
Setelah mendapatkan nomor telepon Kyoto Takeshi langsung menghubungi perempuan itu. Karena dia masih penasaran tentang Kyoto yang sangat sulit untuk dia taklukan.
"Baru pertama kali ada seorang perempuan yang kudekati dan dia menolakku mentah mentah tanpa berfikir dulu. Dia benar-benar menantang adrenalinku dan jiwa kelelakianku untuk bisa menaklukkan dia!" ucap Takeshi dengan jengkel.
"Kenapa dia sejak tadi aku telepon tidak mau diangkat juga? Dasar sialan!" ucap Takeshi sambil memukul stir mobilnya. Takeshi benar-benar kesal dengan kelakuan Kyoto.
**
Sementara itu Kyoto yang saat ini sedang berada di luar kota bersama dengan kepala pelayan restoran milik Delia. Dia hanya melihat dan menimbang nimbang ponsel yang ada di tangannya yang sejak tadi terus berdering dan berisik sekali.
"Angkatlah teleponmu Kyoto! Kenapa dari tadi hanya kau lihat saja? Angkatlah, siapa tahu penting. Lagi pula, ponsel milikmu itu kenapa tidak kau setel ke dalam mode silence dari tadi berisik terus!" tegur kepala pelayan yang sekarang sedang sibuk memilih dan memilah sayuran segar yang akan mereka bahwa ke restoran milik Delia.
"Tidak ada apa-apa kok Pak! Panggilan ini dari nomor asing dan tidak tersimpan di dalam kontakku! Aku takut untuk mengangkatnya. Karena khawatir kalau ini panggilan dari orang jahat yang ingin berbuat jahat padaku!" ucap Kyoto menjawab dengan jujur apa yang saat ini sedang dia lakukan.
"Memangnya kejahatan apa yang bisa dilakukan seseorang melalui telepon Kyoto? kau ini ada-ada saja!" ucap kepala pelayan tersebut sambil menggelengkan kepalanya seakan tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Kyoto terhadapnya.
Kyoto menarik nafasnya dengan dalam kemudian dia menatap kepala pelayan tersebut dengan serius.
"Dengerin saya ya Pak! Ketika kita tanpa sengaja mengangkat telepon dari orang asing, dia bisa mengirimkan suatu gendam ataupun hipnotis untuk membuat kita mengikuti apapun yang dia inginkan!" ucap Kyoto berusaha menjelaskan kepada kepala pelayan tersebut agar dia mengerti apa yang saat ini sedang dilakukan.
"Apa Bapak tidak pernah mendengar berita di media sosial? Banyak orang-orang yang bahkan sampai kehilangan seluruh uang di dalam rekening mereka. Karena dikuras habis oleh para pelaku gendam dan juga para pelaku hipnotis melalui panggilan telepon!" ucap kyoto dengan wajah serius sehingga membuat kepala pelayan tersebut akhirnya manggut nanggut.
"Baiklah Kyoto saya sudah mengerti. Ya sudah! Ayo cepat kita selesaikan tugas kita. Biar kita selesai dan bisa segera kembali ke restoran! Saya yakin pasti sayuran-sayuran ini sudah dibutuhkan oleh chef!" ucap kepala pelayan meminta Kyoto untuk serius dalam bekerja karena mereka sudah ditunggu oleh chef untuk memasak di restoran.
Akhirnya kyoto memasang mode silent atas ponselnya. Agar tidak mengganggu ketika ada panggilan masuk lagi dari nomor asing yang tidak dikenal, yng sejak tadi terus saja menterornya.
__ADS_1
"Nomor siapa sih ini ya Ampun!!!?? Gak ada kerjaan banget dari tadi ganggu terus!" rutuk Kyoto sambil menatap tajam ponselnya yang kembali berdering dengan nomor yang sama.
Karena merasa kesal dan hilang sabar Kyoto akhirnya mengangkat panggilan tersebut.
"Siapa sih Ini? Ya ampun! Dari tadi ganggu terus! Orang sedang kerja juga!" ucap Kyoto dengan penuh emosi langsung marah-marah.
Takeshi langsung menjauhkan ponselnya dari dekat telinganya karena telinganya merasa pekak gara-gara Kyoto yang berteriak di seberang sana.
" Ya ampun kau seorang perempuan apa tidak bisa lebih lembut sedikit?" tegur Takeshi kepada Kyoto Dengan kesal.
"Oh, kamu toh? Mau apa kau menghubungiku dari mana kau mendapat nomor teleponku?" ucap Kyoto dengan Ketus.
"Kenapa sejak tadi aku menelponmu tidak kau angkat tidak mungkin kan kalau kau tidak mendengarkan panggilan dari telepon?" tanya Takeshi dengan nada jengkel.
"Dasar laki-laki nggak jelas! Kenala dari tadi selalu saja menggangguku? Ya Tuhanku! Punya dosa apa aku harus selalu berurusan dengan dia? Makhluk astral yang sangat menjijikkan!" ucap Kyoti sambil bergidik ngeri.
"Sebetulnya dia mau apa sih dariku? Kenapa sejak tadi dia selalu mengganggu?" ucap Kyoto dengan jengkel kemudian dia langsung mendekati kepala pelayan yang tampak masih sibuk dengan pekerjaannya.
"Sudah Kyoto! Ayo cepat bantu saya untuk mengangkat sayuran-sayuran ini!" perintah kepala pelayan kepada Kyoto untuk segera mengangkat cairan-cairan itu ke dalam mobil.
Sepanjang perjalanan Kyoto hanya terdiam memikirkan tentang hubungannya bersama Takeshi Sejak pertama kali dia bertemu dengannya.
" Kenapa kau sekarang Murung dia tuh apakah ada masalah denganmu?" tanya kepala pelayan yang melihat Kyoto tiba-tiba saja berbeda dari biasanya.
"Tidak apa-apa Pak hanya saja tadi ada orang gila yang menghubungiku dan mengganggu moodku!" ucap kyoto sambil berusaha untuk mengulas senyum kepada atasannya.
__ADS_1
"Katakanlah padaku kalau kau punya masalah siapa tahu aku bisa membantumu!" ucap kepala pelayan tersebut melirik sekilas kepada kyoto.
"Kau tidak akan bisa melawan dia. Dia bukan lawan mu Pak! Kau tenanglah Pak! Aku bisa mengatasi ini semua!" ucap Kyoto dengan penuh percaya diri.
"Syukurlah kalau kau sudah mengatakan itu!" ucap kepala pelayan sambil fokus menyetir mobil nya agar segera sampai ke restoran.
Pwrjalanan yang memakan hampir waktu 2 jam dilewati dengan begitu saja oleh mereka berdua.
Begitu sampai di depan restoran, Kyoto dan kepala pelayan langsung mengeluarkan sayuran yang mereka beli baru saja kepada petani yang biasa menjadi langganan restoran tersebut.
Saat Kyoto sedang sibuk memindahkan sayuran itu tiba-tiba saja tangannya sudah ditarik oleh seseorang.
Karena sangat kaget Kyoto pun tanpa sengaja menjatuhkan sayuran yang ada di tangannya.
" Ya ampun Kyoto kok sangat ceroboh kau tahu kan betapa susahnya aku tadi memilih sayuran-sayuran terbaik ini?" ucap kepala pelayan menegur Kyoto yang sudah membuat banyak sayuran jatuh ke lantai.
"Maafkan saya Pak! Itu karena ada orang yang tiba-tiba saja menarik tanganku! Aku terkejut sehingga menjatuhkan sayuran itu!" ucap Kyoto berusaha menjelaskan kepada atasannya.
Kemudian Kyoto pun menatap kepada seseorang yang tadi menarik tangannya dengan tiba-tiba.
"Ya ampun kamu lagi? Belum menyerah juga kau menggangguku?" tanya Kyoto menatap malas Takeshi yang saat ini masih mencegal tangannya dengan kuat. Sangking kuatnya Kyoto sampai meringis karena kesakitan.
"Ayo cepat ikut denganku. Aku ingin bicara denganmu!" ucap Takeshi mengambil sayuran yang ada di tangan Kyoto kemudian menaruhnya di tangan kepala pelayan yang saat ini sedang bengong menatap dirinya.
"Tutup mulutmu! Awas ada lalat masuk ke sana!" ucap Takeshi sambil menepuk bahu kepala pelayan yang sejak tadi terpesona dengan ketampanan seorang Takeshi Yamada yang luar biasa.
__ADS_1