Terjerat Cinta Sekretaris Marisa

Terjerat Cinta Sekretaris Marisa
Bab 106


__ADS_3

2 minggu kemudian...


Setelah Jose dan Raniya meninggalkan istana milik keluarganya kini mereka berdua memilih tinggal di sebuah apertemen yang tidak jauh dari rumah sakit. "Jose, tolong berikan ponsel itu kepada ku" ucap Raniya yang sedang merias wajahnya di depan cermin.


"Kamu mau kemana dandan seperti itu?".


Raniya menatapnya, "Apa?".


"Tidak, lupakan saja" jawab Jose memberikan ponselnya di tangannya. Lalu ia menyalakan televisi membuat Raniya tersenyum diseberang sana, "Berhenti memandangi ku dan cepatlah pergi, aku ingin sendiri".


"Apa kamu barusan mengusir ku".


"Tidak".


"Ck" dengan kesal Raniya pun menyelesaikan riasan diwajahnya, setelah itu ia pergi begitu saja tampa mengucapkan sepatah dua kata kepadanya. Lalu ia tersenyum sinis, "Bilang saja kamu ingin menghubungi wanita murahan itu, kamu pikir aku tidak tau Jose? dasar".


Kemudian Jose mengeluarkan ponselnya, seperti yang Raniya ucapkan tadi, Jose pun langsung menghubungi nomor Flora yang sedang berada di dalam kamar, "Sedang apa kamu Flora? aku sangat merindukan mu".


"Jose" dengan senyum mengembang diwajah Flora ia terlihat bahagia sekali setelah sekian lamanya ia bisa mendengar suara itu kembali. "Aku juga sangat merindukan mu, terima kasih sudah memberi ku kabar".


"Maafkan aku Flora".


"Tidak apa-apa Jose. Apa kamu sangat sibuk?".


"Mmmm, sedikit. Kamu baik-baik saja? apa bayi kita sehat?".


"Aku baik-baik saja dan juga bayi kita".


"Syukurlah" gumamnya memanggil namanya kembali. "Flora, ada yang ingin aku bicarakan dengan mu, bisakah kita bertemu besok siang di jam istirahat?".


"Baiklah aku akan menemui, kamu kirim saja alamatnya kemana aku harus pergi ".


"Mmmm, besok aku akan mengirimnya. Sekarang kamu tidurlah, aku harus menyelesaikan pekerjaan ku. Selama malam" begitu Jose mematikan ponselnya, dengan mata berkaca-kaca Flora pun menatap layar ponselnya.


"Ya Tuhan, setelan dua Minggu lamanya dia menghilang, Jose baru kali ini benar-benar menghubungi ku selain mengirim pesan selama ini untuk memastikan aku baik-baik saja atau tidak. Tapi kenapa rasanya malah sakit begitu aku mendengar suaranya, apa dia baik-baik saja?".


Tok.. Tok..


"Flora, kamu didalam?".


Dengan cepat Flora menyeka air matanya, "Iya Sa aku disini. Masuklah".

__ADS_1


Ceklek!


Marisa tersenyum, "Kamu sedang apa?".


"Aku tidak sedang ngapain-ngapain Risa..


"Tunggu. Kamu habis baru nangis Ra? kok mata kamu memerah? kamu merindukan Jose lagi?".


"Tidak Sa. Tadi itu aku hanya kelilipan saja".


"Kelilipan dari mana Ra? kamu tidak usah berbohong kepada ku lagi. Kemarilah" dengan sayang Marisa memeluk tubuhnya. "Aku tau semua ini sangat berat Ra, tapi cobalah untuk bertahan sedikit lagi mmm".


"Aku sudah bertahan Risa hiks.. Tapi rasanya sakit sekali hiks.. hiks.." hingga pada akhirnya Flora benar-benar menjatuhkan air mata yang sedari tadi ia tahan. "Sakit Sa, rasanya benar-benar sangat sakit".


"Aku tau itu Ra, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantu mu selain memberikan semangat supaya bayi yang ada di dalam kandungan mu ini baik-baik saja".


"Tadi Jose menelpon ku Sa".


Marisa sedikit terkejut, "Apa? Jose barusan menghubungi mu setelah 2 Minggu lamanya di menghilang?".


"Mmmm, dia bertanya apa aku baik-baik saja dan juga bayi ini. Lalu dia menyuruhku untuk bertemu besok siang".


"Aku belum tau Sa, besok dia akan mengirim alamatnya".


"Apa kamu mau ditemani?".


"Tidak usah Sa, aku pergi sendiri saja".


"Ya sudah kalau gitu, nanti jika sesuatu terjadi kamu langsung beritahu aku".


"Mmmmm, aku akan memberitahu mu".


.


Di dalam kamar Kirana melihat Dilan sedang sibuk dengan pekerjaannya, kemudian ia mendekatinya sembari memeluknya dari belakang. "Belakangan ini kamu sangat sibuk sekali Dilan, tidak bisakah kamu meluangkan waktu mu untuk sebentar saja dengan ku?".


Dilan langsung menghentikan kedua tangannya dari atas tombol keyboard laptop miliknya menatap sang istri yang tersenyum manis kepadanya. "Kamu tidak melihat pekerjaan ku sangat banyak sekali Kirana?" suara itu pun terdengar begitu ketus membuat Kirana menjauh darinya dengan wajah manahan tangis. "Ais, berhenti berkelakuan anak kecil Kirana. Kamu itu sudah dewasa dan kamu sudah menikah".


"Terus?" Kirana menatapnya dengan mata tajam. "Terus apa Dilan..? sebenarnya kamu ini menganggap ku apa? istri mu atau..


"Hentikan, hari ini aku lelah sekali. Tolong jangan menganggu ku, sebaiknya kamu tidur saja" Dilan kembali fokus dengan pekerjaannya.

__ADS_1


"Baiklah kalau itu mau kamu" setelah itu Kirana pergi meninggalkannya di dalam kamar sampai membuatnya terkejut begitu Kirana menutup pintu kamar tersebut dengan membantingnya.


"Wanita itu ck" geleng Dilan mendapatkan sebuah notifikasi dari seorang sebrang sana membuat ia seketika tersenyum. Sedangkan Kirana yang berada di taman belakang, ia sedang menangis seorang diri begitu Dilan memperlakukan dirinya dengan tidak baik.


"Hiks.. Sebenarnya kamu sayang enggak sih Dilan dengan ku? setiap hari kamu selalu memperlakukanku dengan kasar hiks..


"Sedang apa kamu disini Kirana? kamu menangis?" Isabella yang sedang berada disana datang menghampirinya. "Kamu baik-baik saja?".


"Sejak kapan bibi berada disana?" Kirana segera menyeka air matanya melihat Isabella tersenyum. "Apa yang bibi lakukan disini?".


"Sama seperti mu" Isabella mendudukkan diri disampingnya. "Sama seperti kamu, disaat bibi merindukan papanya Lucas, bibi akan menghabiskan waktu disini. Lalu bagaimana dengan mu? apa Dilan baru saja memarahi mu?".


"Tidak" jawabnya berbohong. "Sepertinya bibi sangat mencintai suami bibi".


"Mmmmm, bibi sangat mencintainya sampai bibi tidak bisa mengantikan posisinya dari hati ini" Isabella menunjuk dadanya.


"Paman itu sangat beruntung sekali mendapatkan wanita sebaik dan se-setia bibi Isabella. Aku sangat iri".


Kemudian Isabella menatapnya, "Disaat kamu memasuki usia kehamilan yang sudah semakin tua, kamu akan lebih merasa tersakiti oleh sikap suami kamu yang terkadang tidak perduli".


"Apa bibi juga pernah merasakannya?".


"Mmmmm, dulu papanya Lucas juga seperti itu, cuman tampa aku sadari setiap bibi tertidur paman kamu akan selalu memberikan perhatian dengan memberi bibi ciuman setiap kali bibi tertidur pulas".


"Beruntung sekali, aku belum pernah mendapatkan itu dari Dilan" Kirana menghela nafas berat menatap keatas langit yang begitu sangat indah. "Sepertinya langit juga sedang menertawai ku. Hheemm, menyebalkan sekali".


Isabella pun ikutan melihat keatas langit yang begitu indah di penuhi dengan bintang, "Langit tidak sedang menertawakan kamu Kirana, langit malah sedang memberi mu semangat" ucapnya membuat Kirana seketika tersenyum senang.


"Bibi ada-ada saja" setelah beberapa menit lamanya Isabella dan Kirana berada di luar, Isabella menatapnya kembali menyuruh untuk segera pergi dari sana karena udara mulai terasa dingin. Namun Kirana yang masih ingin disana mengajukan pertanyaan itu kembali kepada Isabella, "Bibi, tidak pernahkah bibi memikirkan kalau bibi akan segera memiliki menantu dari Lucas?".


"Bibi tidak akan pernah mencampuri urusan pribadi Lucas tentang siapakah yang akan dia nikahi nanti, bibi hanya bisa mengucapkan syukur saja akhirnya dia menikah juga dengan pilihannya".


"Terus, bagaimana kalau kakek nantinya menjodohkannya?".


"Bibi tidak bisa melakukan apa-apa selain mengikuti keinginan hati kakek kamu dan keinginan Lucas".


"Mmmmm, semoga Lucas segera bertemu dengan jodohnya. Aku ingin memiliki teman dirumah ini".


"Semoga saja. Ayo masuk, tidak baik ibu hamil berlama-lama diluar".


"Iya bi".

__ADS_1


__ADS_2