
Ayahnya Kyoto dan Takeshi yang sedang serius membahas tentang kerjasama bisnis yang akan mereka lakukan. Apabila Kyoto dan Takeshi kelak berhasil menikah. Mereka tampak tidak memperhatikan kedatangan Kyoto dan Takeshi yang ada di ruangan itu.
Takeshi yang menggenggam tangan Kyoto melangkahkan kakinya dengan penuh percaya diri untuk menemui mereka.
"Hai Pah! Lihatlah aku sudah membawa calon istriku untuk bertemu denganmu!" Ucap Takeshi dengan senyum tengilnya sambil melirik kepada Kyoto yang saat ini sedang melotot sempurna kepada dirinya.
"Dasar pria gila! Selalu saja begitu!" ujar Kyoto dengan nada pelan karena dia takut kalau Ayahnya bisa mendengarkan apa yang dia katakan.
"Oh, Kyoto sudah datang juga? Syukurlah! Ayo kita bicarakan tentang apa-apa yang akan kita lakukan. Apabila kalian kelak sudah menikah!" ucap ayahnya Kyoto menyambut kedatangan putrinya yang tampak sedang cemberut dan tidak bahagia.
"Kau ini kenapa? Cemberut saja seperti itu di hadapan calon mertuamu dan juga calon suamimu. Tolong bersikaplah manis dan jangan membuat malu ayahmu!" berisik ayahnya Kyoto di telinga putrinya yang menatapnya dengan tidak percaya.
"Memangnya siapa yang mengatakan kalau aku akan menikah dengan dia?" ucap Kyoto sambil menatap sinis ke arah tapi Takeshi yang sampai saat ini masih menggenggam tangannya.
"Ya ampun kalian berdua sungguh sangat romantis sekali bahkan sejak tadi tidak mau melepaskan genggaman tangannya!" ucap ibunya Takeshi merasa sangat bahagia sekali. Melihat putranya bisa membawa calon istrinya ke hadapan mereka.
Demi apapun yang ada di alam semesta ini. Kyoto sangat terkejut ketika mendapatkan kenyataan bahwa sampai sekarang tangannya ternyaga belum juga dilepaskan oleh Takeshi.
"Lepaskan tanganku! Apa kau sengaja sedang mempermalukanku di hadapan mereka semua?" ucap Kyoto sambil menatap tajam kepada Takeshi yang tampak Acuh dengan permintaannya.
Bukannya melepaskan tangannya, Takeshi malah menarik Kyoto untuk duduk di sampingnya berhadapan dengan ayah Kyoto.
Dengan perasaan yang jengkel luar biasa. Kyoto hanya bisa cemberut dengan kelakuan Takeshi yang selalu saja memaksakan kehendaknya terhadap dirinya.
"Sudah kalian jangan ribut. Kalian ini sudah persis seperti kucing dan anjing. Memang sangat cocok untuk menjadi suami istri! nanti kalau kalian bertarung di atas ranjang pasti akan sangat seru!" ucap ayahnya Kyoto Sambil tertawa tergelap membayangkan apa yang saat ini dia bicarakan.
"Ih, Papa ini bicara apa sih! Aku tidak akan mau untuk menikah dengan laki-laki ini, karena aku tidak pernah mencintainya!" ucap Kyoto dengan tegas dan tanpa tedeng aling-aling sehingga membuat Takeshi hanya bisa tersenyum saja ketika mendengarnya.
__ADS_1
"Katanya kau tidak mencintaiku, Akan tetapi hari ini tiga kali kita sudah________!" demi mendengarkan apa yang dia katakan oleh Takeshi Kyoto langsung membekap mulut Takeshi dengan kedua tangannya.
"Awas kau bicara macam-macam! Aku tidak akan pernah mengampuni mu!" ucap Kyoto sambil menatap tajam kepada Takeshi yang terkejut dengan kelakuan Kyoto yang tiba-tiba.
"Kyoto! Apa yang kau lakukan? Sungguh sangat tidak sopan sekali! Ceoat turunkan tubuhmu dari pangkuan Takeshi!" tegur ayahnya Kyoto sambil menatap kepada putrinya yang tampak terkejut dengan apa yang dikatakan oleh ayahnya.
Seketika mata Kyoto melihat kepada dirinya sendiri dan dia langsung menjerit ketika mendapatkan apa yang dikatakan oleh ayahnya. Takeshi hanya mengulas senyum di tipis di bibirnya. Dia merasa sangat lucu dengan kelakuan Kyoto yang luar biasa ajaib bagi Takeshi Yamanda. 'Seorang gadis yang sangat menggemaskan!' batin Takeshi sambil tersenyum kepada Yoto yang kini sudah bangkit dari atas pangkuannya.
"Tidak apa-apa kau duduklah di sini. Bukankah kita sebentar lagi akan menikah, hmm? Saya rasa kedua orang tua kita tidak keberatan. Kalau kau duduk sini!" ucap take si sambil menepuk pahanya sehingga membuat Kyoto langsung memerah wajahnya karena menahan rasa malu.
"Pah pokoknya Kyoto menolak Perjodohan ini!" ucap Kyoto sambil bangkit dari duduknya berniat untuk pergi ke dalam kamarnya yang ada di Mansion tersebut.
"Kyoto kembali kau Nak! Saat ini kita belum selesai membicarakan urusanmu bersama dengan Takeshi. Jangan kau main melarikan diri seperti itu, sungguh tidak sopan!" ucap ayahnya Kyoto memanggil putrinya yang tidak Acuh sama sekali dengan teriakannya.
"Papa saja yang menikah dengan makhluk ajaib itu karena aku tidak sudi!" ucap Kyoto sambil melangkahkan kakinya ke lantai 2 berniat untuk beristirahat.
"Ingat Takeshi pesan Papa! Jangan kau berbuat macam-macam. Cepat bawa dia ke sini!" ucap ayahnya Takeshi sambil tersenyum kepada putranya.
"Tenang sajalah Pah. Saya tidak mungkin merusak anak orang lain di depan hidung ayahnya sendiri!" ucap Takeshi kemudian dia meninggalkan ruangan itu dengan senyum bahagianya Karena untuk pertama kalinya dia akan masuk ke dalam kamar wanita yang telah mencuri hatinya selama beberapa jam belakangan.
Kyoto yang saat ini sedang pusing tampak sedang membaringkan tubuhnya di atas ranjangnya dan memejamkan matanya karena dia berniat untuk tidur.
Takeshi yang masuk ke ruangannya tanpa mengeluarkan suara sama sekali dia membaringkan tubuhnya di sebelah Kyoto.
Kyoto yang merasa terkejut karena ada sebuah tangan kekar dan besar yang melingkar di pinggangnya sontak langsung berteriak. Namun Takeshi langsung mencium bibir Kyoto dengan rakus, sehingga membuat Kyoto tidak bisa berteriak lagi dan merasa lemas seluruh tubuhnya gara-gara perbuatan Takeshi yang tiba-tiba menguasai tubuhnya.
Tampak mereka berdua melakukan pergulatan yang sangat panas. Ciuman yang di berikan oleh Takeshi, sekali lagi sanggup menghipnotis seorang Kyoto yang saat ini tidak berdaya di bawah kuasanya.
__ADS_1
Tangan Takeshi seperti hendak bergerilya di tubuh Kyoto. Akan tetapi langsung dihentikan oleh Kyoto dan digenggamnya dengan erat.
Takeshi menatap wajah Kyoto seakan bertanya kenapa Kyoto melarangnya untuk melakukan hal tersebut dan Takeshi kaget ketika mendapatkan gelengan kepala dari Kyoto dengan matanya yang sayu menatap pada dirinya.
"Ayolah bukankah kita berdua akan menikah apa bedanya melakukan sekarang dan nanti, hmmmmm?" tanya Takeshi sambil mengelus wajah Kyoto yang saat ini ada di bawah kungkungannya.
"Karena aku ingin menghadiahkan sesuatu yang berharga dalam diriku hanya untuk suamiku saja!" ucap Kyoto sambil menyembunyikan wajahnya yang saat ini sangat merah. Karena rasa malu yang luar biasa. Karena kembali dia jatuh dalam pesona seorang Takeshi Yamada.
"Katakan padaku sayang! Kenapa wajahmu sangat merah? Apakah kau malu sayang? Aku melakukan ini padamu, hmmmmm?" tanya Takeshi sambil mencoba hidung Kyoto yang sangat menggemaskan baginya.
"Kyoto! Takeshi! Kenapa kalian lama sekali turunnya? Cepatlah! Karena kami ingin membicarakan hal yang penting dengan kalian!" ucap ayahnya Kyoto memanggil mereka berdua dari lantai 1.
"Ayo kita turun dan menunaikan tanggung jawab kita sebagai anak mereka. Untuk menyelesaikan hal ini sayang! Agar kita bisa segera menikah dan tentu saja. Aku bisa mendapatkan mahkota yang kau persembahkan hanya untuk suamimu, sayang!" bisik Takeshi di telinga Kyoto dengan perlahan sehingga membuat Kyoto merasa seperti mendapatkan aliran listrik dalam tubuhnya.
Hati Kyoto saat ini sangat berdebar dengan kencang. Apalagi saat Takeshi kembali mengecup bibirnya dengan lembut.
'Dasar Kyoto bodoh! Kenapa kau tidak bisa terlepas dari dia? Kenapa kau malah membalas ciumannya? Ya ampun! Sekarang dia pasti merasa sangat kegirangan karena merasa sudah menaklukanmu!' rutuk Kyoto karena kebodohannya yang selalu saja terjatuh dalam pesona seorang Takeshi Yamada.
"Mau berapa lama kau berada di sini, hmmm? Ayo sayang! Kedua orang tua kita sudah menunggu kedatangan kita. Jangan sampai mereka berpikir kalau kita sedang melakukan aneh-aneh!" ucap Takeshi sambil mencubit hidung Kyoto lagi. Agar dapat menyadarkan Kyoto yang sejak tadi selalu melamun dan hilang fokus.
"Sakit tahu!" protes Kyoto sambil berusaha menyingkirkan tangan Takeshi dari pinggang rampingnya.
"Habisnya, kamu sangat menggemaskan sayang!" berisik Takeshi kembali.
"Minggirlah dan turunlah dari ranjang ini. Karena aku tidak mau, kalau orang lain nanti akan berpikir bahwa kita sedang melakukan hal yang aneh-aneh!" ucap Kyoto dengan wajah bersemu merah karena merasa malu.
"Bukankah sekarang kita memang sedang melakukan yang aneh-aneh sudah dua kali aku menciummu sayang!" bisik Takeshi di telinga Kyoto sambil tersenyum penuh arti.
__ADS_1