
Takeshi terkejut ketika melihat sebuah foto besar terpampang di dinding di dekat dashboard ranjang di dalam kamar itu.
"Akira? Bagaimana mungkin dia ada di sini?" Ucap Takeshi dengan penuh kesedihan dan keterkejutan yang ada di hatinya.
"Ya ampun kamu ku cariin di mana-mana ternyata ada di sini? Kamu lagi ngapain di kamar kakakku?" tanya Kyoto kepada Takeshi.
Tubuh Takeshi yang sudah lemas semakin lunglai. Ketika dia mendengar bahwa Akira adalah kakak dari Kyoto. Takeshi sampai menangis dan terus menggelengkan kepalanya seakan menolak kenyataan yang ada di hadapannya. Takeshi mengelus dadanya yang sangat sesak karena begitu terkejut dengan sebuah kenyataan yang sekarang ada di hadapannya.
Kyoto yang melihat Takeshi ambruk di lantai seketika mendekatinya dengan penuh rasa khawatir.
" Kamu kenapa Takeshi? Apakah kamu sakit?" tanya Kyoto sambil memegang tangan Takeshi dan berusaha membantunya untuk bangkit dan mendudukkan tubuh Takeshi di sofa yang ada di dalam kamar Akira.
"Kamu kenapa? Kenapa wajahmu pucat sekali? Apakah kamu sakit?" tanya Kyoto sambil memeriksa kening Takeshi yang terasa sangat dingin di telapak tangannya.
" Ya ampun kamu dingin sekali!" ucap Kyoto merasa khawatir dengan Takeshi yang seperti orang linglung saat ini.
" Apakah benar kalau kau adalah adik dari Akira?" tanya Takeshi kepada Kyoto dengan mata penuh pertanyaan.
" Iya tapi Kak Akira sudah meninggal 5 tahun yang lalu. Memangnya ada apa?" tanya Kyoto merasa bingung dengan ekspresi wajah Takeshi saat ini yang begitu sangat rumit dan tidak bisa dia terka.
" Meninggal? Apa maksudmu meninggal? Ya Tuhan! Tidak mungkin kalau dia sudah meninggal!" ucap Takeshi seperti merasa begitu syock dengan berita yang dia dengar dari Kyoto tentang Akira.
" Iya Kakakku sudah meninggal 5 tahun yang lalu karena penyakit kanker otak." ucap Kyoto menjelaskan tentang kakaknya kepada Takeshi.
" Penyakit kanker otak? Sejak kapan Dia menderita Penyakit itu?" tanya Takeshi sambil mencengkram kedua tangan Kyoto dengan erat dan menatap wajahnya dengan lekat.
" Sekitar 1 tahun sebelum meninggal. Kakakku di vonis menderita penyakit kanker otak oleh Dokter. Dia berjuang selama 1 tahun untuk menyembuhkan penyakitnya. Akan tetapi akhirnya Tuhan berkata lain dan dia meninggal setelah dioperasi. Selama dua hari kakakku berada dalam koma dan akhirnya dinyatakan meninggal oleh tim dokter yang menangani kakakku!" ucap Kyoto dengan mata berkaca-kaca.
Kyoto merasa seakan sedang mengingat kembali masa-masa tersulit keluarga mereka. Saat menghadapi penyakit kakaknya yang begitu berat dan sulit untuk diterima oleh keluarga mereka.
__ADS_1
" Bagaimana mungkin dia punya penyakit separah itu tetapi tidak mengatakan apapun padaku?" ucap Takeshi dengan mata berlinangan air mata.
Takeshi benar-benar Terpukul hatinya mendapatkan kenyataan yang bertubi-tubi seakan menghantam mentalnya sehingga membuatnya tiba-tiba merasa gelap dan sesak di dadanya.
" Apakah kau mengenal kakakku?" tanya Kyoto seperti merasa bingung dengan ekspresi Takeshi saat ini.
" Dia adalah kekasihku saat aku dulu kuliah di Jerman! Dia tiba-tiba saja minta putus dariku di saat aku berniat untuk melamarnya!" ucap Takeshi sambil meraup wajahnya dengan kedua tangannya.
Takeshi seperti mengingat kembali ketika masa-masa di saat dia begitu terpuruk. Ketika tiba-tiba Akira meminta mengakhiri hubungan mereka berdua tanpa menyatakan alasan yang jelas.
" Padahal hubungan kami baik-baik saja dan tidak pernah ada masalah apapun. Tiba-tiba saja suatu hari, ketika aku sudah berniat untuk melamarnya. Dia meminta kami untuk mengakhiri hubungan kami!" ucap Takeshi dengan suara parau.
" Jadi kau adalah laki-laki itu yang sangat dicintai oleh kakakku?" tanya Kyoto dengan menatap tajam kepada Takeshi.
" Apakah kakakmu menceritakan tentang aku?" tanya Takeshi sambil memegang kedua tangan Kyoto dan mengguncangkannya dengan keras karena tidak sabar ingin mendengarkan jawaban darinya.
Takeshi menatap ruangan itu di mana begitu banyak fotonya yang tersimpan dan terpajang di dinding-dinding kamar itu.
Takeshi melihat satu persatu foto yang ada di dalam kamar itu. Seketika hatinya seakan luluh lantak. Ketika mengingat kisah cintanya bersama Akira yang begitu indah dan manis namun berakhir begitu tragis.
" Ya Tuhan! Kenapa ada begitu banyak fotomu di kamar ini? Aku jarang datang ke Mansion ini dan tidak pernah masuk ke dalam kamar kakaku. Dulu mansion ini ditempati oleh kakakku ketika dia mengurus perusahaan ayahku yang ada di Indonesia. Tetapi setelah dia sakit keras, baru dia menempati kediaman utama bersama dengan kedua orang tuaku di Jepang! Dan menjalani perawatan intensif di sana." ucap Kyoto menceritakan kejadian sesungguhnya tentang kehidupan seorang Akira.
Takeshi seakan dihempaskan ke dasar jurang yang tak bertepi ketika dia mendapatkan segala kenyataan tentang wanita yang dulu pernah sangat dia cintai.
"Kenapa dia tidak pernah bercerita tentang penyakitnya? Apakah dia tahu kalau aku begitu menderita karena dia pergi meninggalkanku begitu saja?" Ucap Takeshi dengan berlinangan air mata.
"Karena kakakku tidak mau kalau akan menyusahkanmu atau memaksamu untuk bersamanya hanya karena nyawa dia sedang di ujung tanduk!" ucap Kyoto sambil mengelus tangan Takeshi dengan lembut.
'Ya Tuhan! Jalan nasib seperti apakah ini? Dulu sebelum Kak Akira meninggal, dia memintaku untuk menikah dengan laki-laki yang dia cintai. Kenapa tiba-tiba aku bertemu dengan dia? Apakah memang ini adalah suratan takdirmu Tuhan untuk aku bersama dengan dia, untuk mengabulkan harapan terakhir kakakku sebelum dia meninggal?' batin Kyoto sambil terus menatap tajam kepada Takeshi yang masih begitu rapuh.
__ADS_1
Kyoto begitu terenyuh melihat wajah Takeshi yang biasanya begitu cerah dan ceria. Sikap dan ulahnya yang begitu tengil kelakuannya. Sekarang dia layaknya seperti ayam kecelup yang begitu menyedihkan. Ketika dirinya memandang mata Takeshi yang begitu penuh dengan kesedihan.
" Apa kau tahu? Selama satu tahun lebih. Aku berusaha untuk mencari Akira. Mencari keberadaannya. Karena aku ingin sebuah penjelasan darinya. Tetapi dia hilang seperti ditelan bumi." ucap Takeshi sambil menatap foto besar yang terpampang di hadapannya yang kini sedang tersenyum ke arahnya.
" Aku begitu terluka ketika dia pergi begitu saja dari hidupku. Aku seperti kehilangan arah dan tujuanku. Aku mulai pergi ke diskotik ke Club malam. Demi menjajahi segala hiburan malam yang bisa mengubur rasa sakit hatiku. Karena Akira yang pergi meninggalkanku begitu saja!" ucap Takeshi menceritakan kehidupan kelamnya setelah ditinggalkan oleh Akira secara tiba-tiba.
" Kak Akira juga sangat mencintaimu. Apa kau tahu? Setelah dia pergi meninggalkanmu, hatinya pun hancur sehancur hancurnya. Keadaan fisiknya semakin lemah. Dan dia semakin kehilangan semangat hidupnya untuk berjuang hidup. Hingga akhirnya dia menghembuskan nafas terakhirnya dengan penuh kesedihan dan kerinduan akan dirimu. Lki-laki pertama dan terakhir yang pernah dia cintai seumur hidupnya." ucap Kyoto sedih ketika dia menceritakan masa terakhir Akira sebelum dia meninggal.
Takeshi berusaha untuk menguatkan hatinya dia terus menatap foto Akira sewaktu dia belum menderita penyakit kanker wajah yang begitu cantik dan begitu mempesona.
" Kakakku tidak ingin kamu melihat keadaan dia di saat dia sekarat. Kakakku tidak mau mengekangmu hanya karena dia sakit. Dia tidak mau dibelas kasihani oleh laki-laki yang dia cintai. Dia ingin membebaskanmu untuk bisa menemukan wanita yang sehat dan juga bisa memberikan kebahagiaan untukmu!" ucap Kyoto menjelaskan apa yang dia baca di dalam buku diary kakaknya ketika dia membereskan barang-barang milik kakaknya untuk disumbangkan ke yayasan yang membutuhkan.
" Dari mana kau mengetahui tentang hal itu?" tanya Takeshi seakan tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Kyoto.
Kyoto kemudian beranjak dari tempat duduknya dan pergi menuju sebuah nakas yang ada di samping ranjang yang ada di dalam kamar itu.
" Kau bacalah,di dalam buku ini, menceritakan semua tentangmu!" Kyoto kemudian menyerahkan buku itu kepada Takeshi.
Takeshi menerima buku itu dengan tangan gemetar dibukanya lembar demi lembar secara perlahan.
" Aku akan membawa buku ini bersamaku dan membacanya nanti!" ucap Takeshi sambil menatap kepada Kyoto yang masih mengawasinya hingga saat ini.
" Kyoto! Takeshi! Kalian di mana? Kenapa tidak turun-turun dari tadi?" tiba-tiba saja suara Ibu Kyoto menginstruksi semua keheningan yang berada di dalam ruangan itu.
" Ayo kita turun jangan sampai nanti kedua orang tua kita berpikir yang macam-macam tentang Kita!" ucap Kyoto sambil memapah Takeshi untuk bisa bangkit dan keluar dari kamar almarhum kakaknya.
" Apakah kau bisa merahasiakan tentangku bersama dengan Akira kepada kedua orang tuamu?" tanya Takeshi sambil menatap kepada Kyoto dengan tatapan penuh permohonan.
" Jangan khawatir aku Takeshi. Aku tidak akan menceritakan tentang masa lalumu bersama dengan Kak Akira!" ucap Kyoto pelan sembari mengulas senyum kepada Takeshi.
__ADS_1