
"Dengarkan Aku! Aku paling tidak suka kalau kau membuat keributan seperti itu lagi di restoranku. Kalau kau masih ingin datang untuk menemuiku di sini. Hentikan semua sifat Barbar mu itu. Dan mulailah untuk bersikap lebih dewasa dan bijaksana! Jangan selalu ingin merugikan orang lain!" ucap Delia dengan berkacak pinggang di hadapan Kaisar. Kaisar hanya menundukkan kepalanya.
Memang selama ini, hanya Delia yang mampu menundukkan seorang Kaisar. Delia ini ibaratnya pawang dari Kaisar Corporation.
"Asal kau berjanji untuk tidak pergi bersama Takeshi maupun laki-laki lainnya. Aku paling tidak suka, melihat kamu akrab dengan pria lain selain aku!" ucap Kaisar sambil memegang tangan Delia.
"Lalu, Apakah kalau aku menjanjikan tidak akan pergi bersama pria lain, maka kau pun akan berjanji untuk tidak pergi dengan perempuan lain?" tanya Delia balik.
Kaisar tampak tergagap dengan pertanyaan Delia yang begitu mendadak.
"Bagaimana mungkin, aku tidak pergi dengan perempuan lain? Akan ada sekretarisku, asistenku maupun rekan bisnisku. Hal itu terlalu sulit untukku!" ucap Kaisar dengan suara tergagap.
"Begitupun sama dengan aku di sini. Banyak karyawan dan juga para pelangganku di restoran. Apa kau pikir itu hal adil untukku? Ketika aku hidup hanya seorang diri, tanpa teman yang lainnya. Dan kau enak-enakan dengan kehidupan sosialisasimu? Itu sungguh tidak adil Bung!" Ucap Delia mengeluarkan semua unek-unek di kepalanya kepada kaisar sang suami.
"Bukan seperti itu, maksudku. Maksudku kau jangan pergi-pergi bersama Takeshi ataupun para pria yang berusaha untuk mendekatimu karena kecantikanmu!" ucap Kaisar sambil menundukkan kepalanya.
"Lalu bagaimana denganmu, Bung? Kau selalu bermesraan dengan Sofia dan juga dengan beberapa gadis yang mengejarmu dan kau bahkan tidur dengan mereka!" ucap Delia dengan mata berapi-api sudah malas untuk berdebat dengan Kaisar yang selalu egois dan tidak pernah memikirkan perasaan orang lain.
Kaisar kesulitan menelan salivanya sendiri. Tetapi Kaisar tidak kehilangan akal. Dia lalu mendekati Delia dan mencium telapak tangannya dengan begitu mesra.
"Dengarkan aku sayang! Aku tidak memiliki hubungan apapun lagi dengan Sofia maupun beberapa wanita lainnya. Selama ini hidupku hanya untuk kamu dan Putra kita. Apakah kau bisa mengerti?" ucap Kaisar dengan suara yang penuh perasaan dan cinta.
"Omong kosong!" sengit Delia sambil meninggalkan Kaisar di kamarnya.
Kaisar mengejar kepergian eliah tetapi dilihat tidak ingin diikuti oleh Kaisar.
__ADS_1
"Stop di tempatmu dan tidak usah kau datang untuk mengikutiku. Kalau kau masih mau aku izinkan untuk menginjakan kakimu di tempatku ini!" ucap Delia dengan penuh ancaman, sehingga Kaisar pun tidak berani untuk mendekati Delia saat ini yang sedang marah sekali terhadap dirinya.
Delia kemudian pergi ke area taman duduk di sana dan menenangkan dirinya yang saat ini benar-benar sedang kacau balau perasaannya.
"Sejak aku bertemu dengan dia. Hidupku tidak pernah tenang bareng sehari pun. Kenapa dia selalu saja membuat emosi!" ucap Delia bermenolong kepada dirinya sendiri.
"Apa sebenarnya yang dia inginkan? Kenapa dia selalu saja begitu bersikap dan kelakuan dia, tidak pernah berubah sama sekali!" kesal Delia. Nafas Delia memburu dengan cepat.
"Delia ada apa denganmu? Kenapa Kau tampak marah sekali?" tiba-tiba Takeshi sudah berada dihadapannya dengan menggendong Deka, dan beberapa buah totebag belanjaan di tangannya.
"Aku sedang kesal dengan Kaisar!" ucap Delia pelan. Sambil mengambil Deka dari tangan Takeshi. Delia mencium bocah mungil itu.
"Memangnya, apa yang dilakukan oleh kaisar sehingga sanggup membuat kamu marah-marah begini dan kehilangan kesabaranmu?" tanya Takeshi lalu duduk di samping Delia.
Delia menatap Takeshu dengan datar karena saat ini perasaannya memang sedang kalut.
Delua tahu bahwa dia harus menahan emosinya, ketika berhadapan dengan Deka, Putra semata wayangnya.
Delia tidak ingin mengajarkan amarah dan kebencian kepada putranya. Dia hanya ingin Deka mempelajari cinta kasih. Sehingga membuat kehidupan putranya jauh lebih baik. Ketimbang ayahnya yang selalu mementingkan emosi dan amarahnya.
" Delia Apa yang kau lakukan di situ?" tiba-tiba saja Kaisar sudah berdiri diantara mereka berdua. Takeshi menatap kakaknya dengan lekat. ini adalah kali pertamanya Takeshi berhadapan secara langsung dengan Kaisar.
"Aku hanya sedang mengobrol biasa dengan Takeshi emangnya tidak boleh?" tanya Delia sambil menatap taham pada Kaisar.
"Bukankah aku sudah bilang, aku tidak suka kau berakrab ria dengan Takeshi! Apakah kau tidak mengerti bahasa Indonesia?" ucap Kaisar dengan menatap tajam ke arah Delia.
__ADS_1
Takeshi merasa tidak enak hatinya karena menjadi bahan pertengkaran dari kedua suami istri itu.
"Baiklah Delia. Aku pulang dulu ya? Aku rasa cukup aku berjalan-jalan dengan Deka, lain kali aku akan datang lagi!" ucap Takeshi lalu berpamitan.
" Jangan pernah sekali lagi kau berani datang ke sini, atau aku akan menghancurkan seluruh perusahaan Yamada!" Teriak Kaisar kepada Takeshi, sebelum dia pergi meninggalkan Restoran Delia.
"Hentikan kegilaanmu, Kaisar! Aku sangat tidak suka melihatnya!" ucap Delia degan lantang. Kaisar menatap sayu wajah Delia.
"Aku hanya mempertahankan apa yang menjadi milikku. Aku tidak suka kalau kamu dekat dengan Takeshi. Apa kau tidak mengerti?" ucap Kaisar dengan wajah serius.
"Memangnya siapa yang menjadi milikmu?Apakah aku sudah setuju untuk kembali padamu! Kau jangan terlalu percaya diri menjadi orang!" ucap Delia sambil menatap tajam ke arah Kaisar.
"Apa maksud perkataanmu? Kau adalah istriku! Selamanya Kau akan menjadi istriku!" ucap Kaisar sambil menggoncangkan tubuh Delia, dengan kemarahan yang ada di dalam hatinya. Sehingga Delia kesakitan.
"Lepaskan tanganmu! Apa kau tahu bahwa ini sakit sekali?" ucap Delia dengan menatap tajam kepada Kaisar.
"Maafkan aku! Aku terbawa dengan perasaanku dan emosiku. Tapi aku paling tidak senang kalau kau mengatakan hal seperti itu!" ucap Kaisar dengan penuh penyesalan yang tergambar jelas di wajahnya.
"Sikapmu yang seperti ini, yang membuat aku jadi takut dan merasa ragu untuk kembali kepadamu!" ucap Delia dengan menatap tajam ke arah Kaisar.
Kaisar kemudian menarik nafasnya dengan dalam-dalam, lalu menghembuskannya secara kasar. Dia menatap Delia dengan lekat.
Delia jadi salah tingkah sendiri menatap wajah Kaisar yang kini sangat serius mengawasinya.
"Apa yang kau lihat dariku? Cepat palingkan wajahmu! Nggak usah melihatku. Aku tidak suka!" ucap Delia dengan gugup.
__ADS_1
"Aku menatap istriku sendiri. Apakah itu tidak boleh? Apakah ada hukum yang melarang hal itu?" tanya Kaisar sambil menatap Delia dengan tajam.
"Aku paling benci ketika kau melihatku seperti itu. Cepat palingkan wajahmu atau Aku akan pergi dari sini!" ancam Delia dengan matanya yang kini menyorot tajam ke arah Kaisar.