Terpaksa Menikah Dengan Om Om Tampan

Terpaksa Menikah Dengan Om Om Tampan
31. Ambil Tindakan


__ADS_3

"Jadi, sekarang apa yang akan Papa lakukan, kalau Papa bisa bertemu dengan salah satu anggota keluarga dari istri pertama Papah tersebut?" tanya Takeshi penasaran.


"Kenapa kau tidak langsung saja, bicara dengan Papa, agar Papa tidak kebingungan seperti ini. Sebenarnya, apa yang ingin kau tanyakan dan ingin kau ketahui?" cecar Kenshi mulai curiga dengan gelagat Takeshi.


"Pah! Takeshi akan memberitahukan sebuah fakta kepada Papah! Tapi, Papa harus janji bahwa Papa tidak akan pernah ninggalin Mama, oke? Bagaimanapun masa lalu Kalian, Mama itu sangat mencintai Papa! Takeshi tahu itu!" ucap.Takeshi dengan suara parau.


Mereka berdua tidak mengetahui, bahwa di sana, di luar pintu, Mamanya Takeshi juga sedang mendengarkan pembicaraan tersebut. Hanya saja, dia terus diam, karena ingin mendengarkan pembicaraan tersebut lebih banyak lagi. Ingin mengetahui bagaimana perasaan suaminya saat ini, setelah pernikahan mereka selama 30 tahun.


"Kenapa kau berkata seperti itu? Apakah kamu melihat bahwa Papa menunjukkan gelagat akan meninggalkan Mamamu? Papa hanya ingin meminta maaf kepada istri pertama Papa itu. Karena Papa sudah berbuat zalim kepada mereka, dengan meninggalkan mereka begitu saja. Bahkan Papa tidak pernah menengok Kaisar satu kali pun selama hidupnya. Papa adalah contoh seorang Ayah yang jahat! Pantas kalau Kaisar sekarang membenci Papa!" ucap Kenshi mulai berderai air matanya.


"Pah, perempuan yang sudah Papa tabrak itu, dia adalah istrinya Kaisar, menantunya Papa! Itu artinya, bayi yang sedang dia kandung, adalah cucu Papah!" ucap Takeshi.


Papanya Takeshi terkejut bukan kepalang. Apalagi Mamanya Takeshi, yang mendengarkan pembicaraan tersebut di luar pintu. Jantungnya sudah berdebar tidak karuan. Bagaimanapun, memang dialah yang telah bersalah, karena dia yang telah menjebak dan merebut Ayah Kaisar. Sekarang, dia merasa bingung harus berbuat apa terhadap istri Kaisar itu.


Mamanya Takeshi segera berlari dari kantor tersebut. Dia ingin menenangkan hatinya yang sekarang berkecamuk. Berbagai perasaan muncul di dalam hatinya, apalagi ketika dia mendengar bahwa ibunya Kaisar kini telah meninggal, karena depresi. Setelah ditinggalkan oleh suaminya. Perasaan bersalah itu semakin besar, menumpuk di dalam dirinya. Mengalahkan ego dan kemarahan dirinya.


"Mba, maafkan aku! Yang sudah begitu tega merebut suami kamu! Aku terlalu mencintainya. Aku sungguh tidak bisa hidup tanpa dia! Maafkan aku, Mba! Hiks hiks!" Mamanya Takeshi kemudian menangis sendiri di kamar. Air mata mengalir deras tanpa bisa dikendalikan.


"Aku akan membayar dosa-dosaku, dengan merawat cucu dan menantumu dengan baik. Aku janji, Mba, aku akan mengurus mereka. Kamu bisa tenang di alam sana!" setelah mengatakan hal itu, Mamanya Takeshi kemudian pergi ke rumah sakit tempat Delia di rawat.


"Menantumu sungguh cantik. Kau juga akan mempunyai seorang cucu. Kamu beruntung, Mba! Aku, hidupku tak seindah dirimu. Putraku, Takeshi hanya suka bermain dengan para wanita. Tidak pernah mau serius dengan mereka. Entah kapan aku bisa memilih seorang menantu dan cucu seperti dirimu!" Yulia terus bermonolog sendiri.

__ADS_1


"Hallo, Nyonya!" sapa seorang perawat.


"Oh, bagaimana keadaan dia? Apakah bayinya sehat?" tanya Yulia sambil terus menatap ke arah Delia, yang masih terlelap dalam tidur.


"Secara medis, dia sudah sehat. Hanya saja, ada sesuatu yang menahan dia untuk bangkit. Sepertinya dia memiliki masalah di dalam hatinya. Coba datangkan, seseorang yang bisa membuat di bahagia." ucap perawat itu.


"Saya tidak paham. Maksud Anda bagaimana!?"


"Wanita itu, memiliki tekanan bathin saat dia mengalami kecelakaan. Jadi membuat alam bawah sadar dirinya, mengunci kesadaran dirinya. Sehingga dia mengalami kesulitan untuk bangun kembali. Mungkin dengan membuat dia merasa dicintai oleh seseorang, kesedihan yang dia rasakan sebelumnya akan menghilang, sehingga dia bisa menjalani kehidupan yang normal." tiba-tiba seorang dokter sudah bergabung dengan mereka.


"Seorang yang bisa memberikan dia cinta? Suaminya maksud Anda?" tanya Mamanya Takeshi.


"Baiklah, Dokter! Kami pasti bisa membawa seseorang untuk membuat dia bisa kembali merasakan apa itu cinta?" Setelah mengatakan hal itu, Yulia berpamitan dan kembali ke kediaman Yamada.


"Siapa ya, kira-kira pria yang bisa membuat dia jatuh cinta?" Yulia terus mondar-mandir tidak karuan.


"Apa yang sedang Mama lakukan?" tiba-tiba saja, Takeshi sudah ada di sampingnya. Membuat Yulia terkejut.


"Kenapa kau tidak mengeluarkan suara apapun, saat datang? Bikin Mama kaget saja!" protes Yulia.


Takeshi mencium sang Mama, lalu duduk di depan Mamanya. "Tadi Takeshi sudah mengucapkan salam. Tapi Mama tidak mendengarkan, terlalu asyik bergumam sendiri. Apa yang mengganggu pikiran Mamahku tersayang?" Tanya Takeshi sambil mendekat ke arah Mamanya. Memeluk Mamanya dengan penuh kasih sayang. Kenshi kemudian datang dari luar, melihat kedua orang yang penting dalam hidupnya, dia mencium pipi sang istri yang masih tampak bingung.

__ADS_1


"Dia istriku, kenapa kau tidak mencari istri untuk dirimu sendiri?" ucap Kenshi yang menarik tubuh Istrinya ke dalam pelukannya. Takeshi hanya tersenyum melihat sifat Papanya yang posesif itu.


"Cemburu sama anak sendiri, Papa sungguh konyol!" Takeshi misuh misuh. Lalu pergi dari ruang tamu. Meninggalkan kedua orang tuanya.


Takeshi berniat akan pergi ke Amsterdam, ingin menemui Sofia di sana. "Aku sangat merindukan dia! Apakah dia masih ingat kepadaku?" Takeshi bermonolog sendiri.


"Tuan Muda! Ayo Makan malam dulu!" tiba-tiba ART di kediaman membuyarkan lamunan Takeshi. Sementara itu, kedua orangtuanya masih di kamar.


"Kamu ada apa, sayang? Kenapa wajahmu tampak pucat, apakah kau sakit?" Kenshi membelai wajah istrinya dengan lembut.


"Aku baik-baik saja. Pah, tadi Mama menemui Dokter yang sedang merawat Delia. Dokter bilang, akan lebih bagus kalau Delia di rawat di antara orang-orang yang mencintai dia. Apa tidak sebaiknya, kita kembali kan saja dia ke keluarga dia?" tanya Yulia berhati-hati.


"Papa akan mengembalikan setelah kondisinya sudah lebih baik. Papa tidak mau kalau nanti tersandung kasus, gara-gara kita mengembalikan dia dalam keadaan seperti itu." Takeshi lalu pergi ke kamar mandi, yang diikuti oleh istrinya. Yulia menyiapkan segala kebutuhan suaminya.


"Ya sudah, Papa mandi dulu, kita bahas nanti lagi?" tapi Kenshi malah menarik Yulia ke dalam pelukannya.


"Apakah Mama tidak ingin mandi bersama dengan Papa?" tanya Kenshi dengan tatapan berkabut. Yulia menepis tangan suaminya, lalu keluar dari kamar mandi.


"Kalau mandi dengan Papa, akan panjang ceritanya. Kita jadinya tidak akan makan malam!" Kenshi tertawa terbahak-bahak, demi mendengar ucapan istrinya.


"Memang yang paling mengerti tentang Papa, hanya Mama saja!" ucap Kenshi lalu dirinya fokus untuk mandi. Sekujur tubuhnya terasa penat sekali. Pekerjaan dan pikirannya sungguh membuat badan terasa lelah yang sangat berlebihan.

__ADS_1


__ADS_2