
Sesampainya di rumah sakit, Flora langsung memasuki ruangan IGD. Ia melihat Marisa terbaring lemas diatas salah satu tempat tidur rumah sakit. "Risa" panggilnya.
"Kamu sudah datang?".
"Kamu baik-baik saja Risa? ada apa? kenapa kamu bisa berada disini? apa semalam..
"Aku baik-baik saja Ra. Duduklah, aku ingin memberitahu sesuatu kepada mu".
"Apa itu?" dengan rasa penasaran Flora mendudukan diri diatas kursi yang berada di samping Marisa. "Kamu baik-baik saja kan Risa? tidak ada sesuatu terjadi kepada mu kan? tuan Lucas tidak menyakiti mu?".
"Dia sama sekali tidak menyakiti ku Ra. Yang ingin aku beritahu kepada mu, aku sedang hamil Ra".
"Apa? kamu serius lagi hamil Sa?".
"Mmmmm, apa yang harus aku lakukan Ra? padahal aku sudah mengkomsumsi pil kb tapi nyatanya jadi seperti ini. Ah, aku tidak tau harus melakukan apa?"
"Lalu bagaimana dengan tuan Lucas Ra?".
"Dia sangat menginginkan bayi ini Ra, begitu dokter memberitahu kalau aku sedang hamil dan usia kandungan aku saat ini telah memasuki minggu ketiga, ia terlihat sangat bahagia sekali Ra. Tapi aku, aku malah takut sekali Ra".
"Kamu ada-ada saja Sa. Harusnya kamu tidak seperti ini, seandainya juga aku berada di posisi tuan Luas, aku akan merasakan hal yang sama dengannya. Minta maaflah kepada tuan Lucas, aku yakin dia pasti sangat kecewa kepada mu Risa. Dan kamu tidak usah memikirkan hal yang aneh-aneh, kamu lihat sendiri aku. Aku berjuang mempertahankan bayi ku, kamu juga harus seperti ku. Ok".
Marisa menghela nafas berat, "Ck, aku tidak tau harus..
"Hentikan, kamu tidak boleh menyakiti perasaan suami mu. Bagaimana kalau nyonya Elisabet tau kalau kamu berpikir seperti ini?".
"Astaga Ra. Bisa-bisa aku enggak kepikiran sampai kesana".
"Nah, kamu tau juga itu. Aku yakin 100% kalau nyonya Elisabet tau kamu sedang mengandung buah cinta kalian, dia pasti sangat bahagia sekali, dan bahkan siapa tau dengan cara ini kamu bisa membantu pemulihan nyonya Elisabet".
"Iya Ra, tapi nyonya Elisabet saat ini masih sedang koma".
"Tidak apa-apa, orang koma masih bisa mendengar suara mu. Jadi besok atau sekarang berkunjunglah kesana bersama dengan tuan Lucas".
"Baiklah. Terima kasih Ra sudah mau menyadarkan aku".
"Mmmmm, aku harus kembali ke kantor Sa. Aku tidak punya banyak waktu berlama-lama disini. Tidak apa-apakan Sa aku tinggal?".
"Iya".
__ADS_1
"Aku pergi dulu yah. Kalau sesuatu terjadi kepada mu cepat beritahu aku ok".
"Iya" begitu Flora pergi dari sana, Marisa mencari keberadaan ponselnya. Setelah ia mendapatkannya, ia segera mencari nomor ponsel Lucas lalu memanggilnya. "Kamu ada dimana? maafkan aku".
"Ada apa?" tanya Lucas dengan suara datar.
"Maafkan aku telah menyakiti perasaan mu. Bisakah kamu datang kemari menjemput ku?".
"Mmmm, aku akan kesana".
"Terima kasih" Lucas mematikan ponselnya, Marisa pun memanggil suster yang berjaga disana untuk melepaskan selang inpus yang berada di tangan kirinya. "Sus, saya sudah bisa pulang kan? botol inpus-nya sudah habis".
"Suaminya dimana mbak?".
"Dia sedang perjalanan datang kemari sus".
"Kalau gitu kita tunggu saja yah mbak sampai suaminya berada disini".
"Tapi inpus ya sudah habis sus".
"Kita isi ulang lagi mbak sampai suami mbak mengizinkan mbaknya pulang".
"Iya, saya akan memberinya setelah saya memasang inpus ini lagi".
"Iya sus" Tidak lama kemudian, Lucas telah memasuki ruangan IGD tersebut dengan pakaian santai. "Loh, tadi kamu enggak ke kantor?".
"Mmmmm".
"Oh" Marisa terdiam, ia bingung caranya meminta maaf kepada Lucas setelah ia menyakiti perasaannya dengan apa yang tadi keluar dari dalam mulutnya. "Maaf".
"Mmmmm".
"Astaga, itu doang?" kaget Marisa dalam hati. "Maafkan aku suami ku" ucapnya lagi dengan sebutan suami.
"Mmmmmm" balas Lucas kembali dengan jawaban datar.
"Aku bilang aku minta maaf. Aku berjanji tidak akan mengulangi kata-kata itu lagi, sekali lagi aku minta maaf" Lucas pun langsung meliriknya yang benar-benar tulus meminta maaf kepadanya. "Maaf telah bersikap ke kenak-kanak-kan".
"Mmmmm" balas Lucas mendudukan diri disamping Marisa. Kemudian menarik tangan kanannya sambil menggenggamnya dengan erat. "Aku menginginkan bayi itu".
__ADS_1
"Aku juga" angguk Marisa mulai berkaca-kaca. Lalu Lucas tersenyum, "Maafkan aku sudah menyakiti perasaan mu hiks.. hiks...".
"Tidak" ucap Lucas membawa tubuh Marisa ke dalam pelukannya. "Jangan menangis, kalau kamu menangis bayi kita juga akan ikut menangis".
"Maafkan aku".
"Mmmmm, aku sudah memaafkan mu uummaacchh" dengan lembut Lucas mencium keningnya. Kemudian si perawat yang tadi Marisa minta membawakan segelas teh manis bersamaan sebungkus roti. "Ini apa sus?".
"Itu tadi aku yang meminta. Sus taruh disini saja. Terima kasih ya sus".
"Sama-sama mbak".
"Perut ku terasa kosong, jadi aku meminta kepada suster itu untuk membawakan aku ini. Tidak apa-apa, untuk mengganjal saja".
"Kenapa kamu tidak memberitahu ku?".
"Lain kali saja. Aku minta dong tolong tiupkan teh itu untuk ku" tampa ingin berlama-lama, Lucas pun segera meniupnya meskipun ia tidak yakin kalau teh tersebut higenis dan juga roti tersebut. "Tidak apa-apa, aku tau apa yang sedang kamu pikirkan".
"Aku hanya tidak ingin terjadi sesuatu kepada mu. Minumlah, sepertinya ini sudah dingin".
"Mmmmm" Marisa pun langsung menyeruput tehnya. "Wah, suster itu sepertinya sudah ahli dalam membuat teh seenak ini. Kamu mau coba?".
"Tidak".
"Yakin enggak mau?" tanyanya lagi melihat Lucas membuka sebungkus roti itu memberikan ditangannya. "Terima kasih. Oh iya, apa enggak sebaiknya kita kerumah sakit memberitahu nyonya Elisabet kalau aku sedang mengandung?".
"Lain kali saja setelah keadaan kamu baik-baik saja".
"Emang aku sakit? cuman mual gitu doang kok Mmpphhhmmm.. Mmpphhmmm.. Ah kenapa harus mual sih? tidak ada kah cara lain selain mual. Menyebalkan sekali" kesal Marisa dengan enaknya begitu Lucas memijit punggungnya. "Enak juga yah seperti ini. Aku berasa di perlakukan seperti tuan putri hehehe" tawa Marisa dalam hati. "Tapi aku enggak salahkan kalau aku memanfaatkan kesempatan ini? sepertinya sekali-kali memanfaatkan dia tidak apa-apa".
"Apa kamu sudah merasa baikan?".
"Iya, ini sangat enak sekali. Sekalian sampai kepala ku yah, sepertinya kepala ku juga terasa pusing" Lucas tersenyum membuat Marisa merasa ketahuan olehnya. "Hehehe, sepertinya aku ketahuan. Maaf, abisnya pijitan kamu enak sih".
"Aku akan memijitnya. Apa kamu masih ingin meminum teh ini?".
"Tidak lagi, kalau aku meminumnya aku bisa mual".
"Ya sudah, lihat kemari".
__ADS_1
"Mmmmmm" senang Marisa.