
"Menyesal?" Kenshi menatap lurus ke arah foto keluarga dirinya bersama Yulia dan Takeshi. Mata elangnya sungguh mampu menembus jantung seseorang.
"Ya, apakah Papa menyesal? Istri pertama Papa sampai meninggal muda, karena depresi di tinggalkan Papa. Kaisar sampai sekarang masih terus menyerang perusahaan Mama, yang di Indonesia maupun di negara manapun. Kaisar hanya tidak menyerang perusahaan Papa, pasti dalam hatinya, dia masih mengharapkan Papa untuk datang!" ucap Yulia.
"Tidak! Mama salah! Kaisar tidak pernah mengharapkan Papa untuk masuk ke dalam hidupnya. Waktu Papa di Indonesia, Papa pernah mencoba bertemu dengan Kaisar satu kali. Tetapi Kaisar langsung lari dan tidak mau melihat Papa, walaupun hanya satu detik saja!" ucap Kenshi sambil menyesal wine yang kini ada di tangannya.
"Apakah Papa masih ingin berusaha untuk memperbaiki hubungan Papa dengan Kaisar? Mungkin dengan keberadaan Delia di rumah kita, akan membantu untuk melakukan hal itu. Dengan kita merawat anak dan istrinya dengan baik. Apakah Papa tidak ingin melakukannya?" tanya Yulia berhati-hati. Yulia tahu, topik tentang Kaisar dan istri pertamanya adalah hal sensitif bagi suaminya.
"Tidak, Mah. Hal itu bukan memperbaiki hubungan kami, tetapi Kaisar akan semakin membenciku. Kalau dia tahu bahwa akulah yang sudah menabrak istrinya. Kalau aku lah yang sudah membuat istrinya dan putranya dalam keadaan bahaya. Kaisar akan semakin membenciku. Apabila aku menahan istri dan anaknya lebih lama lagi, sudah di pastikan, Kaisar akan membenciku seumur hidupnya!" ucapan Kenshi tersekat di tenggorokan. Ada nada kehancuran dalam suaranya. Yulia terhenyak. Merasa kasihan melihat suaminya.
"Apa Papa sudah memeriksa kesehatan Papa? Kok Mama perhatikan sekarang Papa tambah kurus ya? Terus juga gampang banget capek. Paoa jangan lupa jaga kesehatan ya? Mama ndak mau hidup sendiri tanpa Papa!" Yulia memeluk Kenshi dari samping. Kenshi hanya tersenyum.
Ya, karena wanita ini, Kenshi rela meninggalkan anak istrinya. Kini Kenshi dihantui perasaan bersalah, setelah tahu istrinya meninggal setelah beberapa tahun bercerai dengan dirinya. Menyesal? Tidak! Kenshi tidak pernah menyesali perbuatannya. Kenshi hanya merasa bersalah dan ingin memperbaiki keadaan yang buruk, dalam hubungan dirinya dan Kaisar.
"Papa baik-baik saja! Mama nggak usah khawatir!" ucap Kenshi, lalu bangun dari sofa dan pergi menuju kamarnya.
__ADS_1
"Takeshi ko belum pulang juga, ya?" tiba-tiba Yulia mengatakan itu, sehingga Kenshi, mengurungkan niatnya untuk masuk ke kamarnya. Ditatapnya wajah istrinya dengan sendu, lalu berlalu tanpa kata.
Tatapan mata Kenhsi yang penuh dengan makna. Ada begitu banyak perasaan di dalamnya, yang membuat Yulia merasakan bersalah. Karena selama ini, dirinya sudah memberikan noda hitam dalam kehidupan Kenshi yang sempurna yaitu menjadi seorang pelakor. Sehingga membuat istri pertama dari suaminya itu, kini telah meninggalkan dunia ini. Dan membuat seorang Kaisar membenci ayahnya sendiri.
"Aku berharap, semoga sebelum kematianku, aku bisa mendamaikan Ayah dan anak itu. Membuat mereka kembali menyatu sebagai sebuah keluarga yang bahagia!" ucap Yulia, mulai sendu.Ya, Yulia menyembunyikan masalah kesehatan dirinya dari anak dan suaminya.
Saat ini, Yulia sedang mengalami sakit yang lumayan parah. Ada sebuah tumor di kepalanya, tetapi Yulia mengalami rasa takut untuk mengoperasinya. Sebenarnya, ada kesempatan hidup kalau Yulia mau dioperasi. Hanya saja, Yulia tidak ingin melewatkan waktu-waktu kebersamaan bersama keluarganya. Menurut Yulia, daripada menghabiskan waktunya di rumah sakit, Yulia ingin menghabiskan sisa hidupnya bersama keluarganya. Memberikan banyak kenangan dan masa-masa indah bersama keluarganya. Yulia ingin, sebelum kematiannya dia ingin mendamaikan suami dan Kaisar, anak tirinya.
"Semoga aku diberikan waktu untuk melakukan hal itu. Untuk bisa melihat kamu tersenyum lagi, Pah!" Yulia sudah berkaca-kaca matanya. Kesedihan dan penyesalan karena dahulu telah di butakan oleh cinta. Sehingga sanggup merebut suami orang lain. Secara tidak langsung, dirinya telah membunuh mantan istrinya Kenshi.
Sementara itu, Takeshi mulai kembali lagi ke kebiasaan buruknya, suka bermain dengan wanita di club malam. Melakukan hubungan one night stand dengan sembarangan wanita. Gara-gara patah hati terhadap Sofia, Takeshi kembali ke kehidupan kelamnya yang dahulu.
"Semua perempuan itu brengsek! Gue pasti akan hancurkan mereka semua!" rancau Takeshi dalam keadaan mabuk, sambil mengungkung seorang wanita di bawah keperkasaan dirinya sendiri seorang pria.
Hiro, sahabatnya, pemilik club itu, memberikan Takeshi seorang perawan yang masih sangat belia. Seorang wanita asli Jepang. Wanita itu kini sedang keenakan, menikmati cumbuan Takeshi dan keperkasaan pria tampan tersebut. "Kamu masih muda, tapi sudah menjadi wanita jal@ng!" Takeshi meninggalkan wanita yang telah dia renggut kesuciannya begitu saja.
__ADS_1
Takeshi tidak memperdulikan wanita itu yang menangis memanggil namanya. Perasaan benci dan merasa di khianati oleh wanita yang dia cintai. Membuat seorang Takeshi berubah menjadi seorang monster. Hatinya seakan mati. Ya, Takeshi tahu dengan sejarah keluarga nya yang kelam. Mamanya yang telah merebut Papanya dari sang istri pertamanya, hal itu telah menjadi noda hitam dalam kehidupannya.
"Gue cuma anak haram! Yang gara-gara kehadiran gue di dunia ini, kehidupan orang lain telah hancur. Hiks hiks!" Takeshi menangis dalam kebisuan. Tanpa Takeshi sadari, dirinya malah pulang ke apartemen yang kini di tempati oleh Delia. Dalam keadaan mabuk, Takeshi masuk ke sana. Delia yang sedang lelap tidur, tidak menyadari bahwa Takeshi datang ke apartemen itu.
Takeshi yang tidak sadar, ketika melihat ada seorang wanita yang berperut buncit di atas ranjangnya. Langsung menerkamnya. Mengelus-elus perutnya. Dia mengira hawa wanita yang ada di sana adalah Sofia, yang sedang hamil anaknya. "Anakku, Papa akan melindungi kamu!" lalu Takeshi amruk di atas ranjang.
Tangan dan kaki Takeshi memeluk tubuh Delia. Delia sangat terkejut, ketika bangun, mendapatkan tubuh seorang pria sedang memeluk dirinya secara posesif. Delia berusaha melepaskan dirinya dari pria tersebut, namun pria yang belum dia ketahui itu. Kini malah naik ke atas tubuhnya. Bersiap melakukan hal yang tidak senonoh kepada dirinya. Delia sudah panik bukan main.
Secara refleks, Delia kemudian menendang tubuh Takeshi, sampai jatuh ke lantai. Takeshi yang merasakan kesakitan pada tubuhnya, mau tidak mau membuka matanya dan memicing kemudian Takeshi melihat kesekitar, seketika kesadaran sedikit demi sedikit datang.
"Aih, apa yang sudah aku lakukan? Kenapa aku ada di apartemen ini?" pertanyaan Takeshi dan bau alkohol yang menguar dari mulut Takeshi, membuat Delia tahu, kalau pria yang sudah menolong dirinya itu dalam keadaan mabuk berat. Ada rupa-rupa bau dalam tubuh Takeshi. Delia bergidik, membayangkan apa yang sudah Takeshi lakukan terhadap dirinya, ketika dirinya terlelap tadi malam. Takeshi melihat Delia yang bergidik ngeri, menatap ke arah dirinya.
"Aku tidak ngapa-ngapain kamu! Aku hanya lupa. Mungkin karena aku sudah terbiasa pulang ke sini kalau dalam keadaan tidak sadar, maafkan aku!" Takeshi kemudian bangkit dan keluar dari kamar itu. Delia hanya menatap kepergian Takeshi dari apartemen itu.
"Hampir saja! Ya Allah, selalu lindungi aku!" doa Delia.
__ADS_1