
"Nanti kita akan tanyakan kepada Adrian alasan dia melakukan ini kepada kita!" ucap Satria. Kemudian dia mengajak Zahra ke dalam kamar untuk mulai beristirahat. Bagaimanapun dia merasa kasihan kepada Deka yang sudah menjalani perjalanan jauh, pasti cucunya itu sudah kelelahan.
"Ayo kita istirahat! Kasihan Deka. Dia pasti kelelahan, jangan buat dia bergadang!" ucap Satria kepada istrinya.
"Mama masih rindu dengan cucu kita!" Zahra sambil melihat Deka yang tampak asik bermain dengan suaminya.
"Besok kita akan melaksanakan tes DNA, istirahatlah Sayang. Jangan sampai nanti kau kelelahan!" Satria membujuk istrinya untuk beristirahat walaupun terlihat bahwa Zahra masih penasaran untuk bermain dengan cucu mereka yang baru mereka temui.
"Kalau kita meminta kepada Delia untuk merawat Deka Apakah Papa setuju?" tiba-tiba saja Zahra menanyakan sesuatu yang membuat Satria mengerutkan keningnya.
"Jangan lakukan itu mah! Kasihan Deka kalau harus berjauhan dengan kedua orang tuanya. Kalau mama memang menginginkan untuk dekat dengan mereka, kita bisa kembali ke Indonesia nanti! Papa bisa menyerahkan Perusahaan kita di sini kepada manajemen profesional sehingga kita cukup untuk memanagenya dari jauh!" ucap Satria memberikan idenya kepada sang istri.
"Papa benar! Kita bisa melakukan itu sayang. Bukankah kita juga sudah lama tidak kembali ke Indonesia? Mama juga rindu untuk bertemu dengan kedua orang tuaku!" ucap Zahra menyetujui ide yang diberikan oleh Satria, suaminya.
"Ayo kita istirahat, Deka sayang! Ayo kita tidur ya sayangnya Kakek! Besok lagi kita main." Satria sambil menggendong cucunya.
"Kita salat Isya dulu Pah! Jangan sampai nanti lupa!" ucap Zahra memperingatkan suaminya untuk tidak lupa salat Isya dulu sebelum tidur.
"Deka kau tidur dulu di ranjangnya kakek ya? Kakek sama nenek akan salat dulu!" setelah berpesan kepada cucunya Satria kemudian pergi bersama istrinya untuk sholat bersama.
Setelah sholat selesai, mereka pun kemudian tidur dan mengistirahatkan tubuhnya untuk besok bisa beraktifitas!
Sementara itu Delia dan Kaisar di kamarnya pun sedang beristirahat.
"Akhirnya urusan kita di Amerika selesai dengan lancar. Semoga setelah tes DNA selesai tidak ada lagi keraguan diantara kalian!" ucap Kaisar.
Kaisar mengurutkan keningnya ketika melihat Delia tampak tidak merespon apa yang dia katakan." Kenapa Sayang? Apakah Kau sedang memikirkan sesuatu?" tanya Kaisar sambil meraih telapak tangan Delia yang terasa dingin di kulitnya.
__ADS_1
"Kita matikan saja ac-nya sayang! Tanganmu begini dingin sayang saya tidak tega dengan kamu!" ucap Kaisar.
"Tidak apa-apa! Aku baik-baik saja. Aku hanya sedang pusing memikirkan tentang Stella, apa yang akan terjadi padanya sayang?" tanya Delia sambil menatap sendu kepada Kaisar.
"Stella itu gadis yang jahat dan dia juga gadis yang licik. Lihatlah! Dia sama sekali tidak memikirkan tentang orang tuamu. Bagaimana mungkin dia sampai tega menggunakan Black card milik orang tuamu sampai habis 20 miliar? Dia benar-benar sangat keterlaluan dan tidak masuk akal!" ucap Kaisar dengan geram ketika memikirkan mertuanya harus membayar perbuatan Stella yang sangat keterlaluan itu.
"Bukankah, barang-barangnya juga digunakan oleh Mama dan sebagian juga diberikan kepadaku? Jadi aku rasa, kalau kita minta kepada ayah untuk memaafkan Stella, bukan sebuah masalah besar!" ucap Delia sambil menatap kepada Kaisar dengan lekat.
Kaisar menggelengkan kepalanya menolak ide dari Delia yang dinilai terlalu lembut dan terlalu baik hati.
"Memaafkan seseorang terkadang tidaklah selalu menjadi solusi yang terbaik. Kita juga kadang harus memberikan sebuah pelajaran kepada orang jahat agar dia mau introspeksi dirinya dan mau belajar dari kesalahan itu. Agar suatu saat nanti, dia tidak mengulangi hal yang sama dan merugikan orang lain!" ucap Kaisar mengatakan pendapatnya Kepada Delia.
"Tapi saya memikirkan tentang Papa Adrian. Pasti saat ini dia sedih kalau mengetahui putrinya berada di penjara gara-gara Kita sayang!" ucap Delia sambil menatap kepada Kaisar yang masih tetap menggelengkan kepalanya keukeuh tidak setuju dengan keinginan Delia.
"Sayang, apa kamu tidak mengingat kejahatan apa yang sudah dilakukan oleh Stella dan juga ibunya kepadamu? Tolonglah sayang kau jangan terlalu lemah hati menghadapi manusia-manusia seperti mereka!" Kaisar meminta kepada Delia agar jangan terlalu lemah sehingga terlalu mudah memaafkan kesalahan Stella yang sudah sangat keterlaluan kepada istrinya.
"Sudahlah sayang! Jangan memikirkan hal yang tidak penting semacam itu. Kita istirahat Aku sudah lelah. Besok kita akan melakukan tes DNA dan setelah itu kita akan kembali ke Indonesia. Kita butuh energi yang sangat banyak untuk melakukan semua aktivitas itu!" ucap Kaisar mengakhiri pembicaraan mereka malam ini yang benar-benar membuat mood dirinya hancur total.
Padahal tadi dirinya sudah berniat untuk bisa bermesraan dengan istrinya. Mumpung Deka sedang bersama dengan mertuanya.
Bagaimanapun Kaisar masih merasa jengkel dan kesal dengan perbuatan Stella yang dulu pernah membuat dirinya berpisah dengan Delia. Sehingga membuat dia sangat frustasi untuk mencari anak dan juga istrinya.
Delia menarik nafasnya dalam-dalam. Dia tahu kalau suaminya saat ini sedang marah kepadanya. Jadi dia tidak berani untuk berkata apa-apa lagi. Akhirnya Delia pun mengalah dan membaringkan tubuhnya di dalam pelukan Kaisar yang selalu menjadi obat bagi dirinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu di Indonesia, tampak ibunya Stella sedang kebingungan mencari putrinya yang sudah selama 1 minggu belum juga pulang dan tidak ada kabarnya sama sekali.
__ADS_1
"Bagaimana kau bisa tetap pergi ke klub dan minum-minuman alkohol, sementara adikmu tidak jelas keberadaannya saat ini. Kau benar-benar seorang kakak yang durhaka!" ucap ibunya Stella dengan frustasi. Karena dia sudah berusaha mencari kemanapun putri kesayangannya. Tetapi dia belum berhasil menemukan keberadaan Stella.
" Stella itu sudah besar mah bukan anak kecil lagi dia pasti akan pulang kalau sudah bosan berpetualang di luar!" ucap kakaknya Stella seakan tidak mempedulikan keberadaan adiknya saat ini.
"Sudah pergi sana ke kamarmu! Melihat mukamu malah membuat mama jadi semakin murka saja. Kau benar-benar sudah tidak bisa diandalkan sama sekali!" ucap ibunya Stella menghardik putranya.
"Mama sejak dulu hanya menyayangi Stella! Padahal saya juga anak mama!" teriaknya merasa kesal terhadap ibunya.
Kakaknya Stella kemudian memilih untuk meninggalkan ibunya di ruang tamu daripada dia pusing harus bertengkar dengan wanita yang telah melahirkan dirinya.
Sementara itu, Adrian yang sudah pulang dari rumah sakit. Dia sedang terbaring di atas ranjangnya. Dia hanya sendirian dan tidak ada yang menemani.
Tampak mata Adrian berkaca-kaca. Dia sedang merenungi apa saja yang sudah dia lakukan selama hidupnya selama ini. Adrian memikirkan apa saja yang belum dia lakukan sepanjang hidupnya.
"Mungkin karena aku terlalu banyak berdosa kepada Tuan muda Satria. Makanya sekarang hidupku semacam ini. Aku tidak dipedulikan oleh anak istriku sendiri dan hidup kesepian walaupun aku memiliki keluarga!" ucap Adrian sambil mengusap air mata yang sejak tadi terus mengalir di pipinya.
"Semoga saja Delia sudah berhasil untuk bertemu dengan orang tuanya. Setidaknya itu akan melepaskan sedikit beban di hatiku, sebelum aku meninggalkan dunia ini untuk selamanya!" ucap Adrian pelan.
"Apa yang sedang Papa lakukan Kenapa? Papa menangis seperti seorang perempuan yang Cengeng!" tiba-tiba saja ibunya Stella sudah berada di dalam kamar itu. Sehingga membuat Adrian kaget dan dia segera menghapus air matanya yang terus mengalir tanpa bisa dia kendalikan, karena Adrian tidak sudi kalau istrinya melihat dia lemah seperti saat ini.
"Bukan urusanmu! Apa yang kulakukan saat ini! Kau urus saja urusanmu sendiri, karena aku juga tidak pernah usil dengan hidupmu!" Adrian kemudian dia menarik selimut dan menutup kepalanya dia tidak ingin bertengkar dengan istrinya.
Adrian masih merasa sakit hati, ketika dia didorong oleh istrinya sampai pingsan tanpa perasaan sama sekali. Istrinya bahkan tampak tidak perduli dengan nyawanya, dia tidak mau untuk menyelamatkan dia saat itu.
Kalau bukan karena Stella yang masih memiliki hati nurani. Mungkin saat ini dirinya sudah meninggal karena kehilangan banyak darah. 'Di mana Stella? Aku rasa, sudah satu minggu dia tidak kembali ke rumah. Apakah mungkin kalau dia pergi ke Amerika dan mengambil posisi Delia di sisi Tuan muda Satria?' bathin Adrian mulai cemas.
Bagaimanapun Stella adalah putrinya dan dia menyayanginya. Apalagi Adrian mengingat bahwa Stella yang sudah menolong dia untuk membawa dirinya ke rumah sakit pada waktu dia didorong istrinya.
__ADS_1