
Ibunya Stella masuk ke kamar putrinya, berusaha untuk membangunkan Stella. Tetapi Stella belum juga mau bangun.
"Ini anak kalau tidur. Udah seperti kebo! Susah sekali dibangunkan!" ibunya Stella sudah sangat kesal karena sudah hampir setengah jam dia membangunkan Stella tetapi putrinya tetap tidak bergeming.
"Bangun atau tidak atau mama banjur kamu pakai air!" teriak ibunya Stella sangking kesalnya dan jengkelnya dengan putrinya.
"Mama kenapa sih pagi-pagi sudah ribut? Apa mama tahu, tadi malam jam berapa saya tidur?" ucap Stella sambil menutup wajahnya dengan bantal.
"Bangun cepat! Langit sudah tinggi anak gadis bermalas-malasan di pagi hari?" ibunya Stella mengkeplak pantat anaknya saking kesalnya melihat kelakuan anaknya yang sangat susah di bangunkan.
"Cepat bangun! Kau kira mama mau tidak ada kerjaan selain mengurus kamu sendiri?" ibunya Stella kembali berteriak di telinga sang putri yang masih tidak mau bergeming.
Ibunya Stella kemudian menarik selimut putrinya dan kemudian menarik Stella untuk segera bangun tidur.
"Mah, tadi malam tuh Stella tidur jam 05.00 pagi! Setelah Stella mengikuti Kaisar yang menemui Delia. Apa Mama tahu? Kalau mereka sudah perbaikan dan rencananya mereka akan tinggal bersama lagi di mansion milik Kaisar?" ucap Stella sambil duduk di dasbor ranjangnya tampak dia kesal sekali.
"Masa?" tanya ibunya Stella seakan tidak percaya dengan informasi yang diberikan oleh putrinya.
"Benar Mah! Makanya Stella kesal sekali. Pulang-pulang tidak bisa tidur dan baru juga tidur mama sudah ganggu!" ucap Stella sambil mengerucutkan bibirnya sangking kesalnya dia dengan ke bahagiaan Delia saat ini bersama suaminya.
"Ternyata rencana kita gagal lagi, ya?" tania ibunya Stella kepada putrinya.
"Tetapi Stella tidak akan menyerah untuk bisa mendapatkan Kaisar. Dia itu jackpot dalam hidup kita, Mah!" ucap Stella dengan wajah berbinar.
"Sepertinya akan sangat sulit untuk mendapatkan Kaisar. Kenapa kau tidak cari Farel saja? Bukankah dulu kalian hampir menikah?" tanya ibunya Stella kepada putrinya yang malah cemberut.
__ADS_1
"Ya ampun Mama! Pria kikir dan pelit seperti dia, bukan levelnya Stella ya!" Stella benar-benar kesal sepertinya dengan orang bernama Farel.
Sepertinya Stella lupa bahwa dulu pun dia menggebu-gebu ketika menginginkan Farel dari tangan Delia.
Tampaknya Stella ini mempunyai penyakit, dia tidak senang melihat kebahagiaan Delia Oleh karena itu dia selalu berambisi untuk merebut apapun yang dimiliki oleh Delia.
"Sudahlah! Ayo cepat kau mandi dulu. Setelah itu kita akan mendatangi kediaman Kaisar dan Delia!" ucap ibunya Stella dengan mata berbinar-binar.
"Apalagi yang direncanakan oleh Mama? Cepat katakan dulu pada Stella. Baru aku akan memutuskan. Apakah aku akan mengikuti atau tidak!" ucap Stella menjadi bersemangat ketika melihat ibunya mempunyai rencana baru untuk memisahkan Kaisar dan Delia, kita yang selama ini selalu membuat dia iri dengki.
"Apalagi yang kalian rencanakan? Ini masih pagi dan kalian ingin menjadi orang jahat?" tiba-tiba ayahnya Stella sudah ada di antara mereka dan menginsterupsi semua pembicaraan mereka berdua.
"Papa apa-apaan sih? Begitu banget! Sama kita berdua, jahat terus mikirnya sama kita berdua, datang-datang main fitnah-fitnah!" Stella sambil berdiri di samping ibunya. Dia paling takut terhadap ayahnya.
"Aku sebagai seorang suami dan seorang ayah sungguh gagal dalam mendidik mereka berdua!" ucap ayahnya Stella penuh dengan penyesalan.
Tampak bening-bening kristal membanjiri ke pipinya yang sudah mulai keriput ditelan usia.
"Delia, walaupun kau bukan putri kandungku, tetapi papa selalu berdoa untuk kebaikanmu dan keluargamu. Papa tahu selama kamu berada di sini Papa tidak menjadi orang tua yang baik untukmu!" ayahnya Stella kemudian pergi menuju ke ruang kerjanya.
Ayahnya Stella tampak bekerja dengan sangat serius membaca file-file yang saat ini ada di hadapannya.
"Perusahaan ini sudah atas nama Delia! Kaisar memberikan perusahaan ini kepada istrinya. Aku harus mengembalikan kepada Delia dan tidak boleh menguasai barang yang bukan milikku!" ucap ayahnya setelah sambil menutup file yang saat ini dia pegang.
"Jangan pernah Papa untuk berfikir akan memberikan perusahaan kita kepada Delia!" tiba-tiba istrinya sudah berada di dalam ruang kerja itu dan langsung merebut file yang ada di tangan suaminya.
__ADS_1
"Serahkan file itu Mah. Itu bukan hak kita. Perusahaan itu memang sudah diberikan oleh Kaisar untuk istrinya. Papa pasti akan mengembalikannya kepada Delia!" ayahnya Stella bersikeras untuk mempertahankan file yang ada di tangan istrinya.
Istrinya pun bersikeras untuk menahan file itu di tangannya. Sehingga tanpa sengaja, ibunya Stella akhirnya mendorong ayahnya Stella hingga terjatuh dan membentur meja kerja dan banyak keluar darah dari dahinya.
Darah segar keluar di dahi suaminya. Tapi ibunya Stella sama sekali tidak ingin untuk menolong suaminya sendiri. Dia malah langsung pergi dan meninggalkan suaminya yang sudah tidak sadarkan diri.
"Dasar suami tidak berguna! Seenaknya saja memberikan perusahaan ini kepada Delia. Kurang ajar! Biar saja dia mati di dalam sana, aku tidak peduli dengannya!" ucap ibunya Stella sambil terus meninggalkan ruang kerja suaminya tanpa memperdulikan keadaan suaminya saat ini.
"Kenapa Mah? Masih pagi sudah cemberut seperti itu?" tanya Stella kepada mamanya, ketika dia turun dari lantai atas. Dari kamarnya.
"Mama kesal sama papamu! Dia berniat untuk memberikan Perusahaan kita kepada Delia! Papamu berencana membuat kita jadi orang miskin!" ucap ibunya Stella dengan mata yang penuh berapi-api.
Stella mendekati ibunya. Kemudian dia pun melihat file yang dipegang oleh ibunya.
"Apakah file itu yang berkaitan dengan perusahaan kita?" tanya Stella sambil memegang file yang ada di tangan ibunya.
"Perusahaan ini awalnya memang milik kita. Tetapi gara-gara hampir bangkrut akhirnya mendapatkan investasi dari Kaisar dan Kaisar telah mengganti nama pemilik perusahaan kita menjadi milik Delia dan papamu berencana mengembalikannya kepada Delia!" ucap ibunya Stella dengan penuh kekesalan.
"Lalu di mana Papa sekarang mah?" tanya Stella kepada ibunya.
"Mungkin sudah mati di ruang kerjanya! Tadi Mama lihat kepalanya terbentur dengan meja kerja miliknya. Banyak darah yang keluar di kepalanya!" ucap ibunya Stella seperti tidak memiliki perasaan sama sekali terhadap suaminya.
Stella langsung berlari menuju ruang kerja ayahnya dan dia langsung berteriak memanggil ibunya untuk menolong ayahnya yang masih pingsan.
"Kenapa Mama jahat sekali? Papa sedang sekarat, Mama di sini malah enak-enakan cepat kita bantu Papa mah!" Stella berteriak kepada ibunya. Dia sudah panik melihat ayahnya telah mengeluarkan darah begitu banyak. ibunya Stella dengan malas-malasan akhirnya membantu Stella untuk membawa Suaminya ke rumah sakit.
__ADS_1