Terpaksa Menikah Dengan Om Om Tampan

Terpaksa Menikah Dengan Om Om Tampan
49. Anak Bandel


__ADS_3

Setelah berhasil melarikan diri dari rumahnya, kyoto langsung bergegas pergi ke tempat sahabatnya untuk minta tolong agar membantu kepergiannya ke Indonesia.


"Tolonglah aku, Akeno!" Kyoto berusaha meyakinkan sahabatnya, agar mau membantunya pergi ke Indonesia.


"Kalau Ayahmu tahu aku membantumu pergi ke Indonesia, bisa habis keluargaku gara-gara dia. Kenapa kau tidak merasa kasihan kepadaku?" Ucapkan dengan frustasi.


"Hanya kau yang bisa membantuku Akeno! Ayolah, tolonglah aku!" pinta Kyoto sekali lagi.


"Apa dokumen-dokumenmu sudah siap? Kalau sudah siap, mungkin aku bisa mengusahakannya!" janji Akeno pada akhirnya. Dia memang selalu lemah terhadap Kyoto. Karena hanya dia sahabatnya sejak kecil.


"Ah kau memang hebat, Akeno! Aku memang tidak salah mengandalkan kamu!" Kyoto merasa bahagia sekali. Akhirnya keinginannya untuk pergi ke Indonesia akan segera menjadi kenyataan.


"Nanti kau akan ikut dengan kapal pengantar barang milik keluargaku. Di sana kau akan bekerja sebagai seorang juru masak. Kamu harus ingat, Kyoto! Kamu jangan buat masalah di sana! Jangan sampai nanti keluargaku yang kena imbasnya." ucap Akeno dengan wajah seriusnya.


"Lagian, kenapa kau tidak pergi menggunakan pesawat keluargamu saja? Bukankah itu jauh lebih mudah?" protes Akeno yang merasa keberatan sebenarnya Kyoto ikut bersama kapal pengangkut barang milik keluarganya.


"Aku tidak bisa menggunakannya. Kalau aku nekat menggunakan itu, Ayahku pasti akan langsung mengetahui keberadaanku!" ucap Kyoto lesu.


"Jangan katakan, kalau kau kabur dari rumah lagi. Ah dasar kau, memang anak bandel! Kerjamu cuma menyusahkan kedua orang tuamu saja! Kasihan mereka, pasti sekarang sedang kebingungan mencarimu!" sengit Akeno merasa tidak suka dengan kelakuan sahabatnya kali ini.


"Habisnya mereka mengurungkan seperti seekor ayam. Aku kan seorang manusia memiliki kebebasan dan kemerdekaan!" ucap Kyoto sambil membangunkan tubuhnya di kasur milik Akeno.


"Ah! Kau betul perempuan yang nggak beres! Masa kau seenaknya saja, tidur di ranjang milik seorang laki-laki. Apa kau tidak takut kalau aku memperkosamu?" ucap Akeno sambil menatap tajam ke arah Kyoto, yang tampaknya cuek dan tidak peduli dengan apa yang dia katakan.


"Kyoto!" panggilnya.


"Coba saja kalau kau berani!" tentang Kyoto dengan jadi salah tingkah sendiri.

__ADS_1


"Kau, kau betul-betul keterlaluan! Tidak pernah menghargaiku sebagai sahabatmu!" protes Akeno misuh-misuh.


"Justru karena kau adalah sahabatku. Aku telah mempercayakan seluruh hidupku padamu!" ucap Kyoto santai, sambil mengejamkan matanya dan berusaha untuk tidur. Kyoto hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sahabatnya itu.


"Kalau kau betul mempercayakan seluruh hidupmu padaku, bagaimana kalau kita menikah saja?" tiba-tiba saja Akeno mengatakan hal yang aneh di telinga Kyoto.


"Apakah kau salah makan obat atau bagaimana?" tanya Kyoto masih memejamkan matanya.


"Aku serius! Jangan kau selalu menganggap aku bercanda!" ucap Akeno gugup.


"Aku nggak bisa menikah denganmu. Karena aku sudah punya pilihan hatiku sendiri!" ucap Kyoto kemudian duduk dan mengambil ponsel. Kemudian Kyoto menunjukkan sebuah foto kepada Akeno.


"Lihatlah calon suamiku sangat tampan kan?" ucap Kyoto dengan bangga.


"Owner Kaisar corp? Apakah kau gila? Dia sudah punya istri! Mana dia bisa menjadi calon suamimu? Kyoto! Kau jangan suka mengatakan hal yang aneh-aneh!" sengit Akeno tidak suka dengan lelucon yang dikatakan oleh sahabatnya itu.


"Jawab pertanyaanku! Apakah kau kenal dengan Kaisar?" Kyoto memaksakan untuk mengatakan segalanya.


"Siapa yang tidak mengenal owner dari Kaisar Corporation? Salah satu perusahaan milik keluargaku, ada yang bekerjasama dengan perusahaan miliknya!" ucap Akeno pada akhirnya. Demi mendengar hal tersebut, Kyoto merasa sangat bahagia sekali.


"Masukkan aku ke perusahaan itu! Karena aku ingin agar bisa bertemu dengan Kaisar secara alami!" ucap Kyoto dengan memasang Puppy eyesnya, yang selalu membuat Akeno tidak berkutik.


"Kenapa kau tidak masuk melalui perusahaan ayahmu saja? Perusahaan ayahmu banyak yang bekerja sama dengan Kaisar Corporation!" kesal Akeno dengan permintaan Kyoto yang selalu membuatnya pusing tujuh keliling.


"Ayahku tidak akan mengijinkanku untuk menemui Kaisar. Bisa-bisa aku dikurung di penjara bawah tanah milik keluargaku, dan aku tidak akan bisa keluar dari sana untuk selamanya!" ucap Kyoto bergidig ngeri.


"Berarti Ayahmu masih waras otaknya! Sehingga beliau tidak membiarkan putrinya mengganggu suami orang lain!" sengit Akeno.

__ADS_1


"Ah! Kau sama saja dengan ayah dan ibuku! Menentang keinginanku!" Kyoto tampak kesal.


"Karena kami menyayangimu, Kyoto! Makanya kami mengingatkan agar kau jangan melangkah di jalan yang salah. Yang nantinya malah kau akan kecewa dan menyesalinya!" ucap Akeno, kini menatap lekat ke arah Kyoto.


"Kyoto! Daripada kau mengambil resiko dengan mendekati suami orang lain. Lebih baik kau terima saja lamaranku dan kita menikah. Aku yakin, kedua orang tua kita pasti akan senang. Karena akan semakin menguatkan kerjasama perusahaan keluarga kita!" usul Akeno dengan senyumnya.


"Itu hanya ada dalam mimpimu! Walaupun laki-laki di dunia ini sudah habis semuanya, aku tidak mungkin menikah denganmu! Kau paham tidak?" sengit Kyoto mulai merasa kesal dengan ucapan Akeno.


"Kenapa memangnya kalau kamu menikah denganku?" tanya Akeno keheranan.


"Sejak kecil, aku hanya menganggapmu sebagai sahabatku! Dan aku sudah tahu semua kebusukanmu. Bagaimana mungkin aku bisa menjadi istrimu? Aku ingin menikahi seseorang yang bisa membuat jantungku berdebar-debar kencang!" ucap Kyoto tersenyum sumringah.


Tiba-tiba saja, Akeno mendekati Kyoto dan mengkungkungnya, kemudian, tanpa aba-aba, Akeno langsung mencium bibir Kyoto dengan penuh gairah dan cinta yang membara. Cinta yang selama ini selalu dia tahan dan pendam sendiri, karena tidak mau kehilangan Kyoto.



Kyoto terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Akeno, setelah kesadarannya kembali, Kyoto langsung menampar Akeno. Lalu pergi dari rumah Akeno.


Nafas Kyoto tersengal-sengal, ketika dia keluar dari rumah milik Akeno. Jantungnya masih marathon hingga sekarang.


"Ya Tuhan! Ada apa ini? Kenapa dengan jantungku saat ini?" Kyoto terus memegangi dadanya karena terus berdetak dengan kencang sekali. Kyoto jadi frustasi.


"Kurang ajar Akeno! Dia telah membuat jantungku jadi tidak sehat!" sengitnya dengan kesal, karena perbuatan sahabatnya tadi.


"Wah, aku pergi dari rumahnya begitu saja, dan dia tidak ada inisiatif untuk mengejarku. Sungguh seorang laki-laki yang tidak gentle!" akhirnya, dengan perasaan yang tidak menentu, Kyoto pun pergi dari kediaman Akeno. Kini dia kebingungan akan kemana.


"Bodohnya aku! Kenapa selama ini, aku hanya bersahabat dengan Akeno. Sekarang dalam keadaan seperti ini, aku jadi bingung harus pergi ke mana!" rutuk Kyoto dalam hati.

__ADS_1


Sepanjang hidupnya, memang Kyoto hanya kenal seorang Akeno secara dekat dan privat. Sehingga tak sedikit orang, berpikir bahwa mereka berdua memiliki hubungan yang special, lebih dari sebagai seorang sahabat.


__ADS_2