Terpaksa Menikah Dengan Om Om Tampan

Terpaksa Menikah Dengan Om Om Tampan
123. Memutuskan


__ADS_3

Kyoto langsung bangkit dari tidurnya dan dia menatap foto yang ada di hadapannya yaitu foto dirinya bersama dengan Akira.


" Kak Apa maksud dari mimpi itu Apakah benar kalau kau mencintaiku untuk menikah dengan Takeshi laki-laki yang kau cintai?" hati Kyoto saat ini benar-benar sangat gampang karena memikirkan apa yang dikatakan kakaknya di dalam mimpi.


"Aku akan mencari mama dan mencoba untuk berdiskusi tentang ini!" Kyoto kemudian menggunakan jubah tidurnya untuk menutupi lingeri yang digunakan untuk tidur.


Kyoto kemudian langsung keluar dari kamarnya dan mencari ibunya yang tampak sedang menonton televisi bersama ayahnya.


" Mah, Pah! Apa bisa Kyoto bicara dengan kalian?" dengan wajah mengantuknya sambil terus menguap di depan kedua orang tuanya.


" Kamu itu kalau mengantuk tidurlah sana!! Nanti kalau kau sudah tidak mengantuk lagi baru kita bicara!" ucap ayahnya Kyoto sambil menyuruh putrinya untuk kembali tidur.


Kyoto mengerucutkan bibirnya dengan kesal. Ketika dia mendengarkan perintah dari ayahnya. "Tapi Kyoto ingin bicara dengan kalian dan ini sangat penting. Kalau ditunda nanti aku lupa!" ucap Kyoto sambil menguap lagi membuat ibunya merasa jengah melihat kelakuan putrinya yang luar biasa dan ajaib.


" Kamu ini sudah mau menikah juga kelakuan tidak juga diperbaiki!" ucap ibunya Kyoto sambil memukul lengan putrinya yang masih saja menguap dan tampak ngantuk ngantuk.


" Udah sana ke kamar! Jangan memaksakan diri untuk bicara dengan kami. Kami juga tidak akan kemana-mana kok!" ucap ayahnya Kyoto mengusir putrinya karena dia merasa terganggu dengan kehadiran putrinya yang tidak punya sopan santun.


" Nanti kalau kau sudah punya suami. Jangan melakukan itu di depan suamimu maupun di depan mertuamu itu benar-benar tidak sopan!" tegur ibunya Kyoto sambil mengelus kepala putrinya dengan penuh kasih sayang.


" Kalau begitu. Biarkan Kyoto tidur di sini barang 10 menit. Semoga setelah bangun Kyoto tidak akan melupakan apa yang akan Kyoto bicarakan hari ini dengan Papa dan Mama!" ucap Kyoto kemudian dia pun membaringkan tubuhnya di sofa dengan berbantalkan paha ibunya.

__ADS_1


" Kyoto sana pindah ke kamar. Jangan tidur di sini. Nanti sofanya kotor karena iler kamu!" gocap ayahnya Kyoto dengan menatap tajam kepada putrinya yang sudah mulai tertidur pulas di pangkuan istrinya.


"Sudah Pah! Biarkan saja. Toh tidak setiap hari Kyoto melakukan ini terhadap mama. Mama seperti ini malah jadi ingat ketika Kyoto masih kecil dan selalu manja terhadap mama. Bukankah dulu Kyoto memiliki hobi seperti ini juga? Dia selalu tidur di pangkuan mama dan mengganggu kita untuk menonton televisi!" ucap ibunya Kyoto terkekeh sambil terus mengusap pucuk rambut kepala Kyoto yang begitu halus dan lembut.


" Mama selalu memanjakan Kyoto makanya dia selalu seperti itu. Tidak dewasa-dewasa. Dia Ini sudah mau menikah Mah! Kita harus bisa melepaskan dia untuk bisa hidup mandiri tanpa bantuan kita!" ucaa yahnya Kyoto memberikan nasihat kepada istrinya.


" Tidak apa-apa Pah. Anak kita juga kan hanya tinggal Kyoto. Apalagi sebentar lagi dia akan menikah dan pasti akan meninggalkan kita di sini. Kita akan kesepian Pah tanpa anak-anak bersama kita!" ucap istrinya sambil menatap suaminya yang masih fokus dengan televisi.


" Setiap anak perempuan kalau sudah dewasa pasti akan meninggalkan orang tuanya dan mengabdikan hidupnya kepada suami dan juga keluarganya!" ucap ayahnya Kyoto melirik sekilas kepada istrinya yang masih mengelus rambut Kyoto dengan penuh kasih sayang.


" Iya Pah mama mengerti!" ucap ibunya Kyoto sambil tersenyum kepada suaminya kemudian dia pun membangunkan Kyoto yang sudah tidur lebih dari 30 menit.


"Kyoto bangun! Papa dan Mama akan pergi ke restoran untuk makan malam di luar. Kalau kau tidak bangun juga, kami pasti akan meninggalkanmu dan membiarkanmu kelaparan di rumah!" ucap ayahnya Kyoto dengan suara keras sehingga membuat Kyoto langsung terpelanjat.


" Papa nggak usah kayak gitu deh! Kyotokan juga lapar ingin makan!" protes Kyoto sambil memanyunkan bibirnya kepada sang ayah yang tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi putrinya yang sangat lucu.


"Dari dulu yang mengenalmu luar dalam memang hanya Papamu!" ucap ibunya Kyoto sambil tersenyum ke arah putrinya yang masih tampak kebingungan dengan apa yang diucapkan ibunya.


" Jangan katakan sama Kyoto kalau Papa menipu Kyoto hanya untuk membuat Kyoto bangun!" ucap Kyoto misuh-misuh kepada ayahnya dan langsung memeluk tubuh ibunya dengan erat.


" Cepatlah bercerita. Kau tadi datang kemari ingin menceritakan apa?" tanya ibunya Kyoto sambil mencubit hidung putrinya yang tampak begitu menggemaskan baginya.

__ADS_1


" Oh iya hampir saja Kyoto lupa!" ucap Kyoto sambil menepuk keningnya.


" Memangnya kau mau menceritakan apa begitu serius!" ucap ayahnya Kyoto sambil mencibirkan bibirnya kepada putrinya yang sekarang menatapnya dengan tidak senang.


" Itu Mah, tadi waktu Kyoto tidur. Kyoto bermimpi bertemu dengan Kak Akira!" ucap Kyoto sambil memegang tangan ibunya dengan erat.


Tampak kedua orang tuanya terkejut mendengarkan cerita Kyoto. Mengenai bermimpi bertemu dengan Akira. Putri pertama mereka yang meninggal karena kanker otak.


" Apa kau serius Kyoto? Kau bermimpi apa bertemu dengan kakakmu?" tanya ibunya Kyoto sambil mengelus rambut putrinya yang saat ini sedang berada di dalam pelukannya.


" Kak Akira meminta untuk Kyoto menikah dengan Takeshi. Kak Akira juga mengatakan agar Kyoto berusaha untuk membahagiakan Takeshi. Kak Akira ingin agar Kyoto mau menggantikannya untuk memberikan kebahagiaan kepada laki-laki yang sangat dia cintai. Kak Akira menyesal karena saat dia hidup dia yang sudah membuat Takeshi menderita. Karena meninggalkan Takeshi tanpa pesan dan berita!" ucap Kyoto dengan wajah serius yang membuat kedua orang tuanya percaya dengan apa yang dikatakannya.


Bagaimanapun kedua orang tuanya mengenal siapa itu Kyoto Sebenarnya dia dia tidak akan mungkin bercanda dengan hal seserius itu.


" Lalu bagaimana dengan keputusanmu Apakah kau akan menerima rencana pernikahan yang sudah kami persiapkan untukmu dan Takeshi?" tanya ayahnya Kyoto sambil menatap tajam kepada putrinya yang tampak masih sedang merenung dan berpikir keras untuk jalan hidupnya di masa depan.


" Kyoto sudah memutuskan Pah. Kyoto akan berusaha untuk menerima rencana pernikahan ini. Semoga ini adalah jalan yang terbaik untuk kita semua. Agar bisa memperbaiki apa yang sudah dilakukan Kak Akira di masa lalu kepada Takeshi!" ucap Kyoto sambil tersenyum kepada kedua orang tuanya dengan penuh kemantapan.


" Syukurlah kalau begitu. Kami merasa bahagia dengan keputusanmu ini Kyoto dan kami akan mendukung apapun yang kau lakukan!" ucap ayahnya Kyoto dengan penuh rasa bangga terhadap putrinya yang akhirnya bisa bertanggung jawab dengan hidupnya sendiri.


" Kami bangga akhirnya kamu bisa menjadi dewasa Kyoto!" puji ibunya sambil mencium kening putri tercintanya.

__ADS_1


__ADS_2