Terjerat Cinta Sekretaris Marisa

Terjerat Cinta Sekretaris Marisa
Bab 26


__ADS_3

Akhirnya Marisa mengalah, ia pun keluar dari dalam kamar. Lalu membuka pintu, dan benar sekali Reza tengah berada di depan mobilnya dengan senyum mengembang diwajahnya. "Akhirnya kamu keluar juga Sa".


"Ada apa?" Marisa melihatnya dengan tatapan datar.


"Aku merindukan mu Sa. Apa kabar mu?".


"Baik seperti yang kamu lihat. Sekarang katakan apa yang ingin kamu bicarakan? aku tidak punya waktu berlama-lama disini, pekerjaan ku sangat banyak".


"Kamu melihatnya?".


"Maksud kamu?".


"Maafkan aku Sa, aku yakin kamu melihat kejadian malam itu, tapi itu diluar kesadaran aku dan Flora. Kalau kamu marah kepada ku hanya karna itu, tolong maafkan aku Risa. Aku janji tidak akan mengulangi kesalahan itu lagi, jadi aku mohon tolong maafkan aku Sa" Reza mencoba menyentuh tangan Marisa, namun Marisa yang enggan disentuh oleh Reza, dengan cepat Marisa menghempaskan kedua tangan Reza.


"Tidak apa-apa. Lagian itu sudah berlalu, kamu tidak usah mengungkit yang sudah lama, sebaiknya kamu pulang saja. Dan satu hal lagi, kalau kamu menyukai Flora, jangan kamu sakiti dia".


"Aku tidak menyukai Flora Sa, aku hanya menyukai kamu saja. Kejadian itu terjadi karna aku mabuk, dan kita bertiga malam itu sama-sama mabuk Sa".


"Oh, jadi sekarang kamu mau membela diri? hah, hahahah. Dasar laki-laki bajingan. Sebaiknya kamu pulang saja, aku tidak ingin melihat mu disini".


"Risa tunggu" tahan Reza ditangan Marisa. "Jangan pergi Sa, tolong jangan tinggalkan aku".


"Lepaskan tangan ku Reza".


"Aku mohon Sa, tolong jangan membuang ku seperti ini, beri aku satu kesempatan untuk memperbaiki kesalahan yang telah aku lakukan".


Kemudian Marisa melihat mobil sang ayah berhenti di depan mereka berdua, "Sebaiknya kamu pergi saja Za. Keluarga ku sudah pulang".


"Aku tidak perduli Sa, kalau kamu tidak mau memaafkan aku, malam ini juga aku akan melamar mu di depan kedua orang tua mu".


Marisa menyeringai, "Benarkah? laki-laki bajingan seperti mu berani melakukan hal itu".


"Kamu ingin aku membuktikan ketulusan cinta ku kepada mu".


"Kalau gitu buktikan saja, aku ingin melihat seberapa jantannya kamu" ejek Marisa. Lalu ia berjalan mendekati kedua orang tuannya, "Ma, pa, Reza mau ngomon.. Kemana dia pergi?".


"Siapa Risa?" tanya sang mama.


"Reza ma, tadi dia ada disini. Tapi anak itu malam menghilang entah kemana".


"Disana Sa" tunjuk Zara kearah mobil Reza. "Itu mobil Reza kan? kenapa dia malah pergi".


Marisa tersenyum, "Dasar" geleng Marisa berjalan masuk kedalam rumahnya. Kemudian ia mendapatkan notifikasi dari Reza, "Maaf Sa, aku harus pergi begitu saja. Lain kali aku akan datang kerumah mu secara resmi. Selamat malam, semoga kamu mimpi indah" mendengar itu Marisa menghela nafas melemparkan ponselnya diatas tempat tidur. Lalu marisa menjatuhkan tubuhnya, "Hhhmmsss, kalau Reza tau kenapa Flora tidak tau? aku juga butuh penjelasan dari Flora bukan untuk menghakimi dia, aku hanya ingin bertanya dia suka Reza apa tidak".

__ADS_1


.


Pagi harinya Marisa terbangun dari tidurnya, ia melihat jam telah menunjukkan pukul 7:5 menit. Ia pun langsung turun dari atas tempat tidur, "Ma, sedang apa mama dikamar Risa?".


"Menaruh pakaian kamu".


"Oh, terima kasih ma".


"Mmmm, ayo buruan mandi. Mama sudah siapin sarapan".


"Iya ma" angguk Marisa memasuki kamar mandi. Begitu selesai, Marisa memakai pakaian santai tidak seperti biasa waktu ia berangkat kekantor. "Pagi semuanya".


Ketiga orang itu melihat kearahnya, "Risa, kamu enggak kerja?" tanya sang mama.


"Kerja ma, tapi Ris.." gantung Marisa. Lalu ia duduk diatas kursinya, "Untuk beberapa hari ini Risa tidak kekantor, Risa ditugaskan untuk merawat seseorang yang sangat berharga bagi bos Risa dirumah sakit. Mungkin Risa akan jarang kembali kerumah".


"Rumah sakit?" tanya Zara.


"Iya kak".


"Siapa yang sakit Risa? ketua pemimpinan? aku dengar memang ketua Hanju sudah tua".


"Tidak, ini seseorang yang tidak aku kenal tapi bos Risa sangat menyayangi dia".


"Mmmmm, sebagian aku membawa barangku".


"Tidak apa-apa, kamu harus pintar-pintar mengambil hati atasan mu, siapa tau nantinya gaji kamu di naikin. Biasanya sih seperti itu".


Marisa tersenyum, "Benarkah kk?".


"Mmmmm".


"Syukur deh kalau gaji Risa naik, itu artinya Risa bisa membeli mobil baru".


Mereka tertawa, "Makanya jangan jual mobil sembarangan, sekarang kamu menyesal" ucap sang mama.


"Heheheh, abis uang Marisa enggak ada lagi ma. Terpaksa deh Risa jual mobil, tapi sebentar lagi Marisa akan menggantinya begitu uang Risa terkumpul".


"Dan jangan lupa juga kado untuk pernikahan kakak" Ucap Zara tertawa.


"Hey, kak Zara tenang ajah. Nanti Risa akan membeli kado yang benar-benar paling mewah dari semua tamu undangan kakak".


"Ok, kakak tunggu itu".

__ADS_1


.


Sekarang Marisa telah tiba dirumah sakit, ia segera masuk kedalam loby menuju ruang rawat Elisabet. "Permisi" panggil seseorang dari belakang Marisa.


"Iya" jawab Marisa melihatnya.


"Apa nona ingin ke kamar xx?".


"Iya".


"Syukurlah. Mari nona" ajaknya membawa Marisa masuk kedalam ruang inap tersebut. Lalu Marisa melihat beberapa orang ahli gizi berada disana dengan kepala menunduk.


Kemudian Elisabet melihatnya, "Kamu sudah datang?".


"Iya nyonya" angguk Marisa berjalan mendekatinya. "Kenapa mereka ada disini?".


"Saya juga tidak tau" jawab Elisabet mengangkat kedua bahunya. Lalu ia menyuruh mereka pergi dari sana, "Kamu naik apa kemari?".


"Taksi nyonya".


"Kenapa tidak menggunakan mobil? kamu tidak punya mobil?".


"Ah" Marisa menggaruk kepala. "Nyonya, sebenarnya ada yang ingin saya bicarakan kepada nyonya mengenai diri saya".


"Lucas sudah memberitahu kalau kamu sebenarnya sekretarisnya. Terus?".


"Ternyata tuan sudah memberitahunya" gumam Marisa. "Apa nyonya tidak marah setelah mendengar kalau saya hanyalah seorang karyawan yang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan wanita diluar sana. Saya hanyalah anak dari dari seorang karyawan juga nyonya".


"Jadi kamu tidak punya mobil? kalau gitu saya akan membeli mu mobil baru. Sekarang katakan mobil yang seperti apa kamu mau?" Elisabet mengeluarkan ponselnya hendak menghubungi ART ya.


"Tidak nyonya. Tidak" tahan Marisa.


"Kenapa? kamu tidak mau mobil baru?".


"Bukan enggak mau nyonya. Tapi saya ingin membelinya dengan uang saya sendiri, jadi nyonya tidak usah repot-repot membelikan saya mobil. Maaf" jawab Marisa sedikit menunduk.


Elisabet tersenyum, "Saya membeli mu mobil bukan maksud apa-apa, saya hanya ingin kamu tidak ada hambatan datang kemari".


"Tapi nyonya..


"Jangan banyak menolak. Nanti mobil mu sudah tiba di parkiran rumah sakit".


Marisa melihatnya dengan tatapan sendu, "Kalau gitu terima kasih nyonya, terima kasih banyak sudah memberikan saya mobil, saya berjanji akan menjaga nyonya dengan baik".

__ADS_1


"Mmmm" angguk Elisabet.


__ADS_2