
Lucas menatapnya, lalu Lucas menarik sudut bibirnya melihat Marisa sambil berjalan mendekatinya, namun Marisa malah melangkah mundur sampai tubuhnya terbentur di balik tembok. "Tu-tuan, apa yang ingin tuan lakukan?" tanya Marisa gelagapan.
"Kenapa? kamu takut?".
"Tidak tuan".
"Lalu?" Marisa menatapnya, ia melihat kedua bola mata Lucas sedang tersenyum mengejek kepadanya. "Kenapa kamu melihat ku seperti itu?".
"Aaa, tidak tua..
**Ceklek!
BBRRAAKK**..
"Ah..!" pekik Lucas terjatuh kesakitan diatas lantai saat Marisa tiba-tiba mendorong tubuhnya.
"Astaga tuan" kaget Marisa langsung menolongnya. Kemudian si pelayan yang baru saja membuka pintu, ia pun segera menutup pintu itu kembali dengan rasa bersalah. "Tuan, maaf. Tadi saya tidak sengaja".
Lucas menatapnya dengan kesal, "Minggir" ia pun bangkit berdiri, setelah itu Lucas keluar dari dalam sana menuju tempat Elisabet sedang melakukan pemeriksaan.
"Ya Tuhan, kenapa aku bodoh sekali sih? aku yakin dia sengat marah sekali dengan apa yang baru saja aku lakukan. Apa yang harus aku lakukan?" Marisa keluar, ia pun menyusul Lucas yang kini sudah berada di dalam ruangan Elisabet menjalankan pemeriksaan dengan tangan melipat di depan dada sambil memperhatikan kelayar monitor.
Marisa berjalan mendekati Lucas, ia berdiri disampingnya dengan perasaan was-was. Lalu Lucas meliriknya, namun ia tidak mengeluarkan sepatah dua kata pun kepadanya membuat Marisa semakin merasa sangat bersalah. Kemudian ia mencoba untuk mengajak Lucas bicara, tetapi ponsel Marisa malah berdering membuat ia keluar dari dalam. "Iya Ra, ada apa?" jawab Marisa.
"Kamu dimana Sa? semalam kamu enggak masuk kerja, terus hari ini juga. Kamu sakit Sa?".
"Tidak Ra, aku baik-baik saja. Cuman untuk beberapa saat ini aku tidak akan berangkat kekantor".
"Kenapa Sa? kamu di..
"Tidak Ra. Maaf ya aku tidak bisa memberitahu mu karna ini Privasi".
"Maksud kamu?".
"Aku sedang menjalankan tugas Ra dari tuan Lucas. Tapi aku tidak bisa memberitahu mu".
"Jadi kamu tidak sekretaris tuan Lucas lagi? ya ampun, pantas saja aku melihat sekretaris baru di meja kerja kamu Sa".
"Masa iya sih Ra?".
__ADS_1
"Mmmm, emang kamu enggak tau?".
"Kalau gitu aku tutup dulu ya Ra, nanti kita lanjut ok" Marisa mematikan ponselnya, ia kembali masuk kedalam ruangan tersebut. Kemudian Marisa memberanikan diri menarik sedikit ujung baju Lucas, "Tuan, bisa kita bicara sebentar? ini mengenai pekerjaan saya" ucapnya.
Lucas menghela nafas melihatnya, "Apa?".
"Kita bicara diluar saja tuan" Lucas berjalan keluar, ia menatap Marisa menyuruhnya untuk segera berbicara. "Lalu bagaimana dengan pekerjaan saya tuan? apa tuan sudah memutuskannya?".
"Saya sudah mencari pengganti mu".
"Lalu bagaimana dengan ku tuan?" Marisa bersedih. "Apa aku aku akan keluar dari perusahaan Hanju?".
"Tidak, setelah nyonya Sabet keluar. Kamu akan menjadi asisten pribadi ku".
"Apa? Benarkah tuan? itu artinya aku akan tetap bekerja di Hanju" kedua mata Marisa langsung berbinar-binar.
"Mmmmm" Dengan senyum mengembang diwajah Marisa, ia mengucapkan terima kasih banyak kepadanya, setelah itu Lucas masuk kedalam bersama dengan Marisa.
.
Di kantor Dilan sedang sibuk dengan pekerjaannya, kemudian ia mendapatkan sebuah panggilan masuk dari Malik membuat ia segera mengangkatnya. "Hallo tuan" jawab Dilan.
"Tidak, saya tidak sedang sibuk tuan".
"Kalau gitu datanglah ke restoran xx. Saya akan menunggu mu disana".
"Baik tuan" angguk Dilan mematikan ponselnya, ia pun segera meninggalkan ruangannya, namun sebelum ia pergi dari sana, ia menyuruh sekretarisnya untuk merapikan meja kerjanya, setelah itu Dilan pergi. Hingga kini ia sudah tiba di restoran yang tadi Malik bicarakan.
"Selamat pagi, tuan mencari tuan Malik?".
"Mmmmm" angguk Dilan.
"Mari ikut saya tuan" ajaknya membawa Dilan ke sebuah ruangan khusus tamu VIP. "Disini tuan, silahkan masuk".
Dilan pun langsung masuk kedalam, ia melihat Malik sedang menyeruput segelas kopi hangat yang sangat wangi sampai ke aroma penciuman Dilan. "Kamu sudah datang?" tanya Malik meletakkan gelasnya.
"Iya tuan" jawab Dilan.
"Duduklah" Malik melihatnya, lalu menyuruh Dilan meminum kopi hangatnya. Kemudian Dilan melihatnya, ia bertanya kepada Malik alasan ia menyuruhnya bertemu. "Hahahah, saya dengar dari Kirana kalau kalian berdua sudah berkencan. Benarkah?"
__ADS_1
Dilan tersenyum, "Bisa dibilang seperti itu tuan".
"Lalu bagaimana dengan Lucas? bagaimana bisa kamu mengalahkan dia? kemarin Kirana sempat tergila-gila kepadanya".
Dilan kembali menunjukkan senyumannya, ia juga tidak tau alasan Kirana lebih memilihnya dibandingkan dengan Lucas. "Saya juga tidak tau tuan, saya hanya menunjukkan ketulusan yang saya miliki".
"Bagus, saya menyukainya. Jadi kapan rencana kalian melanjutkan pertunangan?".
"Saya dan Kirana sudah membicarakan ini tuan, nanti kami akan memberitahu anggota keluarga".
"Mmmmm" angguk Malik.
.
Begitu Dilan kembali dari sana, kini ia telah berada di dalam ruangannya. Dilan mengeluarkan sebatang rokok dari dalam bungkusnya, ia menghisapnya sembari tersenyum menatap ke atas langit-langit ruangannya. "Dilan, sebentar lagi kamu akan memiliki segalanya. Dan kamu akan menjadi penguasa terbesar di negera ini hahahah, dan sebentar lagi Lucas akan jatuh miskin".
Ceklek!
Dilan terkejut, ia melihat Lucas berjalan mendekatinya kearah sofa. "Apa yang kamu lakukan kemari?" tanya Dilan mematikan rokoknya.
Lucas tersenyum, lalu ia mendudukan diri disamping Dilan sembari menyambar bungkus rokoknya. "Kenapa? aku tidak bisa datang kemari?" Dilan melonggarkan dasi, kemudian menatap Lucas yang sedang menghisap rokoknya. "Bagaimana dengan pembangunan pabrik dikota xx. Kamu sudah memikirkannya? aku mau kamu segera mengurusnya".
"Kenapa kamu menyuruhku? kamu bisa menyuruh yang lain. Aku tidak punya waktu kesana, pertunangan ku akan segera dilaksanakan".
"Itu tidak akan terjadi" Dilan tersenyum mengejek. "Karna aku akan merebutnya dari mu, aku yakin Kirana akan lebih memilih ku".
Lagi-lagi Dilan tersenyum mengejek Lucas, "Sayang sekali, kamu tidak punya kesempatan itu lagi Lucas. Saat ini Kirana sedang mengandung anak ku".
Deng..!
Lucas terdiam, ia tidak bisa membayangkan kalau Dilan akan melakukan hal picik itu untuk mendapatkan apa yang dia mau. "Apa?".
"Mmmmm, Kirana saat ini sedang mengandung buah cinta kami. Jadi bersiaplah kamu akan segera angkat kaki dari posisi kamu sebagai CEO Lucas Davison".
"Sial, Itu tidak akan terjadi, apapun akan aku lakukan untuk mempertahankan posisi ku. Kurang ajar kamu Dilan, berani-berani ya kamu berbuat curang seperti ini" teriak Lucas dalam hati meremas tangannya.
"Dan sekarang sebaiknya kamu keluar Lucas. Pekerjaan ku sangat banyak" Dilan bangkit berdiri, ia berjalan kearah kursi kebesarannya, lalu ia menatap Lucas dengan tatapan sinis. "Kamu belum pergi?".
"Hhhmmsss, aku akan pergi. Tapi kamu jangan terlalu senang dulu, aku akan melakukan segala cara untuk mempertahankan posisi ku" jawab Lucas berjalan keluar.
__ADS_1
"Baiklah, kita lihat saja nanti Lucas Davison. Aku penasaran cara apa yang akan kamu lakukan untuk mengalahkan aku" gumam Dilan tersenyum kecut.