
Sesampainya Flora dirumah sakit, ia melihat sang sang sahabat sedang menonton televisi dari luar pintu. "Sepertinya dia sangat kebosanan".
Ceklek!
"Risa..!" panggilnya.
"Ah Flora" senang Marisa melihat Flora membawa makanan kesukaannya. "Kenapa kamu lama sekali sih Ra? aku sudah menunggu mu hampir 3 jam lamanya. Lalu bagaimana pengajuan cuti mu, apa manager mu menerimanya?".
"Aku juga tidak tau Sa. Semoga saja dikabulkan, aku juga sudah malu setiap hari mendengar ocehan mereka tentang kehamilan aku yang sudah semakin membesar".
"Iyasih, perut kamu sudah sangat membuncit".
"Mmmmm, karna itu. Sekalian juga hari ini aku mau cek kandungan".
"Kenapa kamu tidak bersama dengan Jose saja? atau aku perlu memanggilnya kemari".
"Tidak usah, kita berdua saja".
"Kamu yakin enggak mau ditemani dia?".
"Iya Sa. Ayo kue ya dimakan, siapa tau rasa mual mu nanti berkurang. Mmmm, rasanya tidak pernah berubah".
"Semoga saja" senang Marisa melahapnya dengan senang hati. "Mmmm, kue ya benar-benar sangat enak sekali Ra".
"Bagus dong. Terus, apa kamu sudah memberitahu keluarga mu kalau kamu sedang mengandung Sa?".
"Belum, mungkin nanti malam atau enggak bisa setelah aku keluar dari rumah sakit".
"Tapi Sa, apa tidak sebaiknya kamu memberitahu Reza kalau kamu sudah menikah dengan tuan Lucas. Tadi saat aku membeli kue ini, aku bertemu dengannya disana, dan dia juga yang membelikan kue ini untuk mu".
"Kenapa bisa kamu berpapasan dengannya disana Ra?".
"Aku juga tidak tau Sa kenapa dia bisa berada disana".
"Terus?".
"Ya tadi aku hampir saja ketahuan olehnya kalau kamu sedang di rawat dirumah sakit".
"Mmmmm, sebenarnya juga aku ingin memberitahunya kalau aku sudah menikah dengan Lucas, tapi aku belum punya waktu yang tepat untuk memberi tahunya. Nanti sajalah kalau waktu itu tepat, aku akan memberitahunya".
"Ide yang bagus. Apa kamu tidak mau lagi?".
"Udah, aku sudah kenyang. Bersiap-siaplah, aku ke kamar mandi sebentar".
"Mmmmm" tidak menunggu lama Marisa segera keluar dari dalam kamar mandi. "Oh iya Sa..
"Kenapa?".
"Lupakan saja. Ayo".
"Kenapa?".
__ADS_1
"Tidak, ruangannya ada lantai berapa Sa?".
"Lantai 2".
"Mmmmm" begitu mereka tiba disana, ternyata bukan mereka saja pasien yang ingin mencek kandungan. "Wah, ramai sekali Sa. Aku pikir hanya kita saja".
"Iya, aku juga tadi berpikir seperti itu. Lalu kita duduk dimana nih? semua kursi sudah terpenuhi".
"Gimana dong?".
"Ya sudah, kamu ambil nomor antrian dulu, entar sambil menunggu kita keluar ajah".
"Mmmmm, tunggu sebentar" Flora pun segera mengambil nomor antriannya. "Sudah ayo, ini masih sangat lama".
"Ayo".
.
Sedangkan Jose yang kini berada didalam ruangannya. Ia sedang terbebani oleh beban pernikahannya yang akan segera di gelar bersama dengan Raniya. "Apa yang harus aku lakukan Tuhan? aakkkhhh".
Ceklek!
"Jose!" Raniya terlihat sangat marah kepadanya. "Apa yang sedang kamu lakukan Jose? aku sudah mengatakan kepada mu kalau aku belum siap menikah dengan mu".
Jose menyeringai, "Terus kamu pikir aku juga berniat menikah dengan mu? haahhh.. Kalau bisa pernikahan ini batal, dan ini semua terjadi karna kebodohan mu. Tapi sekarang kamu mencoba untuk menuduhku? hahahha.. Dasar bodoh, sekarang kamu keluar, aku tidak ingin melihat mu".
"Aku tunggu sampai 3 hari, apapun yang terjadi pernikahan ini harus ditunda dan kalau bisa di batalkan".
"Kenapa tidak kamu saja yang membatalkannya? aku rasa itu jauh lebih bagus".
"Hahhh.. " kesal Jose mengusap wajahnya. "Keluar, aku ingin sendiri".
"Pokoknya aku tidak perduli, pernikahan ini harus ditunda. Lakukan segala cara, kalau tidak aku akan melakukan cara yang akan membuat mu menyesal seumur hidup" ucap Raniya langsung meninggalkan ruangan tersebut sampai membuat Jose menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
"Maksud dia apa?".
Hingga kini hari semakin sore, Marisa dan Flora kembali masuk kedalam. "Akhirnya tiba juga waktunya kita. Ayo masuk Ra".
"Lama juga ya Sa. Bahkan kita sudah menghabiskan waktu selama 4 jam lamanya diluar".
"Mmmmm".
Tok.. Tok...
"Masuk".
Ceklek!
"Sore dokter" sapa Marisa tersenyum ramah.
"Iya, silahkan masuk" balasnya menyuruh mereka berdua duduk. "Ada yang bisa saya bantu?".
__ADS_1
"Iya dok, teman saya ingin mencek kandungannya. Apa bayi yang ada di dalam rahimnya ini baik-baik saja atau tidak".
"Sebelumnya suami ya dimana?".
"Dia lagi sibuk dok" jawab Flora.
"Oh, terus usia kandungannya sudah memasuki minggu keberapa?".
"Ini memasuki bulan ke 4 dok".
"Mmmmm, mari ikut saya. Silahkan berbaring disini".
"Iya dok".
"Baiklah, kita akan melihat perkembangan janinnya. Mbak ya bisa berdiri disini" ucapnya menyuruh Marisa berdiri disampingnya. Lalu si dokter tersenyum, "Kalian bisa melihat ke layar monitor ini? bayinya sangat sehat dan bayinya sangat aktif sekali. Selamat yah, bayinya berjenis kelamin laki-laki".
"Laki-laki dok?" senang Marisa.
"Iya, bayinya laki-laki. Dan sepertinya bayi ini akan terlahir menjadi pria yang sangat sempurna".
"Wah.. Selamat Ra, aku yakin Jose pasti senang sekali mendengarnya. OMG, apa tidak sebaiknya aku memanggil dia saja Ra, Jose mungkin sudah pulang".
"Tidak usah Sa" senyum Flora dengan asiknya melihat ke layar monitor. "Lihatlah Sa, bayi ku sangat menggemaskan sekali".
"Iya Ra, bayi mu menggemaskan sekali. Aku ingin kamu memberinya nanti nama dengan nama Dewa. Bagaimana?".
"Mmmmm, nama yang bagus Sa. Aku juga menyukai nama itu".
"Iya, siapa tau juga nanti bayi ku perempuan, aku ingin mereka berjodoh supaya kita menjadi besan hahahaha" tawa Marisa dengan senangnya.
"Amin Sa".
.
Sepulangnya Jose dari rumah sakit, ia berhenti disebuah bar tempat langganannya bersama dengan Lucas. "Ada apa Jose?" tanya Lucas.
"Hhhmmsss.. Aku tidak tau harus melakukan apa Lucas. Kedua keluarga kami telah menetapkan tanggal pernikahan kami, dan sialnya ini semua karna Raniya. Seandainya dia tidak memberitahu papa kalau Flora sedang mengandung anak ku, mungkin pernikahan ini tidak akan terjadi secepat ini".
"Bagaimana bisa Raniya tau kalau Flora sedang mengandung anak mu? apa dia tau tentang Flora?".
"Dia tidak tau, awalnya dia hanya menebak saja hingga pada akhirnya dia tau. Dan sekarang aku tidak tau harus melakukan apa-apa, kami berdua sangat menentang pernikahan ini".
"Lalu apa Raniya katakan?".
"Dan yang paling sialnya lagi dia malah menyalahkan semua ini kepada ku. Wanita itu benar-benar membuat ku.. ah" kesal Jose meneguk alkoholnya kembali.
"Aku juga tidak tau bagaimana cara untuk membantu mu. Tapi kalau kalian berdua sama-sama tidak setuju dengan pernikahan, ada baiknya kalian langsung bicara saja, terutama kamu".
"Kenapa dengan ku?".
__ADS_1
"Kamu harus membuat keputusan memilih Flora atau Raniya".
"Tentu saja aku akan memilih Flora yang sedang mengandung anak ku. Tapi kalau sampai itu terjadi, aku tidak tau apa yang akan terjadi kepada ku dan Flora, kamu tau sendiri orang tua ku seperti apa".