembali normal. "Tunggu, kenapa.. Apa karna itu dia menyentil kening ku? tapi masa iya sih?" gumam Marisa melihat si pegawai toko itu kembali menghampiri dirinya.


.


Dirumah sakit begitu Flora ditangani oleh sang dokter, ia memandangi wajah Flora dengan tatapan sedih bercampur perasaan sangat marah yang tidak bisa ia luapkan.


Flasback.


"Dok-dokter" panggilnya membawa Flora masuk keruang IGD. Lalu beberapa perawat menghampiri dia, menyuruhnya Reza meletakkan tubuh Flora diatas bed rumah sakit, kemudian si dokter yang bertanggung jawab di ruang IGD berjalan ke arah mereka. "Dok, tolong selamat kekasih saya dok, saya mohon".


"Saya mohon tolong selamatkan dia dok, saya mohon" Begitu si dokter memeriksa keadaan Flora, ia langsung melihat Reza. "Ada apa dok? dia baik-baik saja kan dok?".


"Seperti yang saya lihat pasien baik-baik saja. Dia hanya kelelahan karna asupan gizi belum ada masuk kedalam tubuhnya. Dan kekasih anda saat ini sedang mengandung, untuk lebih memastikan kalian bisa mendatangi dokter kandungan".


"Apa? mengandung?".


"Iya, kekasih anda sedang hamil. Kalau gitu kami tinggal dulu".


****************


Reza menghela nafas, ia mengusap wajahnya dengan kasar. "Aarrkkhh.. Kenapa kamu jadi seperti ini Ra? apa aku begitu menyakiti hati mu? ya Tuhan, dosa apa lagi yang aku lakukan?" Reza bangkit berdiri, lalu ia pergi meninggalkannya. Lalu Flora membuka kedua matanya, dengan air mata yang sedari tadi ia tahan, ia pun langsung menangis senggugukan tampa perduli dengan pasien lainnya.


"Nona, kamu baik-baik saja?" tanya si perawat itu melihatnya.

__ADS_1


"Hiks.. Hiks.. Sus, tolong pulangkan saya. Saya tidak ingin berlama-lama disini hiks" jawab Marisa mencoba melepaskan selang inpusnya kalau saja seseorang tidak langsung menahan tangannya. "Tolong lepaskan tanga..


"Flora?" Mendengar suara tersebut, Flora mengangkat wajahnya melihat kearah orang yang baru saja menyebut namanya. "Benar, ternyata kamu".


"Ya Tuhan, kenapa aku harus bertemu dengan orang ini lagi?" ujar Flora dalam hati begitu ia tau kalau pria yang berada di hadapannya itu adalah Jose. "Sus, saya harus pulang, pekerjaan saya di kantor sangat banyak".


"Tapi nona".


"Ada apa dengannya sus?" tanya Jose kembali menahan tubuh Flora.


"Itu tuan, nona ini sedang..


"Hentikan sus" potong Flora melihatnya dengan tatapan tidak suka. "Kalau suster tidak mengijinkan saya pulang, sebaiknya suster pergi saja. Saya tidak ingin melihat suster".


"Saya minta maaf nona. Saya tidak bermaksud memberitahu privasi pasien kepada orang lain. Tapi beliau adalah pemilik dari rumah saki..


"Saya tidak akan perduli mau di yang punya rumah sakit ini atau tidak" bentak Flora menatapnya dengan tajam. Kemudian Jose menyuruh si perawat pergi dari sana begitu pasien lainnya melihat ke arah mereka. "Tolong lepaskan aku".


"Kenapa? apa sesuatu terjadi kepada mu? kenapa kamu terlihat begitu membenci ku? aku sudah berkata kepada mu kalau aku akan bertanggung jaw..


"Aku ingin sendiri, tolong tinggalkan aku".


"Baiklah, kemarin aku lupa meminta nomor ponsel mu, bisakah kamu memberinya kepada ku?".


"Kamu tidak perlu tau berapa nomor ponsel ku, dan aku juga tidak akan pernah menuntut mu, jadi aku mohon tolong tinggalkan aku sekarang juga. Biarkan aku sendiri".


"Kenapa?".


"Aku mohon tolong tinggalkan aku".


"Aku tidak akan pergi sebelum kamu menjawab ku".


"Ya sudah, kalau kamu tidak mau pergi, maka aku yang akan pergi. Minggir".

__ADS_1


"Tidak, kamu disini saja. Biar aku yang pergi, dan ini kartu nama ku, kamu bebas menghubungi ku kapan pun kamu mau" ucap Jose langsung pergi.


__ADS_2