Terpaksa Menikah Dengan Om Om Tampan

Terpaksa Menikah Dengan Om Om Tampan
107. Kyoto berusaha mendekati Delia


__ADS_3

Delia sejenak melirik kepada Kyoto yang sejak tadi terus menatapnya ada sedikit perasaan Aneh ketika melihat Kyoto yang begitu lekat melihat kepada dirinya.


"Chef? Siapa gadis itu? Dari tadi saya perhatikan dia terus melihat ke arah saya. Apakah dia anak baru?" tanya Delia sambil melirik sekilas kepada Kyoto.


Chef tersebut kemudian melirik ke arah yang tadi ditunjukkan oleh Delia.


"Bbenar Nyonya! Baru satu minggu dia bekerja di sini. Pekerjaannya lumayan bagus sih. Walaupun harus terus di kuprak kuprak. Nggak tahu kenapa dia selalu memperhatikan lingkungan di sekitar sini!" ucap Chef tersebut melaporkan tentang kinerja Kyoto kepada Delia selaku pemilik restoran itu.


Tampak Delia menganggukkan kepalanya kemudian dia melihat kepada Kyoto.


"Baiklah chef, saya harus segera kembali ya? Saya titip restoran ya kalau ada apa-apa langsung hubungi saya tidak apa-apa?" ucap Delia kepada yang chef yang melihat kepadanya.


"Baiklah Nyonya jangan khawatir Saya pasti akan memperhatikan restoran!" setelah mendengarkan hal itu Delia kemudian langsung meninggalkan dapur dan ke depan restoran bersiap untuk pulang kembali ke mansionnya.


Tiba-tiba saja Kyoto dengan tergopoh-gopoh mendekati Delia.


"Maafkan saya Nyonya Delia. Saya karyawan baru di sini. Apakah saya boleh minta nomor telepon nyonya?" tanya Kyoto sambil menyodorkan handphonenya kepada Delia.


Delia mengerutkan keningnya ketika melihat Kyoto yang begitu lancang menyodorkan ponselnya kepada dirinya untuk meminta nomor teleponnya.


Delia memperhatikan ponsel yang diberikan oleh Kyoto tampak wajahnya penuh dengan keheran-heranan.


'Siapa gadis ini? Ponsel ini harganya lebih dari 30 juta. Tidak mungkin bisa dibeli oleh garis yang hanya bekerja sebagai pencuci sayuran.' batin Delia sambil terus menetap kepada Kyoto yang sekarang tersenyum kepadanya.


"Kak Apa boleh kalau kita berteman?" ucap Kyoto berbicara kepada Delia.

__ADS_1


Delia mengerutkan keningnya merasa heran dengan keberanian Kyoto yang langsung to the point meminta berteman dengannya.


"Ayo kita duduk di sana biar lebih enak!" ucap Delia sambil berjalan di depan Kyoto menuju sebuah ruangan VVIP yang ada di dalam restoran milik Delia.


Sekarang adalah jam makan siang. Waktu tersibuk di restoran itu dan hanya ruangan VVIP itu yang kosong. Oleh karena itu Delia membawa Kyoto untuk berbicara di sana.


"Sekarang, katakan padaku! Siapa kau sebenarnya? Rasanya tidak mungkin kalau Gadis miskin bisa membeli ponsel ini. Ponsel ini harganya lebih dari 30 juta kan? Dan bukan produk Indonesia bukan?" tanya Delia sambil menatap tajam kepada Kyoto yang saat ini sedang menundukkan kepalanya


"Saya memang bukan orang Indonesia. Saya berasal dari Jepang. Saya datang ke Indonesia karena saya ingin mengejar cinta saya. Tapi sayang, orang yang saya cintai ternyata punya seorang istri juga seorang anak!" ucap Kyoto sambil menundukkan kepalanya dan menggenggam kedua tangannya satu sama lain.


"Duduklah di kursi itu! Kenapa kau berdiri? Aku capek melihatmu yang dari tadi berdiri terus!" ucap Delia sambil tersenyum kepada Kyoto.


Kyoto langsung duduk di hadapan Delia dan menetapnya secara tajam.


Delia dapat menangkap aura permusuhan di mata Kyoto. Walaupun dia tidak mengerti kenapa hal itu bisa terjadi. Karena mereka baru pertama kali ini bertemu.


"Kan tadi sudah aku ceritakan di atas Kak! Kakak tidak mendengarkan?" ucap Kyoto dengan kesal sambil menatap kepada Delia.


Delia tersenyum simpul sambil terus menatap Kyoto dengan lembut yang menurutnya sangat menarik.


"Maksudku ceritakan tentang keluargamu di Jepang. Siapa tahu aku mengenal mereka. Mertuaku juga orang Jepang!" ucap Delia sambil tersenyum kepada Kyoto.


"Apakah benar kalau mertuamu orang Jepang?" tanya Kyoto dengan mata berbinar sambil memegang tangan Delia yang saat ini sedang ada di atas meja.


"Iya, kau tahu keluarga Yamada? Mereka adalah mertuaku!" ucap Delia sambil tersenyum kepada Kyoto yang saat ini sedang menatapnya seperti tidak percaya.

__ADS_1


"Apa benar Kakak tidak sedang berbohong kalau suami kakak orang Jepang?" tanya Kyoto mencoba untuk mengkonfirmasi kebenaran tentang informasi yang baru saja dikatakan oleh Delia.


"Benar! Suamiku ayahnya orang Jepang asli. Tetapi ibunya orang Indonesia asli. Mereka bercerai waktu suamiku masih kecil. Dan ayahnya Kaisar menikah dengan atasannya, dan mereka pindah tinggal di Jepang sampai sekarang belum pernah kembali lagi ke Indonesia. Memangnya kenapa?" tanya Delia sambil menatap tajam kepada Kyoto yang seperti sangat tertarik dengan kehidupan keluarga suaminya.


"Keluarga Yamada? Tampaknya Ayahku mungkin kenal dengan mereka!" ucap Kyoto bergumam kepada dirinya sendiri.


"Apa yang tadi kau katakan?" tanya Delia penasaran.


" Tidak Kak saya tidak mengatakan apa-apa kok!" ucap Kyoto sambil tersenyum kepada Delia tetapi Delia tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Kyoto.


"Katakan padaku siapa Ayahmu Siapa tahu suamiku mengenalnya karena Setahuku suamiku memiliki banyak bisnis di Jepang!" Delia berusaha mendesak Kyoto untuk mengakui identitasnya.


"Maafkan aku Kak! Bukannya aku tidak mau jujur sama Kakak tapi Ayahku sudah berpesan agar aku tidak mengumbar tentang identitasnya kepada orang lain hal ini untuk menjaga keamanan ku!" ucap Kyoto berdusta karena sebetulnya dia takut kalau Delia nanti akan bercerita kepada Kaisar tentang dirinya dan juga keluarganya.


Delia menyangga wajahnya dengan tangannya terus memperhatikan Kyoto yang menurutnya menyimpan banyak rahasia.


"Apa tujuanmu untuk bekerja di restoran ini? Cepat katakan padaku atau Aku akan memecatmu hari ini juga!" ucap Delia memperingatkan Kyoto agar berbicara jujur kepadanya tentang tujuan dia bekerja di restorannya sekarang.


"Saya tertarik dengan bisnis restoran Kak. Saya ingin belajar dan saya suatu saat ingin memiliki restoran saya sendiri?" ucap Kyoto.


Kyoto berkata benar karena dia memang tertarik dengan dunia restoran. Tetapi ayahnya tidak pernah mengizinkan dia untuk sekolah sebagai seorang chef. Ayahnya selalu menekankan kepadanya untuk belajar bisnis agar kelak bisa mewarisi usaha keluarga mereka.


"Kalau kau ingin menekuni dunia restoran atau kuliner. Kenapa kau malah memilih bekerja sebagai pencuci sayuran? Apa yang bisa Kau pelajari dari sana?" tanya Delia sambil menatap tajam kepada Kyoto.


"Bukankah kita harus belajar segala sesuatu itu dari dasar ya? Dengan kita memulai dari dasar kita akan tahu seluk beluk sebuah restoran. Betul kan kak?" tanya Kyoto sambil tersenyum kepada Delia.

__ADS_1


"Boleh saja kalau kau ingin belajar di restoran ini. Tdak apa-apa. Apakah kau mau aku pindahkan sebagai asisten chef? Agar proses belajarmu jadi lebih mudah dan kau tidak perlu berlama-lama ada di sini!" ucap Delia sambil tersenyum kepada Kyoto.


Kyoto terdiam mendengarkan penawaran Delia yang benar-benar luar biasa baginya Bagaimana mungkin seorang baru bertemu dan sudah memberikan kebaikan begitu besar kepada orang asing?


__ADS_2