
Zahra dan Satria menemui Delia setelah selesai makan siang. Dengan di antarkan oleh pembantu yang bekerja di kediaman Kaisar.
" Silakan Tuan dan Nyonya Ini adalah kamar Nyonya Delia beliau sedang beristirahat!" ucapnya kemudian dia mengetuk pintu Kamar Delia.
" Masuk gak di kunci!" ucap Delia lemah.
" Maafkan saya Nyonya. Ayah ibu Anda datang untuk menjenguk!" ucapnya.
Delia berusaha untuk bangkit dari tidurnya tapi sangat kesusahan sehingga membuat Zahra langsung mendekati putrinya.
" Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!" ucap Zahra kepada putrinya.
" Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh. Maafkan saya Pah, Mah! Kalian datang. Saya malah dalam keadaan lemah seperti ini dan tidak bisa menyambut kalian!" ucap Delia dengan raut kesedihan.
" Tidak apa-apa sayang. Kami mengerti kok. Memang terkadang bayi itu membawa rupa-rupa kondisi kepada ibunya!" ucap Satria sambil duduk di samping putrinya yang terlihat begitu pucat dan lemas.
" Mah, panggil Om Takeshi. Deka rindu!" ucap Deka kepada Delia.
" Nanti Mama akan menghubungi Om ya? Deka bermain sama kakek dulu!" ucap Delia sambil mengelus rambut Deka.
" Kaisar paling tidak senang kalau Takeshi datang kemari. Kalau Papa dan Mama tidak keberatan. Apakah bisa mengajak Deka untuk mendatangi kediaman Yamada? Kasihan Deka pasti merindukan Om, kakek dan neneknya!" ucap Delia.
" Suruh saja mereka yang datang kemari sayang. Kedua orang tuamu pasti lelah setelah melakukan perjalanan yang panjang. Aku gak apa-apa kalau harus menerima mereka di rumah kita. Asalkan Deka senang!" tiba-tiba saja Kaisar sudah berada di dalam kamar itu dan menginterupsi kata-kata Delia.
" Apa Kau sungguh-sungguh membiarkan keluargamu untuk datang ke kediaman kita?" tanya Delia dengan senyum bahagianya.
" Yah sayanv. Teleponlah Takeshi untuk datang kemari. Kasihan Deka pasti dia sangat merindukan Omnya!" ucap Kaisar sambil mencium punyanya yang sangat manja.
" Papa sebentar lagi Om Takeshi akan menikah dengan tante Kyoto!" ucap Deka.
Kaisar terkejut ketika mendengarkan kabar itu dari putranya.
" Sewaktu di Amarrika, setiap hari Takeshi selalu menelpon Deka jadi tidak heran kalau dia menyayangi Omnya itu!" ucap Zahra menjelaskan kebingungan Kaisar.
" Maafkan aku sayang. Aku yang sudah memberikan nomor papa dan mama pada Takeshi karena dia memintanya ingin menelepon Deka!" ucap Delia merasa tidak enak kepada suaminya.
" Sudahlah tidak apa-apa sayang. Toh mereka juga sudah lama tidak pernah membuat masalah dengan keluarga kita. Kalau memang Takeshi menyayangi Deka tidak masalah. Itu lebih bagus bukan? Kalau kita menambah orang yang menyayangi Deka daripada orang yang membencinya!" ucap Kaisar mengulas senyum kepada Delia.
" Alhamdulillah sayang. Kalau kau sudah mulai bisa membuka pikiranmu dan sudah bisa memaafkan keluargamu!" ucap Delia.
__ADS_1
" Deka sayang! Xepat kau telepon Om Takeshi dan minta kepada Om dan kakek untuk datang kemari. Supaya bisa bertemu dengan kakek dan nenek dari Amerika!" ucap Delia memberikan perintah kepada Deka untuk menghubungi Om tersayangnya.
" Biar mama saja yang menghubungi Takeshi kebetulan Deka kalau menghubungi Takeshi selalu menggunakan nomor mama!" ucap Zahra pelan. Kemudian dia langsung mencari nomor telepon Takeshi yang tersimpan di dalam ponselnya.
" Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Apakah saya bisa bicara dengan Takeshi?" tanya Zahra kepada seseorang yang menjawab telepon Takeshi.
" Maafkan saya Takeshi sedang tidur saya berbicara dengan siapa ya?" tanya Kyoto yang kebetulan sedang berkunjung di apartemen Takeshi.
" Nama saya Zahra saya adalah nenek dari Deka Yamada, keponakan dari Takeshi!" ucap Zahra sambil menatap kepada Delia yang saat ini sedang menetap kepada Kaisar.
Tampak Kyoto berpikir keras sebelum dia menjawab.
' Deka Yamada? Bukankah itu adalah nama anak dari Kaisar dan Delia? Apakah itu artinya perempuan yang saat ini sedang berbicara denganku adalah besan dari keluarga Yamada?' batin Kyoto.
" Halo apakah Anda masih di situ?" tanya Zahra.
" Ya, bisa anda sampaikan kepada saya kebutuhan anda menelpon Takeshi? Nanti saya akan sampaikan kepada Takeshi kalau dia sudah bangun!" ucap Kyoto.
" Deka merindukan Omnya. Jadi Kaisar meminta kepada Takeshi untuk datang kemari untuk bertemu dengan Deka. Karena saat ini Delia sedang sakit!" ucap Zahra kepada Kyoto yang nampak begitu sumringah ketika mendengarkan nama Kaisar disebutkan oleh Zahra.
" Siapa yang menelpon kenapa aku seperti mendengar Deka disebutkan di dalamnya?" Kyoto terkejut ketika mendengarkan Takeshi tiba-tiba berbicara dan sudah duduk di kasur.
" Maaf tante saya tadi sangat lelah. Sehingga tertidur. Ada perlu apa Tante menelpon saya?" tanya Takeshi sambil menatap kepada Kyoto dan memberikan kode agar Kyoto meninggalkannya di dalam kamar.
Tetapi Kyoto yang saat ini sedang penasaran karena tadi mendengar Zahra berbicara tentang Kaisar. Dia pun tetap diam di sana dan mendengarkan percakapan antara Zahra dan Takeshi.
" Pergilah ambilkan makanan untukku Aku lapar!" usir Takeshi sambil meminta Kyoto untuk mengambilkan makanan untuknya.
" Dasar pelit!" ucap Kyoto misuh-misuh sambil memeletkan lidahnya kepada Takeshi yang langsung menghadiahkan kepalan tangan dan mata melotot.
' Aku tahu pasti kau ingin mendengarkan kabar tentang Kaisar makanya kau tidak mau beranjak dari sini!' bathin Takeshi.
" Makananmu mau aku bawa ke kamar atau kau mau makan di sini?" tanya Kyoto dari arah dapur.
Takeshi hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Kyoto yang luar biasa ajaib.
" Benar kata Mama. Kalau Kyoto itu adalah ladang pahala untukku. Karena aku harus menyediakan stok sabar yang luar biasa banyaknya untuk menghadapinya" Ucap Takeshi sambil menutup panggilan telepon setelah dirinya berpamitan kepada Zahra dan berjanji akan segera datang ke kediaman Kaisar bersama kedua orang tuanya.
Takeshi menemui Kyoto yang sedang sibuk dapur membuatkan makanan khas Jepang yaitu sushi kesukaan Takeshi.
__ADS_1
Kyoto yang memang asli Jepang Tentu saja dia mahir membuat makanan itu.
" Tidak kusangka di balik penampilan Barbar mu, kau masih juga seorang perempuan!" Ucapkan kasih sambil mengacak rambut Kyoto yang masih sibuk dengan sushinya.
" Memangnya kau pikir aku tuh banci yang menyamar jadi perempuan? Bener-bener luar biasa ya isi pikiran kamu, Hmmmm!" ucap Kyoto sambil mengarahkan Pisau ke kepala karena gemes melihat kelakuan calon suaminya yang selalu menggodanya.
" Aku tidak memikirkan apa-apa kok. Aku hanya merasa senang dan bangga karena menjadi orang yang berhasil dan akan selalu mencicipi masakanmu!" ucap Takeshi sambil mengambil satu potong sushi yang sudah jadi yang sudah diletakkan di atas piring oleh Kyoto dan siap untuk disajikan.
" Bagaimana apakah enak?" tanya Kyoto penasaran ketika melihat Takeshi hanya diam saja setelah memakan Sushi buatannya.
" Hmmmmm!" Takeshi tampak kesulitan bicara ketika dia melihat Kyoto yang menatapnya dengan penuh pengharapan.
" Katakan kepadaku, apa enak atau tidak?" tanya Kyoto ketika tak kasih hendak mengambil lagi Sushi yang ada di atas piring.
" Berikan padaku! Aku benar-benar sangat lapar. Bukankah kaumembuat itu untukku? Lalu kenapa kau menghalangiku untuk memakannya?" tanya Takeshi protes.
" Makanya katakan dulu enak atau tidak?" tanya Kyoto sambil mengangkat tinggi piring berisi Sushi tersebut.
Siapa yang mengira bukannya mengambil Sushi yang ada di atas kepalanya. Takeshi malah langsung mencium bibir Kyoto yang saat ini sedang tidak mampu untuk menghindar. Karena kedua tangannya berada di atas kepalanya sambil memegang piring yang penuh berisi sushi.
Takeshi terus mencium bibir tunangannya dengan lembut dan intents. Kyoto sejenak terdiam dan tetap mengangkat piring di atas kepala nya. Saat Kyoto dalam keadaan tengah, Takeshi langsung melepaskan ciumannya dan mengambil piring dari tangan Kyoto yang masih linglung gara-gara dapat ciuman tiba-tiba dari Takeshi.
Saat Kyoto sadar bahwa sushi ditangannya sudah tidak ada lagi karena di ambil semua oleh Takeshi. Dia pun langsung mengejar Takeshi yang sudah berlari ke dalam kamarnya dan sedang menikmati Susi buatannya.
" Kau selalu saja menggunakan cara curang untuk melawanku benar-benar tidak sportif!" ucap Kyoto sambil duduk di sebelah Takeshi dan mulai makan Sushi buatannya.
" Bagaimana menurutmu? Apakah Sushi buatanmu enak?" tanya Takeshi sambil menatap horor kepada Kyoto yang terlihat sedang mengunyah Sushi buatannya.
" OMG!" Kyoto langsung memuntahkan sushi yang ada di dalam mulutnya.
"Aih, kayanya aku salah memasukkan sesuatu!" ucap Kyoto sambil berkumur di wastafel yang ada di dalam kamar mandi Takeshi.
" Udah buang aja. Ayo kita ke tempatnya Deka saja dan kita membeli makanan di jalan!" ucap Kyoto sambil menarik tangan Takeshi.
" Tidak mau! Aku mau menghabiskan makanan ini. Sayang kan? Kau sudah bekerja keras untuk membuatnya untukku. Kalau dibuang begitu saja aku akan sedih!" Ucap Takeshi sambil terus menyantap Sushi buatan Kyoto yang terasa aneh di lidah Kyoto.
Kyoto merasa terharu dengan apa yang dikatakan oleh Takeshi mengenai masakan yang dia buat.
' Aku berjanji kepadamu Takeshi. Aku akan belajar lebih giat lagi untuk membuat makanan yang enak. Agar aku bisa jadi koki yang handal bagimu dan bisa membuatmu dan anak-anak kita merasa senang ketika menikmati masakanku. Ketika kita sudah menikah nanti!' janji Kyoto dengan khidmat di dalam hatinya.
__ADS_1