
"Aku hanya merasa kesepian di sana. Aku hanya butuh seseorang untuk menemani aku!" cicit Sofia tidak tahu malu. Sofia menatap Kaisar, masih berusaha untuk mencari, apakah dirinya masih ada di mata pria yang kini menatap nyalang ke arahnya.
"Pergilah dari hadapanku! Karena aku sudah tidak ingin menemui kamu lagi! Aku ingin fokus mencari Istriku yang sudah lama pergi. Dia sedang mengandung anakku, anak yang tidak bisa kau berikan kepadaku. Aku tidak mau, dia mengalami hal kesulitan di luar sana. Pergilah dari sini karena aku tidak mau istriku mengalami kesalahpahaman lagi, ketika dia melihat kamu berada di sisiku!" sekali lagi Kaisar mengusir Sofia, tetapi Sofia tetap keukeuh, tidak mau pergi. Dia masih berusaha untuk mendekati Kaisar, tetapi Kaisar langsung masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintunya.
Di dalam kamar Kaisar, menelpon security yang menjaga rumahnya. Kaisar memerintahkan agar Sofia segera diangkat dan disuruh pergi dari rumahnya.
"Cepat bawa wanita di depan kamarku! Sekali lagi wanita itu datang ke rumahku, aku pasti akan memecat kamu!" ucap Kaisar tegas. Ada nada kemarahan didalam suaranya yang berat.
"Kaisar, sayang! Aku mohon, maafkan aku! Aku janji, aku gak akan pernah mengkhianati kamu lagi! Sayang! Aku ingin kita bersama lagi!" Sofia terus berteriak di depan kamar Kaisar. Tetapi Kaisar sama sekali tidak mau untuk memperdulikannya. Kaisar lebih memilih untuk pergi ke ruangan meeting yang kedap suara. Sehingga dia tidak merasa terganggu oleh teriakan Sofia.
Tidak lama kemudian, datang dua orang security, yang tergopoh-gopoh. Dan kemudian mereka mengangkat Sofia untuk dilemparkan dari rumah Kaisar. Mereka ketakutan ketika mendapatkan ancaman akan dipecat oleh majikan mereka, yang sudah memberikan gaji tinggi kepada mereka. Kaisar memang termasuk murah hati terhadap karyawannya. Sehingga mereka loyal kepadanya.
"Nona! Cepatlah kau pergi dari rumah ini, dan jangan pernah kembali lagi! Ingat itu nona! Jangan kau bikin susah kami berdua. Kami berdua ini mempunyai keluarga yang ingin kamu hidupi. Kalau Nona terus seperti ini, sama saja Nona ingin mencelakai kami berdua!" ucap salah satu salah satu security yang ada di rumah Kaisar.
"Eh persetan amat dengan keluargamu! Aku nggak perduli tahu nggak? Aku cuma butuh Kaisar, kekasihku! Aku ga butuh kalian!" sengit Sofia, kepada kedua orang security tersebut. Tetapi kedua security tersebut malah tertawa terbahak-bahak. Merasa lucu dengan apa yang dikatakan oleh yang dikatakan oleh Sofia.
__ADS_1
"Eh eh Nona! Maksudnya mungkin mantan kekasih! Bukan kekasihmu! Yang kami tahu, Tuan Kaisar itu sudah tidak ingin bertemu denganmu. Udah sana, pergi dari sini, cepat! Jadi perempuan kok, tidak tahu malu sekali! Mengemis-ngemis di depan pintu seorang laki-laki. Emangnya kau sudah tidak laku ya nona?" tanya pria itu lagi.
"Makanya Nona, kalau sedang dicintai itu nggak usah banyak tingkah dan gaya! Jadilah seorang kekasih yang baik dan menjadi seorang istri yang baik. Kalau sudah dicampakkan seperti ini, baru kau mengemis-ngemis kepada Tuan kami! Kau adalah wanita paling lucu di dunia!" ejek salah satu security yang lainnya, mereka kemudian tertawa terbahak-bahak, melihat ekspresi wajah Sofia yang sudah tidak sedap dipandang.
"Awas ya kalian berdua! Kalau nanti aku berhasil menikah dengan Kaisar! Pasti kalian berdua yang akan pertama kali, aku pecat tanpa pesangon sepeserpun! Ingat kata-kata ku!" sengit Sofia dengan jumawa.
"Eh Nona! Jangan jumawa jadi perempuan itu! Bukannya Anda sudah dipecat duluan ya, sama Tuan kami? Hahaha!" mereka berdua tertawa terbahak-bahak, karena merasa sangat lucu, melihat dagelan di pagi hari di hadapan mereka. Lalu mereka mengunci pintu gerbang kediaman Kaisar, sehingga Sofia tidak bisa lagi menerobos masuk ke dalam rumah tersebut.
"Awas kalian berdua Aku akan mengingat semua kelakuan kalian ini!" Sofia berteriak terus, tanpa henti. Sofia yang kesal, menyampaikan segala sumpah serapahnya terhadap kedua body security yang menjaga kediaman Kaisar. Mereka hanya tertawa saja. Tidak perduli sama.
Sementara itu, Kaisar di ruang meeting sedang memperhatikan CCTV yang berada di depan gerbang rumahnya. Kaisar memperhatikan perdebatan antara Sofia dan dua security-nya. Kaisar hanya menatap kejadian itu. Entah kenapa, hatinya sudah merasa mati dan kebas dengan Sofia, yang selama ini selalu mempermainkan perasaannya. Seakan tidak penting baginya.
"Aku pernah mencintaimu, sangat dalam! Tetapi kamu mempermainkan perasaanku, dengan banyak membuat skenario yang membunuh perasaanku terhadapmu!" ucap Kaisar lirih. Tanpa terasa, air matanya jatuh menetes.
Kaisar boleh keras dan tegas di hadapan semua orang. Tetapi ketika dia dalam kesendirian, Kaisar adalah seorang laki-laki yang rapuh dan lemah hatinya. Masa kecil kaisar yang hidup tanpa kedua orang tuanya, telah membentuk seorang Kaisar yang perasa dan mudah tersentuh perasaannya.
__ADS_1
Kenangan masa kecilnya, ketika ditinggalkan oleh sang ayah, demi perempuan lain. Telah membentuk jiwa seorang Kaisar, yang dingin, nyaris tanpa perasaan. Tetapi kesendirian, selalu membuatnya sadar, bahwa dia hanyalah seorang manusia yang lemah. Manusia yang membutuhkan kehadiran manusia yang lain.
"Delia! Kamu di mana sayang? Pasti sebentar lagi, anak kita akan lahir. Tetapi aku tidak tahu keberadaanmu di mana. Kenapa kamu harus pergi ninggalin aku? Padahal aku sudah tidak mencintai Sofia lagi. Saat ini, bagiku hanyalah kamu, satu-satunya wanita yang ada dalam hidupku! Kembalilah kepadaku, sayang! Aku sangat merindukan kamu dan anak kita! Hiks hiks!" Kaisar terus memanggil nama istrinya. Matanya kini sembab dan nampak cekung, kebanyakan menangis dan sedih.
Yah, sejak kepergian Delia, hati Kaisar seakan selalu diliputi oleh kesedihan. Dirinya seakan mengingat kembali, masa lalunya, ketika kecil dia ditinggalkan oleh ayahnya. Demi perempuan lain yang dianggap lebih kaya dan segalanya dari sang ibu yang akhirnya meninggal karena depresi dan sakit hati.
Sementara itu, jauh nun di sana, di Tokyo! Delia seakan merasakan panggilan hati suaminya! Tiba-tiba saja, hati Delia seakan merasakan sakit, bagai diremas-remas oleh tangan yang tidak terlihat. Delia meneteskan air matanya tanpa terasa. Takeshi yang melihat itu, tampak terkejut.
"Ada apa Delia? Apakah ada sesuatu yang mengganggumu? Kenapa kau tiba-tiba menangis? Katakan padaku! Siapa tahu aku bisa membantumu!" ucap Takeshi khawatir dengan kakak iparnya.
"Entahlah Takeshi! Tiba-tiba hatiku, rasanya sedih sekali! Nggak tahu kenapa! Aku ngerasa, seperti ada seseorang yang sedang memanggilku. Entahlah! Aku juga bingung dengan ini semua!" ucap Delia sambil memegang jantungnya yang seakan berdesir tanpa dia bisa dia kontrol.
"Pasti itu adalah suamimu, yang sedang memikirkan kamu! Kenapa kau tidak mau pulang? Delia, aku akan mengantarkanmu ke suamimu, kalau kamu mau. Kasihan juga anak yang ada di perutmu! Pasti dia ingin bertemu dengan ayahnya!" ucap Takeshi berusaha menasehati Delia.
"Tidak! Aku tidak akan pernah pulang lagi! Aku tidak mau bertemu dengan laki-laki itu! Yang hatinya bukan milikku! Yang hatinya masih ada mantan kekasihnya! Aku tidak mau!" tiba-tiba saja Delia berteriak histeris, sehingga membuat Takeshi merasa ketakutan dan cemas. Akhirnya memilih diam dan tidak membahas lagi masalah kembalinya Delia kepada suaminya.
__ADS_1