
Hari-hari Sofia terasa begitu kesepian, setelah di putuskan oleh Kaisar. Hati yang patah, rasa sakit hati, rasa penyesalan yang tak berujung, membuat Sofia lebih banyak menghabiskan waktunya di bar dan diskotek.
Sofia yang tidak perduli dengan sekitar, sama sekali tidak tahu kalau sudah beberapa malam, Takeshi selalu memperhatikan dirinya. Ya, Takashi sudah jatuh hati dengan Sofia. Anak buahnya yang dia tugaskan untuk menyelidiki Sofia sudah memberikan laporan lengkap kepadanya. Rasa penasaran Takeshi sangat besar akan diri seorang Sofia, yang di matanya begitu sempurna.
Takeshi bahkan masih mengingatnya, malam panas mereka berdua. Sofia Memang mabuk, tapi dirinya sadar 100%, karena malam itu Takeshi sama sekali tidak minum. Takeshi hanya menemani sepupunya yang sedang patah hati. Siapa yang tahu, dirinya malah pulang membawa perempuan secantik Sofia.
"Aku pasti akan bisa menaklukkan wanita sombong itu!" Takeshi sudah bertekad. Demi Sofia, Takeshi bahkan melawan orangtuanya yang menyuruh dirinya segera kembali ke Jepang. Takeshi telah jatuh dalam pesona seorang Sofia.
Karena ingin membereskan masalah dengan Kaisar, Sofia sengaja meninggalkan kuliahnya beberapa bulan, meminta ijin kepada dosennya untuk pulang ke Indonesia, siapa yang tahu, dirinya malah dicampakkan oleh Kaisar, yang sudah jatuh cinta kepada wanita yang dia sewa untuk melahirkan anak mereka.
"Ah, laki-laki memang brengsek!" Raung Sofia dengan emosi tingkat tinggi. Dari kejauhan, Takeshi matanya tidak lepas dari memperhatikan Sofia yang tampak sedang frustasi. Saat melihat Sofia bangkit dari duduknya, bersiap untuk pergi, tubuh Sofia yang sudah limbung karena mabuk, menabrak beberapa meja, hampir kena marah orang yang tanpa sengaja dia tabrak. Dengan sigap, Takeshi langsung menolong Sofia.
Sofia menatap wajahnya, tersenyum seperti orang hilang, ya, wajahnya tersenyum, tapi air mata berlinang di kelopak matanya. Takeshi menjadi heran dan juga iba.
"Kamu mau kemana?" tanya Takeshi, melihat Sofia yang duduk di pinggir jalan sambil melipat kakinya dan menangis sesenggukan di sana. Hati Takeshi merasa sangat kasihan, melihat wanita yang sudah mencuri hatinya selama beberapa hari ini, kini menangis pilu di hadapannya. Penuh dengan kesedihan.
"Kamu mau aku antar kemana? Ayo, jangan menangis di pinggir jalan! Nanti kamu sakit, loh!" mendengar Takeshi yang begitu perhatian, bahkan meminjamkan jasnya untuk menutupi tubuhnya yang kini menggigil kedinginan, Sofia malah menangis dalam pelukan Takeshi.
"Bawa aku pergi kemanapun!" ucap Sofia lirih.
__ADS_1
"Kamu yakin?" tanya Takeshi lagi. Sofia tidak menjawab, dia hanya mengangguk pelan. Tangisannya semakin pilu. Hati Takeshi semakin terpenjara rasanya.
Aroma tubuh Sofia menguar ke hidungnya, mengingatkan malam panas mereka berdua beberapa hari yang lalu. Takeshi menggelengkan kepalanya, mencoba mengusir pikiran kotornya yang sudah traveling kemana-mana.
Ya, Takeshi sudah biasa bermain dengan wanita, baginya kehidupan malam bukan hal yang asing. Tapi, melihat Sofia yang saat ini begitu sedih dan rapuh, mendadak hatinya merasa tidak tega. Ada perasaan ingin melindungi, yang tiba-tiba muncul dalam hati Takeshi.
"Apa kita pergi jalan-jalan saja? Bagaimana pendapat kamu, kalau kita berdua pergi untuk melihat bintang di perbukitan saja? Bagaimana?" usul Takeshi, tapi Sofia malah sudah terlelap, Sofia tampaknya sudah terlalu kelelahan setelah banyak menangis.
Takeshi menatap wajah ayu Sofia. Wajah cantik dengan sejuta kesedihan di sana. Tiba-tiba saja, hati Takeshi berdesir, seperti ribuan kupu-kupu terbang di sana, dengan lembut, Takeshi kemudian mencium bibir Sofia yang masih terlelap. "Kamu sangat cantik, Sofia! Aku tampaknya sudah terpenjara dalam pesonamu!" Takeshi mengelus pipi Sofia yang masih meninggalkan jejak air mata.
Takeshi lalu memutuskan untuk membawa Sofia ke hotel tempat dia menginap selama tinggal di Indonesia. Dengan perlahan, Takeshi membopong tubuh Sofia yang masih terlelap. Takeshi menyelimuti tubuh Sofia, lalu berbaring di samping Sofia. Tubuhnya juga lelah, setelah seharian dirinya bekerja di perusahaan Mamahnya.
Dalam sekejap saja, Takeshi sudah terlelap, masuk ke alam mimpi yang begitu indah. Ya, Takeshi bermimpi sedang naik perahu bersama Sofia. Pemandangan yang indah dan suasana yang romantis, membuat hati Takeshi berdesir hebat, Takeshi benar-benar telah jatuh cinta kepada Sofia. Sofia yang hanya terdiam saja dalam mimpinya, membuat Takeshi jadi semakin penasaran.
"Terimakasih sudah menolong saya tadi malam, tapi saya harus mengejar penerbangan saya hari ini. Jika ada jodoh, kelak kita pasti akan bertemu lagi!" lalu ada tanda bibir di sana, Takashi tersenyum, melihat ciuman yang ditinggalkan oleh Sofia untuk dirinya.
"Sungguh pertemuan yang sangat singkat dan sangat manis!" ujar Takeshi, lalu dia menelpon anak buahnya untuk memeriksa penerbangan saat ini.
"Amsterdam?" tanya Takeshi tampak bingung.
__ADS_1
"Ya, Tuan! 20 menit yang lalu, Non Sofia sudah terbang ke Amsterdam, keluarga dia ada di sana semua!" laporan anak buahnya yang dia tugaskan untuk mencari info tentang Sofia beberapa hari ini.
"Ya sudah, terimakasih atas informasinya. Saya mau mandi dulu. Ok, bye!" Takeshi diam sesaat di tepi ranjang, membaca catatan kecil itu lagi.
"Jika ada jodoh, kelak kita pasti akan bertemu lagi!" ulang Takeshi berkali-kali. Takeshi tiba-tiba tersenyum.
"Ah, aku bisa menyusul dia ke Amsterdam! Bukankah ada restoran milik kakek di sana?" dengan hati penuh kebahagiaan, Takeshi lalu pergi ke kamar mandi. Setelah acara bebersih beres, Takeshi bersiap-siap untuk sarapan di restoran hotel, malas untuk pergi keluar.
Saat dirinya sedang asyik makan, dilihatnya Kaisar yang selama ini selalu menjadi rival perusahaan Mamahnya sedang memesan beberapa makanan untuk sarapan. Ya, restoran tempat sarapan Takeshi saat ini memang sangat terkenal dengan menu sarapan yang sangat enak dan bergizi. Jadi tidak heran kalau Kaisar juga rela mengantri demi sang istri yang merengek-rengek minta dibelikan sarapan di restoran ini.
Takeshi hanya melihat sekilas ke arah Kaisar, tampaknya Kaisar tidak mengingat dirinya, buktinya, Kaisar melewati mejanya begitu saja. Ah, Takeshi tidak tahu, kalau Kaisar sedang buru-buru, sejak tadi Delia sudah menelpon dirinya, sudah tidak sabar ingin makan makanan yang dia pesan.
"Lama banget!" rajut Delia kesal.
"Maaf, sayang! Antriannya panjang, jadi Mas harus sabar!" Kaisar lalu menyiapkan semua makanan yang tadi dia beli di restoran tadi. Delia hanya memperhatikan suaminya yang sangat gesit dan telaten mengurus dirinya.
Sejak pulang dari rumah sakit, Kaisar benar-benar menjaga Delia seperti porselen, yang khawatir jatuh sedikit saja akan pecah. Hati Delia benar-benar sangat bahagia, melihat Kaisar yang begitu memanjakan dirinya, mengutamakan dirinya diatas apapun. Bahkan Kaisar juga rela meninggalkan kekasihnya yang sudah bertahun-tahun bersama dirinya. Hati Delia menghangat sehingga mampu membuat dirinya tersenyum bahagia seharian.
"Sayang, Mas nanti ada rapat penting! Pulang agak malam! Kamu diam di rumah! Jangan kemana-mana, patuh, ya?" ucap Kaisar sambil mengelus pipi Delia pernah dengan kasih sayang, Delia hanya mengangguk dan tersenyum.
__ADS_1
"Mas berangkat dulu, sudah terlambat!" Kaisar lalu mencium kening dan perut Delia, "Jagoan! Baik-baik disana! Jangan bikin Mamah kamu susah!" Kaisar lalu berangkat ke kantor bersama supir. Delia seharian hanya di rumah saja, mengikuti ucapan Kaisar. Ya, sejak pulang dari rumah sakit, Delia sangat penurut dan patuh dengan semua ucapan Kaisar. Cinta telah menaklukkan kuda liar itu. Menjadi seorang istri yang penurut dan patuh. Kaisar sangat bahagia melihat perubahan Istrinya sekarang.
Kaisar sekarang pulang selalu tepat waktu, tidak sabar ingin bersama dengan istri dan calon anaknya. Kalau sudah di rumah, Kaisar berubah menjadi seorang suami yang siaga, memanjakan istrinya.