
Sekarang jam telah menunjukkan pukul 9:30 tetapi Lucas belum juga membuka kedua matanya membuat Marisa merasa kalau Elisabet sedang menunggunya. Kemudian Marisa mencoba melepaskan tangan kiri Lucas dari atas tubuhnya dengan sangat hati-hati sekali, namun usahanya malah gagal, Lucas malas memeluknya semakin erat.
"Hhhmmsss, aku yakin tuan Lucas tidak sedang tidur. Tuan tidak ke kantor?" tanya Marisa berusaha melepaskan pelukannya. "Kamu tidak usah berbohong, aku tau kamu tidak sedang tidur" kesalnya.
"Apa? kamu barusan bilang apa?".
"Hey, tidak. Aku hanya berkata kalau nyonya Elisabet pasti sedang menunggu ku".
"Biarkan saja, mereka ada yang merawatnya".
"Terus tuan mau seperti ini terus?".
"Mmmmm, aku ingin seperti ini" jawab Lucas menarik kepala Marisa kedalam pelukannya. "Kalau kamu menganggu ku lagi, aku akan memakan mu".
"Ck, menyebalkan sekali. Mana aku lapar lagi" batin Marisa menghela nafas. "Astaga ini tidak bisa dibiarkan, aku benar-benar sangat lapar sampai aku tidak bisa bernapas" ia pun langsung mendorong tubuh Lucas sampai ia terjatuh dilantai. "Astaga tuan, maaf".
Lucas menatapnya dengan tatapan kesal, "Yah...!!".
"Maaf tuan, saya tidak sengaja" dengan rasa bersalah, ia segera membantu Lucas, tetapi Lucas yang terlanjut marah, ia menghempaskan tangan Marisa semakin membuatnya bertambah jadi merasa bersalah.
Kemudian Lucas meninggalkannya memasuki kamar mandi, sedangkan Marisa yang ditinggal dibuat sedih. "Berani sekali dia mendorongku? dia benar-benar bersikap kurang ajar sama atasan sendiri. Ah" ringis Lucas menyentuh bokongnya yang terbentur cukup kuat.
Begitu ia keluar dari kamar mandi, Marisa berjalan menghampirinya. "Tuan baik-baik saja?".
"Menurut mu? apa kamu pikir aku baik-baik saja?".
"Tidak, karna itu aku bertanya kalau tuan baik-baik saja atau tidak".
"Ah sudah. Aku tidak ingin berdebat dengan mu, pergi saja kalau kamu ingin pergi" ucap Lucas berjalan kearah dapur. Ia membuka pintu kulkas mengeluarkan sebotol air putih, "Kenapa kamu masih disitu?".
"Aku lapar" jawabnya membuat Lucas sampai tersenyum. "Aku bilang aku lapar".
"Terus?".
"Sebelum aku pergi, aku mau sarapan dulu".
"Terus?".
"Aku mau tuan Lucas membuat ku sarapan".
"Apa?" kaget Lucas merasa sedang diperintah oleh Marisa. "Kamu!".
"Maaf, tapi aku ingin sarapan dengan buatan tangan tuan, nyonya Elisabet memberitahu ku kalau masakan tuan sangat enak dan aku juga sudah pernah mencobanya, dan sekarang aku ingin melihatnya secara langsung. Bisakah tuan Lucas membuatnya untuk ku?".
"Tidak, kalau kamu lapar kamu masak sendiri" jawab Lucas menutup pintu kulkasnya. Namun Marisa yang sangat ingin, ia pun langsung menghalangi jalannya. "Ada apa lagi?".
__ADS_1
"Kali ini saja tuan, kumohon".
Lucas tertawa, "Makin hari kamu makin menjadi-jadi, kadang kamu bersifat sopan kadang kamu bertingkah kurang ajar. Dan sekarang kamu sudah berani menghalangi jalan ku, kamu ingin melihat ku marah?".
"Please....!!".
"Tidak, minggir".
"Tidak, kali ini saja tuan. Aku mohon mmmm".
"Aku bilang tidak, yah tidak hhmmsss" kesal Lucas melihat wajah memohon Marisa hingga pada akhirnya ia mengalah. "Wanita ini benar-benar membuat ku..." gantung Lucas tidak tau menyampaikan dengan kata-kata.
Marisa pun langsung tertawa kegirangan mendekati Lucas. "Terima kasih tuan, ada yang bisa aku bantu?".
"Tidak".
"Kalau gitu aku akan memantau dari sini heheheh" tawa Marisa duduk diatas kursi meja makan sambil memperhatikan betapa cantiknya dapur tersebut.
"Kalau punya dapur secantik ini yang pemandangannya menuju taman, aku pasti akan betah sepajang harian dirumah terus membuatkan makanan enak setiap hari. Oh iya tuan, kalau tuan tidak kemari, siapakah yang merawat rumah ini?".
"Pertanyaan mu tidak usah dijawab. Apa kamu bodoh?".
"Aaiiss, kenapa dia malah mengatai ku bodoh sih? emang aku salah bertanya, masa iya rumah sebesar ini.. Oo, kan ada pelayan harian yang akan ia sewa untuk merawat rumahnya. Astaga, kenapa aku tidak sadar sih" gerutu Marisa malu sendiri.
"Ooo, sepertinya dia mengatai ku? lihat saja dari gerak gerik tubuhnya. Aku yakin kalau dirinya sedang mengejek ku habis-habisan. Dasar bos.." senyum Marisa melihat Lucas melihat kearahnya. "Ada apa tuan?".
"Kamu kemari?".
"Baik" angguk Marisa berlari kearahnya. "Ada yang bisa aku bantu tuan".
"Coba kamu cicip ini, aku tidak tau selera kamu seperti apa".
"Baiklah" Marisa langsung menjulurkan lidahnya dihadapan Lucas.
"Apa yang sedang kamu lakukan?".
"Mencicipi, bukankah tuan sendiri yang menyuruhku untuk mencicipinya?".
"Ck, aku menyuruh mu bukan pakai lidah mu ini, tapi pakai tangan mu. Kamu mau aku menaruh yang panas ini?".
"Tidak" jawab Marisa menarik lidahnya kembali memberikan tangannya dihadapan Lucas.
"Inih, bagaimana? apa rasanya sudah pas?".
__ADS_1
"Mmmmm, ini sangat enak sekali. Aku menyukainya".
"Kamu boleh pergi".
"Tidak bisakah aku disini saja menunggu tuan sampai selesai? aku juga ingin melihat tuan menaruh bumbu apa saja sampai membuat makanan ini sangat nikmat".
"Tidak, kalau kamu mau aku cepat menyelesaikan ini sebaiknya kamu kembali ketempat mu tadi".
"Baiklah kalau gitu" angguk Marisa mengalah kembali ketempat duduknya semula.
.
Sesampainya Jose dirumah sakit, ia bertemu dengan Raniya. Dengan senyum tipis Jose menyapanya terlebih dahulu, "Pagi, bisakah kita minum kopi sebentar?".
"Mmmmm" angguk Raniya.
"Ikut aku" ajak Jose membawanya kedalam cafe, Ia langsung memesan dua gelas kopi panas, satu untuknya dan satunya lagi untuk Raniya, lalu Jose memberi dihadapannya.
"Terima kasih".
"Mmmmm" Jose mendudukan diri, ia menyeruput kopi panasnya dengan nikmat.
"Ada apa?".
Jose tersenyum, "Tidak, aku hanya sekedar ingin mengajak mu minum kopi. Bagaimana tidur mu malam ini?".
"Seperti biasa pada umumnya".
"Mmmm, syukurlah" Raniya mengernyitkan dahi, ia melirik jam telah menunjukkan pukul 10 pagi ia harus pergi memeriksa pasien. "Pergilah kalau kamu mau pergi".
"Sorry, pasien sudah menunggu ku".
"Mmmmm" angguk Jose menyeruput kopinya kembali sambil menatap keluar.
.
Begitu Lucas selesai, ia langsung membawa dihadapan Marisa, "Wah, ini luas biasa" kagum Marisa dengan senangnya. "OMG, karna ini sempurna sekali, sebelum aku memakannya, ada baiknya aku ambil gambarnya dulu. Tunggu sebentar" Marisa mengeluarkan ponselnya, ia pun mengambil beberapa gambar.
"Mmmm, rasanya pasti sangat enak" Marisa menyendok ke dalam mulutnya. "OMG-OMG, tuan ini benar-benar enak sekali" senang Marisa menguyah dalam mulutnya. Sedangkan Lucas yang berada di hadapannya biasa saja, ia tidak terlalu heran kalau Marisa memuji masakannya karna bagi seorang Lucas perkataan seperti itu sudah menjadi hal biasa ia dapatkan dari Elisabet.
"Tuan Lucas belajar dari mana sih? kok bisa tuan Lucas memasak seenak ini? sedangkan ibu ku saja yang dulu pernah menjadi seorang chef belum pernah membuatkan menu seenak ini untuk ku".
Lucas melihatnya, "Tidak usah banyak bertanya, cepat habiskan itu lalu pergi".
__ADS_1
"Hey, baru saja tiga suap masuk kedalam mulut ku, udah diusir saja" gumam Marisa menyendok kedalam mulutnya lagi.