
"Tuan, Anda tidak apa-apa?" tanya Pak Burhan takut-takut, tapi Kaisar sama sekali tidak menggubris dirinya. Hanya terdiam saja, melamun seperti mayat hidup.
"Sebaiknya saya membawa Tuan pulang saja, Nyonya pasti bisa menenangkan pikiran Tuan yang sepertinya sedang terganggu. Aduh, apa mungkin Tuan di ganggu sama setan kuburan ya?" Pak Burhan sudah bergidik ngeri, dia langsung menjalankannya mobilnya menuju ke rumah Tuan besarnya yang sekarang masih diam seperti patung.
Setelah sampai rumah, Pak Burhan memapang Kaisar, Delia yang melihat kepulangan suaminya, langsung menyambut, tetapi Delia keheranan, ketika melihat Kaisar mukanya begitu pucat, tubuhnya juga menggigil, tatapan matanya kosong. Delia membawa Kaisar ke kamar mereka dengan bantuan Pak Burhan.
"Tuanmu kenapa?" tanya Delia penasaran dan khawatir.
"Saya tidak tahu, Nyonya! Tadi Tuan habis ke makam Almarhum ibunya, eh, begitu balik dari sana, marah-marah, nangis-nangis, teriak-teriak, lalu seperti ini, Nyonya. Saya takut kalau Tuan ke sambet setan di kuburan, Nyonya!" ucap Pak Burhan mukanya pucat ketakutan.
"Kamu itu, ada-ada aja! Udah sana, minta si bibi untuk siapkan teh hijau dan bawa makan siang ke kamar saja. Saya dan suami saya mau makan di sini!" perintah Delia. Lalu menghampiri suaminya yang masih bisu, air mata masih meremas di matanya.
"Kamu kenapa, sayang? Apa ada masalah?" Delia melangkah hati-hati, usia kandungannya sudah mau masuk empat bulan, tapi Delia masih waspada terhadap apapun. Kaisar masih terpaku, belum merespon apapun.
"Nyonya, ini pesanannya!" ucap si bibi di balik pintu.
"Masuk, BI!" Delia berteriak karena dia sedang berusaha membuat sang Suaminya bicara.
Pintu terbuka, Si bibi menaruh pesanan Delia di meja, lalu melihat ke arah Tuannya, "Tuan kenapa, Nyonya?" Delia melirik sekilas, lalu menggeleng pelan.
"Saya masih berusaha bertanya, tapi Tuanmu masih diam dari tadi." tiba-tiba Kaisar memeluk Delia, menangis sedih dalam pelukannya. "Mamah, Kaisar kangen, Mah! Hiks hiks!" Delia terkejut, si bibi ikutan sedih melihat Kaisar yang kini tersedu sedan. "Tuan pasti ingat dengan Ndoro Putri almarhum!" si bibi lalu pergi ke luar kamar. Menangis juga.
__ADS_1
"Sayang, kamu kenapa?" Delia bertanya lagi.
Namun Kaisar hanya tersedu, masih memeluk Delia dengan erat, Delia akhirnya menyerah, hanya mengelus punggung suaminya, memberikan ketenangan bagi Kaisar.
"Sayang, aku suapin, ya? Kamu pasti sudah lapar!" Kaisar menatap Delia sesaat, lalu mengangguk, memberikan kesempatan kepada Delia untuk mengambil makanan di atas meja, Delia kemudian menyuapi Kaisar dengan penuh kesabaran, Kaisar masih juga terdiam.
Setelah selesai makan, Kaisar langsung tidur, Delia tidak tega membiarkan Suaminya hanya menderita sendiri tanpa bisa berbuat apa-apa. Delia lalu turun ke bawah. mencari Pak Burhan. Ingin mengetahui lebih detail apa sebenarnya yang terjadi.
"Katakanlah, apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa Tuanmu, sampai sekarang masih seperti orang linglung?" Delia duduk di sofa, Pak Burhan masih berdiri, tidak berani duduk, karena belum disuruh oleh majikannya.
"Duduklah!" perintah Delia. Pak Burhan lalu duduk di depan Delia. "Ceritakan, apa saja yang terjadi di kuburan tadi?" ulang Delia masih dengan mimik wajah yang sama.
Delia tampak diam, mencoba meresapi apa yang di sampaikan oleh supir suaminya. "Ya sudah, Pak Burhan boleh istirahat lagi. Maaf sudah mengganggu!" Delia lalu kembali ke kamarnya, ingin melihat keadaan suaminya.
"Sebenarnya, siapa yang kamu temui di sana? Sehingga membuat kamu begini syock?" Delia bermonolog, sambil memegang tangan Kaisar yang masih menggigil.
"Badanmu juga panas, Mas! Apa kita perlu ke rumah sakit?" Delia bertanya kepada Kaisar, tetapi Kaisar malah membaringkan tubuhnya kembali. Menutup matanya.
"Baiklah, kau istirahatlah! Aku akan menemanimu!" Delia lalu berbaring di samping suaminya. Mereka tidur siang bersama. Ini pertama kalinya, Kaisar tidur dalam pelukan Delia. Biasanya Kaisar yang memeluk Delia kalau mereka tidur bersama. Mereka tidur sampai Maghrib tiba.
"Sayang, ayo kita bangun! Sholat ashar dulu, kita tidur kebablasan ini!" Delia membangunkan suaminya, tapi Kaisar masih diam, tampak bulir keringat di dahinya.
__ADS_1
Delia langsung pergi ke kamar mandi, mandi sore lalu sholat ashar yang tadi kelewat gara-gara tidur. Kaisar masih lelap, Delia jadi tambah khawatir. Kaisar bahkan menangis dalam tidurnya. Delia menatap suaminya dengan sendu. Mengelap keringat di dahinya.
"Aku ambil kompres dan obat turun panas dulu," Delia kemudian turun dari ranjang, tapi tangan Delia di tarik suaminya, "Tolong, jangan tinggalkan aku sendiri! Aku takut!" mata Kaisar tetutup tapi memegang tangan Delia dengan kuat, seakan-akan takut Delia pergi meninggalkan dirinya untuk selamanya.
"Sayang, aku gak pergi lama-lama, cuma mau turun ke bawah, ambil compres dan obat buat kamu!" Delia berusaha membujuk suaminya, tetapi Kaisar sekarang malah memeluk pinggang Delia.
Fix, Delia tidak bisa pergi kemanapun. Kaisar tampaknya sangat menderita saat ini. Delia bisa melihat suaminya yang biasanya kuat, tegas dan arogan, kini tampak begitu lemah, lesu dan hilang semangat hidupnya.
"Entah apa yang sudah kamu hadapi, sehingga membuat kamu jadi begini." monolog Delia.
Delia jadinya cuma duduk, mengelus punggung suaminya, sesekali, Kaisar menangis dalam tidurnya. Mengigau Mamahnya yang sudah meninggal, menyebutkan sesuatu yang Delia tidak paham, karena suaranya lebih seperti ke bergumam, tapi tidak jelas begitu.
"Cepat sembuh, sayang! Kalau besok kamu masih kayak gini. Aku terpaksa membawa kamu ke rumah sakit. Aku khawatir dengan kamu, sayang!" Delia mencium kening Suaminya yang masih berkeringat dingin.
"Apapun yang sudah kamu lewati, percayalah! Aku pasti akan selalu bersama kamu. Jangan takut lagi, sayang!" Delia berbisik di telinga Suaminya.
Delia membaca alfatihah, Al Falaq, Annas, Al-Ikhlas, di telinga Kaisar, berharap ayat-ayat suci Alquran bisa menyadarkan suaminya yang seperti terbetot semangat hidupnya ke dimensi yang berbeda.
"Selama setengah jam, Delia membacakan ayat-ayat suci Al-Quran di telinga suaminya. Sampai adzan Maghrib berkumandang. Kaisar sudah mulai membaik.
Kaisar membuka matanya, lalu memeluk istrinya dengan erat, " Jangan pernah meninggalkan aku! Aku mohon!" Delia merasa bahagia, melihat suaminya sudah mau bicara, walaupun masih serak, sepertinya suaminya baru melakukan hal yang sangat melelahkan.
__ADS_1